Suamiku Dokter Dingin

Suamiku Dokter Dingin
Ke Dokter Kandungan


__ADS_3

Dert.... Dert... Dert...


Ponselku berbunyi lagi, dan itu adalah kontak yang sama seperti tadi, "Kenapa dia menelfon?" gumamku bertanya pada diri sendiri.


Hal tersebut membuat Kevin pada akhirnya terbangun dan langsung terduduk, "Angkat aja Sal... Siapa tau itu bukan panggilan salah sambung tapi mungkin aja ada yang penting!" ucapnya dengan suara parau.


Aku ragu untuk menuruti ucapan Kevin, bahkan aku mulai risih dengan suara getaran ponselku, hingga pada akhirnya aku mematikan daya ponselku.


"Lah kenapa di matiin?" tanyanya lagi menatapku dengan tatapan orang yang masih agak mengantuk.


"Ahh... Tidak! Aku tidak mau mengangkatnya! Lagian aku mau ke kamar mandi!" sekaku mencari alasan.


Seketika Kevin berdiri, dan berjalan mendekatiku sambil berkata, "Ehh tunggu dulu! Aku juga mau masuk ke kamar mandi, kalau begitu kita masuk bersama saja!" usulnya merangkul mengangkat sebelah alisnya menggodaku.


"Hah! Apasih, aku tidak mau! Kamu bisa masuk duluan saja, nanti setelah kamu keluar kita gantian!" kataku menyerkah.


"Loh... Kok gitu? Bukannya tadi kamu bilang mau masuk ke kamar mandi? Lah ayo kenapa menundanya apa kamu mau seperti dulu ketika kantung kemihmu sudah sakit?" pungkasnya heran.


"Aku hanya ingin cuci muka! Bukannya pipis!" jelasku ketus.


"Nah, justru itu kita masuk bersama biar aku membantumu cuci muka biar bersih!"


Aku tercengang dengan pengakuannya, sebab ku tau dia tak bermaksud seperti itu tapi malah sisi mesumnya yang berbicara pada saat ini.


Begitu ia cengar-cengir di hadapanku, dengan cepat memutar badannya lalu mendorong hingga ia akhirnya berjalan ke arah kamar mandi.


"Erhhh... Kamu duluan yang masuk Vin!" geramku mendorong.


"Sal... Kamu yakin tidak mau masuk bersamaku?"


"Tidak!!!" raungku menolak.


Pada saat Kevin didalam kamar mandi, aku meraih kembali ponselku, ku pandangi layar gelapnya karna dalam mode OFF.


Aku mengigit jari sembari mondar-mandir memegang ponselku itu.


Meskipun ada niat untuk mengaktifkannya, tetap saja aku takut jika ini hanya akan menimbulkan masalah baru.

__ADS_1


"Sal...." Kevin datang dan langsung memelukku dari belakang yang entah kapan keluar dari kamar mandi, sontak aku terkejut membuat ponsel yang ada di tanganku terjatuh.


Ahh.... Aku terlonjak kaget, "Kenapa kamu mengangetkanku?" protesku melepaskan diri dari pelukannya.


Dahinya malah berkerut menatapku, "Kenapa kamu harus sekaget itu? Padahalkan mukaku tidak menakutkan?" ujarnya malas.


"Ya kamu langsung peluk aku dari belakang! Siapa yang tidak syok! Terus kapan kamu keluar dari kamar mandi?" jawabku bersikap tenang.


"Aku keluarnya sejak tadi, terus lihat kamu mondar-mandir seperti memikirkan sesuatu! Memangnya kamu memikirkan apa?" curiganya.


"Ahh... Aku... Itu... cuman kepikiran sama soal calon bayi kita!" balasku.


"Ohh itu... Tidak usah khawatir sayang! Bayinya pasti sehat banget kok! Jadi lebih baik kamu cepatan masuk mandi biar kita bisa Cepat-cepat kerumah sakit!" tutur Kevin tersenyum hangat yang langsung ku balas dengan mengangguk menuruti sarannya.


***


Setelah mandi aku bersiap-siap begitu pula dengannya, beberapa jam berlalu akhirnya kami sampai di rumah sakit miliknya, Kevin menggandeng tanganku menuju ruangan dokter kandungan.


Clek...


Kevin yang membuka pintunya dan mempersilahkanku untuk melangkah masuk terlebih dahulu, "Halo selamat pagi, ada yang bisa saya bantu?" sapa sang dokter wanita.


"Ahk... tidak! tidak ada apa-apa!" balasnya ketus.


Aku heran dengan sikapnya, lalu kemudian aku malah tambah bingung ketika mataku mendapati sang dokter yang melihat Kevin di sampingku tertawa pelan.


"Vin? apa dia juga mantan pacarmu? kenapa dia menatapmu seperti itu!" kataku curiga dan sangat penasaran.


"Hah! tidak mungkinlah Sal... kamu nih aneh-aneh aja!" serkahnya.


"Kalau bukan mantan pacara terus apa? kenapa dokter itu senyam-senyum nggak jelas ketika melirik ke arah Kevin?" gumamku bertanya pada diri sendiri.


"Ehh... silahkan duduk!" Dokter itu memanggil kami yang sejak tadi hanya berdiri di dekat pintu ia bahkan dengan ramahnya berdiri mempersilahkanku duduk.


Sekilas aku menatap ke arah Kevin lalu berjalan mendekat ke arah kursi yang di hadapannya, Kevin tak pernah melepaskan tangannya dari tautan jemariku.


Bahkan ketika dudukpun kami masih bergandengan tangan, " Ehh dok saya mau memeriksakan kandungan saya!" kataku.

__ADS_1


"Heheh ohh ternyata dokter yang selama ini terkenal dingin di rumah sakit sebentar lagi, udah mau jadi ayah to...." ledek sang dokter.


"Tidak usah membahas hal yang tidak penting! langsung periksa saja!" cetus Kevin.


"Ihh pak dokter Kevin ternyata masih garang, padahal istrinya ada disini, kayaknya Pak dokter cuman bisa ramah di atas ranjang sama istrinya yah? heheh!" dokter itu masih meledek.


"Stop! periksa aja sekarang!" titah Kevin dengan tegas sementara aku menjadi linglung mendengar percakapan mereka berdua.


Dokter itu melangkah mendekatiku, ia lalu mengajakku untuk masuk keruangan di mana ada ranjang pasien di dalamnya.


***


Sekitar kurang dari 30 menit aku keluar, didalam sana ruangan tadi Dokter itu hanya memeriksa kesehatanku dan prediksi usia kandunganku berdasarkan tanggal pertama menstruasi hingga tanggal berakhirnya.


Tak lupa ia juga menuliskan gejalanya, dan ada satu moment dimana aku bertanya hubungannya dengan Kevin aku malah mengada-ngada bahwa dokter itu mantannya.


Namun ternyata prasangkaku salah, aku malah jadi malu sendiri di hadapan dokter tersebut. Nyatanya ibu dari dokter itu pernah di bantu oleh Kevin sehingga dokter kandungan tersebut bisa kenal dengan Kevin.


Aku kembali duduk di samping Kevin yang masih bermuka datar, "Wah selamat ya dokter Kevin bayinya sehat, ibunya juga sangat sehat! usia kandungannya masih sangat muda sekitar 4 mingguan, pokoknya selamat untuk kalian berdua karena sebentar lagi sudah orangtua!" ucap sang dokter.


"Makasih dok! maaf soal tadi!" kataku tertunduk malu.


"Memangnya apa yang kalian lakukan tadi?" Kevin bertanya dengan penasaran.


"Rahasia! hehehe" jawab cepat sang dokter kandungan.


"Tidak ada apa-apa Vin... Ohh iya kalau begitu kami pulang dulu yah dok! terimakasih!" kataku berdiri sambil menarik tangan Kevin untuk keluar dari ruangan tersebut.


Tiba di depan pintu, Kevin tampaknya begitu gelisah, "Ada apa Vin?" tanyaku, "Ehh sayang, aku ke toilet dulu yah! kamu keruanganku dulu, aku akan menyusul, "jawabnya dengan cepat ku iyalan.


Ketika Kevin berlari ke arah toilet perlahan aku melangkah menuju lift untuk naik kelantai paling atas tepat di ruangannya.


Tiba-tiba ada seseorang yang menyenggolku, Ahh! senggolan itu sangat keras membuat lenganku rasanya berdenyut-denyut.


"Di-dita?" Aku kaget, sangat-sangat kaget pasalnya orang yang kini meringis sepertiku adalah Dita orang yang dulunya begitu akrab denganku, tapi 4 tahun terakhir dia seperti hilang kontak.


"Cih... ternyata kita ketemu lagi yah! elo nggak punya mata apa? lo nggak lihat gue lagi jalan hah!" ketusnya mengomel.

__ADS_1


Tadinya Kufikir ia akan memelukku atau semacamnya sebab kami sudah tidak bertemu sejak 4 tahun terakhir.


Namun ternyata aku salah besar, mungkin kesalahpahaman 4 tahun lalu belum bisa ia lupakan padahal itu hanya hal sepeleh tapi dia malah terus memendamnya.


__ADS_2