
Willy tertunduk, ia bermimik kecewa menatapku, mungkin karena ucapan penolakan Kevin tadi.
"Ahh... Vin!" keluhku.
"Kita kerumah sakit sekarang!" Kevin mengangkat tubuhku masuk kedalam mobil dan mendudukkanku di jok depan tepat di sampingnya.
Ia bahkan menutup pintu dengan pelan, kulirik para sahabatku yang berwajah panik di balik kaca jendela mobil, Sementara Clara terlihat begitu menyeramkan dengan rambut yang acak-acakan.
Akhirnya Kevin ikut masuk kedalam mobil dan menyalakan mesin bersiap untuk melaju, "Tahan ya Sayang! Kamu harus kuat demi calon bayi kita, aku percaya calon bayi kita juga kuat sepertimu!" ucap Kevin mengelus lembut perutku, lalu mengalihkan pandangan kedepan sambil menginjak pedal gas.
Ia melaju dengan kecepatan tinggi, bahkan mobil yang terlewati hanya seperti bayangan-bayangan saja, "Vin..
Kamu tidak usah terlalu cepat! Itu hanya akan membahayakan nyawa kita! Pelan-pelan saja, bukannya kamu percaya kalau aku dan calon bayi kita ini sangat kuat?" timpalku mencoba membuat Kevin sadar akan apa yang ia lakukan sekarang.
Kupandangi wajah paniknya, kemudian beralih ke tangan yang biasanya kekar dan kuat kini gemetar memegang stir mobil.
"Sayang! Pelan-pelan saja! Aku akan berusaha menjadi wanita kuat demi calon bayi kita! Jadi tidak usah terburu-buru shh..." kupegang tangan gemetarnya yang memegang stir, desis sakit masih saja terikut diakhir ucapanku.
"Sal... Aku khawatir! Aku takut, sangat-sangat takut, aku tidak hanya khawatir soal calon bayi kita, tapi aku lebih-lebih lagi ketika melihatmu kesakitan seperti ini!" raungnya.
Aku terdiam, merasa tak bisa lagi berkutik menyangga perkataannya, Dia juga tak mendengarku, dan aku sangat paham akan hal itu.
Kevin terus melaju hingga berhenti didepan rumah sakit, aku bahkan tak sadar bahwa dia menyetir hanya beberapa menit.
Ia turun lebih dulu dan membukakan pintu mobil, kembali menggendongku berlari masuk kearah ruang dokter kandungan.
Tanpa permisi Kevin langsung menerobos masuk dan membaringkanku diatas ranjang pemeriksaan, dan untungnya tak ada satupun orang yang ada di ruangan yang kutempati ini.
Krek...
__ADS_1
"Do-dokter Kevin? Salsa! Kenapa kalian bisa disini?" Tanya sang dokter kandungan menyadari kehadiranku yang tiba-tiba berada di dalam ruangannya.
"Cepatlah periksa Salsa! Tidak usah banyak tanya!" Kevin berucap dengan ketus, nafas terengah sembari melirikku.
"Ehh memangnya Salsa kenapa? Bukannya kemarin aku baru memeriksanya?" tukas Dokter kandungan.
Dahi Kevin malah berkerut, menatap sinis ke arah sang dokter, "Aku bilang cepat periksa dan jangan bertanya lagi," ucap Kevin membentak, setelah aku mendengar itu, aku mencolek pinggulnya, "Shh Vin... Kenapa kamu malah seperti itu? Dokternya hanya akan ikut marah kalau kamu seperti itu sshh.... Kamu mau kalau sampai dokternya marah dan tidak mau memeriksa kondisi calon bayi kita!" bisikku menantang.
Pada akhirnya Kevin seperti sedang berfikir, "Baiklah Sal... Dokter! Cepat periksa kandungan Salsa sekarang!" katanya meskipun masih ada nada kesal yang masih terlintas di indra pendengaranku.
Sang dokter itu melangkah mendekatiku, ia memeriksa dengan sangat hati-hati
***
Beberapa menit berlalu, aku sudah selesai diperiksa, dan kini bersiap untuk mengetahui hasilnya, "Dokter Kevin!" teriak dokter itu padahal Kevin berdiri dihadapannya, "Bagaimana caramu menjaga istrimu hah! Pekerjaanmu sebagai dokter begitu memukau, tapi kenapa kamu lalai dalam menjaga istrimu?" imbuh sang dokter kandungan membalas gertakan Kevin yang tadi.
"Aku menyesal, aku tau aku begitu ceroboh, me-memangnya Janin Salsa kenapa? Apa keguguran?" Seka Kevin begitu menunggu balasan dokter.
"Ahh syukurlah!" ucapku.
"Justru itu aku bertanya, bagaimana bisa kejadian ini terjadi? dokter Kevin! kamu kan suaminya, usia kandungannya itu masih sangat muda dan dia tidak boleh terjatuh kalau sampai itu terjadi bisa saja kalian kehilangan calon bayi kalian!" ungkap dokter kandungan.
"Yah... ini memang salahku!" Kevin menyela.
"Tidak Vin! ini salahku karena kurang berhati-hati!" Serkahku.
"Ahh sudahlah, aku tidak ingin mendengar kalian saling menyalahkan di hadapanku, karena intinya kalian sama-sama salah, Dan ohh iya aku akan memberimu obat penguat kandungan ya Sal... agar kandunganmu sehat terus sampai lahir." ujar dokternya.
Aku mulai tersenyum kembali, Begitu pula dengan Kevin, "Istirahatlah dulu disini sampai kamu benar-benar merasa baikan!" tambah dokternya berkata lalu keluar dari ruangan meninggalkanku berdua dengan Kevin.
__ADS_1
"Aku begitu lega Sal... calon bayi kita tidak apa-apa,!" lirih Kevin duduk dikursi samping ranjang sembari menempelkan wajahnya di perutku, "Nak! apa kamu mendengarku? ini Ayah! terimakasih sudah kuat ya nak! ayah dan mamamu begitu senang karena kamu tidak meninggalkan kami, ayah harap kamu sehat terus yah! ayah dan mamamu disini menantikan kelahiranmu sayang!" tutur Kevin dengan suara begitu lembut, matanya sampai berkaca-kaca ketika mengucapkan sepatah kata tadi.
"Jangan menangis Vin! aku juga ikut menangis kalau melihatmu seperti itu!" pintaku lirih dengan linangan air mata kini memenuhi pelupuk mataku.
Kevin kembali menegakkan tubuhnya, mendonggakkan wajah menatap langit-langit ruangan, "Vin! kenapa kamu melakukan itu?" tanyaku heran.
"Kan kamu sendiri yang bilang kalau aku tidak boleh menangis, jadi aku berusaha mencegah air mataku jatuh! heheh!" candanya dengan menatapku.
"Ihh kamu nih bisa aja! Ohh iya, tadi Clara bilang dia sudah bercerai dengan kak Syam apa itu betul?"
"Tidak usah membahas wanita gila itu Sal... aku benar-benar ingin membunuhnya tadi, apalagi dia hampir saja membuat kita kehilangan calon bayi kita!" kesalnya dengan urat leher mulai tampak mengeras.
"Iya aku tau kamu begitu emosi, tapi aku sangat penasaran apa dia benar-benar sudah bercerai dengan kak Syam?"
Kevin malah mengepalkan kedua tangannya disamping tanganku, "Aku juga tidak tau Sal... aku tidak pernah lagi berhubungan dengan keluarganya semejak kamu tidak ada dirumah, bahkan aku selalu menghindar ketika ada acara keluarga!" jawab Kevin bermuka datar.
"Aku takut kalau mereka benar-benar bercerai dan Clara akan terus mendatangimu Vin aku takut dia akan semakin mengejarmu!" aku semakin khawatir dengan itu, Apalagi Clara sudah seperti wanita yang tak lagi waras, dia bisa saja berbuat nekat demi mencapai keinginannya.
Kevin berdiri dan menatapku dengan tatapan yang begitu dalam, "Kamu tidak perlu khawatir Sal... aku tidak akan pernah membiar kan dia mengusik kebahagiaan kita, dan ingat sekalipun dia mendekatiku, aku tidak akan berbuat lembut padanya, apalagi menyentuhnya!" ungkap Kevin dengan tegas penuh keseriusan.
"Perempuan gila itu, hari ini aku benar-benar akan memberinya pelajaran atas semua kejadian ini! dia sudah sangat keterlaluan!" Kevin kembali emosi berbalik badan dan hendak melangkah.
"Vin! kamu mau kemana?" tanyaku.
Langkahnya terhenti dan menoleh kearahku, "Aku ingin menemui wanita gila itu Sal... dia sudah berulang kali menyakiti kamu, kalau dia menyakitiku aku bisa terima tapi itu kamu, aku benar-benar tidak tahan lagi melihat kelakuannya!"
"Tidak! kamu tidak boleh Pergi Vin! aku tidak mau kamu menemui wanita itu, aku takut.... aku begitu takut dia berbuat hal aneh padamu! aku... aku sangat takut Vin kita tidak bisa menebak apa isi fikirannya jadi ku mohon kamu jangan pergi!" lirihku mencegahnya.
Perasaanku campur aduk, antara bahagia karena janinku tidak apa-apa, marah dengan kelakuan Clara dan takut sebab Kevin ingin menemui Clara.
__ADS_1
Aku lebih takut, jika apa yang ku fikirkankan benar-benar terjadi apalagi seorang Clara tidak tau yang di maksud dengan kata menyerah, setelah sekian lama dia tak bertemu Kevin perasaannya sekarang malah semakin gila dan aku khawatir jika Kevin tergoda lagi meskipun ia selalu meyakinkanku.