Suamiku Dokter Dingin

Suamiku Dokter Dingin
Menyesuaikan diri


__ADS_3

Aku dan Willy akhirnya pergi berbelanja disebuah toko besar berisi keperluan sehari-hari.


Untungnya toko tersebut tak jauh dari tempat kami tinggal, cukup berjalan kaki menelusuri jalan dengan hembusan angin dingin disiang hari.


Ketika keranjang dorong hasil belanjaan sudah terisi penuh, aku kembali menatap datar ke arah Willy yang masih sibuk memilah cemilan di rak snack yang ada di rak toko ini.


"Will... Kita belanjanya nggak kebanyakan ya? Ini semua banyak banget loh!" ucapku heran.


"Nggakpapa Sal...." jawabnya lamban.


Aku menyerah untuk menegurnya, lagian ia berbelanja memakai uangnya sendiri sedangkan aku hanya membantu memberitahu barang keperluan kita.


"Will udah! Kita belanjanya kebanyakan!!!" tegurku mencoba menghentikan tangannya yang hendak memborong selusin snack.


"Ohh oke... Kita ke kasir sekarang!" sahutnya menatapku kemudian mendorong keranjangnya menuju kasir.


***


Setelah membayar Willy mengajakku ke sebuah Cafe ia membelikanku secangkir coffelatte, yang nikmat di seruput pada saat cuaca seperti ini.


"Sal... Lo seneng nggak!" ujarnya memandangiku yang kini tengah duduk tepat didepanku.


"Biasa aja!" jawabku ketus.


"Hn... Gimana kalau kita jalan-jalan?" timbalnya memberi usulan.


"Kemana?" tanyaku penasaran.


"Yah! Kita jalan-jalan disekitar sini aja! Lagian kita kan perlu menyesuaikan diri di lingkungan yang baru! Gimana?"


Aku mengangguk pelan sebagai respon, "Terserah lo deh!"


Beberapa jam kemudian, waktu menunjukkan sudah petang walaupun matahari tampaknya masih terlihat cerah tapi aku tidak merasa aneh karena aku memang berada di negara yang berbeda dengan negara asalku.


Kami berjalan, dengan jarak langkah kaki yang sama agaknya Willy yang menyesuaikan langkahnya denganku.


Semakin cepat aku melangkah ia pun juga melakukannya, sembari membawa kantong plastik belanjaan kami, dia terkadang melirikku.


Bahkan aku tau itu, namun aku sama sekali tak perduli pandanganku tak pernah ke arahnya melainkan lurus ke depan tanpa tau arah dan tujuan.

__ADS_1


Tapi kemudian aku tiba-tiba berhenti, begitu pula dengan Willy, "Kenapa berhenti Sal?" tanyanya yang masih saja tak pernah memalingkan pandangannya dariku.


"Makanya kalau jalan tuh fokusnya ke jalan bukannya ke gue!" balasku datar.


Willy hanya tertawa pelan, seraya mulai menatap ke arah jalan dilihatnya sebuah kerumunan orang tanpa tau apa yang di kerumunkan.


"Ehh itu apaan?" tanyanya lagi.


"Mana gue tau Will...." lenguhku malas.


Karena penasaran kami melangkah mendekat, dan semakin kami mendekat suara acoustic mulai terdengar disertai dengan sambutan tepuk tangan dari penonton.


Aku dan Willy tambah penasaran, kami berlari kecil agar bisa mengetahui apa yang di kerumunkan oleh banyak orang.


"Excuse me.... Excuse me...." ujarku mencoba menerobos masuk disela orang-orang yang berkerumun.


Pada saat kami sudah berdiri paling fepan, terpampanglah wajah seorang penyanyi jalanan dengan memakai gitar.


Alunan lagu mulai berjalan berirama dengan tepuk tangan dari penonton membuatku tanpa sadar terbawa arus hingga ikut bertepuk tangan menikmati setiap lirik lagu barat yang dinyanyikan tersebut sampai ke lirik terakhir.


Sambutan berupa tepuk tangan itu semakin meriah di kala penyanyi tersebut mengakhiri nyanyiannya.


Namun tiba-tiba Willy menyerahkan kantong belanjaan kami kepadaku lalu melangkah mendekati penyanyi tersebut, sepertinya ia ingin meminjam gitar itu dan akhirnya berhasil.


Jantungku berdetak cepat tanpa alasan ketika senar gitar itu mulai dipetik olehnya, dengan penuh percaya diri ia mulai melantungkan lagu yang sama seperti yang ia nyanyikan di waktu pengukuhan.


Prok prok prok


Suara gemuruh tepukan tangan mengelilingiku, ku lihat Willy bernyanyi penuh penghayatan dengan sesekali memejamkan mata.


Pandangannya tak pernah lepas ke arahku, sampai di akhir bait lagu tersebut ia bahkan tak pernah mengalihkan tatapannya itu.


Setelah lagu berakhir penyanyi jalanan yang tadi meletakkan sebuah kotak di tengah-tengah para penonton yang kemudian penonton tersebut memberikan imbalan berupa uang.


Sementara aku berlari ke arah Willy lalu menariknya, "Will ngapain lo nyanyi segala! ayo kita pulang aja sekarang!" ajakku.


"Gue cuman mau membantu doang kok! lagian elo ada disini dan itu yang membuat gue tambah happy!" ujarnya membalas.


"Ohh!" jawabku singkat memalingkan wajah.

__ADS_1


"Excuse me! your voice is very good, I can know your name? I have a cafe and need a singer, are you interested? (permisi! suara anda sangat bagus, apakah saya bisa mengetahui nama anda? saya punya sebuah kafe dan saya sedang membutuhkan seorang penyanyi, apa anda berminat?" kata seseorang yang menghampiri kami lalu bertanya kepada Willy.


Orang tersebut adalah orang yang mungkin berasal dari negara ini, terlihat dari logat berbahasanya serta kulit putih bak bule.


"Ohh Really? (Ohh benarkah?)" imbuh Willy.


Orang tersebut mengangguk sambil mengeluarkan kartu namanya, seraya berkata "Yes! of course, what's your name? ( yah tentu saja! siapa namamu?)" respon orang bule tersebut masih bertanya dengan menjulurkan tangan sebagai bentuk perkenalan


"Ohh Sorry-sorry, My name is Willy! nice to meet you! Mr." Jawab Willy menerima jabak tangan orang tersebut.


Kemudian orang bersebut menjulurkan tangannya ke arahku juga, kami berkenalan dengan sangat singkat namun yang pasti Willy ternyata menerima pekerjaan tersebut.


"Akh Sal... ini beneran kan? gue udah dapat pekerjaan! berarti kita bakal dapat gaji sendiri!" raungnya bahagia.


"Selamat yah!" ucapku.


"Ini semua berkat elo Sal...." lirihnya membuatku mengerutkan dahi.


"Berkat gue? kok bisa?"


"Yah karena elo emang selalu memberi gue keberuntungan apalagi pas kita udah bersama!" jawabnya cepat dengan tersenyum manis di depanku.


"Will stop! gue nggak suka ya elo goda-goda gue kayak gitu! seharusnya lo ingat gue kesini cuman pengen kuliah, pengen sukses, walaupun sebenarnya jalan yang gue pilih ini salah, tapi gue juga tetap aja masih tetap tegar meski gue sebenarnya nggak rela jauh dari orang tua gue, apalagi Will kayaknya ini bakal jadi masalah yang berat banget buat gue karena apa! gue lari dari kenyataan, gue kayak pecundang yang setiap saat lari kalau punya masalah bahkan sekarang gue udah jadi istri durhaka sekaligus anak durhaka, masih berstatus istri orang tapi pergi tanpa Izin ketempat sejauh ini, apa lo masih fikir gue bener-bener melakukan hal yang benar?" tuturku mengeluarkan semua unek-unek yang tersimpan dalam lubuk hatiku dari awal perjalanan kami.


Willy menatapku serius bola mata kami bertemu, tangannya ia letakkan di kedua pundakku, "Gue tau elo banyak masalah Sal... tapi lo harus yakin ada hikmah di balik masalah lo itu, kalau masalah orang tua lo kita bisa menelfonnya pas sampai rumah, gue bakal terus nemenin elo kok jadi lo tenang aja! jangan merasa tertekan sendiri karena gue selalu ada buat lo!" terangnya mengelus pundak lalu turun ke lenganku.


"Terus kalau masalah suami lo yang bren*sek itu sebaiknya elo menelfonnya juga lalu minta cerai!" tegas Willy melanjutkan ucapannya.


"Ce-cerai?" aku tertegun ketika membayangkan makna di balik kata itu, kata singkat namun membekas dan mampu mengubah status sosial menjadi janda, bahkan sekalipun kami belum melakukan hubungan suami istri.


"Iya Sal... lo mesti harus lakuin itu! karena kalau lo nggak minta cerai dia bakal tetap terikat sama lo... dan gue takut dia bakal terus nyakitin elo Sal..." pungkasnya.


"Will... jujur gue emang udah capek ngerasain sakit hati, tapi kalau cerai sama dia kayaknya gue masih ragu!"


"Kenapa lo harus ragu Sal... dia udah nyakitin elo! dia nggak pernah ngehargain perasaan lo! atau jangan-jangan elo udah ada perasaan sama suami lo itu? Sal... sadar dong! dia itu pastinya nggak pernah sayang sama lo, buktinya dia nuduh elo mau ngebuh mantannya! nah... udah jelas kan! dia lebih milih percaya sama mantannya dari pada istrinya sendiri!" papar Willy emosi dengan menyakinkanku.


"Gu-gue..."


"Ahk udah lahh elo bikin gue emosi Sal... bisa-bisanya yah elo serapuh ini! udah tau nggak di percaya tetap aja di pertahanin, jelas-jelas ada banyak pria diluaran sana yang jauh lebih baik dari suami lo itu Sal!" ujarnya ngos-ngosan menasehatiku.

__ADS_1


"Maaf Will...." timbalku.


"Sebaiknya elo harus fikirin baik-baik ucapan gue! sekarang kita pulang aja!" katanya mulai berjalan cepat meninggalkanku


__ADS_2