
"A-apasih maksud lo?" tanyaku berpura-pura bodoh.
"Terus kenapa kamu mencari tau soal malam pertama?"
Mendengar itu aku merasa bingung harus menjawab apa, tiba-tiba dia lebih mendekatkan wajahnya tepat dipipiku hingga menempel tanpa cela sedikitpun.
Aku sangat kaget, dan dengan cepat mendorong tubuhnya sekuat tenaga namun sayang tubuhku yang kurus kerempeng ini tak mampu mendorongnya.
"Lo-lo mau ngapain? jangan dekat-dekat! minggir sana!!!"
Bug....
Ketika Tangan tak bisa mencegahnya kini kualihkan seranganku menggunakan kaki, aku menendangnya menggunakan dengkul hingga dia menjauh seraya meringis kesakitan memegang perutnya.
Dengan cepat aku berlari keluar dan sialnya aku lupa mengambil ponselku yang masih tergeletak diatas kasur.
Aku berhenti melangkah lalu berbalik, bermaksud ingin mengambil ponselku itu, dan setelah mengambilnya aku berjalan keluar tiba-tiba Kevin menarik keras tanganku dari belakang.
"Berhenti!!! "
"Lepasin tangan gue!" ucapku dengan nada tinggi seraya berusaha meronta agar terlepas dari cekalannya.
"Berani-beraninya kamu menendangku, kau tau ini kedua kalinya kamu melakukan ini padaku!" balasnya terdengar dingin
"Oh... Terus lo mau apa? Pengen ditambahin atau gue cincang muka datar lo!"
"Hn... Ternyata nyalimu besar juga rupanya!"
Kevin memasang raut wajah dinginnya hingga aku bergidik ngeri, akan tetapi aku mencoba agar tampak biasa saja.
"Ya tuhan... Sebenarnya nih orang asalnya dari kutub bagian mana sih? Dingin bener kayak balok es, gimana nasib gue kedepannya yang sudah sah jadi istrinya dia?" batinku.
"Oke... Scane hari ini udah dulu ya! Marahnya dipendam dulu, nanti aja gunungnya meletus soalnya gue capek banget mau bobo-bobo cantik dulu, jadi lepasin tangan gue!" lirihku dengan sok percaya diri padahal menyembunyikan rasa takut yang sangat dalam.
"Salsa.... " geramnya sembari mempererat cekalannya.
"Aww... Tangan gue sakit anj*r! Lepasin sekarang!"
Grap.....
Aku menggigit tangannya dengan sangat keras dan pada akhirnya tanganku terbebas dari cekalannya.
__ADS_1
Perlahan aku berjalan santai menuju keatas ranjang, lalu merebahkan diri diatasnya sambil melenguh karena sensasi nyaman dan lembut dari kasur itu.
"Siapa yang menyuruhmi tidur disitu?" tanya Kevin dengan kedua tangan yang berada dipinggang.
"Ahh... Emangnya kasur itu bukan untuk orang tidur? Terus kenapa lo nanya lagi gobl*k"
Kevin kembali geram dengan sikapku, dia mengepalkan tangan seraya berkata, " keluar!"
Aku memutar wajah menatapnya, melihat dia yang juga melotot Mengggunakan mata sipitnya yang entah mengapa aku merasa dia sangat imut.
Sungguh aneh tapi nyata semua perasaan itu muncul secara tiba-tiba, membuatku gemas melihatnya.
"Aku bilang keluar! Aku tidak suka ada orang yang mengotori tempat tidurku!"
Aku tercengang ketika mendengarnya semua rasa gemasku padanya seketika menghilang entah kemana.
"Lo kira gue kotor, sorry ya! Gue nih sering mandi tiga atau bahkan lima kali dalam sehari jadi gue nggak mungkin kayak sampah!" cetusku.
Kevin menarik nafas banyak-banyak, kini urat lehernya kelihatan dan aku sangat tau kalau dia sudah sangat emosi.
"Iya-iya gue bakal keluar! Tapi gue mau tidur dimana?" ucapku datar.
"Terserah! Yang penting kamu keluar sekarang!!!"
"Ada banyak kamar kosong dibawah kamu bisa tidur disana!" ucapnya dari dalam kamar.
"Gue tau, lo nggak usah ngasi tau gue!" kesalku.
Aku sempat berfikir kenapa hidupku harus menjalani suasana baru yang sangat menyebalkan dan semua ini karena Kevin.
Perlahan aku melangkah lagi dan lagi menuruni tangga, sambil celingak-celinguk memperhatikan setiap sudut rumah besar ini.
"Nih rumah besar bingits! Tapi sayang penghuninya cuman ada gue dan si es balok itu!"
Didalam kamar lantai bawah, aku mengambil dan membawa koperku sendiri masuk kekamar, setelah itu tanpa membereskannya terlebih dahulu aku lebih memilih segera bergulat ditempat tidur.
"Hufh senangnya udah bisa rebahan, tapi tadi itu kok Kevin bisa berfikiran mesum sihh gue sendiri kenapa bisa jadi deg-degkan dekatan sama dia?" gumamku.
"Ahk...dan kenapa Kevin harus lihat video tadi, ya ampun... Nanti dia mikirnya gue cewek apaan! Ehh tapi kenapa gue harus peduli? Bodo amatlah" lanjutku dengan berguling-guling, meremas, dan menggigit bantal yang kupeluk.
Aku mengambil ponselku yang ku masukkan tadi di saku celanaku, dengan perlahan aku menekan layarnya dua kali hingga tampaklah wajah cantikku yang ku jadikan walpaper.
__ADS_1
Aku mulai membuka via Whatsaapku dan yang sangat aku rindukan adalah bercengkrama dengan para sahabat-sahabatku.
Akan tetapi setelah membukanya mataku melotot menyadari tak ada satupun nomor kontak atau chat yang tersisa, siapa yang menghapusnya? Aku tidak tau tapi hanya Kevin yang menyita ponselku jadi aku sangat yakin kalau dia pelakunya.
"Kevin sialan! Kenapa lo hapus semua chat gue? Ahh... " geramku seraya menjerit dengan keras.
Aku sangat marah namun aku teringat masih ada aplikasi instagram aku juga membukanya tapi semua isinya zonk sama seperti Whatsappku.
"Kok dia kayak penguntit sih! Jahat banget, nggak WA instagram gue juga dia kepoin! Terus dihapus!!!"
"Ah ha sandinya kan masih gue ingat heheh dasar Kevin oon biarpun aplikasinya lo hapus tapi yang jelas sandinya masih ke save di otak gue heheh" ucapku setelah mendapat ide.
Aku memasukkan semua sandi dan namaku, alhasil akhirnya berhasil aku sangat senang dengan itu, disisi lain aku juga merasa bangga pada diriku yang masih bisa mengingat dengan jelas sandinya.
Sebenarnya sandinya adalah "Wilsal" berasal dari namaku dan Willy, semua ini terjadi karena kata itu menyimpan arti yang sangat dalam bagiku, karena Waktu itu akun aku pernah di hack oleh oknum tak bertanggung jawab akan tetapi Willy yang memperbaikinya.
Aku mulai merasa kagum padanya waktu itu, hingga pada akhirnya sejalan berjalannya waktu sandi ini masih saja ku ingat dan tak pernah ku ubah.
Dengan cepat aku mengalihkan fikiranku dari Willy terus ke instagram, aku tak sabar lagi melihat postingan-postingan dari pengikutku yang berkisaran lebih dari 1 juta meskipun masih sedikit akan tetapi pencapaian itu sudah sangat membuatku bahagia sekali.
Dengan mata berbinar aku menunggu lingkaran yang hanya berputar-putar dilayarnya hingga berhenti.
Aku menatap nanar layar beranda yang ternyata semua postingan berasal dari Willy, postingan yang baru saja di update olehnya, yang berisi kata-kata galau.
"Semua kenangan yang kita lalui biarlah menjadi masa terindah dalam hidup gue, dan gue harap lo bahagia" postingan 1
"Walau terkadang kita saling mencintai, namun apa jadinya jika tuhan berkehendak lain" postingan 2
"Berusaha untuk kuat? So what, kalau dia masih gentayangan disekitar lo, yang Hanya akan menjadi boomerang yang senantiasa membuat lo sakit hati" postingan 3
"Jika lo lelah gue mohon kembalilah karena gue masih butuh lo buat menjadi penyemangat hidup gue!" postingan 4.
Aku terlongong-longong begong, pasalnya semua kata dalam postingan itu sepertinya untukku, lidahku menjadi kelu tak mampu mengeluarkan kata-kata, debu dan bisu bersaing menguasai mulutku.
Begitu pula dengan tanganku, meski ingin membalas sepatah atau duakata akan tetapi jariku seperti lemas hanya untuk sekedar mengetik sesuatu.
Kini air bening mulai mengalir dari ekor mataku, aku mendongakkan wajah mencoba menghentikan air mata yang terus mengalir, dan biarlah menjadi telaga dalam mataku.
Akan tetapi meskipun aku melakukannya, air mata ini seakan tak ada habisnya untuk terus membanjiri wajahku.
Dan karena postingan itu, rasa lelahku hilang, sedangkan yang kurasakan saat ini adalah perih dihati, seperti teriris oleh benda tajam.
__ADS_1
Aku tak bisa tidur sama sekali seraya terus memandangi dan menghayati setiap rangkaian kata yang ada dipostingan Willy.