
Esok paginya, aku yang terbangun lebih awal sementara itu Salsa masih tertidur lelap, walau ingin membangunkannya tetapi aku tidak tega melakukan itu.
Hari ini aku harus ke rumah sakit, karena kemarin aku cuti sehari berhubung karena sakit perut, jadi sekarang aku harus bergegas kesana.
Pada saat terbangun, aku memandangi wajahnya yang terlihat cantik walau tertidur, bahkan aku ingin mengecup kembali bibir itu, tapi aku tidak ingin dia terbangun.
Aku menyeka rambut yang menutupi dahinya kemudian mendaratkan kecupan, "Sampai ketemu dirumah ya Sal.... " lirihku berbisik mengelus rambutnya.
Kemudian aku melangkah pergi, sebenarnya ada rasa tidak rela meninggalkannya sendirian di kamar hotel ini, tapi apa boleh buat pekerjaan harus di utamakan juga demi masa depan nantinya.
Ketika di perjalanan aku gelisah mengkhawatikan Salsa, apa dia sudah bangun atau belum atau dia mencari-cariku lagi seperti terakhir kali?.
Tanpa fikir panjang lagi aku mengambil ponselku dari dalam saku kemudian mengetik sesuatu untuknya.
Tapi setelah 30 menit kemudian tak ada balasan aku mulai yakin bahwa dia masih belum bangun! Dasar pemalas! Fikirku.
Berkali-kali aku menelfonnya tapi tetap saja tidak di angkat! "Ahk sudahlah! Sepertinya dia memang sangat mengantuk jadi biarkan dia tidak nyenyak Vin! " gumamku di dalam mobil.
Aku terus mengkhawatirkannya sampai-sampai kurang fokus di jalan dan hampir menerobos lampu merah.
Perasaan ini seperti seorang ayah yang mengkhawatikan anaknya di tempat penitipan anak! Ahh sungguh aku tidak tau harus bagaimana.
Hingga aku berfikir ingin kembali ke hotel untuk menjemput lalu mengantarnya lagi kerumah kemudian ke rumah sakit.
Tapi sepertinya itu tidak mungkin karena perjalananku sudah agak jauh dari hotel, hanya bisa mendoakan Salsa, agar pulang dengan selamat sampai rumah.
SALSA POV.
Perlahan aku membuka mata, melihat sekeliling menyadari tempat ini sangat asing bagiku, "Kayaknya aku masih di hotel!" gumamku setengah sadar.
Aku menyadari bahwa Kevin bersamaku tadi malam! Lalu di mana dia sekarang? Aku berdiri lalu berjalan ke kamar mandi untuk mencarinya bahkan di depan kamar hotel tapi sosoknya tidak ada.
"Kemana dia? Apa sudah pergi ke rumah sakit? Tapi kenapa tidak membangunkanku? kenapa dia meninggalkanku sendirian di hotel ini?" tanyaku pada diri sendiri.
Aku mengambil ponselku di atas meja samping ranjang, melihat jam yang ternyata sudah hampir jam 10, sepertinya aku yang terlalu lama tidur sehingga tidak menyadari kepergian Kevin.
Hanya bisa mendesah malas dengan kesendirianku ini, akan tetapi mataku tiba-tiba melirik sesuatu tepat di tengah layar ponselku.
Ada puluhan panggilan dari Kevin serta sebuah pesan, dengan rasa penuh penasaran terlebih dahulu aku mulai membuka pesannya.
Sebelum membukanya mataku terbelalak menyadari nama kontaknya di ponselku 'Suamiku tersayang' sejak kapan dia mengubahnya aku pun tidak tau, tapi kenapa dua kata itu terdengar sangat lebay?
"Astaga Kevin!!! Kenapa dia harus mengubah nama kontaknya tanpa meminta Izin terlebih dahulu padaku! " gumamku risih.
"Tapi sepertinya nama itu sangat cocok untuknya yang sekarang! Apalagi sikapnya sudah berubah menjadi ke kanak-kanakan!" lanjutku bergumam.
Aku memutuskan untuk mengabaikannya saja dan ingin fokus ke isi pesannya, 💬"Selamat pagi...❤
Maaf ya! aku pergi kerumah sakit, Dan tidak mau membangunkanmu karena ku lihat tidurmu sangat nyenyak sampai-sampai air liurmu mengalir banyak sekali, Bercanda! Tapi yang pasti aku harap kamu tidak marah! Ada uang di saku celanamu yang ku selipkan tadi, pergunakan itu untuk biaya taksi lalu makanlah sampai kenyang di restoran favoritmu! Jangan sampai kelaparan lagi! Aku tidak mau ada yang mengataimu kurus karena lalu ada orang yang mengatakan aku tidak memberimu makan sehingga tubuhmu seperti itu! Jadi jangan terlalu stres, makan makanan yang bergizi, agar tubuhmu tidak lurus tanpa lekukan! Sampai jumpa di rumah Istri datarku!"
Sebuah pesan yang tidak bisa di bilang singkat, berisi kumpulan kata yang menjengkelkan, apalagi dia mengejekku tapi kenapa aku malah ingin tertawa ketika membacanya apalagi pada kalimat penutupnya.
Bibirku terus memancarkan senyum tapi kemudian aku segera mengorek isi saku celanaku, ternyata benar ada beberapa lembar uang, tapi aneh kenapa bisa aku tidak menyadarinya ketika Kevin menyelipkan uang ini?
Kenapa aku seperti orang mati bahkan tak merasa ada yang menyentuhku?
Apa ini efek dari terlalu lelah? Atau kasurnya yang membuatku tidur terlalu nyenyak?
Sepertinya dugaanku benar sebab kasur yang ku pakai ini memang benar-benar empuk sekali.
__ADS_1
Tapi kenapa Kevin harus menyelipkannya di sakuku? Kan dia bisa menyimpannya di tas atau di tempat lain bukankah pada akhirnya dia tetap memberitahukanku! Sepertinya dia memang adalah orang yang sangat aneh.
Kyukk.....
Perutku sudah meminta jatah, jadi dengan cepat aku membereskan semuanya termasuk rambut yang acak-acakan dan pakaianku yang sedikit kusut.
Tapi tak apa! Perutku lebih penting dari pada penampilan, lagian aku juga tidak mau terlihat cantik di depan orang karena sekarang sudah ada Kevin yang sempurna di mata orang, bukankah begitu?
Tampaknya mulai sekarang aku harus merasa bangga karena mempunyai suami seperti Kevin, walaupun kadang-kadang membuatku kesal namun dia cukup perhatian dan selalu mengerti keadaanku.
Apalagi seperti semalam, jujur tadi malam sebenarnya aku sudah siap! Tanpa memperdulikan lagi apa yang akan terjadi kedepannya, aku ingin menyerahkan semuanya kepada Kevin tapi tiba-tiba saja aku teringat bahwa aku masih datang bulan.
Jadi agaknya dia tampak Kecewa mendegarnya, meski begitu dia tetap saja bercanda denganku membuat rasa gugupku seakan lenyap dalam sekejap.
Namun ketika Kevin mengungkit tentang masa lalu, fikiranku seakan tertutupi kabut tebal, tak bisa berfikir dengan apa yang harus aku katakan.
Walau dia terus bertanya tapi aku tetap saja ragu untuk memberitahunya apalagi kalau sampai dia tau bahwa aku putus gara-gara perjodohanku dengannya, aku takut menghadapi reaksi yang ia berikan.
Dan dia akhirnya mengerti, sungguh laki-laki yang pengertian sudah menjadi hal langka dalam dunia ini dan dia adalah salah satu yang tuhan berikan untukku.
Mungkin dia di ciptakan untuk mengubah sikap kasarku yang terkadang kelewatan batas, atau dia datang karena tau aku belum pernah merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya? Ahh entahnya sepertinya hanya waktu yang bisa menjawab semua unek-unekku ini.
Tanpa basa-basi lagi aku keluar dari kamar hotel, turun ke lantai dasar menggunakan Lift kemudian mencari restoran.
Kali ini aku merasa ingin sekali makan makanan yang berminyak, lalu aku bertanya ke resepsionis dia berkata ada restoran di lantai dasar dan dia menunjukkan arah jalannya padaku.
Pada saat di restoran, aku memandangi pengunjung yang lebih dominan orang-orang berdasi dan perempuan yang terlihat elegan.
Ada perasaan sedikit malu sebab pakaian yang ku pakai sangat lecet dan juga aku belum mandi.
Aku berjalan kaku menghampiri meja kosong sambil mataku berkeliling memandangi orang-orang yang juga melirikku.
Buku menu itu ku berikan tanpa pernah ku buka, karena yang ingin ku pesan adalah sesuatu yang berminyak.
"Aku mau pesan nasi goreng ya mbak!" jawabku langsung di tulis oleh pramusaji tersebut.
Beberapa menit berlalu, nasi goreng datang dan di hidangkan di depanku, makan seorang diri di tengah-tengah keramaian membuatmu merasa aneh.
Bahkan saat mulai mengunyah nasi gorengnya aku merasa sedikit kesepian, aku merindukan para sahabatku, rindu akan canda tawanya meski pada saat ngumpul dan makan bersama.
Aku ingin menangis setiap kali memikirkannya, bahkan aku ingin menelfon mereka akan tetapi pada saat aku ingin melakukannya ada saja yang menghambat jadi aku menjadi lupa untuk menelfon.
"Salsa.... " panggil seseorang berdiri tepat di sampingku, aku yang sedikit menunduk hendak memasukkan nasi gorengnya kemulutku kini ku taruh kembali ke piring.
Lalu mendonggakkan wajah untuk melihat siapa yang memanggilku.
"Di-dita?" sahutku kaget sambil langsung berdiri.
Aku sungguh tak menyangka bisa bertemu Dita di tempat ini, apa lagi aku baru saja memikirkan kebersamaan kita.
"Dita apa yang kamu lakukan disini? ahh apa jangan-jangan kamu datang ke sini karena tau aku menginap di tempat ini? kalau begitu aku sangat senang! ohh iya ayo makan, kamu pesan aja biar aku yang bayar" ucapku lirih seraya tersenyum menyambutnya dengan hangat, lalu memegang kedua tangannya.
Bukannya setuju ia malah menepis tanganku, membuatku heran wajahnya juga tampak kesal tapi aku tidak tau kenapa dia seperti itu atau dia masih marah soal kemarin?
"Sorry! gue nggak punya niat buat ketemu sama lo, apalagi di tempat ini cih! ogah kalau gue tau elo ada disini mungkin gue bakal chek-in hotel lain! " Ketus Dita dengan sikap cueknya.
"Dita! kenapa kamu sangat keterlaluan padaku?" ujarku wajah memelas menahan tangis.
"Hmm... keterlaluan? sepertinya gue nggak lakuin hal yang keterlaluan kok! lo nya aja mungkin yang terlalu baperan, ohh iya sepertinya cara bicara lo berubah apa jangan-jangan elo jual diri di tempat ini ya? jadi ada seseorang yang bisa mengubah sikap lo!" cibir Dita dengan sesekali memutar bola matanya.
__ADS_1
"Hah! jual diri? Hufh... oke gue nggak bisa lagi nahan diri! Dita elo jangan keterlaluan, gue nggak pernah yang namanya jual diri! elo nggak usah sok tau soal hidup gue!" serkahku melawan cibirannya.
"Ohh kalau begitu gue lihat apa sekarang? Cih pakaian lo aja berantakan dan juga asal lo tau tubuh lo tercium parfum laki-laki, jadi gue bisa beranggapan apa lagi selain elo jual diri! lalu gimana nasib David Sal... bisa-bisanya ya elo tega duain dia, padahal dia orangnya baik hati, tapi ternyata ini balasan elo sama dia! wah sepertinya gue bener-bener salah dulu milih teman kayak elo dan David sama Willy pastinya akan merasa menyesal pernah menaruh perasaan sama lo!" kata Dita semakin salah paham dan juga mengeluarkan perkataan diluar dugaanku membuat orang-orang yang duduk di sekitar kami, seketika menoleh menyaksikan perdebatanku dengan Dita.
Aku tercengang, tak bisa berbuat apa-apa lagi karena ucapan Dita sudah di dengar oleh orang-orang di sekitar kami.
"Sttt...Dita... cukup!!! gue nggkak pernah lakuin semua yang elo bilang tadi! asal lo tau gue bukan cewek murahan yang rela jual diri demi uang! elo kan tau gue nggak kekurangan apapun! tapi kenapa elo fikir gue cewek yang seperti itu? dan juga gue nggak pacaran sama David! berapa kali gue harus bilang ke elo gue nggak pacaran sama dia!" tegasku.
"Kalau begitu, kenapa elo bisa ada disini? tidak mungkin sama David kan? heh berarti dugaan gue bener elo jual diri di belakang dia!" seka Dita tersenyum meremehkan.
Aku mengepalkan kedua tanganku dengan sangat keras berusaha menahan emosi yang perlahan menguasai tubuhku.
"Gue kesini sama suami gue!" jawabku cepat seraya memejamkan mata takut melihat bagaimana reaksi syok yang di pancarkan oleh Dita.
Sebenarnya aku belum siap mengatakan hal itu pada Dita, tapi otakku tak bisa lagi memberikan sebuah ide, jadi untuk sekarang biarlah semua orang tau, lagi pula cepat atau lambat mereka pasti akan tau juga.
"What!!! suami? alasan lo nggak masuk akal Sal... kapan elo nikah? hah! kayaknya elo emang nggak bisa lagi mengelak jadi langsung bilang udah nikah kan? dasar ya nggak tau malu banget lo!"
"Terserah kalau lo nggak percaya! gue juga nggak bisa maksa elo buat harus percaya sama kata-kata gue!" ujarku
"Bodoamat kalau gue keras kepala! yang penting gue nggak pernah tuh ngecewain orang-orang di sekitar gue!" sindirnya.
"Cukup Dita... Cukup!!! hentikan omong kosong lo itu!" teriakku menjerit menutup telinga sudah muak mendengar semua cibiran Dita yang membuat hatiku seakan ingin terpecah menjadi berkeping-keping.
"Kenapa? elo pasti nggak mau kan denger fakta buruk tentang diri lo sendiri! sadar Sal... elo itu selalu nyakitin orang-orang di sekitar lo, bahkan ada orang bodoh yang selalu dengar semua keluh kesah lo tapi elo sendiri nggak pernah merhatiin dia! elo selalu merasa yang paling benar, elo selalu mem.... "
"Sayang! aku kita pergi sekarang!" ajak Seorang laki-laki yang merangkul Dita sekaligus memotong ucapan Dita.
Aku menggelengkan kepala dengan kuat, namun mataku melirik ke arah laki-laki yang berada di samping Dita, dia terlihat masih muda muda sepertinya masij seumuran dengan kami.
Dan lebih terkejutnya lagi, laki-laki itu memanggil dia dengan kata 'Sayang' aku penasaran apa hubungan mereka berdua.
"Hmm... ayo!" jawab Dita hendak melangkahkan kakinya.
"Tunggu! dia siapa lo Dit?" tanyaku.
"Kenapa? elo mau rebut pacar gue juga sampai buat dia kecewa?" selidik Dita sambil masih menyindir.
"Pacar? ja-jadi elo udah punya pacar? sejak kapan? kok gue nggak tau?" tanyaku sekaligus.
"Lo nggak usah langsung perhatian sama gue deh Sal... ini nih yang gue maksud elo tuh nggak pernah merhatiin gue dari dulu, lagian elo nggak pernah kan nanya kalau gue udah punya pacar atau enggak jadi sekarang elo nggak usah ngurusin hidup gue!" jelasnya.
"Gu-gue minta maaf Dit! gue nyesal nggak pernah mau dengerin curhatan elo!" lirihku memohon.
"Gue nggak butuh maaf lo! ayo sayang kita pergi aka dari sini, gue malas banget lihat muka munafiknya dia!" ketus Dita mengajak pacarnya.
"Tunggu sayang! sebenarnya dia siapa sih?" tanya pacat Dita.
"Ohh dia? dia tuh cuman man-tan te-man gu-e" Dita mengucapkan secara perlahan.
"Sayang! kalau ada masalah seharusnya di selesaikan dengan baik-baik, jangan seperti ini!" nasehat sang pacar.
"Udah deh... gue malas banget lihat muka dia! kalau elo masih mau disini kita putus aja! gue mau pergi sekarang!" ancam Dita langsung melangkah pergi meninggalkan kami membuat sang pacar terlihat resah.
Aku fikir pacarnya tersebut dengan cepat langsung menyusul langkahnya tapi ternyata tidak melainkan dia duduk di kursi depanku sambil mengambil tissue, mengeluarkan pulpen mini dari dalam sakunya.
Kemudian tissue itu ia berikan padaku, "Jangan lupa calling-calling ya!" ucapnya lalu pergi begitu saja.
Awalnya aku heran dengan ucapan singkatnya itu tapi ketika aku membuka lipatan tissuenya ternyata ada sebuah nomor ponsel aku fikir ini adalah nomornya, lalu seperti apa sebenarnya sikap pacar Dita itu.
__ADS_1
Kini rasa penasaranku seakan terus bertambah banyak sekaligus rasa gelisah karena masalah juga ikut serta di dalamnya.