
Akhirnya aku dan Kevin pulang dengan mengendarai mobilnya, ia terlihat cemberut sejak tadi, bahkan sekarang dia hanya terus diam sambil fokus menyetir.
"Kamu marah ya Vin? Karena aku tidak memberitahumu tentang apa yang aku sampaikan ke Clara?" lirihku.
Kevin tetap tak merespon, dan kini aku berinisiatif untuk membuatnya bicara, "Kamu kenapa sayang! Hmph... Ayolahhh bicara, kalau kamu seperti ini terus bisa-bisa aku bosan!" keluhku merengek menyandarkan kepalaku dipundaknya dengan sesekali mengusap-usapkan kepalaku ditempat ternyaman untuk bersandar itu.
"Kenapa kamu tidak mau memberitahuku Sal? Apa pembicaraan kalian tadi itu memang harus dirahasiakan dariku? Tapi tetap saja aku merasa kalau kamu itu tidak mau berbagi cerita denganku!" akhirnya Kevin angkat bicara, seperti dugaanku tadi, Kevin cemberut sebab Mempermasalahkan omonganku dengan Clara.
Aku terkekeh, "Hahah jadi sampai sekarang, Kamu kesal karena itu? Ya ampun sayang! Tadi itu aku bisikin Clara sesuatu yang... Yah... Sedikit menyangkut malam panjang kita sayang!" kataku.
"Malam panjang?"
"Iya... Aku memberitahu Clara sedikit kebohongan!"
"Kebohongan apasih Sal... Kamu nih jangan membuatku berfikir seolah-olah kamu hanya membuat sebuah alasan!" tukasnya.
"Hahah tidak-tidak! Ini bukan alasan, sebenarnya aku bilang ke Clara soal hubungan panas kita di atas ranjang heheh!" jawabku kembali tertawa keras tanpa merasa malu.
"Apa! Tapi kan kita tidak pernah melakukan hubungan badan? Bagaimana bisa kau!" pekik Kevin merasa tak menyangka.
"Heheh justru itu aku sengaja berbohong padanya!"
"Untuk apa kamu melakukan itu?"
"Yah... Aku hanya ingin membuatnya kesal saja! Siapa suruh dia selalu membuatku marah, mungkin dia mengira aku ini tidak ahli membuat orang marah ya kan?" ucapku.
"Kamu ini!, ohh iya, jangan-jangan kamu memang merindukan malam panjang kita ya? Tapi tidak apa! Sepertinya si junior juga sangat merindukanmu!" goda Kevin sontak membuat wajahku memanas.
"Apa sebaiknya kita, kembali kerumah kita saja? Lagian sepertinya kita sudah agak lama tinggal bersama orangtuamu!" usulnya.
"Hmph... Baiklah aku setuju!" jawabku antusias.
__ADS_1
"Hem... Sepertinya kamu memang sudah tidak sabar ya untuk melakukan 'itu'!" Sekali lagi Kevin tersenyum menggodaku, yang bahkan tanpa sadar aku memang sangat senang mengenai usulnya tadi.
"Ehh tidak! Aku... Aku hanya bahagia aja!"
Kini giliran Kevin yang tertawa, sementara aku yang sejak tadi menahan malu hanya bisa memalingkan wajah.
***
Sore haripun tiba, seperti yang tadi diucapkan olehnya, kami setuju untuk kembali kerumah yang dimana sebagai hadiah pernikahan kami.
Mama yang tadinya tak setuju karena kondisiku yang baru saja operasi namun karena bujukanku akhirnya mama mengiyakan.
Dan sekarang aku dan Kevin sudah sampai, dia masih sibuk memindahkan semua koper untuk dibawa masuk kedalam kamar sedangkan aku masih belum bisa mengangkat beban yang terlalu berat.
Aku hanya duduk di kursi ruang tamu, sembari menatapnya mondar-mandir, setiap kali ia lewat didepanku, ia pasti memberiku sebuah kedipan mata.
Hal konyol itu malah membuatku seakan ikut tersenyum, saat semua koper sudah berada didalam kamar, ia terduduk disampingku dengan nafas terengah-engah.
Namun sebelum itu tanganku tiba-tiba ditarik olehnya, "Hufh... Hufh... Tidak usah, kamu disini saja! Tidak boleh pergi kemana pun!" ucapnya.
"Ehh... Tapi kan! Aku hanya ingin mengambilkanmu air, tidak akan lama kok!" lirihku tercengang.
"Tidak perlu Sal... Kamu duduk saja disini!" Kevin menepuk-nepuk sofa disebelahnya memberi isyarat agar aku duduk disampingnya.
"Oke... Aku akan duduk!" terpaksa aku kembali duduk, dan seketika ia menyandarkan kepalanya dibahuku, " Hufh... Sal... Ada sesuatu yang ingin kutanyakan lagi, soal mama! Tadi itu bukannya mama tidak setuju kalau kita kembali kesini? Tapi kenapa tiba-tiba mama langsung setuju?"
"Ehh... Itu aku bilang ke mama kalau, mama ingin punya cucu secepatnya yah... Mama harus setuju kalau kita kembali kesini!" tuturku.
"Hah! Pantas aja mama langsung setuju! Kamu ini bisa-bisa aja!" Kevin mendonggakkan wajahnya menaruh tangannya di kepalaku dan mengacak rambutku.
"Ahkk... Kevin jangan!!!" sekaku kesal.
__ADS_1
"Aku sangat gemas melihatmu Sal..., ohh iya ayo mandi!" tukas Kevin langsung berdiri dan menjulurkan tangannya dihadapanku.
Tanpa basa-basi aku menerima uluran tangannya, kami bergandengan tangan berjalan kearah kamar.
Didalam kamarpun Kevin tak mau melepaskan tanganku, "Kamu duluan aja Vin!" kataku.
"Tidak! Aku ingin kita mandi bersama!" serkahnya.
"Apa!!! Hahah tidak-tidak kamu duluan aja! Kalau kamu sudah selesai, baru aku mandi juga!" aku cengingisan pasalnya aku sangat tau maksud mesum Kevin jika aku mengiyakan ucapannya.
"Kamu ini selalu saja membantah!!!" Tiba-tiba Kevin mengangkat tubuhku dan berjalan munuju kamar mandi.
"Ehh ahk... Kevin apa yang kamu lakukan!" Aku memberontak namun percuma sebab tenaganya lebih kuat dariku.
***
Beberapa jam berada didalam kamar mandi, tubuhku mengingil terus berdiri dibawah pancuran air shower yang berjatuhan membasahi tubuhku dan Kevin.
Yah... Aku dan Kevin sudah selesai mandi sejak tadi, akan tetapi Kevin melampiaskan nafsunya padaku.
Aku tak bisa menolak sebab aku juga sangat merindukan hal-hal seperti ini dengannya, "Vin! Ahk... Ayo hentikan aku sudah sangat kedinginan!" kataku dengan nafas yang sedikit mendesah namun bukannya mendengarku Kevin malah melanjutkan aksinya.
"Ahh... Tunggu sebentar sayang! Aku sudah hampir keluar lagi!" katanya.
Tubuhku sudah sangat lemas, hingga aku tak bisa lagi menahan diri dan akhirnya terkulai, "Sal... Kamu kenapa?" Kevin panik dan langsung mengeluarkan miliknya dari milikku.
"Aku... Aku sudah lelah Vin!" keluhku dengan wajah pucat dan tubuh menggingil.
Dengan secepat kilat Kevin mengambilkanku handuk dan mematikan showernya, ia melilit tubuhku dengan handuk tersebut dan membawaku keluar menuju ranjang.
Tak lupa ia mengambil handuk lagi, untuk dirinya, "Kamu keterlaluan Vin! Aku kan sudah bilang berhenti, aku sudah kedinginan!" keluhku kesal.
__ADS_1
"Maafkan aku sayang! Aku...." ia tak melanjutkan ucapannya mungkin karena merasa bersalah atau apa aku juga tidak tau, tapi yang pasti dia hanya tertunduk selagi meminta maaf padaku.