Suamiku Dokter Dingin

Suamiku Dokter Dingin
Tangis haru.


__ADS_3

"Apa! Apa yang mau kamu lakukan Vin? Kenapa kau harus tersenyum seperti itu?" tanyaku gugup, dengan jantung berdebar tak karuan.


Kevin tak merespon, ia hanya menatapku sambil terus melangkah membuatku justru mundur kebelakang.


"Kenapa dia seperti itu? Apa jangan-jangan dia mau melakukannya di sini? Apa hasratnya sudah melebihi batas karena merindukanku selama 4 tahun? Tapi kenapa rasanya aku... Aahh ya ampun! Fikiranku..." risihku dalam hati bertanya memikirkan hal-hal yang intim.


Aku mengepalkan tanganku sambil memejamkan mata, " Vin... Jika kau mau melakukannya sekarang! Aku sudah si...."


Bug... Ahh...


Perkataanku terhenti dan langsung membuka mata pada saat mendengar sesuatu, dan benar saja Kevin ternyata menjatuhkan dirinya di atas ranjang sambil mendesah kenikmatan merasakan empuknya kasur bigsize yang di miliki hotel ini.


"Apa yang...." Aku memandangnya datar, tercengang karena tadinya ku fikir Kevin mau melakukan hubungan suami istri denganku, wajar jika aku berfikiran seperti itu sebab ini merupakan pertemuan pertama kami setelah sekian lama.


"Ayo Sal... Sini!" panggilnya menepuk bantal yang tergeletak di sampingnya.


Sedangkan ia berpose bak ibu yang ingin menyusui anaknya, "Kevin! Ku fikir tadinya kau akan...."


"Akan apa?" potongnya.


"Ahh tidak ada!" elakku malu.


"Astaga Kevin!!! Kenapa dia membuatku merasa malu sendiri! Dia membuat tubuhku langsung menegang hanya dengan melihat senyum menggodanya, Apa aku sudah


tergoda dengannya lagi? Tapi kenapa harus aku duluan! Seharusnya aku menahan diri dulu sebelum mendengar penyesalannya!! Arghh...!" batinku.


"Sudahlah lupakan saja!" serkahku malas memberinya penjelasan.


"Ohh oke... Kalau begitu, sini..." panggilnya lagi.


"Tidak usah! Aku tidak mau tidur di atas ranjang! Aku maunya tidur di... Ahkk di sofa aja! Yah lebih baik aku tidur di sofa sana!" jawabku menunjuk ke sofa panjang fasilitas dari hotel ini yang tepatnya berada di sudut ruang kamar tempat kami berada.


Tiba-tiba pada saat hendak melangkahkan kaki, Kevin dengan cepat meraih tanganku dan menariknya kencang, membuat tubuhku memutar dan seketika terjatuh di atas tubuhnya.


Awalnya aku heran kenapa bisa pas seperti ini, namun kemudian aku tersadar bahwa Kevin dengan nakalnya, sengaja membuat tubuhnya terlentang karena sudah tau aku akan menimpanya.


"Ahk... Ke-kevin!!!" ucapku terbata.


Dag...dig... dug...


Jantungku semakin tak bisa ku kontrol, bahkan dadaku kini rapat dengan dadanya dengan hanya terhalang oleh pakaian kami.

__ADS_1


"Sepertinya kamu sudah sangat agresif lagi dipertemuan pertama kita Sal!" godanya tersenyum dengan satu kali kedipan mata.


"A-apaan sih!" serkahku, ingin bangkit akan tetapi sekali lagi Kevin mencegah dengan memelukku erat diatas tubuhnya.


"Kevin!!! apa yang kau lakukan!" kataku merontah.


Kupandangi wajah Kevin yang merem-melek, "Sal... please... jangan banyak bergerak! diatasku, kalau tidak aku tidak bisa lagi menahan diri!." ucapnya.


Wajahku seketika memanas, mengetahui makna di balik ucapannya itu, bahkan aku merasa langsung membeku tak mau lagi bergerak sedikitpun.


"Maka dari itu Vin! lepaskan tangan kamu dan aku akan pindah!" jelasku.


"Aku sudah bilang Sal... aku tidak mau melepaskanmu! aku takut kamu akan kabur lagi dariku!" tuturnya


"Vin... aku tidak mungkin bisa kabur! bukankah kuncinya ada sama kamu?"


"Tapi tetap saja aku tidak mau melepaskanmu lagi!"


"Hah! ayolah Vin... berhentilah kekanak-kanakan, aku sungguh tidak nyaman berada di posisi seperti ini!" imbuhku membujuk.


"Ohh... kalau begitu ayo kita tukar posisi, biar aku yang berada di atas!"


"Hn... yah... aku mau mengambil hati istriku yang telah lama ku rindukan!" gombalnya.


"Vin aku serius!!!" seruku menatapnya.


"Aku juga serius Sal... mestinya kamu mendengarkan detak jantungku sekarang! sangat cepat kan? Itu karena kamu Sal... kamu yang selalu membuat jantungku seperti itu dan kamu yang membuatku sangat takut kehilanganmu!" jelasnya lirih.


Kevin menatapku dengan mata sayu, dari matanya yang sipit ada air bening yang ingin segera mengalir keluar.


"Kevin...."


"Apa kamu sudah mengerti Sal... Aku sungguh sangat takut kau meninggalkanku lagi, aku merasa sangat kesepian selama 4 tahun kepergianmu!"


Aku merasa terharu dengan pengakuannya, Kemudian Kevin mengubah posisi menjadi miring, tanpa melepaskan tangannya yang melingkar di perutku ia membuatku berbaring disampingnya.


Posisi kami kini berhadapan, dengan tubuh kami yang masih berdempekan karena ulah tangannya yang tak mau melepaskanku.


"Aku sangat menyesal tidak mempercayaimu Sal... aku terus mencarimu kemana-mana seperti orang gila yang tak tau arah ketika mengetahui kebenarannya, bahkan aku tidak fokus bekerja karena terus memikirkan keberadaanmu!" ungkap Kevin membuat air bening yang tadinya hanya berlinang di pelupuk matanya kini mengalir keluar dari sudut mata sipitnya.


Aku merasa ingin ikut menangis, perasaanku bercampur aduk menjadi satu, rasa sedih serta bahagia kini mulai ku rasakan.

__ADS_1


"Kevin... jangan menangis! aku juga banyak salah sama kamu!" balasku mengusap air matanya.


"Aku salah karena langsung pergi tanpa berusaha membuktikan penjelasanku, aku kabur tanpa meminta izin sama kamu, bahkan aku pergi sejauh ini tanpa pernah menghubungimu sekalipun!" lirihku.


"Tidak Sal... itu semua terjadi, karena aku yang memulainya, jadi aku yang salah... kamu sama sekali tidak bersalah dalam hal ini!" timbal Kevin.


"Vin... dengarkan aku! aku yang salah!"


"Tidak! aku yang salah Sal..."


"Ohh oke... baiklah tidak usah bertengkar memperebutkan salah atau tidak salah! lebih baik begini saja, kita berdua yang salah!" pungkasku membuat keputusan.


Ahahah....


Kevin tertawa keras, suara tawanya mengema mengisi kesunyian malam dikamar hotel ini, aku juga seperti itu, hingga pada akhirnya kami berdua tertawa bersama melepaskan kerinduan masing-masing.


"Vin... bukankah kita sudah berpisah selama 4 tahun! apa kita masih bisa di sebut pasangan suami istri?" tanyaku tiba-tiba.


"Kenapa kamu bertanya seperti itu? kita kan tidak pernah yang namanya menandatangani surat cerai?" sekanya


"Ohh baiklah aku hanya bertanya soal itu saja!"


"Sal... apa kamu pernah merindukanku ketika kita tidak bersama selama 4 tahun?" Kini giliran Kevin yang bertanya.


"Tidak... aku tidak pernah..." ucapku berbohong, lain di hati lain pula yang mulutku katakan.


"Ahh masa? tapi kenapa kamu tidak banyak melakukan perlawanan ketika aku membawamu ke sini?" selidiknya.


"I-itu karena... ahh Baiklah Vin... kamu menang! a-aku memang merindukanmu!" ujarku grogi.


"Apa! aku tidak mendengarnya coba ulangi sekali lagi!"


"Iya Vin... aku merindukanmu!" ucapku dengan nada rendah.


"Aku tidak mendengarnya Sal... katakan lebih keras!"


"Hufh... Vin... iya aku merin... mmkkk!"


Kevin memotong ucapanku dengan mencium lembut bibirku, membuatku sangat-sangat terkejut sampai aku merasa nafasku tertahan.


Namun ciuman yang ia berikan begitu singkat membuatku merasa ada sesuatu yang di ambil dengan paksa padahal aku masih menginginkannya.

__ADS_1


__ADS_2