Suamiku Dokter Dingin

Suamiku Dokter Dingin
Dita yang salah paham


__ADS_3

David terlihat panik, matanya berkeliling entah memikirkan apa, "Elo jujur aja sama gue! Nggak usah mikir mau bilang apa! Gue udah tau dari dulu kok!" ungkapku.


"Masa sih! Emang kelihatan banget ya gue suka sama Dita?"


"Hahha nah lohh akhirnya elo jujur juga kan?"


David memukul kepalanya pelan, sambil menggaruknya.


"Iya-iya gue beneran suka sama Dita! Puas lo udah memprovokasi gue! Tapi elo jangan kasi tau dia dong! Please! " pinta David


"Lohh emang kenapa? Nggak usah lama-lama di tahan keles, nanti bakal jadi tamu undangan, Lo mau! " kataku menantang.


"Ya nggak mau lah... Tapi nih Sal... Gue nggak tau gimana caranya buat dekatin dia, hari ini aja gue mau ngajak dia jalan ehh tapi manggil elo!" ketusnya.


"Sorry ya gue nggak bisa kasih lo saran! Soalnya kisah cinta gue juga rumit!"


"Bukannya elo cuman pernah pacaran sehari sama Willy? Kok rumit baget?"


"Hmm... Ya rumit aja!" balasku singkat membuat David mengerutkan dahi karena ucapanku yang tidak nyambung.


"Sal... Kalau gitu! Kasih gue tips dong, biar Dita juga suka sama gue! Elo kan sama-sama cewek, nah pasti tuh... Kalian punya kesukaan yang hampir sama!"


"Kalau soal kesukaan, elo bertanya sama orang yang tepat, tapi kesukaan gue belum tentu di sukai Dita! Gimana dong!"


"Yang elo suka aja! Pasti ada yang sama kalian kan sama-sama keras kepala!" cibir David bercanda.


"Yakk sekali lagi elo bilang gue keras kepala, gue bakal ketok kepala lo pake sendok sampai pecah! Mau?" ancamku seraya mengambil sendok dan hendak melayangkannya tepat di samping kepala David.


"Tuh... Kan! Elo tuh persis banget kayak Dita... Biasa keras kepala, biasanya juga kasar tapi dia tetap cantik!" puji David tersenyum ngirang.


"Ehh udah deh Vid! Lama-lama elo bakalan kayak Lena si bucin" ucapku mencibir.


"Ohh iya hampir lupa! Lo kok bisa suka sih sama Dita yang lo bilang kasar dan keras kepala?" lanjutku bertanya karena penasaran.


"Nggak tau juga sih! Semenjak gue kenal dia dari pertama ketemu, orangnya ya emang kasar, cuek banget, tapi seru diajak chatingan kayak nyambung aja gitu, dan ada gesreknya juga! " jawab David cepat.


"Lo sering chatingan?" tanyaku lagi.


"Ya iyalah chat dia yang selalu gue nomor satuin! Kalau dia mau off ya gue off juga terus main game!" terang David.


"Asyik, " cetusku.


"Asyik apaan! Belum juga pacaran elo udah bilang asyik aja!" balas David ketus.


"Hahah santuy bro...santuy aja! Jodoh ma nggak akan ke mana! Kata orang sih kalau kata gue jodoh nggak akan datang kalau bukan elo yang berusaha mencari!" tuturku.


David melenguh, kemudian menarik nafas dalam-dalam hingga dia mendonggakkan wajahnya.


"Napa loh!" tanyaku heran.


"Sal... Lo tuh kan dekat banget sama Dita kayak permen karet gitu, bantuin gue buat jadian sama Dita dong! " pinta David lagi


"Tenang aja! Gue bakal bantu lo kok! Gue nih sahabat elo yang nggak bakal ninggalin temannya yang butuh bantuan!" ucapku sambil berdiri kemudian menepuk-nepuk pundaknya.


"Nah... Kalau misalnya elo mau nembak Dita nih, elo mau bilang apa? Ohh atau gini anggap aja gue Dita dan sekarang elo mau nembak gue! "ujarku memberi pertanyaan.


"Yah... Gue langsung bilang aja, Dita elo mau nggak jadi pacar gue! Gitu!" jawab David setengah serius.


"Hah! Gitu doang! Lo yang serius dikit napa? Anggap gue Dita terus tembak gue!" jeritku mulai kesal dengan usahanya yang tidak mendalami.


"Terus gue mau apa lagi Sal...bukannya cuman itu doang kalimatnya kalau mau nembak cewek!"


"Emang bener kalimatnya kayak gitu! Tapi suasananya yang harus romantis dong! Misalnya nih yah! Elo megang dulu tangan dia, lo elus-elus pake perasaan... Nah kalau dia udah kelihatan senyum-senyum sendiri disitulah elo utarain perasaan loh! Gimana? Sekarang elo udah ngerti kan? Kalau gitu coba lo contohin ke gue!" jelasku padanya.


David mengangguk kemudian meraih tanganku lalu mengelusnya seperti yang ku katakan padanya tadi, tatapannya sudah penuh dengan keseriusan.


"Dita elo mau nggak pacaran sama gue! Jujur gue udah lama banget suka sama elo! Gue mau elo yang jadi teman hidup gue, lo mau kan?" ungkap David memperagakan.


Dengan tersenyum lebar aku mengangguk seraya berkata, " Gue ma...."


"Wahwah... Ternyata ada yang jadian nih di belakang gue!" potong Dita yang tiba-tiba datang dan membuat kami kaget hingga melepaskan genggaman tanganku dengan David.


"Ehh Dita elo salah paham!" seka David.


"Hahah nggak usah malu lah Vid gue setuju kok, kalau kalian jadian! Hehe kalau gitu gue mau minta pajak jadiannya mana?" ucap Dita menjulurkan tangannya kepada kami berdua.


Kini giliranku yang memukul kepala sendiri melihat Dita yang salah paham karena melihat David mengutarakan perasaannya padaku.

__ADS_1


"Dita! Kita nggak jadian! Pajak jadian apaan, mimpi aja sana, David tadi itu lagi.... " aku mau mengatakan yang Sebenarnya kepada Dita tapi ketika ku lirik David dia hanya menggeleng pelan mengisyaratkan padaku untuk tidak memberitahukannya. Mungkin dia masih belum siap mengungkapkan perasaannya itu.


"Tuh... Kan nggak bisa jawab, berarti kalian beneran pacaran ya! Lo kok gitu sih Sal... Kalian udah pacaran tapi nggak mau nih kasi tau gue? Katanya sahabat terus mana buktinya! " timpal Dita.


"Ya ampun Dita...kita emang nggak pacaran! Elo nggak percaya banget jadi orang!" pekikku risih.


"Sal... Nggak usah bohong lah sama gue! Udah jelas kok gue denger, lihat dengan mata kepala gue sendiri tadi waktu David nembak elo! " seka Dita masih teguh dengan pendiriannya.


"Dita...." panggil David.


"Lo diam deh Vid! Pasti elo juga cuman mau menyangkal kan? Jadi nggak usah ngomong! Yang jelas kalian nggak bisa bohong lagi dari gue!" balas Dita


"Terserah elo Dita! Gue nggak bisa lagi berkata-kata, David semangat berburu ya bro!" ucapku mengeluh dengan ke angkuhan Dita hingga aku memilih menyemangati David saja.


"Elo mau pergi berburu Vid? Dimana? Kapan?" Tanya Dita beralih dari pembahasan kami.


"Ehh maksudnya bukan berburu anu... Tapi berburu ci... "


"Kalian ngobrol dulu ya! Gue mau ketoilet dulu sebentar!" pamit David memotong ucapanku.


Setelah David pergi, aku kembali menatap Dita sambil melenguh dan mendesah pelan, lalu menunduk dan memukul-mukulkan kepalaku diatas meja.


"Sal... Elo sakit jiwa? Kok elo mukul-mukul kepala lo diatas meja?"


"Dita... Kenapa elo nggak percaya sama gue! Padahal gue beneran nggak pacaran sama David loh!" kesalku.


"Masalah ini lagi! Alllahh elo tenang aja gue nggak bakal ganggu waktu berduaan kalian kok! Ohh iya Sal... Besok kita ke kampus buat pengukuhan kan?"


Dengan cepat aku mendonggakkan wajah kembali menatapnya dan memastikan perkataan yang tadi di ucapnya.


"Elo bilang apa! pengukuhan? besok? Ahh gue lupa! Sial... Berarti kita harus datang pagi-pagi banget dong!".


"Ya iyalah harus pagi! Karena besok tuh..." ucap Dita terpotong karena melihat David yang Tiba-tiba datang dan langsung mengambil kunci mobilnya yang tergeletak di atas meja.


"Kalian udah selesai? Kalau gitu kita pulang sekarang yuk! Ini udah sore!" kata David.


Aku dan Dita hanya bisa mengiyakan, lalu berjalan menuju pintu keluar seraya menggandeng tangan Dita.


"Ehh Vid! Gue pulang sendiri aja ya! Elo anterin Salsa sampai rumahnya awas jangan sampai buat Salsa terluka gue bakal cubit ginjal lo!" ancam Dita setelah melepaskan tanganku kemudian mendorongku ke arah David.


"Iya David bener tuh Dit!" sambungku.


"Shutt lo diam aja! Gue kayak gini biar elo bisa berduaan sama David!" Bisik Dita di kupingku sontak membuatku sangat terkejut.


"What?" pekikku.


"Dita nggak gitu!!! Gue sama David nggak ada hubungan apa-apa!!!" ujarku menjerit masih berusaha memberitahukannya


"Udah... Udah...pokoknya gue mau pulang sendiri, elo anterin Salsa dengan selamat ya Vid! Kalau masalah nyokap gue, biar gue sendiri yang ngomong!" imbuh Dita.


Sebelum aku dan David mengeluarkan kata-kata, ternyata Dita sudah langsung berlari pergi meninggalkan kami.


Tak ada lagi yang bisa aku lakukan, selain pulang di antar oleh David


Ketika di dalam mobilnya, David terlihat gelisah entah itu karena aku atau karena ke salah pahaman Dita.


"David! Gimana dong! Si Dita salah paham nih!" lirihku.


"Gue juga nggak tau Sal... Ohh atau besok kita jujur aja kali ya sama dia! Tapi gue belum siap ngutarain perasaan gue! Takutnya nihh gue langsung di tolak" ujar David.


"Iyasih tapi lo tenang aja gue bakal bantuin elo terus dan biar gue perlahan kasi tau Dita"


David mengangguk, ada tergambar rasa tenang di wajahnya, "Sal... Rumah lo masih jauh nggak?" tanya David menyadari perjalanan kami sudah agak lama.


"Elo lurus aja, terus kalau ada pertigaan elo belok kiri nah kalau ada komplek perumahan elo masuk ke lorongnya rumah gue di Blok A no 7" jelasku.


"Ohh...Ngomong-ngomong elo ngapain pindah Sal... Jangan-jangan karena elo terlalu keras kepala ya sampai diusir sama orangtua lo?" gurau David.


"Nggak usah asal ngomong lo... Lo kira gue anak tirinya main diusir-usir dari rumah? Gue pindah karena... Anu... Itu biar lebih dekat aja sama kampus!" terangku setelah mendapatkan sebuah ide.


Akhirnya David langsung percaya namun kemudian dia mengajukan pertanyaan lagi, "Sal... Elo udah punya pacar belum?"


"Ngapain lo nanya kayak gitu? Elo mau nembak gue gara-gara cinta lo bertepuk sebelah tangan?" ketusku mencibir.


"Enggak mungkin lah... Cukup satu orang yang keras kepala gue kejar-kejar kalau elo nambah lagi, bisa-bisa gue yang gila karena sikap kalian!"


"Hahah sabar-sabar.... "

__ADS_1


"Gue tuh nanya kayak gini, karena penasaran aja! Siapa tau elo udah move on sama Willy, lagian elo kayaknya cocok tuh sama teman baru lo itu!" saran David membuatku melongo.


"Maksud lo Reno? OMG meskipun gue udah lama putus sama Willy... Gue juga nggak bakal langsung ke pentok sama Reno yang nack alay tingkat dewa itu iyyuuw..." cibirku lagi bergidik.


"Hahah emangnya dia sealay apa?"


"Arghh dia tuh alay banget sumpah! Kalau Willy sih emang playboy tapi nggak lebay juga cara balas chatnya ke gue! Tapi kalau Reno gue udah mual setiap baca pesannya! "


"Hahah cie...kayaknya ada yang belum bisa move on dari cara chat mantannya nih" ejek David menggodaku.


"Kalau soal chat pasti semua orang bakal ingat dong! Apalagi kalau itu chat yang Sosweet-sosweet gitu dah pasti ke save permanent di otak manusia!".


"Alasan lo udah basi mana ada yang kayak gitu! " seka David.


Aku menyeka rambut yang menghalagi pandanganku lalu menyelipkannya di belakang telinga sambil mendengus, "Heh terserah lo aja dah..."


"Sal... Jidat lo kok memar?" tanya David ketika melirikku dan melihat luka akibat jatuh dari tangga.


"Ohh ini... itu gue kejedot pintu!" jawabku beralasan.


"Kejedot pintu? Kirain kejedot mantan, Hahah makanya jalan tuh pake mata bukan mata kaki!" canda David lagi


Ctak...


Aku menyentil kepala David dengan sangat keras karena sudah kesal namun dia tak membalasku melainkan hanya tersenyum tanpa arti.


"Sekali lagi lo bahas soal mantan! Gue bakal robek-robek tuh mulut elo!" ancamku sadis.


"Hahah ampun dah... Elo nih setelah lulus SMA kok jadi berubah kayak psycopath sih!"


"Makanya elo nggak usah banyak bac*d lagi! Kalau nggak mau jadi korban!"


"Iya iya tenang aja gue bakal diam tapi elo nggak boleh ingkar janji buat bantuin gue sampai jadian sama Dita!" imbuhnya


"Ehh ini nomor rumah yang elo bilang tadi kan?" lanjutnya bertanya ketika dia berhenti di depan rumahku.


Aku mengiyakan, "Wow Sal... Rumah lo bagus banget kayak istana cuy... Kayaknya orangtua lo emang beri yang terbaik ya buat lo! Buktinya rumah ini! Ohh iya elo tinggal sendiri?" kagumnya melirik-lirik setiap sudut pekarangan sampai ke semua sisi rumahku.


"Tinggal sendiri? Ya nggak mungkin dong! Gue mana berani tinggal sendiri, gue tuh tinggal sama...." aku tak melanjutkan ucapanku mengingat bahwa aku masih merahasiakan pernikahanku dari mereka semua.


"Sama siapa?" tanya David mengerutkan sebelah matanya menantikan lanjutan dari ucapanku


"Nggak usah kepo lo... Gue tinggal sama seseorang dan elo nggak perlu tau!" cetusku.


David mengalah kemudian pamit untuk pulang, dan sebelumnya aku mempersilahkan dia masuk tapi katanya ini sudah hampir malam jadi aku hanya berterima kasih sambil melambaikan tangan memandangi mobilnya yang perlahan menjauh


Aku menarik nafas lalu menghembuskannya seolah rasa lelah melengket di sekujur tubuhku, sangat berat namun ada secerca kebahagiaan karena bisa bertemu David dan Dita.


Seharian berada di luar rumah membuat suasana hatiku sedikit lebih baik, fikiran dan rasa sakit serta kecewa perlahan menghilang, mungkin karena bercanda gurau dengan sahabat, fikirku.


Ketika baru saja membuka pintu, kufikir semuanya baik-baik saja, namun tiba-tiba saat hendak menutupnya kembali.


Tubuhku terlonjak kaget mendapati Kevin yang bersandar di bagian sisi kanan pintu, dia menyilangkan tangannya, dengan wajah yang tampak kesal.


Aku penasaran apa lagi yang membuatnya kesal kali ini! Tidak mungkin karena masalah tadi bukan?


"Lo ngapain di situ Vin?" tanyaku heran.


"Kamu dari mana?" ucapnya balik tanya terdengar dingin.


"Ehh gue abis keluar jalan-jalan ama temen!" sahutku bersikap tenang


"Kenapa tidak memberitahuku terlebih dahulu!" timpalnya lagi masih terdengar seperti tadi.


"Ya gue lihat elo lagi bad mood jadi gue nggak ngasih tau elo!"


"Setidaknya kamu meminta izin dulu padaku sebelum keluar Bagaimana pun caranya, aku suamimu sekarang Sal... Kamu selalu bilang aku yang tidak menghargai posisi kamu tapi kamu melakukan ini apa tidak menyindir diri kamu sendiri?" Marah Kevin.


"Kevin! Elo tuh lama-lama kayak mama gue sih! Cerewet baget jadi orang, lagian gue nggak mau ngasih tau elo karena takutnya elo ngelarang gue pergi!"


"Nah... Ini nih, kamu seharusnya mencobanya dulu Sal... Aku melarang kamu atau tidak itu belum tentu terjadi, kamu selalu saja beranggapan sendiri!"


Aku mengernyit gagal paham dengan ucapannya, "Elo tuh sebenarnya marah gara-gara gue, Karena nggak minta Izin? Itu doang! Ya ampun Vin! Kan elo lihat sendiri gue udah selamat sampai rumah kok jadi nggak usah kayak emak-emak bawel deh!"


"Sepertinya kamu belum bisa mengerti posisi kamu yang sebenarnya ya Sal... Sudahlah lebih baik kamu masuk kamar intropeksi diri kamu dulu!" saran Kevin menatapku sinis.


"Ngapain gue intropeksi diri? Mending elo aja! Nggak usah nyuruh gue" balasku.

__ADS_1


__ADS_2