
Keesokan paginya, aku terbangun lebih cepat dari biasanya karena takut akan terlambat mengikuti ujian tes.
Setelah semuanya sudah siap termasuk baju kemeja yang kupake dan segala sesuatu yang dipersiapkan sudah ada dalam tas punggung kecilku.
Aku berjalan keluar, mendapati rumah yang sudah dalam keadaan sunyi tanpa suara, namun aku mengabaikannya karena ku fikir ini memang sudah terjadi setiap hari.
"Ohh iya, Gue mau naik apa kesana? Terus gue juga nggak punya uang~" tanyaku pada diri sendiri mengeluh ketika menyadari tak ada uang sepeserpun dalam saku celanaku.
Aku mondar-mandir sambil gigit jari di samping sofa ruang tamu, hingga mataku tiba-tiba melihat ada sesuatu dibawah vas bunga yang ada ditengah meja tamu.
Perlahan aku mendekatinya, dan ternyata ada uang seratus beberapa lembar, juga sepucuk surat yang menemaninya.
-Ini uang, kamu bisa meminjamnya dulu!- isi dari surat tersebut.
Aku yakin ini ulah Kevin, alih-alih memberiku uang tapi ternyata dipinjaminya, tak ada lagi kata-kata lembut yang bisa ku lanturkan selain kata-kata kasar dan menyumpahinya.
Tanpa membuang waktu lagi, kini aku berlari keluar hingga kepinggir jalan menunggu ojek ataupun taksi terserah! Yang penting tidak terlambat.
Beberapa saat berlalu, akhirnya datanglah ojek dan aku menyuruhnya untuk mengebut lebih cepat karena waktunya sudah hampir tiba.
"Pak cepet pak! Nanti saya telat nggak bisa ikut ujian!"
"Sabar mbak! Namanya juga kota besar yahh kadang macet lah!" ujar pak ojek.
"Kalau bapak nggak mau cepat biar saya yang bawa motornya deh!"
"Tenang dong mbak! Nanti kalau saya ngebut, takutnya ada polisi, nanti kita ditilang! Dan kalau mbak mau cepat-cepat mending mbak nyari ojek yang lain aja! " seka pak ojek.
"Ehh... Ehh... Bapak jangan marah dong! Saya kan cuman bilang kek gitu!" ucapku berusaha untuk tidak membuat kesal pak ojek tersebut.
***
Sesampainya di kampus, aku langsung dituntun oleh salah satu pegawainya menuju ruangan tempat tes.
Aku terduduk didepan komputer, tanganku gemetar ketika memegang mousenya, berkali-kali aku mengatur nafas sebelum mulai mengerjakan soal-soal yang ada dihadapanku ini.
Dinginnya AC, dengan banyak calon mahasiswa sepertiku yang sudah selesai dan keluar membuatku tambah gugup, hingga pernah sekali aku sudah merasa menyerah.
Namun tiba-tiba ada seorang cowok yang baru saja duduk disampingku menyapaku dengan ramah.
"Hy... Lo nervous ya? Nggak usah gitu keles lo juga nggak bakalan mati kalau lo nggak lulus! Masih banyak kampus kok! Lagian ini kan cuman ujian bukannya nentuin lo masuk neraka apa surga haha! Jadi tenang aja, lo atur nafas aja dulu!" tutur cowok tersebut.
Aku meliriknya dari ekor mata, wajah yang tampan dengan style cowok kekinian namun terlihat sembrono, pendapatku.
"Jangan terlalu sombong! Takutnya nggak ada kampus yang bakal nerima lo!" balasku cuek.
Sebelum dia mengucapkan kata-kata, salah satu pengawas menghampiri kami, menegur kami karena terlalu berisik.
Waktu dua jam selama ujian berlalu begitu cepat dan aku juga akhirnya selesai, namun pengumuman hasil ujian akan keluar satu minggu kemudian.
Aku berjalan keluar, tanganku masih terasa dingin sampai sekarang, akan tetapi aku sangat percaya diri dengan hasil ujianku tadi, semua jawabannya tak terlalu susah bagiku sebab semua sudah ku pelajari tadi malam dari buku yang diberikan oleh Kevin.
Aku sangat terbantu karena hal itu, "Uhh 2 jam ujian ternyata capek juga ya?" gumamku seraya merenggangkan leher serta jemariku.
Tiba-tiba dari belakang ada yang langsung merangkulku, aku pastinya sangat terkejut!, "Heii... Heii~ kita ketemu lagi~! Kenalan dulu dong!" ucap seseorang yang ternyata adalah cowok tadi.
Aku merasa risih karena tindakannya itu, "Woe... Lo tuh siapa? Berani-beraninya lo langsung rangkul-rangkul orang! Nggak punya sopan santun banget sih!" bentakku menepis keras tangannya.
"Wishhh... Galak bener lo jadi cewek! Jangan galak-galak lahh nanti nggak ada yang naksir loh! Nggak takut jadi perawan tua!" ucapnya mengejek.
Aku berdecak kesal, "Cih... Udah deh, gue nggak kenal elo, jadi pergi sana! " usirku
"Nah... Makanya kita kenalan dulu! Biar lo tau siapa babang tampan yang ada dihadapan lo ini!" tambahnya lagi dengan sok keren.
"Bodoamat! Gue sekarang udah tau lo tuh siapa!"
"Ohh... Lo udah tau? Kalau gitu nama gue siapa hayo??" tanyanya bertingkah seperti anak kecil.
"Lo pasti orang yang baru aja keluar dari rumah sakit jiwa kan?"
"Ahhahah gue kira lo emang tau! Tapi gue suka cara lo! Ya udah nama gue Reno, nama lo siapa?"
"Sumpah! Gue nggak nanya!" ketusku.
Aku langsung pergi meninggalkannya yang masih menjulurkan tangan kepadaku tadi, mungkin karena dari dulu aku memang tidak suka dengan orang baru ku kenal yang bersikap ramah.
Aku berlari namun dia juga berusaha menyusulku, hingga aku memilih untuk bersembunyi didalam toilet wanita yang ada dikampus.
"Salsa!!!" panggil seseorang berteriak disampingku, sontak aku langsung menoleh dengan nafas yang masih memburu.
"Dita! Lena!"
Aku kaget melihat mereka kini berada disampingku, sahabat yang sudah sangat lama ku rindukan dan ingin sekali ku temui, dan ternyata ada disini.
"Ini beneran kalian kan?" tanyaku memastikan.
__ADS_1
"Salsa.... Kita kangen banget sama lo!" Lirih Lena berlari kearahku dan langsung memeluk.
"Sal... Lo kemana aja sih! Lo tau nggak kita kangen banget sam lo!" Sambung Dita dengan mata berkaca-kaca berjalan menghampiri dan memelukku juga.
Kami bertiga berpelukan di dalam toilet, menangis bersama melepaskan semua kerinduan yang terpendam.
"Gue juga kagen banget sama lo!" balasku tersedu.
Sesaat kemudian kami memutuskan untuk berkumpul di kantin kampus, lalu memesan makanan hingga kami saling bertukar cerita namun satu hal yang tidak ku beritahukan kepada mereka yaitu soal pernikahanku.
Aku bukannya tidak mau memberitahu mereka tapi pasalnya aku memang belum siap, mungkin masalah ini biar aku saja yang menyimpannya diantara kami.
"Sal... Lo kok nggak pernah balas chat kita sih? Lo pake nomor WA baru ya?" Tanya Dita.
"Ohh itu karena kontak kalian kehapus semua di hape gue!" jawabku.
"Ohh... Gitu ya? Sal... Lo masih ingat sama Nayla nggak, yang dulu ngehajar lo sampai babak belur itu!" Jelas Dita.
"Maksud lo Nayla, mantannya Willy?" balasku.
Mereka mengangguk, "Ho'oh asal lo tau ya dia sekarang nggak bisa jalan loh!" tambah Lena.
"Loh... Kok bisa?" tanyaku masih bingung.
"Lo beneran nggak tau Sal!, Ya ampun lo dari mana aja! Apa berita yang dulu viral di forum sekolah tentang kecelakaan Nayla juga lo nggak tau?" tutur Lena.
"Gu-gue emang nggak tau! Sumpah gue serius, tadi lo bilang kecelakaan! Emangnya dia kecelakaan? Kapan? Dimana? Terus apa yang terjadi, lo jelasinnya yang lengkap dong! Jangan sepotong-sepotong doang!" gerutuku kesal.
"Wah... Ternyata Salsa kurang update! Lena lo yang jelasin semua!" kata Dita
"Lohh kok gue! Lo aja deh gue malas kalau soal bahas si mak lampir itu! " tolak Lena
Dita akhirnya yang mau menjelaskan padaku,
"Jadi gini, lo denger baik-baik ya! Setelah Nayla hajar lo! Dia nggak merasa bersalah banget loh Sal... Malahan dia pergi happy-happy di salah satu club malam sama teman-temannya, gue tau karena lihat postingannya sih!" jelas Dita.
"Sejak kapan lo jadi Stalkers Dit?" potong Lena.
"Sejak Zaman manusia purba!!! Lena lebih baik lo diam aja!" kesal Dita.
"Gue mau lanjutin, Nah esok harinya lo kan masih belum sadar dirumah sakit! Ehk tiba-tiba ada yang viral di berita forum sekolah! Ya gue kepo dong! Jadi gue buka tuh, ternyata si mak lampir kecelakaan gaes mobilnya ada yang nambrak dari belakang, terus dia koma, dan sekarang katanya kaki dia lumpuh!"
"Jadi dia sekarang nggak bisa jalan? Kalau yang nambrak dia, pelakunya udah ketangkap?" tanyaku.
"Kalau pelakunya sih! Udah ditangkap, katanya ada dendam sama si Nayla sendiri, kayaknya Nayla pernah nyinggung yang nambrak dia, jadi si pelaku balas dendam, kayak gitu deh ceritanya!" tutur Dita menjelaskan semuanya padaku.
"Ngomong-ngomong kalian kesini mau ngapain?"
"Yah mau kuliah lah!" ucap Lena dan Dita serentak.
"Serius? Wahh semoga kita bertiga lulus yah! Terus kalian ngambil jurusan apa?" tanyaku lagi.
"Gue sih ngambil jurusan kedokteran! Karena nggak tau dehh pengen aja jadi dokter gitu yang bisa nyembuhin penyakit orang, dan gue merasa jadi dokter kayaknya lebih asik, dan menantang" jawab Dita.
"Kalau gue, ngambil jurusan ekonomi! Yang nggak main-main sama darah! Soalnya dari kecil gue punya penyakit fobia sama jarum suntik dan takut aja gitu kalau lihat orang luka-luka dan penuh darah ihhh" lanjut Lena meringis.
"Kalau lo ngambil jurusan apa Sal?"
"Gue juga Kedokteran gaes! Sama kayak lo Dita! Wah... Semoga nanti kita sama-sama lulus dan dikelas yang sama yah! " harapku merasa senang.
"Jadi kalian sama? Hiks hiks jadi gue sendirian dong! Ahk gue nggak mau jomblo lagi... " keluh Lena.
"Hahah jiwa bucinnya nongol lagi!" ejek Dita
"Ohh iya... Kalau David sama Willy kabarnya gimana?" tanyaku memotong.
Dita mengerutkan dahi, "Kalau David sih, kayaknya lanjut disini juga! Tapi jadwal tesnya bukan hari ini! Terus kalau Willy gue nggak tau, lagian kita juga nggak sering chatingan semenjak udah lulus SMA! Dan lo tau nggak semua postingannya di akun instagramnya itu kayak orang stres semua cuman kata-kata alay, lebay, bucin, penyesalanlah apalah yang penting kayak orang merana gitu.... Ehh bukannya lo tetanggaan? Pastinya pernah ketemu dong!" tutur Dita.
Aku tertunduk, "Sebenarnya gue udah lama pindah rumah!"
"Apaa!!! Sejak kapan? Lo kok nggak ngasih tau kita sih! Terus lo tinggal dimana sekarang!" ujar Lena.
"Gue pindah di salah satu komplek perumahan, tapi itu dekat kok dari sini!" jelasku.
"Yah... Kita pengen banget ke rumah baru lo Sal... Tapi kayaknya nggak bisa deh soalnya rumah kami yang jauh banget! dari sini " ucap Dita.
"Iya nggakpapa! Kan kita ngumpul-Ngumpulnya masih bisa nanti! Waktu masih panjang gaes!".
Setelah itu kami berpisah didepan pintu gerbang keluar kampus, aku terus melambaikan tangan ke mereka hingga masuk kedalam taksi dan menghilang dari pandanganku.
Kini giliranku yang menunggu taksi, matahari yang panasnya menyengat tak menjadi penghalang bagiku untuk berdiri.
Tiba-tiba ada orang bermotor besar berhenti dihadapanku, menyisakan debu dan asap dari ban motornya yang mengerem mendadak.
Uhhuk uhhuk... aku batuk karena hal itu, mengibas-ngibaskan tangan didepan wajahku agar debu dan asapnya menghilang.
__ADS_1
Ketika asap itu perlahan mereda, muncullah sesosok laki-laki tampan yang berjalan mendekatiku.
Aku mundur, merasa bingung dengan siapa dia sebenarnya, apalagi orang itu masih memakai Helm otomatis wajahnya tak bisa kulihat.
Tap.... Mataku terbelalak sempurna ketika melihat dia langsung memegang tanganku, aku mulai takut,
"Lo-lo siapa hah? Jangan-jangan lo komplotan begal ya! Lepasin tangan gue!!!" teriakku lantang ketakutan.
Aku terus memberontak, memukul dengan sangat keras namun tidak mempan, hingga aku melepaskan tasku dan memukulnya dengan tas tersebut.
Iya perlahan menjauh, membuka helmnya, "Cewek galak! Lo kok kasar banget sih jadi cewek! Gue kan bermaksud mau nganterin elo!"
Aku melongo karena terkejut dengannya yang ternyata cowok gila tadi, sungguh tak menyangka aku masih harus bertemu dengannya.
"Gue nggak butuh bantuan lo! "Ketusku.
Aku berbalik badan namun tiba-tiba kini tubuhku merasa melayang, Bagaimana tidak cowok itu mengangkatku dari belakang seperti anak kecil yang diangkat melalui ketiaknya, aku syok! Ternyata dia langsung mendudukkanku di atas motornya.
Jantungku seakan menghilang entah kemana! Masih panik dan dia malah cengar-cengir.
"Wahhah ternyata lo ringan banget ya! Kayak kapas! Lo tuhh makan apa sampai berat badan lo sendiri seringan itu!" tanyanya.
"Lo nihh apa-apaan sih! Gue nggak kenal lo yah! Terus kenapa tadi lo lakuin itu ke gue... " jeritku marah.
Aku hendak turun akan tetapi dia menekan kedua pundakku, "jangan bergerak! Gue cuman mau nganterin elo kok!" pintanya.
"Gue bilang, gue nggak butuh bantuan lo! Gue mau turun sekarang! Atau enggak gue teriak nih Biar lo dikeroyok massa! " ancamku.
"Ayolah... Gue kan niatnya cuman mau nganterin lo doang!"
"Mulut lo banyak bac*dnya yah! Kalau orang nggak mau ya jangan dipaksa dong! Di kasih hati malah mintanya jantung! Dasar cowok gila!" risihku kesal.
"Hahah lo lucu banget sih! Nggak cuman galak tapi mulutnya juga pedes baget kek cabe rawit wkwk! " candanya terkekeh.
"Woe ban*#at banget lo! Gue nggak ngelawak! Gue teriak nih... Tolong ada jambret...ada jambret....tolong.... " teriakku dengn sangat keras hingga banyak orang memandang dan berlari semua ke arahku.
"Dimana jambretnya mbak?" tanya salah satu dari orang yang datang.
"Ini pak jambretnya!" aku menunjuk kearah cowok itu.
"Ehh.. Saya bukan jambret pak! Ini sebenarnya pacar saya! Tapi biasalah anak muda jaman sekarang pasti punya masalah asmara masing-masing hehe" serkah Cowok tersebut.
"What? Pacar? Nih orang pengen gue gunting aja kali ya! mulutnya suka ngaco!" batinku.
"Ohh pacarnya toh... Lain kali jangan bertengkar di pinggir jalan! Dan juga mbaknya kok bilang pacar sendiri jambret sih!" kata orang yang tadi.
"Kami nggak pacaran pak! Dia beneran jambret bawa aja langsung kekantor polisi!" pintaku.
"Salsa!!!" panggil seseorang diantara mereka yang datang, suara itu terdengar tidak asing di telingaku, itu seperti suara Willy hingga aku menoleh ke samping karena suara tadi berasal dari sampingku.
"Willy?...."
Entah kenapa hari ini, aku baru saja keluar dari rumah Kevin, namun tiba-tiba mendapatkan banyak kejutan, termasuk kali ini bertemu Willy.
Akan tetapi sepertinya ia tampak kurus sekarang, berbeda ketika kita masih SMA, wajahnya juga sangat tirus hingga tulang pipinya sangat jelas terlihat oleh mataku.
Kantung matanya juga sangat menghitam, rasanya aku ingin memeluknya, bertanya tentang kabarnya, bercengkrama panjang lebar bersamanya, tapi apa boleh buat, hatiku sepenuhnya belum siap melakukan itu.
"Sal... Salsa... Ini beneran elo kan?" tanyanya dengan wajah memelas.
"Willy... " gumamku memanggil.
"Salsa... Gue kangen banget sama lo!" ucapnya lagi melangkah lebih dekat.
Namun aku yang mundur, tak ada kata yang mampu ku ucapkan padanya, seolah ada banyak tangan yang membungkam mulutku.
Aku terus berjalan mundur hingga menabrak Reno yang ada dibelakangku, "Oke gue mau sekarang! Gue mau lo anter gue pulang!" bisikku kepada Reno.
Dengan cepat Reno mengangguk lalu menaiki motornya, menyalakan dan akhirnya aku juga langsung duduk dibelakangnya.
"Ayo jalan, Cepetan!"
"Salsa!!! Salsa... Jangan tinggalin gue!" teriak Willy.
"Maafin gue Will... Sebenarnya gue juga kangen banget sama lo tapi gue belum siap bicara sama lo! Gue takut lo bakal menderita karena gue!" batinku.
Kali ini lagi-lagi aku mengabaikan Willy, hanya bisa menangis melihatnya yang semakin menghilang dari pandanganku.
"Yang tadi itu siapa? Mantan lo yah? Ya elahh mantan kok ditangisin sih! Mantan tuhh udah jadi masa lalu, jadi nggak usah nangis gitu, gue aja yang punya mantan seribu fine-fine aja tuh" ucap Reno dengan bangga
Huhuhu huhuh aku semakin memperkeras suara tangisanku, "Ehh... Jadi gini ya suara nangisnya cewek galak kalau lagi nangis! " ejeknya lagi.
Bug... sekali pukulan keras mendarat mulus dipunggungnya, "Diam lohh!"
"Aww... Sakit! Lo jangan jadiin gue pelampiasan dong! Terus lo jangan nangis terus! Takutnya gue dikirain lagi nyulik elo lagi!" celotehnya.
__ADS_1
"Bodoamat!!!"
Di sepanjang perjalanan ini dia sering mencoba mengajakku untuk mengobrol namun aku tak menggubrisnya melainkan hanya melamun, kufikir dia tidak tau rasanya sakit hati ya? Sampai-sampai mulutnya tidak bisa berhenti untuk bicara.