
Warning!!! (21+)
Aku dan Kevin kembali kedalam mobil dan melaju menuju rumah, tidak ada hal penting yang dibicarakan selama perjalanan, terkadang aku hanya melirik Kevin dari sudut mataku ia terlihat memikirkan sesuatu tapi aku tak mau bertanya lebih jauh soal itu.
Tiba di rumah, aku merasa begitu lelah, hanya ingin segera merebahkan diri diatas kasur, namun kemudian perutku berbunyi.
Kruuukkk..... Kruuykkkk...
"Kamu lapar?" tanya Kevin mendengar suara yang berasal dari perutku, "Ya udah biar aku yang masak kamu istirahat dulu! Nanti aku memanggilmu kalau makanan sudah jadi!" imbuhnya lagi.
Aku mengangguk, "Hm... Maaf ya Vin... Aku tidak bisa membantumu!" kataku kemudian berjalan lesu ke arah kamar.
Di dalam kamar, seperti yang ku harapkan aku merebahkan diri seperti pohon tumbang, rasanya sangat nyaman ketika menyatu dengan selimut, ada rasa ngantuk pula yang kurasakan.
"Hoah! Aku ingin tid-ur!" aku menguap dan akhirnya mulai memejamkan mata.
30 menit kemudian.
Kevin datang dan langsung tiduran di sampingku, "Sayang! Ayo bangun, masakannya sudah siap!" ucapnya manja.
"Mm.... Yah... Tunggu sebentar! 5 menit lagi!" ucapku yang masih setengah sadar.
"Hm... Baiklah... Aku akan membiarkanmu tidur 5 menit!" kata Kevin.
5 menit kemudian.
"Sal... Bangun! Ini sudah 5 menit loh, nanti masakannya keburu dingin!" Kevin berkata dengan nada yang tegas.
"Hm.... Tunggu sebentar Vin... 10 menit lagi yah! Please aku masih ngantuk!" sekaku lagi dengan mulut yang membalas sedangkan jiwa raga masih berada diam mimpi, bahkan mataku masih terpejam sempurna.
"Sal... Kamu yakin 10 menit lagi? Tapi aku sudah sangat lapar sekarang dan aku tidak mau makan sendiri! Jadi ayo cepatlah bangun atau kamu mau aku membangunkanmu dengan ciuman?" usul Kevin menggodaku.
Seketika aku tersadar, dan langsung terduduk di atas ranjang, "Aku sudah bangun!, ayo sekarang kita tidur, ehh maksudnya makan!" aku sampai salah mengucapkan kata-kata
Karena masih belum tersadar.
"Saking takutnya aku menciummu ya Sal... Tapi tenang saja, aku tidak akan melepaskanmu sebentar malam, bahkan aku akan membuatmu selalu ketagihan menungguku heheh!" Gumam Kevin memikirkan sesuatu.
Sementara itu, aku yang kini tengah duduk di kursi meja makan, sekilas menatap makanan yang ada di hadapanku, tampak sangat banyak dan berjejer membuatku menelan ludah berkali-kali.
"Makan Sal!" ajak Kevin yang baru saja datang dari dalam kamarku, dan mempersilahkanku untuk mulai makan.
"Kenapa kamu masak begitu banyak Vin... Kita kan cuman berdua?" heranku dengan mulut penuh akan makanan.
"Aku memang sengaja memasak banyak untukmu, agar sebentar malam kamu punya banyak tenaga!" ujarnya.
Nasi yang tadinya ku kunyah kini tersembur keluar mendengar pengakuan Kevin.
"Demi aku? Banyak tenaga? Maksudnya apa?" aku berlagak pura-pura.
"Hahah sampai kapan kamu mau pura-pura polos sayang! Aku tau kamu sangat paham ya kan! Hahah tenang saja, aku tidak akan melakukannya sekarang tapi sebentar malam aku mau melanjutkan adegan panas kita ketika berada didalam kamar hotel waktu di New york" jelasnya.
"Ke-kevin apa yang kamu katakan! A-aku...." Ucapku terpotong tak tau harus mengatakan apa lagi.
Aku berdiri, dan berlari kencang kembali kekamar dalam keadaan jantung berdebar dan wajahku memanas.
"Tunggu aku sebentar malam ya Sal... Ingat jangan mengunci pintunya agar kita bisa memberikan mama cucu secepatnya!" teriaknya menggoda disela langkahku.
Dag dig dug...
Detak jantungku semakin cepat kala mendengar Kevin ingin datang sebentar malam di kamarku, rasanya ini begitu aneh padahal kami sudah sering hampir melakukannya.
__ADS_1
Dan sekali lagi, ia bertekad tapi aku tak yakin entah apa yang akan menjadi penghalang sebentar malam.
Aku gelisah, rasanya tubuhku tak bisa diam walau hanya sedetik menunggu malam akan tiba dan kami siap melakukannya, beberapa kali aku menggigit jari, sambil mondar-mandir .
***
Malam yang ditunggu-tunggu telah tiba dan ini saatnya untuk sitirahat, melampiaskan rasa lelah, dan letih diatas ranjang, agar paginya bisa nampak segar.
Aku sampai memikirkan hal itu, tapi ini begitu tak membuatku pusing melainkan menunggu Kevin yang tadinya mengatakan ingin kemari.
Aku sampai tak mengunci pintu kamar karena perkataannya tadi, di lain sisi ingin mempunyai keturunan dan di sisi lain aku juga sudah siap menyerahkan semuanya kepada Kevin termasuk pengalaman pertamaku.
Hingga kali ini aku benar-benar sudah siap, dan menunggunya datang, tapi waktu seakan berjalan begitu lama membuatky hilang kesabaran.
Aku berniat mengintip keluar tapi aku takut Kevin sudah berjalan kemarin, "Sabar Sal... sabar! dia pasti datang! kamu itu kenapa tidak bisa menahan diri kali ini hah!" aku mengumpat diriku sendiri seraya mengelus dada.
Waktu sudah menunjukkan 20:00 dan selama beberapa yang lalu aku tidak pernah duduk ataupun berada di area kasur melainkan hanya berdiri, mondar-mandir di dekat pintu.
Tok tok tok...
Akhirnya ketukan pintu berbunyi membuatku bahagia kegirangan, dengan cepat aku membuka tapi sebelum itu, aku berpura-pura baru bangun rambutku sedikit ku acak, dan mengucek mata agar dia tak menyadari bahwa aku sudah menunggunya sejak tadi.
"Hoah! Vin... kamu ngapain kesini?" tanyaku berakting.
"Kamu sudah lupa dengan apa yang tadi siang ku katakan?" imbuhnya bertanya.
"Hah! memangnya apa yang kamu katakan? aku lupa!" sekali lagi aku berpura-pura amnesia.
Tiba-tiba ia melangkah masuk melewatiku sebelum aku mencegahnya, dia langsung berbaring diatas ranjang sementara aku yang menutup pintunya.
"Kunci aja Sal... jangan sampai ada yang menggangu kita!" ucapnya.
Aku tersipu malu, berusaha bersikap datar, "Kevin aku..."
Aku ragu tapi tetap saja menurut, kini aku berbaring dengan posisi terlentang di sampingnya, pakaianku sekarang memang hanyalah piyama saja.
"Sal...." panggilnya lirih.
Cup....
Seketika mataku melotot tatkala mendapatkan sebuah kecupan dipipiku, bibirnya berpindah ke daun telingaku, menggingit kecil di sana membuatku menggelinjang geli.
"Aku akan memulainya Sal...." ucapnya penuh gairah.
Aku memejamkan mata, mencoba menahan geli yang begitu menggelitik tubuhku, ia hanya menggigit kupingku tapi tubuhku yang rasanya digelitik.
"Tatap aku Sal... kenapa kamu memejamkan matamu! apa kamu tidak yakin? atau kamu masih ragu jika aku memulainya?" tanya Kevin yang kini wajahnya berada diatas wajahku.
Perlahan aku memberanikan diri membuka mata tanpa mengucapkan apa-apa namun kemudian bibirku menyerocos begitu saja, "Ayo kita mulai Vin!"
Entah setan apa yang merasukiku hingga kata itu keluar dari mulutku, mungkin karena tubuhku sudah sangat menginginkannya?, yah hanya itu terbersit di fikiranku.
"Baiklah tapi kamu harus memanggilku sayang terlebih dahulu!" anjurannya.
"Hm... Iya Sa-yang!" aku masih terbata.
Kevin tersenyum tipis dari sudut bibirnya, ia mulai dengan mencium lembut bibirku tapi sekilas.
Aku melingkarkan tanganku di lehernya, dan dia juga tak lagi menciumku sekilas tapi lebih ganas dari sebelumnya.
Ia *******, menggigit lembut bibir bawahku sambil memejamkan mata menikmati sensasi yang di hasilnya oleh pertemuan bibir kami.
__ADS_1
Tangannya yang menganggur kini mengambil alih membuka kancing piyama yang ku kenakan, kancing atas sudah terbuka, begitu pula dengan kancing kedua, kini tangannya tengah berusaha membuka kancing ketiga.
Setelah terbuka tangan nakalnya menesulup masuk memegang gunung milikku, seperti wanita pada umumnya yang tak memakai Bh di malam haru dan aku juga sudah terbiasa melakukannya.
Kevin meremas, membuatku tambah merasa geli, dan tiba-tiba ia berhenti, ia berdiri dan membuka pakaiannya, hingga hanya tersisa boxer saja.
Ada benda besar di antara selangkangannya, boxer yang begitu ketat seakan membuat benda tersebut merasa sesak dan ingin segera keluar dari tempat persembunyiannya.
"Sal... apa kamu tega hanya aku yang seperti ini?" Kevin memberiku kode dengan menatap tubuhnya yang hampir tenjan*ang bulat.
"O-oke... aku juga akan melakukannya," Aku mulai membuka kanci baju paling bawah yang belum berhasil di buka olehnya, lalu kemudian. berdiri dan melorotkan celana yang kupakai tepat diatas ranjang dihadapannya.
Kevin yang terlihat menelan ludah dengan penuh nafsu melihatku yang hanya berbalut celana dalam, juga naik ke atas ranjang, kini aku bertelanjang dada di hadapannya.
"Makasih sayang!" ucapnya langsung menciumku, tangannya kebelakang meremas kedua belah pan*atku.
"Ahh Kevin!" Desahku.
Aku begitu tak nyaman dengan posisi ini dan ternyata Kevin menyadarinya, ia kemudian mengangkat tubuhku dan perlahan membaringkanku di tengah ranjang.
Kevin merangkak diatas tubuhku, msnciumku penuh nafsu dengan kedua tangan yang memegang gundukanku.
"Aku sudah tidak tahan Sal... aku mau kita langsung ke intinya!" Kevin menatapku serius, dan aku hanya mengangguk.
Ia membuka celana dalam yang ku pakai, terpampanglah dengan nyata **** * milikku di hadapannya, tak lupa ia juga membuka boxer yang ia kenakan.
Aku sempat melongo kaget setelah boxer itu terlepas dari tubuhnya, akhirnya aku bisa melihat benda yang tadi membuatku penasaran.
Aku tertegun, "Ke-kevin, a-aku takut!" Ucapku bergidik ngeri setelah menyaksikan apa yang pertama kalinya kulihat dengan jelas didepanku.
"Tidak usah takut Sayang! juniorku ini hanya akan menanamkan benih, nantinya sakit itu akan terbayarkan!" bujuk Kevin menenangkanku.
Perlahan tapi pasti ia mendekatkan benda pamungkasnya.
Aku merasa lebih takut ketika benda tersebut mencoba menerobos masuk lebih dalam dan itu mulai terasa sakit.
"Ini sangathh sempithh Sal...." Kevin berucap sambil ada desahan.
"Ahh.. Kevin hentikan ini sangat Sakithh!" Lenguhku menjerit dan hanya bisa mencengkram sprey menahan sakit.
Jleb...
Miliknya masuk seutuhnya dan aku meringis sakit ada sesuatu yang robek didalam sana dan aku yakin bahwa itu adalah selaput darahku yang telah lama ku jaga baik-baik.
"Kevin!!! sakit!!!" raungku.
Kevin terdiam, ia bahkan tak menggerakkan miliknya didalam sana, "Maaf sayang! aku janji sakitnya tidak akan lama, dan juga aku berterimakasih sudah menjaganya untukku!" bujuknya lagi dan lagi.
Aku terus mendesah, keringat bercucuran diantara kami, penyatuan kami pun berlangsung beberapa jam hingga tubuhku terkulai lemas.
"Ahh hentikan aku sudah tak kuat lagi Vin!" lenguhku lemas.
"Tunggu sebentar Sal... satu kali lagi!" hanya itu ucapan yang Keluar dari mulut Kevin '1 kali lagi' namun ini sudah berkali-kali.
Hingga pada akhirnya Kevin kelelahan dan merebahkan diri dismpingku, "Aku mencintaimu sal...." ucapnya lalu kemudian mengecup keningku.
"Aku capek Vin! kamu tidak pernah membiarkanku istirahat!" keluhku merengek merasakan nyeri yang hebat pada selangkanganku.
"Maaf sayang!" ucapanya.
Malam yang begitu panjang dan sangat bergairah bagi kami terlewati dengan pelepasan masing-masing, Kevin juga akhirnya berhasil menanam benih dan tinggal menunggu benih akan tumbuh.
__ADS_1
Aku mulai mengatuk, dan Kevin menarik selimut menutupi tubuh telanj*ng bulat kami berdua.
"Semoga mimpi indah sayang!" ucapnya lagi