Suamiku Dokter Dingin

Suamiku Dokter Dingin
Ungkap Juna


__ADS_3

Suasana semakin tegang kala tatapan tajam dari Kevin yang terus melotot kearah kak Syam dan anaknya.


"Jadi ini yang kakak inginkan! Membiarkan ibunya yang kejam memperdaya anaknya dengan kejahatan?" sindir Kevin.


Kak Syam berdiri seoalah ingin menantang Kevin, mata sayunya berubah seiring dengan kepalan tangan yang makin mengerat.


"Aku tidak ingin menghajarmu Vin! Jadi aku mohon hentikan, Yah... Aku tau aku salah karena membiarkan Clara memberitahu Juna berita bohong! Tapi dia sekarang sudah tidak ada didunia ini, alangkah bagusnya kamu memaafkan Clara dan kita akhiri semua permasalahan ini!" lirih kak Syam.


"Aku meminta ini semua sama kamu! Karena aku hanya tidak ingin tambah mempersulit jalan Clara ke akhirat! Dan kalau urusan juna, biar aku yang menanganinya, tidak perlu kamu memarahinya karena aku sebagai ayahnya tidak suka itu!" lanjutnya lagi.


"Sudah cukup! Hentikan, kak Syam kami datang kesini baik-baik kok, tapi sepertinya kehadiran kami tak diharapkan" sekaku mulai emosi.


"Tunggu dulu sayang!" Cegah Kevin melirikku dari sudut matanya.


"Kak! Aku paham kakak tidak terima dengan apa yang aku katakan dengan Juna! Tapi bagaimana jika Juna menjelekkan dan bahkan menuduh Salsa? Apa aku hanya bisa diam saja mendengarnya? Cih itu tidak mungkin kak!" Protes Kevin membelaku.


"Baiklah, aku minta maaf sama kalian! Aku rasa apa yang kamu katakan ada benarnya! Lebih baik kita hentikan sekarang oke... " Kak Syam akhirnya mengalah dan meminta maaf.


Aku lega, meskipun aku tau kak Syam tak sepenuhnya meminta maaf padaku, dia duduk kembali memasang rauk wajah sedih.


"Kak! Aku mau tanya Kenapa Clara bisa meninggal tiba-tiba, padahal kakak bilang kalau kalian bertemu Clara sebelumnya?" Tanyaku sedikit canggung setelah perdebatan tadi.


Kak Syam terdiam beberapa saat, aku menghela nafas merasa mungkin saja kak Syam kesal kepadaku.


"Sebenarnya, tiga hari yang lalu aku memang bertemu Clara, kami sempat bertengkar saat aku bilang padanya soal kehamilanmu! Dan dia nekat menyuruhku untuk mengeluarkannya dengan cepat dari penjara! Kalau tidak dia akan bunuh diri! Lalu aku menolak membantunya, karena aku tau jika aku sampai melakukan hal itu kalian mungkin akan lebih membenciku bukan?" Jelas kak Syam.


"Hm... Terus!" ketus Kevin.

__ADS_1


"Yah... Seperti yang diberitakan hari ini, Clara meninggal dunia karena bunuh diri didalam sel penjara, kata polisi kepalanya pecah karena benturan keras!"


"Benturan keras? Maksud kakak bagaimana?" Sekaku memotong.


"Clara bunuh diri dengan membenturkan kepalanya ke tembok beberapa kali hingga kepalanya mengeluarkan darah banyak sekali dan sebelum di bawa kerumah sakit, dia sempat tertolong namun Clara kehilangan banyak darah dan akhirnya meninggal dunia!" Tutur kak Syam menerangkan.


"Jadi... Clara bunuh diri karena kakak menolak untuk mengeluarkannya? Heh, itu memang lebih baik! Dan jika saja kak Syam mengeluarkan wanita j*lang itu, mungkin aku benar-benar tak akan menganggap kakak bagian dari keluargaku lagi" cibir Kevin memutar bola matanya.


"Aku tau Vin! Aku tau kamu marah, tapi sekali lagi aku mohon maafkan Clara, dia sudah tidak ada didunia ini, dia tidak akan menggangu rumah tangga kalian! Apa kalian tidak kasihan melihat juga sudah tak punya ibu?" Lirihnya.


"Memaafkan seseorang itu sangat sulit kak! Apalagi Clara sudah membuat Salsa keguguran! Yah... Aku tau rumah tanggaku sudah terbebas dari Clara hanya saja untuk sekarang aku masih belum bisa memaafkannya!" ucap Kevin.


Aku mencolek Kevin lalu berbisik, "Jangan seperti itu Sayang! Kita harus ikhlas, lebih baik kita maafkan Clara!"


"Kamu memang tidak pernah berubah Vin! Bahkan setelah Salsa hamil lagi! Apa kamu tidak pernah tau bagaimana perasaanku kehilangan seorang istri?" ungkap kak Syam.


"Sudahlah Vin! Aku tidak mau memperpanjang masalah lagi, kalau kamu memang tak punya niat untuk datang kesini! Lebih baik kalian pergi saja!" usirnya membuat Kevin berdecak kesal.


"Oke... Kami akan pulang!" Kevin menarik tanganku, akan tetapi aku menahannya, "Vin!" lenguhku memanggil menggeleng padanya.


"Kak! Kami datang kesini bukan untuk ribut, tapi hanya ingin mengucapkan turut berduka, kami datang ingin mengibur kalian, jadi jangan mengusir kami, lagian niat kami datang kesini sangat baik!" terangku menengahi


"Sal... Kenapa kamu berkata seperti itu, apa kamu tidak dengar kak Syam mengusir kita hah!"


"Diamlah Vin!" tegurku.


Kak Syam tak menyahut ia hanya terus diam sambil memangku juna, sementara Kevin terus mengomel mengajakku pulang, sesekali aku menatap keduanya secara bergantian yang saling memalingkan wajah.

__ADS_1


Saat suasana tenang, seorang polisi datang dan menyuruh kak Syam untuk masuk kesebuah ruangan mengambil jenazah Clara.


Kak Syam mengangguk dan menyuruh Juna untuk duduk disampingku, meskipun awalnya Juna bersikeras menolak tapi aku mencoba untuk bersikap lembut padanya, hingga akhirnya Juna luluh.


Ketika kak Syam pergi, Juna tertunduk, bahkan tak berani melirikku dan Kevin, "Om Kevin! Apa mama berbohong padaku? Apa mama memang orang jahat seperti yang om Kevin katakan tadi?" Seketika Aku dan Kevin serentak melotot kearah Juna yang memberikan kami tatapan sedih dengan mata sembabnya.


"Juna... Hahah tidak, tadi itu hanya.... Ahh juna tidak usah menghiraukan apa yang tadi om dan tante atau papamu katakan heheh!" aku cengingisan berharap Juna tak salah paham lagi tentangku.


"Mamamu memang orang yang sangat jahat jadi apa yang dia katakan itu bohong, apalagi Mamamu itu yang hampir membunuh tantemu ini, bukan malah sebaliknya!" ketus Kevin dengan dahi berkerut.


"Sayang! Kenapa kamu mengatakan itu lagi!"


Tiba-tiba juna Kembali menunduk seraya meremas kedua tangannya, "Om, tante, sebenarnya mama sering memarahiku, memukulku saat papa tidak ada dirumah, mama juga selalu pergi keluar dan juna sering merasa kesepian dirumah, aku takut melapor sama papa, karena mama melarangku!" Ungkap Juna.


"Apa! Ja-jadi Selama ini Clara...." Kevin bangkit dan pindah kesamping juna, ia tampaknya tak menyangka atas pengakuan Juna.


"Wanita itu benar-benar keterlaluan, dia memang pantas mati! Ohh iya Juna... Tante Salsa itu sangat baik jadi apapun yang mamamu katakan sebelumnya, kamu tidak usah mendengarkan itu, intinya Tante Salsamu adalah orang yang jauh lebih baik dari mamamu!" Kevin membungkukkan sedikit tubuhnya agar sejajar dengan tubuh mungil Juna.


"Maafin Juna om, tante, Juna sebelumnya sangat kasar sama tante Salsa!" Juna yang biasanya terlihat cuek seketika memberiku tatapan hangat.


Aku menyambut tatapan itu dengan senyuman lalu memeluknya, "Iya... Tante sudah memaafkan Juna kok!"


"Makasih tante!"


Tak lama setelah itu, dari kejauhan terlihat rombongan polisi sedang mengangkat sebuah peti mati, dan dibelakang para polisi tersebut ada Kak Syam.


Aku yakin didalam peti mati itu terbaring Clara yang tak lagi bernafas, ada perasaan sesak ketika melihat secara langsung saat orang-orang itu semakin berjalan mendekat kearahku.

__ADS_1


__ADS_2