
Aku menatap Willy sambil menggeleng kepala, "Akh...Jangan Will aku mohon jangan memanggil Kevin!" pintaku.
"Nggakpapa Sal... Dia pasti ngerti kok!" bujuknya.
Willy kemudian melangkah pergi, dengan berlari keluar ruangan, dan kini dokter mulai mengecek kandunganku.
"Maaf Sal... Janinmu tidak bisa terselamatkan, kamu benar-benar keguguran!" ucap dokter kandungan membuatku syok.
"Ahk... Apa! Tidak... Itu tidak mungkin dok! Janinku pasti kuat! Aku tidak mungkin keguguran! Dokter tolong selamatkan janinku! Aku tidak mau seperti ini huhuh!" imbuhku tak percaya.
"Yang sabar ya Sal...Kita harus melakukan operasi kuret, yaitu pengangkatan sisa ari-ari dan janin dari rahimmu! Oleh karena itu Kevin harus tau akan hal ini!" ungkap sang dokter.
Aku mulai menangis sesegukan, air mata tak hentinya mengalir membasahi wajahku, "Aku tidak mau dok! Aku tidak mau melakukannya, bayiku masih sangat kecil kenapa dia harus dikeluarkan sekarang! Shh... Pokoknya aku tidak mau!!!" tegasku menolak.
"Dengarkan aku Sal... Aku tau kamu sangat terpukul, tapi jika kita tidak melakukan operasi, itu malah akan membahayakan hidup kamu, sedangkan kamu nantinya pasti bisa hamil lagi!" terang dokter menanggapi ucapanku tadi.
Tap... Tap... Tap...
"Sal... salsa... Apa yang terjadi?" Kevin datang dengan nafas yang terengah-engah bersama Willy, wajah paniknya terlukis jelas sembari berjalan menghampiriku.
"Apa yang terjadi denganmu?" lirihnya meraih tanganku serta menggenggamnya erat, "Huhuh maafkan aku Vin... Aku terlalu ceroboh, aku terlalu keras kepala tak mau menuruti nasehatmu!" jawabku membuat dahi Kevin berkerut.
"Aku keguguran Vin... Aku telah membunuh bayi kita... Huhuh maafkan aku! Ini semua salahku, aku telah membuat harapanmu sirna maaf!" tangisku pecah seketika menatapnya.
__ADS_1
"Ke-keguguran? Bagaimana bisa ini terjadi? Kenapa? Bukankah aku menyuruhmu untuk berdiam diri dirumah saja! Lalu kenapa bisa kamu ada disini?" tanya Kevin dengan nada sedikit tinggi.
"Maafkan aku Vin... Aku kesini hanya untuk membawakan ponselmu yang ketinggalan dirumah, tapi... Tapi ada orang yang tidak sengaja menyenggolku dan membuat ponselmu terlempar kejalan, dan tiba-tiba ketika aku mengambil ponsel itu ssh... Ada mobil yang melaju kencang kearahku dan itu... Clara... Aku melihat Clara yang mengendarai mobil itu ahk..." jelasku tak hentinya meracau kesakitan.
"Clara? Jadi ini semua karena wanita gila itu lagi, dia benar-benar keterlaluan, aku akan segera membunuhnya!" cekam Kevin mengepalkan tangan kirinya.
Dia berbalik badan, dan hendak ingin melangkah, namun dengan cepat aku mencegahnya melalui pegangan tangannya yang masih tak kulepaskan.
"Ahk... Jangan pergi Vin! Aku mohon!" pintaku.
"Dokter mau kemana? Salsa harus segera di operasi jadi dokter harus menandatangani surat persetujuannya lebih dulu!" cegah dokter kandungan yang berdiri disamping Kevin.
"Arrgh... Oke dimana suratnya!" balas Kevin menggertakkan gigi.
"Sayang... Tidak apa-apa, Aku tau bagaimana perasaanmu! Tapi kesehatanmu juga sangat penting!" tukas Kevib dengan lembutnya berkata.
"Ka-kamu tidak marah Vin?" aku heran dan juga tak percaya akan sikapnya yang seakan tak marah denganku yang begitu keras kepala dan mengakibatkan harapan yang selalu ia idamkan hancur seketika.
"Jujur tadinya aku sangat marah! Kufikir kau kesini hanya untuk jalan-jalan atau melakukan hal yang tak berguna, tapi setelah tau Clara yang menabrakmu aku malah ingin segera membunuh wanita gila itu, lagian kalau itu hanya soal ponsel, kenapa kamu begitu repot-repot membawakannya, aku kan akan pulang, dan juga kalau ponsel itu hancur aku bisa membeli yang baru sal... Kamu kan tau kita tidak kekurangan uang! Ya udah kamu bisa berfikir tenang sekarang, aku tidak marah kok!" ujarnya berpanjang kali lebar membuatku benar-benar merasa sedikit tenang.
"Ta-tapi aku takut! Shh..." lenguhku
"Jangan takut! Aku disini, operasinya hanya akan berjalan beberapa menit saja kok!"
__ADS_1
Pada akhirnya aku di bawa keruang operasi, didampingi oleh Kevin dan ternyata Willy juga ikut.
Didalam ruang operasi, sang dokter mulai menyuntikkan obat bius, perlahan rasa ngantuk mulai menjalar di tubuhku, kelopak mataku mulai terasa sangat berat hingga akhirnya aku tertidur dengan tangan dalam genggaman Kevin.
2 jam kemudian, kesadaranku perlahan kembali, aku mulai membuka mata secara perlahan menatap langit-langit dan ketika ingin sedikit menggerakkan tubuh, rasa sakit yang amat luar biasa muncul di area bawahku.
Akh... Rasa nyeri yang tak tertahankan, membuatku seketika teringat akan hal yang rasanya begitu menyakitkan hati.
Mataku berkeliling, tak ada seorangpun di sampingku, "Ahkk... Bayiku... Huhuh...." gumamku meraba perut sambil menangis.
Aku menutup mata, membiarkan air mataku terus mengalir mewakili hatiku yang rasanya hancur berkeping-keping, rasa sakit yang tak bisa ku gambarkan lagi.
Krek....
"Sal... Elo udah bangun?" Seseorang membuka pintu dan itu adalah Willy, dengan cepat aku mengusap air mata agar dia tak menyadarinya.
"Hm... Ternyata kamu masih disini? Ohh iya Will, Kevin kemana?" tanyaku.
"Dia baru aja keluar Sal... Kayaknya di panggil sama dokter kandungan tadi, bagaimana kondisi lo?" timpal Kevin yang menatapku dengan mata berkaca-kaca.
"Aku sudah tidak apa-apa!" balasku bersikap tenang
Ia kini berdiri disamping ranjang, "Syukurlah... Ehh Ini tas lo! Gue berhasil ngejar jambret yang bawa tas lo tadi" lanjutnya.
__ADS_1
"Makasih ya Will...." tanpa Sadar air mataku kembali menetes, "Lo harus sabar Sal... nanti pasti lo bakal hamil lagi kok! nggak usah nangis lo kan wanita kuat!" ucapnya memberi semangat.