
.
.
"Salsa... Bangun dong sayang! Sampai kapan kamu mau tidur terus, kamu tidak kangen sama mama? Ayo bangun Sal...." pinta mama.
Mama kemudian menunduk, ia menutup mata membiarkan air mata itu terus menetes begitu saja. Hingga matanya terbelalak memandangi tanganku yang mulai bergerak.
Mama panik, dia berlari keluar mencari Kevin namun kini ia sudah tidak ada, mama kemudian berlari lagi kearah Ruangan dokter Charles.
Brakkk
Mama seketika membuka pintunya tanpa mengetuk terlebih dahulu membuat dokter Charles yang sedang mengetik sesuatu dikomputernya sontak terkejut dan menghentikan ketikannya.
"Apa anda tidak tau cara mengetuk pintu?" sahut dr. Charles
"Maaf Dok! Saya kesini karena terburu-buru , saya mau bilang Tangannya Salsa tadi sedikit bergerak dok!" ujar mama.
Dr. Charles menaikkan sebelah alisnya lalu kemudian mengajak mama kembali keruanganku.
Sesaat kemudian Dr. Charles selesai memeriksaku, ia kembali tersenyum kearah mama.
"Bagaimana keadaan anak saya dok? "
"Ibu tenang saja, semua sudah lebih baik sekarang, Salsa Saat ini sudah sadar mungkin hanya tidur saja atau dia sengaja tidak mau bangun dulu, bukan begitu Sal? " tanya Dr. Charles dengan senyum menyeringai.
Sebenarnya aku memang sudah terbangun dari tadi ketika mama berlari keluar, hanya saja aku masih malas membuka mata, mimpi membuatku merasa damai dan hatiku juga terasa tentram.
Tetapi karena tebakan dokter Charles benar, aku merasa sedikit malu sekarang.
"Sial kenapa Dokter ini bisa mengetahuinya? " batinku.
Perlahan aku membuka mata, menatap heran kepada dokter Charles yang pertama kalinya kulihat memandangnya acuh tak acuh, mama seketika memelukku dengan tangisan keras.
"Huhuh Salsa... Kamu sudah sadar Sayang!, kamu masih ingat mama kan?, apa lagi yang sakit biar dokter Charles mengobatinya! " imbuh mama yang langsung mengecek anggota tubuhku, dan tanpa sengaja menekan bekas sayatan yang masih berbalut perban ditangan kiriku itu.
"Aww Mama... Tangan aku sakit, kenapa mama menekannya!" rintihku
__ADS_1
"Ehhh maaf Sayang! Mama tidak Sengaja melakukannya, ahk berarti kamu masih ingat mama dong? " kata mama.
Aku menggangguk pelan, "Kan cuman tanganku yang luka mah, otakku nggak pernah kebentur kok!" timpalku dengan suara parau.
"Heheheh mama cuman bercanda nak...."
Aku memalingkan wajah, memandangi Dokter Charles yang tampak ikut tersenyum juga.
"Ma! Dia siapa? " Tanyaku
"Owh dia dokter Charles nak! Dia yang selama ini merawat kamu! " jawab mama
"Hy Salsa... Salam kenal ya!" sapa dokter Charles dengan melambaikan tangannya.
"Ahk hahah iya Dok! Salken juga."
Aku tersenyum masam merespon Dokter Charles, bukannya aku tidak ikhlas memberi dia senyuman, hanya saja Dia tampak sok akrab denganku, dan aku tidak suka orang yang seperti itu.
"Oh iya Sal... Ini saatnya perban kamu mau diganti! " ujar dokter Charles yang langsung aku anggukan.
Dokter Charles mengambil perban baru lalu menggantinya, ia perlahan melilit lenganku dengan sangat hati-hati, pandangannya terkadang mengarah kearahku, dia tampak sangat aneh, tatapannya seperti mempunyai niat tertentu.
"Kenapa dokter ini menatapku terus?" Bantinku
Setelah selesai, dia kembali melirikku, lalu mengelus punggung tanganku, hal itu sontak membuatku sangat tidak nyaman.
Aku menarik paksa tanganku, ketika kutarik, luka sayatannya sangat sakit, mungkin sedikit terbuka.
Aku merintih dalam hati, sungguh sangat sakit, ingin sekali rasanya berteriak, namun mama sepertinya tidak menyadari itu, mama hanya fokus dengan ponselnya.
Ceklek
Pintu terbuka, Kevin ternyata datang, ia membawa sekeranjang buah segar, entah mengapa kini ketika melihatnya jantungku serasa berdebar, suara langkah kakinya seirama dengan detak jantungku saat ini.
"Ohh ternyata Salsa sudah sadar?" Tanya Kevin dan mama langsung mengalihkan pandangannya.
"Kamu datang nak! Iya salsa udah bangun."
__ADS_1
"Ngapain lo kesini? "
Aku melotot kearahnya, berusaha bersikap biasa saja, namun ketika ia menoleh pandangan matanya seakan menghipnotis diriku. membuat mataku tak bisa berpaling dari bola matanya.
Aku baru saja terbangun dari tidur panjang ini dan melihat wajah rupawannya membuat terpukau.
"Kamu ternyata sudah bangun ya? Tidak tau siapa yang menolongmu? " Tanya Kevin membuatku mengerutkan dahi, aku bingung dengan pertanyaannya itu.
Aku melirik mama, akan tetapi mama hanya mengedipkan mata membuatku tambah penasaran.
Apa maksudnya, aku bahkan tidak tau apa yang sudah terjadi?
Kevin melangkah kearahku, membuat jantungku kembali berdetak sangat keras seakan bergeser dari tempatnya.
"Kenapa kamu masih disini? " Tanya Kevin terdengar dingin sembari melirik kearah dokter Charles yang baru saja selesai membalut lukaku.
"A-aku baru saja membantu mengganti perbannya dok?" jawabnya dengan gugup.
"Pergi dari sini sekarang juga." perintah Kevin membuat dokter Charles tergesa-gesa berlari keluar ruangan.
Brakkk
"Astaga, sejak kapan pintunya tertutup."
Karena terlalu panik, ia bahkan menabrak pintu ,membuatnya sedikit pusing, namun kemudian, dia menoleh kearah kami dengan cengingisan, melihat Kevin yang masih bermuka datar, sedangkan mama tertawa dengan keras dan aku hanya bisa tertawa dalam hati, karena aku tak mau tertawa didepan gunung es ini.
Dokter Charles akhirnya Keluar sambil mengelus-elus jidatnya.
Sementara itu Kevin dengan muka datarnya, kembali menoleh kearahku.
"Karena kamu sudah sadar, maka 2 hari kemudian kita akan menikah! " ucapnya.
.
.
.
__ADS_1
Next..???