Suamiku Dokter Dingin

Suamiku Dokter Dingin
Aku Rindu!


__ADS_3

Pagi harinya.


Tanpa sadar aku malah tertidur diatas ranjang milik Salsa, tanpa beralaskan bantal, bahkan tidak membersihkan diri terlebih dahulu.


Perlahan aku mulai membuka mata, Semua terasa kaku, wajah serta tubuhku seakan sangat kotor, namun berada di atas kasurnya seakan membuatku sangat nyaman dan ingin melajutkan rebahan lebih lama.


"Ahh...iya sepertinya aku harus kerumah sakit lagi!" gumamku setelah sadar bahwa ibunya Salsa masih terbaring di rumah sakit.


Aku berlari keluar dari kamarnya menuju kamarku, langsung mengambil handuk lalu masuk kedalam kamar mandi.


Berada di bawah Pancuran air shower membuatku melenguh panjang, sungguh betapa menyegarkannya air ketika mandi setelah mendapat banyak masalah.


Seakan air menyejukkan hati hingga masalah itu perlahan memudar membuat isi otak kembali fress.


1 jam kemudian Setelah semuanya beres, aku menuruni tangga memakai kemeja serta jas dokter, dan tak lupa melihat sekeliling rumah yang nampak begitu sepi.


Ketika di dalam mobil aku kembali menatap rumahku, memandangnya dengan penuh perasaan, sungguh sayang rumah yang begitu besar namun seperti tak memiliki penghuni.


"Andai saja hubunganku dengan Salsa berjalan baik! Mungkin sekarang rumah ini sudah sangat ramai, mendengar suara bayi atau bahkan sudah ada yang memanggilku papa! Ahh tapi kapan itu terjadi?" harapku dalan hati.


"Dimana kamu Sal...kenapa kau tak pulang semalaman kerumah kita? Apa kau sungguh tidak mau lagi melihatku! Apa kau tau, aku rasa aku mulai merindukanmu!" batinku lagi masih menatap rumah, dengan mata berkaca-kaca.


Dadaku rasanya begitu sesak dalam kepedihan, hanya bisa menyandarkan diri di kursi kemudi seraya memejamkan mata.


Drrtt....


Tiba-tiba ponselku bergetar menandakan datangnya sebuah panggilan masuk, dengan cepat aku terbangun lalu meraih ponselku yang semalam ku lempar di jok belakang.


Aku melihat layarnya dan ternyata itu mama, πŸ“ž"Halo mah! Aku akan segera kesana!" kataku setelah mengangkat panggilan.


πŸ“ž"Vin... Kamu cepatan kesini!" balas mama berbisik sontak membuatku heran.


πŸ“ž"Kenapa mama seperti itu?" ucapku lagi.


Tuut....


"Ha-halo!!! Mama! Kenapa malah di matiin?" kesalku ketika mama mengakhiri panggilan kami padahal ia belum menjelaskan maksud dari ucapannya.


Rasa penasaran kini membuatku langsung menyalakan mesin mengemudi cepat menuju rumah sakit.


"Kenapa mama menelfonku seperti itu? Apa jangan-jangan Salsa sudah ada di rumah sakit? " gumamku bertanya pada diri sendiri menebak-nebak maksud dari perkataan mama.


Aku berharapnya seperti itu, namun kemudian ketika aku sampai di depan kamar mama mertuaku di rawat, Aku malah terdiam seperti patung, bukan Salsa yang datang seperti harapanku, tapi ayahnya, seperti ucapan mamanya Salsa, bahwa ayahnya pasti akan marah, apalagi kali ini aku masih di luar kamar tapi suara ayahnya begitu menggelegar layaknya orang yang dikuasai amarah.


Awalnya aku ragu untuk masuk, tapi aku berfikir lagi semua masalah bersumber dari diriku, jika aku lari dari kenyataan berarti aku sama halnya dengan seorang pengecut, fikirku.

__ADS_1


Ceklek.


Aku memberanikan diri melawan rasa takut membuka pintu sontak membuat pandangan mama dan juga ayahnya Salsa mengarah ke arahku.


"Kevin!!!" raung ayahnya Salsa berjalan mendekatiku di ambang pintu dengan tampang menakutkan.


Grap...


Sebuah cekalan tangan berotot, mencengkram keras keras kemeja yang sengaja tak ku kancing bagian atasnya itu.


Aku merapatkan gigi, mendoggakan wajah mencoba menahan rasa takut, jujur kali ini giliranku yang gemetar karena hal itu "Dimana Salsa? Apa yang kamu lakukan sama anak saya!!!" seru ayah mertua bertanya mengenai keberadaan Salsa.


Aku masih terdiam! "Jawab!!! dimana anak Saya! kau apakan anak Saya Vin...." lanjutnya dengan penuh emosi.


"Hentikan!! bagaimana Kevin mau menjawab kalau kau bertanya dengan emosi!" Seka mama menarik tangan besannya itu dari kerah bajuku.


Aku kembali berlutut di hadapan ayah mertua serta mamaku, menekuk wajah memejamkan mata dalam-dalam.


"Maaf! aku tidak bisa menjaga Salsa seperti yang ayah dan mama harapkan!" jawabku lirih.


"Apa maksud kamu! ayah tidak mengerti!!" ucap ayah mertua membuatku mendoggak menatap keduanya bergantian.


"Aku khilaf, aku sungguh menyesal telah menyakiti perasaan Salsa dengan menuduhnya sebagai pembunuh, aku benar-benar bodoh karena tidak bisa mempercayai penjelasannya terlebih dahulu!" imbuhku menyesal.


Bug...


Kali ini bukan sebuah tamparan, atau cekalan tangan di kerah baju melainkan tinjuan mendarat mulus di sudut bibirku.


Meninggalkan rasa sakit yang luar biasa, "Aku benar-benar minta maaf!" ucapku lagi mengepalkan tangan menahan rasa sakit.


Bug....


Bug....


Bug....


Tinjuan bertubi-tubi di dua sudut bibirku, seolah membuat wajahku seakan hancur bahkan rasa sakitnya sampai ke akar gigiku.


rasanya gigiku terasa berjatuhan, aku seperti tak merasakan punya gigi sama sekali.


"Sudah cukup! hentikan sekarang juga!" jerit mama akhirnya menghentikan tindakan ayah mertua yang masih hendak ingin memukul.


"Apa dengan kata maaf! Salsa akan langsung ada disini? Kevin... sepertinya aku telah salah memilihmu sebagai menantuku! aku bahkan sebagai ayahnya tidak pernah menyakiti dia hingga mengusirnya, tapi kamu... Cih... apa begini sikap kamu sebagai suaminya! bahkan kamu belum cukup 1 tahun menikahi Salsa tapi kamu sudah sering berbuat kasar padanya! jadi lebih baik jika Salsa sudah kembali, kalian urus surat cerai, saya tidak mau membuat Salsa terus tersakiti karena ulahmu!" ujar ayah mengajukan Saran.


"Tidak! aku...tidak akan pernah menceraikan Salsa... hanya dia perempuan satu-satunya yang akan menemaniku sampai tua! jika ayah menyarankan hal itu! mohon maaf aku tau aku yang salah tapi aku sendiri yang akan menanggung rasa penyesalan ini tanpa ada yang namanya surat cerai, aku akan membawa Salsa pulang dan membina rumah tangga yang lebih baik lagi dengannya." tegasku.

__ADS_1


"Kenapa kamu sangat percaya diri! apa kau tau sekali kecewa akan terus kecewa bahkan jika kalian tak bercerai semua sama saja, ayah yakin Salsa akan tetap mau pisah sama kamu yang sangat keterlaluan!" cibir ayah menujukku dengn jari telunjuknya.


"Aku tau itu ayah! tapi izinkan aku sendiri yang akan menujukkan rasa penyesalanku pada Salsa, jadi sebelum aku menyerah aku harap ayah dan mama tidak boleh mengungkit kata cerai lagi di antara rumah tanggaku!" tuturku berkata.


"Oke ayah sepakat! tapi semua keputusan pada akhirnya ada ditangan Salsa, meskipun kamu tetap ngotot tapi kalau Salsa yang minta, aku sebagai ayahnya justru akan mendukung Salsa!" balas ayah mertua.


Aku mengangguk, penuh keyakinan dengan keputusanku, meskipun selalu ada rasa ragu yang menghalangi tapi proses tentunya butuh perjuangan agar mencapai target yang di inginkan.


"Kalau begitu kita bersama-sama cari Salsa! ayah akan menghubungi semua teman Salsa! dan kamu harus terus menghubunginya juga!" kata ayah mertua.


Ucapan ayah mertua hanya ku anggukan lagi sebagai respon, sedangkan mama yang tadinya hanya menyaksikan perseteruan kami, kini berpindah ke sampingku, mengelus punggungku lalu berbisik,


"Vin... mama sudah tidak tau lagi harus berkata apa! semua tergantung bagaimana usaha kamu nak! tapi jika kamu berusaha memperbaiki, pasti hasilnya akan lebih baik!" terang mama menaseti.


Ingin rasanya menangis mendengar mama berkata seperti itu, padahal biasanya mama selalu ikut serta memarahiku tapi lain halnya dengan ini.


Aku memeluk mama dengan erat, "Semangat! mama akan selalu mensuport dari belakang! kamu harus kembalikan menantu kesayangan mama yah!" lanjut mama masih berbisik.


***


1 minggu kemudian masih tak ada kabar dari Salsa, pihak kampus yang di daftari olehnya terus menghubungiku karena aku sekarang adalah walinya.


Tapi tetap saja tak ada yang bisa ku perbuat, bahkan kondisi mamanya sudah pasti tak ia ketahui, dan untunglah sampai detik ini mamanya sudah lebih baik meskipun begitu ia masih belum bisa di pulangkan karena terkadang tekanan darah tiba-tiba meningkat apalagi ketika menyadari hilangnya Salsa.



Aku melamun memikirkan itu semua di dekat jendela kantorku, melihat keluar dengan tatapan kosong, bahkan fikiranku tidak pernah fokus ke pekerjaan selama seminggu ini.


Ting...


Sebuah pesan masuk, " Ahh apa itu Salsa?" ucapku riang mengambil ponsel dan membuka SMS yang baru masuk.


Namun kemudian senyum itu sirna ketika melihat pesan tersebut hanyalah sebuah SMS tidak penting berisi hadiah berupa uang tunai Rp.175 juta yang senantiasa memuakkan orang dengan pesan bohong.


Tanpa kusadari aku membuka pesanku yang selama seminggu ini ku kirimkan di nomornya meskipun tak ada balasan walau hanya sekali.


Aku membacanya dari yang paling atas,


πŸ’¬"Dimana kamu Sal....?"


πŸ’¬"Apa kamu baik-baik saja?"


πŸ’¬"Tolong telfon aku atau balas pesanku jika kamu baik-baik saja!, aku tau kamu menghindariku tapi kenapa kamu seperti ini? setidaknya kamu tidak mematikan ponselmu Sal..." pesanku yang ketiga.


πŸ’¬"Aku rindu😞" isi pesanku yang terakhir

__ADS_1


__ADS_2