Suamiku Dokter Dingin

Suamiku Dokter Dingin
Obat Nyamuk!


__ADS_3

Kevin mengangkat kedua alisnya berharap mendapat sebuah pujian akan keluar dari mulutku.


"Bagaimana? Apa tubuhku terlihat seperti banci? Hahah aku tau kamu pasti salah menilai ya kan! Ku lihat dari wajahmu kayaknya kamu terpukau sama tubuhku?" selidiknya terus menatapku.


Tanpa sadar suara Kevin malah terasa tak terdengar, ini semua terjadi karena aku masih berhanyut dalam lamunan memandangi tubuhnya.


"Sal... Kamu kenapa?" tanyanya lagi mengibaskan tangan di depan wajahku.


Seketika aku kembali tersadar, dan langsung buang muka menghindari tatapan matanya.


"Jangan-jangan kamu benaran malu ya?" godanya.


"Apa sih! Gue nggak malu kok!" elakku.


"Ohh kalau begitu aku mau tanya bagaimana pendapat kamu tentang tubuhku ini? Sexy bukan? Menggairahkan?"


Aku berdesis mulai kesal, "Hn... Lo kayak laki-laki!!!" cetusku.


"Lah.. Kok kamu jawabnya seperti itu?"


"Terus gue harus gimana Vin!!"


"Tatap mata aku dan katakan pendapat kamu!" perintahnya.


Dengan terpaksa aku menoleh dan kini menatap kedua bola mata hitamnya diantara matanya yang sipit.


"Oke... Elo sexy.... Udah kan!" jawabku.


Tiba-tiba Kevin tersenyum, lalu menarik tubuhku ke dalam pelukannya hingga dada kami saling bersentuhan.


Dag dig dug


Suara jantungku seketika terdengar sangat jelas, mungkin karena kaget dengan semua ini, apalagi tubuh Kevin hanya tertutupi selembar kain.


"Ke-kevin lo apa-apaan sih! Lepasin gua, elo tuh masih basah, lagipula elo cuman pake handuk astaga!!! Gue ikutan basah nih... " keluhku yang sebenarnya alasan saja.


"Ini cuman sebentar Sal... nanti kalau kamu basah kamu bisa ganti baju?"


Pelukannya semakin erat, namun aku tak membalasnya melainkan hanya diam seperti patung, meski ingin rasanya membalas tapi ini belum saatnya.


"Kevin! Lepasin gue!!!" pintaku risih.


"Sebentar dulu Sal... Jarang-jarang kan, Aku meluk kamu tanpa perlawanan!"


Aku kembali terdiam! Sepertinya dia berkata benar lagi! Namun jika di fikir kenapa aku memang tak melawannya ya? Apa ada yang salah denganku? Apa karena aku sudah terlalu sering merasa kecewa sampai-sampai tak bisa lagi melakukan perlawanan?


"Sal... Kamu melamun lagi? Tidak usah banyak melamun nanti ke sambet roh halus loh! " ucapnya bercanda.


"Kevin! Lo jangan sembarangan ngomong ya... Udah deh gue mau kembali ke kamar gue sendiri!"


"Lohh emangnya kamu sudah sehat?"


"Udah!!!" balasku ketus.


"Ohh!" balasnya singkat tak perduli.


Akhirnya aku kembali kekamarku sendiri, dengan kondisi tubuh yang masih sangat lemah, tanpa sadar ketika melihat meja makan perutku seketika berbunyi.


Aku sangat-sangat lapar namun tak ada sama sekali makanan di atas meja, dengan perasaan malas aku berjalan lesu ke arah kamar.


Meskipun rasa lapar ini ingin membunuhku tapi aku mau Bagaimana lagi? Tidak ada makanan, apakah aku harus puasa?


Ketika di dalam kamar aku merebahkan diri di atas kasur, aku ingin tertidur kembali tapi sekali lagi rasa lapar menghalangiku.


1 jam kemudian, aku merasa seperti zombi, tubuh yang tadinya lemas kini tambah lemas tak bertenaga, hingga aku keluar dari kamar.


Seketika aku menelan ludah mendapati ada semangkuk bubur di atas meja, dengan tidak sabaran aku langsung mencicipinya.


Tiba-tiba ketika sesuap bubur itu mendarat tepat diatas lidahku, aku berteriak, "Ahhh... Panas... Panas...." jeritku merasakan lidahku melepuh.


"Salsa!!! Kamu kenapa? ya ampun apa yang kamu lakukan?" Tanya Kevin yang baru datang entah dari mana.


"Kevin! Li-lidah gue melepuh ahh... " lirihku mengibas-ngibaskan tangan didepan lidahku yang ku julurkan keluar berharap sakitnya sedikit berkurang.


"Kenapa kamu tidak mau meniupnya terlebih dahulu?"


"Ya mana gue tau kalau buburnya masih panas!" ucapku dengan nada tinggi.


"Coba sini aku lihat!" pintanya mendekatkan wajahnya tepat didepanku.


"Lo mau apa!" jawabku cepat memundurkan wajahku.


"Aku mau lihat lidah kamu lah... Kan kamu sendiri tadi yang bilang lidah kamu melepuh iya kan?" ujarnya.


Aku tercengang ku fikir dia akan berbuat hal yang tidak terduga lagi padaku tapi ternyata fikiranku saja yang terlalu negatif padanya.


"Ehh ehhem gue udah nggakpapa elo nggak usah lihat lidah gue!"


"Yakin?"

__ADS_1


"Ya iyalah yakin! Kan ini lidah gue bukan lidah elo dan gue yang rasain!" tegasku berbohong.


"Ohh kalau begitu kamu bisa lanjutin makan bubur tapi ingat kamu harus tiup dulu karena bubur itu memang baru saja aku masak!" ungkapnya.


Sungguh! Aku melongo dengan sikapnya yang perhatian seperti sekarang ini, suara lembutnya di sertai senyuman yang sejak dulu ku nanti kini menjadi hal baru yang mampu membuatku terharu.


"Kevin! Lo kok jadi perhatian gini sih sama gue! Elo nggak lagi pura-pura doang kan? Ini beneran elo? Tapi kayak aneh gitu ya dulu elo sangar, keras kepala, suka bentak-bentak gue, marah nggak jelas! Dan sekarang elo berubah 100%, Jujur! Gue ngerasa aneh elo nunjukin sikap lo yang kayak gini!"


"Hn... sangar, keras kepala, suka bentak dan marah-marah? Apa ini sikap yang pernah aku tunjukkan sama kamu? Tapi sepertinya aku tidak mungkin melakukan itu jika saja aku tidak bertemu seorang gadis yang hampir memiliki sikap sepertiku!" sindirnya sambil mengalihkan pembicaraan.


"Yak!!! Lo nggak usah bohong deh... Gue yakin pasti dari dulu elo nggak punya teman kan? Karena sikap lo yang kebangetan itu! " cibirku membalas ucapannya.


Kevin tertunduk diam, aku heran kenapa dia seperti itu, apa jangan-jangan ucapanku benar? Ohh tidak apakah aku mengungkapkan masa kecilnya yang suram? Fikirku merasa bersalah.


"Kevin... Maksud gue bukan git... "


"Sal... Aku mau kembali ke kamar! Kamu bisa melanjutkan makanmu!" potongnya dan langsung pergi begitu saja.


Melihat punggungnya dari belakang menambah rasa penyesalanku karena mengucapkan itu, tapi setidaknya dia masih bisa menyangga ucapanku bukan?.


"Dasar aneh...! Auah bodo amat yang penting gue mau makan!" gumamku sambil mengambil sendok yang tadinya ku taruh di dekat mangkuk.


"Kevin! Makasih buburnya yah...." teriakku menggema mengisi rumah ini.


Tak ada respon dari Kevin, lalu aku melanjutkan menyendok bubur yang ada di depanku.


Aku meniupnya dengan sangat kuat hingga ada beberapa butir kecil bubur yang terlempar.


Setelah memastikan bubur yang di sendok itu sudah agak dingin, aku langsung memasukkannya ke dalam mulutku.


"Ahh sial...Kevin!!! Ini bubur apaan? Kok nggak ada rasanya?" teriakku lagi ketika hendak mengunyah bubur itu.


"Hoek... Hoeekk!!" Sebelum menelan bubur tadinya ku fikir ini sangat nikmat tapi ternyata rasanya sangat hambar.


Tidak ada balasan dari Kevin lagi mungkin karena dia tidak dengar atau dia memang tidak mau menjawabku.


Dengan perasaan kesal, aku memukul meja makan sangat keras, lalu beranjak dari sana, aku kembali ke kamar menahan lapar hingga rasa bosan kembali muncul.


Aku mengambil ponselku di atas meja samping ranjang kemudian membuka via WhatsAap ternyata ada terselip chat dari Dita.


Dia mengajakku untuk keluar jalan-jalan dan tentunya aku sangat senang apalagi saat ini aku sangat lapar.


Secepatnya aku menyutujuinya, tapi aku sempat melamunkan Kevin, apa tidak sebaiknya aku meminta izin dulu padanya?


Tapi sepertinya dia tidak lagi dalam keadaan yang baik jadi aku putuskan akan pergi tanpa memberitahukannya.


***


Hingga aku melihat ada salah satu di antara mereka yang berdiri dan melambaikan tangan padaku.


Aku membalas lambaian tangannya kemudian berjalan mendekat, "Ahh Salsa...gue kangen banget sama lo!" Seru Dita langsung memelukku.


"Hmm gue juga astaga kita kok kayak udah lama ya nggak ketemu!" balasku.


"Salsa!!!" panggil seseorang di belakangku.


Aku berbalik badan, "David! Ternyata elo disini juga!" sahutku kaget.


"Iya... Sebenarnya gue ngajak Dita buat jalan bareng tapi katanya dia mau ngajak elo jadi yah... Gue sih setuju aja!" ungkap David tersenyum masam.


"Heheh jarang-jarang kan! Kita jalan bareng sama Salsa lagi!" jawab Dita


"Tunggu! Jadi kalian cuman berdua? Terus si bucin mana? Apa jangan-jangan kalian kencan ya jadi cuman jalan berdua! Terus manggil gue mau di jadiin obat nyamuk??" gerutuku bercanda memanyunkan bibir.


"Apaan sih Sal... Siapa yang kencan coba! Kita tuh cuman jalan bareng doang kok! " Seka Dita.


"Terus kenapa lo nggak ngajak Lena juga?" tanyaku penasaran.


Dita mendengus, "Gue udah ngajak dia! Tapi katanya lagi nggak mood gara-gara kesal sama komiknya yang suka ngegantung dia! Jadi yah... Gue sih bodo Amat mending dia nggak ikut dari pada kita yang ribet ngurusin omongan halunya! "


"Hahah lo jangan gitu dong! Kan dia teman kita juga! Ohh iya karena kalian udah ngudang gue datang kesini berarti kalian harus traktir gue!" ucapku tanpa rasa malu


David dan Dita tampak kaget dan saling bertukar pandang, "Hah! Sal... Elo jatuh miskin? Sumpah! Ini pertama kalinya elo minta ditraktir loh!" ungkap Dita tak percaya.


"Ho'oh gue setuju tuh!" sambung David.


"Ya enggak lah... Emangnya kalian Nggak mau traktir gue?" jawabku dengan memasang wajah kasihan.


"Ehh bukan itu maksud kita Sal... Kita tuh, nggak nyangka aja karena lo tiba-tiba minta di traktir!" serkah David.


"Gue beneran nggak punya duit sob! Jadi traktir gue dong! Kali ini aja! " pintaku memohon.


"Ya ampun sebenarnya gue malu banget kayak gini tapi gue nggak punya uang, mau minta sama Kevin takutnya nggak di kasih hiks hiks!" batinku menangis membayangkan.


"Iya Sal... Lo nggak usah nangis keles! Kita nih sahabat elo mana mungkin kita makan bareng tapi elo enggak! Kan kita juga bukan orang jahat ya nggak Vid!" Tutur Dita.


"Umm... Kalian emang sahabat gue yang the best deh... Ya udah kita pesan aja sekarang gue udah lapar banget dari tadi belum makan!"


"Hah! Emangnya nyokap elo nggak masak gitu!" lirih Dita terheran dengan ucapanku.

__ADS_1


"Waduh gue mau bilang apa nih... Nggak mungkin dong gue mau bilang udah nggak tinggal bareng sama orangtua!" gumamku dalam hati.


"Emm... itu nyo-nyokap gue lagi itu.. Ehh anu lagi.. Pergi arisan... Yah arisan heheh" jawabku setelah mendapat ide sambil tertawa kikuk mengangguk-nganggukan kepala.


"Ohh kirain kenapa! Kalau begitu ayo kita pesan elo mau pesan apa Dita, Salsa... " tanya David memandangi kami.


"Gue terserah aja deh... Soalnya gue nggak milih-milih makanan kok! " kata Dita.


"Ahh kalau gue boleh pesen banyak nggak!" lanjutku menatap David memelas.


Akhirnya David mengangguk sambil tersenyum, "Oke kalau begitu gue mau pesen, burger, pangsit pake bakso ada nggak ya?, sama hotdog , dan minumannya jus jeruk yahyah!" ucapku cepat.


***


Selang beberapa menit makanan kami akhirnya datang dan terhidang dengan sangat rapi di atas meja depan kami.


Air liurku seakan menerobos keluar dari mulut, sebab tidak tahan lagi untuk segera menyerbunya.


Namun aku malu apa lagi, aku yang ditraktir lagipula di restoran ini ada banyak orang.


"Sal... Elo kenapa? Kok lihatin semua orang sih!" tanya Dita menyadari tingkahku.


"Enggak kok Dit! Gue cuman renggangin leher hehe" balasku berbohong.


"Kalian tunggu apa lagi! Ayo makan! " ajak David.


Dan tanpa basa-basi lagi aku segera mengambil sendok dan garpu yang ada di samping piring.


Kemudian secepat kilat menyantap makanan yang tadi ku pesan tanpa memperdulikan rasa malu ku lagi.


Tanpa sadar ternyata Dita dan David malah memperhatikan caraku ketika makan, nasi terhambur, dengan percikan makanan yang tersebar di sekeliling piring membuat mereka berdua terus geleng-geleng kepala.


"Sal... Pelan-pelan aja makannya! Lo tau nggak elo tuh sekarang kayak orang nggak pernah makan 3 hari loh... "ujar Dita menasehatiku.


"Nyam-nyam Dita... Gue nggak perduli! Gue emang lapar banget!" balasku dengan mulut penuh makanan.


"Tapi nggak kayak gitu juga keles! Elo tuh di lihatin banyak orang Sal..." lanjut Dita menyadari ada banyak pasang mata tertuju pada kami bertiga khususnya aku.


"Serius loh...." jawabku kemudian melirik ke kanan dan kiri yang ternyata banyak orang memang sedang memandangiku.


Akh sial... Aku melenguh tertunduk malu, makanan yang masih ada di dalam mulutku seketika ku telan tanpa ku kunyah terlebih dahulu.


Aku melirik kedua sahabatku, "Maaf ya gue udah bikin kalian berdua malu!"


Dita tampak kesal, namun David tidak seperti itu dia hanya mendesah pelan " Nggakpapa kok Sal..." imbuh David.


Melihat sikap Dita yang terkadang melirikku kemudian langsung memutar bola matanya, aku seketika merasa bersalah.


"Dita, elo marah?" tanyaku lirih.


"Nggak!!!" balasnya singkat terdengar kesal.


"Ah~ Dita elo marah ya... Gue minta maaf sama lo oke... " bujukku manja mengoyang-goyangkan tubuhnya.


"Salsa! Gue lagi makan, elo nggak usah kayak anak kecil deh... " raung Dita.


Seketika aku menarik tanganku, lalu cemberut di depan mereka.


"Ya udah gue minta maaf sama kalian! Makasih makanannya, gue pulang duluan yah...." Aku hendak berdiri, lalu tiba-tiba tanganku di tarik oleh Dita.


"Duduk sekarang! Gue cuman bercanda doang, kok elo masukin ke hati sih! Dasar Salsa baperan!" cibir Dita.


Aku tersenyum kembali, dengan mata berkaca-kaca aku memeluk Dita, "Dita! Gue kira elo beneran marah tau! Lo jangan gitu dong! Gue udah bener-bener ngerasa sendiri kalau elo juga marah sama gue!" lirihku.


"Sendiri? Kan kita ada banyak Sal... Masa elo nggak nganggap gue, Willy sama lena?" sahut David.


Aku melepaskan diri dari pelukan Dita, memandangi mereka berdua saling bergantian.


"Maksud gue gini, kan kita bakalan nggak bisa ngumpul-ngumpul kayak dulu lagi, jadi yah siapa tau mungkin nanti di antara kita udah ada yang ketemu sama jodohnya terus nikah, punya anak, nah pastinya nggak sering calling-calling gitu kan!" curhatku.


"Apasih Sal... Omongan lo nggak nyambung ihh...mana ada berkeluarga! Kan kita sekarang mau fokus sama kuliah dulu! " serkah Dita.


"Ahh iya juga sih! Tapi nggak ada yang bisa tebak kan? Siapa tau omongan gue bener!" ucapku menyindir diri sendiri.


"Ahh udah ahh nggak usah bahas gitu-gituan dulu mending habisin tuh pesanan elo! Tapi ingat jangan makan kayak tadi, jorok banget di lihatnya lohh! " cibir Dita bergidik.


"Iya iya... Dita.... "


***


Beberapa menit berlalu, Makanan di atas meja sudah tidak ada yang tersisa, namun kini hanya ada aku dan David, karena Dita tadi pergi ke kamar mandi.


Aku menatap David yang tengah meminum minumannya, "Ngapain lo natap gue! Jangan-jangan lo naksir ya sama gue? Mohon maaf aja gue udah suka sama orang lain!" ungkap David membuatku tercengang dengan kepercayaan dirinya.


"Hah! Siapa yang naksir elo? Ge'er banget! Ohh iya gue tau siapa yang lo suka!"


"Jangan sok tau loh!" serkah David.


"Gue nggak sok tau! Gue emang tau kok! Elo suka sama Dita kan?" jawabku penuh keyakinan.

__ADS_1


__ADS_2