Suamiku Dokter Dingin

Suamiku Dokter Dingin
Masak lagi?


__ADS_3

HALO READER


I'M COMING HARI INI AUTHOR BAKAL CRAZY UP JADI SERTAKAN LIKE DAN KOMENTAR KALIAN DISETIAP PARTNYA YA! BERI VOTENYA JUGA BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT 🙏


Brum brum


Suara mobil memasuki garasi, dan aku tau itu Kevin, dengan cepat aku memutar badan namun sebelum itu aku menaruh piring berisi nasi gorengnya dimeja makan dan berlari kencang kearah pintu.


Ceklek


"Kevin!" panggilku ketika dia baru saja membuka pintu.


"Ada apa?" sahutnya


"Kebetulan lo udah dateng! Soalnya gue udah masak spesial buat lo jadi lo harus coba hehe" ungkapku.


Sebelum dia menjawab aku langsung menarik lengannya menuju meja makan, dibalik itu semua aku tersenyum tipis karena dia tak melakukan penolakan.


"Nih... Cobain dulu hasil keringat gue sendiri walau udah gagal banyak sebelumnya"


Aku memberikan piring berisi nasi goreng itu padanya akan tetapi ekspresinya tampak biasa-biasa saja.


"OH MY GOD kenapa dia harus bermuka datar sih! Kalau gini caranya berapa kalipun gue masak, gue nggak bisa tau dong dia suka apa kagak!" gumamku dalam hati.


"Dari mana kamu belajar masak ini?" tanyanya dengan menatap nasi goreng didepannya.


"Ya-ya belajar sendiri lahh..." ucapku berbohong.


"Makanan ini tidak beracun kan?" tanyanya lagi dengan mengubah raut wajahnya seakan merasa ngeri dengan nasi goreng buatanku.


"Lo kira gue sukanya main racun-racun gitu? Ya kagak lahh, Kalau dari dulu gue kayak gitu mungkin sekarang lo udah lenyap dari dunia ini!"


"Oke sekarang aku percaya" balas Kevin membuatku tersenyum puas.


Kevin mulai menyendok nasinya membuatku gugup, dia mengunyahnya dengan perlahan, terkadang matanya berkeliling seperti sedang berfikir.


"Gimana, gimana? Enak nggak?" tanyaku penuh harap.


"Terlalu asin, Nasinya juga sangat keras, Ganti! "


"Hah? Masa sih, padahal tadi kan udah pas banget loh!"


Sebenarnya sebelum aku memulai aku sudah memasukkan sedikit demi sedikit garam demi memastikan semuanya menjadi enak akan tetapi kenapa Kevin malah bilangnya seperti itu?


"Mungkin ada yang salah sama lidah lo kali, sini gue coba deh!"


Aku menarik piring didepannya namun seketika dia menariknya kembali hingga kami saling menarik selama beberapa detik.

__ADS_1


"Kamu tidak usah coba! Lebih baik kamu masak yang baru" ujarnya.


Aku menatapnya heran, dia bersikap aneh kali ini, dan aku juga tak bisa bilang apa-apa lagi.


"Oke... Oke gue bikin yang baru tapi dengan syarat lo harus lakuin tiga hal yang gue mau" pintaku.


"Ya udah, Sana bikin lagi!"


Dengan cepat dia menyetujuinya dan aku melangkah kearah dapur, sesekali pandanganku berbalik kearahnya namun dia hanya mengibas-ngibaskan tangan seolah menyuruhku pergi dan bergerak cepat.


Berapa menit kemudian aku mengambil sayur kol untuk dijadikan hiasan pelengkapnya, akan tetapi ada sesuatu yang bergerak menggeliat membuatku sangat takut.


"Ahhk ularr!!!" jeritku dengan keras.


Kevin berlari kencang kearahku dia tampak panik dan tanpa kusadari aku malah melompat masuk kedalam pelukannya.


"Ular? Mana ularnya?"


"Itu tuhh! di-di sayur kol itu.... "


Kevin perlahan melangkah kearah sayur, begitu pula aku yang masih dalam dekapannya.


Perlahan Kevin membuka sayur kolnya dan ternyata itu bukanlah ular melainkan ulat besar berwarna hijau yang sedang fokus mengunyah dan terus menggeliat membuatku ikut kegelian.


"Salsa... Kamu nih apa-apaan! Ini bukan ular!" jelas Kevin.


"Oh ulat toh kirain ular, tapi sama aja tuhh sama-sama nggak punya kaki! " balasku dengan memalingkan wajah.


Aku malu, sumpah! Sangat-sangat malu, dan lebih sialnya tadi kenapa aku sangat bodoh bisa berlari dengan takut kearahnya.


"Sekarang Cepat masak ulang!" perintahnya yang kemudian berjalan kembali kearah meja makan.


Kevin Pov


Ketika aku keluar tadi, sebenarnya memang karena sangat kesal padanya, dilain sisi aku sangat lapar namun dia hanya main-main denganku.


Aku sempat berfikir apa aku salah menikahi dia yang masih seperti anak kecil, sombong, keras kepala, dan sangat manja?.


Aku menaiki mobilku menuju ke sebuah restoran, akan tetapi di perjalanan tiba-tiba ponselku berdering dan itu dari salah satu perawat yang bertugas dirumah sakitku.


"Maaf mengganggu pak, Sepertinya bapak ada pasien darurat yang harus segera ditangani!" ucap perawat tersebut didalam telfon.


Aku tak menjawab ucapan perawat tadi, melainkan hanya memutar arah menuju rumah.


Dengan geram aku menahan lapar sambil menginjak pedal gas, dan melaju cepat kearah rumah sakit.


Lima jam kemudian pasien tersebut sudah selesai ditangani, aku keluar dari ruang operasi, lalu mandi dan berganti pakaian.

__ADS_1


Kruyuk kruyuk


Perutku sudah sering berbunyi sejak tadi dan karena itu aku tidak fokus ketika melakukan operasi jantung, hampir saja aku membunuh pasien tadi, dikala itu aku hampir memutus salah satu Pembuluh Darahnya yaitu Arteri tapi untunglah ada seorang perawat menyadarkanku.


Ketika pulang, diperjalanan pun aku masih saja tidak fokus, aku tau ada banyak warung dipinggir jalan akan tetapi aku tidak mau makan-makanan disana karena menurutku tidak steril lagian seumur hidupku ini aku tidak pernah sedikitpun jajan makanan luar melainkan dari restoran mahal, dan berkelas, jadi aku hanya bisa mengabaikannya jika harus seperti itu.


Karena tenggorokanku terasa kering aku berhenti didepan salah satu Kafe untuk memesan sebotol air minum.


Aku melangkah masuk dan langsung duduk begitu saja.


"Mau pesan apa pak?" tanya pelayan kafe tersebut dengan memberikan buku menunya.


"Aku tidak mau memesan, aku hanya butuh secangkir air!" balasku


Sesaat kemudian Akhirnya secangkir air sudah datang, aku meneguknya dengan rakus.


"Ini uangnya!" aku menyerahkan selembar uang seratus ribu pada pelayan tersebut.


Pelayan tersebut tercengang seraya berkata, "Ehk maaf pak, kan bapak cuman minum air putih jadi itu gratis!"


Aku menatap datar kearah pelayan itu dan mengalihkan pandanganku ke uang yang tadi kutaruh diatas meja.


"Oh... Ya sudah!" jawabku singkat seraya mengambil kembali uang tersebut.


Aku berdiri dan melangkah keluar dengan penuh percaya diri.


"Ya ampun aku kira laki-laki tadi bakalan bilang 'ya udah kalau begitu ambil saja untuk kamu' Ehh ternyata pelit banget jadi orang, kayaknya sihh penampilannya aja yang berkelas tapi dompetnya tipis wkwk!" gumam pelayan tersebut disela langkahku ketika keluar.


Aku tidak membalas ucapan pelayan tadi namun hanya fokus kearah pintu, mungkin karena sudah kebal dengan ucapan seperti itu, jadi aku sudah malas menanggapinya.


Aku melanjutkan perjalanan, keadaan sunyi sudah terbiasa bagiku, mendengar musik didalam mobil mungkin sebagian orang melakukannya agar tidak merasa bosan tapi lain halnya denganku, aku sama sekali tidak terlalu suka melakukannya karena bisa mengusik ketenanganku.


Sesampainya dirumah, aku memasukkan mobilku digarasi, tiba-tiba ketika baru membuka pintu, Salsa berlari kearahku dan itu membuatku bingung dengannya.


Dia menarik lenganku tanpa persetujuanku terlebih dahulu akan tetapi aku tidak melakukan perlawanan karena katanya dia sudah memasak spesial untukku.


Dia memberikan sepiring nasi goreng, dan itu membuatku menelan air liur secara diam-diam agar dia tak menyadarinya. Nasi goreng memang makanan favoritku sejak kecil, karena ini mengingatkan aku dengan nenekku yang sudah lama meninggal, beliau sangat menyayangiku, disaat mama dan ayah sibuk pasti nenek membuatkanku nasi goreng, namun penyakit stroke seketika mengambil nyawanya dan itulah alasan mengapa aku menjadi dokter seperti sekarang ini.


Aku memakan nasi goreng tersebut dan benar saja rasanya sama persis dengan buatan nenek, namun ketika melihat wajah Salsa yang tampaknya berharap aku bilang suka, aku jadi ingin membuatnya kembali kesal, sehingga aku bilang ini sedikit asin agar dia membuatkanku lagi karena jujur aku sangat lapar saat ini.


Dan pada akhirnya dia setuju meskipun masih ada syarat tetapi aku menyetujuinya saja karena masih merindukan rasa nasi goreng nenek.


Ketika Salsa sedang fokus berjalan menuju dapur aku diam-diam memakan nasi gorengnya, dia sesekali menoleh kearahku akan tetapi aku berpura-pura santai sambil menelan nasinya.


Lalu ketika dia berteriak keras dari dalam dapur, aku seketika panik sembari berlari kearahnya, dia tampak ketakutan dan langsung berlari masuk dalam pelukanku, aku tersenyum tipis karenanya aku tidak tau kenapa hanya saja bibirku ini langsung tersenyum tanpa perintahku.


Akan tetapi ketika aku menyadari dia hanya main-main aku kembali kesal, ku fikir dia tadinya sangat takut tapi ternyata hanyalah sandiwaranya.

__ADS_1


__ADS_2