
Aku menekan dadaku yang sejak tadi sesak kini mulai membaik, rasanya aku kembali mendapat energi setelah bicara dengan ayah.
Kemudian aku menatap makanan Willy, rasa lapar mulai kurasakan, dengan perasaan gembira aku mengambil nampan yang berisi makanan itu, lalu mulai menyantapnya.
Tok tok tok
Suara ketuka pintu, menghentikan tanganku yang hendak menyendok nasi diatas piring, "Masuk aja Will...." sahutku.
"Ternyata elo udah makan yah! Kirain elo bakal cuekin tuh makanan!" balasnya setelah membuka pintu lalu melihatku memakan makanan yang ia bawa tadi.
Aku tersenyum sambil berkata," Makanan lo enak Will...." pujiku.
"Hn... Kayaknya ada yang lagi bahagia nih!" selidiknya melangkah lebih dekat ke arahku.
"Iya gue emang lagi bahagia!" cerocosku.
"Jangan-jangan karena masakan gue enak banget kan?"
"Soktau!"
"Terus apa?"
"Lo nggak usah tau!" sekaku.
"Ohh ya udah! Kalau gitu lo tidur gih, gue mau ke kamar gue, soalnya udah ngantuk banget!" katanya hendak berbalik arah .
"Makasih makanannya Vin!" ucapku cepat di sela ia melangkah keluar.
Tiba-tiba Willy berhenti, lalu membalik tubuhnya menatapku dengan tatapan heran, "Vin! Lo tadi bilang apa Sal... Nama gue kan Willy kenapa elo bisa salah nyebut nama gue! Siapa itu Vin! Ahh apa jangan-jangan nama yang sama ketika elo salah nyebut nama waktu itu ya? Kalau nggak salah, Kevin kan? Kevin itu sebenarnya siapa lo, sampai-sampai elo sering nyebut namanya?"
Willy mulai curiga dengan sikapku yng tak sengaja menyebut nama Kevin, apalagi ini bukanlah yang pertama kalinya tapi yang kedua dan aku tidak tau harus berasalan apa lagi.
Aku tertawa Kikuk, berusaha mencairkan kecuringaannya, "Ahhah Kayaknya guw emang salah nyebut nama ya? Sebenarnya Kevin itu....Eh... Sepupu gue... Yah sepupu hahah..." alasanku.
"Ohh sepupu lo toh... Kayaknya elo rinduin dia Sal... Jadinya elo salah nyebut nama orang!" candanya.
"Ri-rindu? Maksud lo, gue! Huh ya nggak mungkin lah...."
"Ahh udahlah ngaku aja! ohh iya Sal... Pendaftaran kuliah dilakukan secara online, dan waktunya itu besok!" jelas Willy.
"Besok ya? Oke, gue boleh minjem laptop lo kan?"
__ADS_1
"Tentu aja dong! Kita harus melakukannya bersama agar kita juga bisa sukses bareng!" tegasnya penuh keyakinan
Aku hanya mengangguk lalu Willy keluar dari kamarku.
***
1 minggu kemudian, setelah malam itu esok harinya kami mendaftar disebuah universitas terkenal di New York, aku mengambil jurusan yang sama dengan Willy yaitu seni, teater dan Drama.
Meskipun niat awal ingin mengambil jurusan kedokteran tapi ketika melihat biaya persemesternya begitu malah, nyaliku seketika menciut untuk mengambil prodi tersebut.
Ingin meminta uang kepada ayah! Rasanya sangat berat sebab aku sudah banyak menyusahkan mereka sebagai orangtuaku.
Biarlah aku tidak menjadi seorang dokter, karena takdir sudah ada yang atur mungkin saja rezekiku memang ada di jurusan ini.
Dan untuk sekarang adalah waktu pengumuman setelah 5 hari yang lalu aku dan Willy ujian tes, kini aku dan dia sudah duduk didepan komputer menunggu hasilnya yang juga di kirim secara online melalui E-mail.
Tanganku gemetar menunggu hasilnya, "Nggak usah gugup Sal...." ujar Willy menggenggam tanganku.
Tanpa sadar aku langsung melepaskan tanganku dari genggamannya.
"Maaf Will... Gue lagi gugup banget! Sumpah!" elakku mencari alasan walaupun ku tau itu adalah alasan konyol dan tidak masuk akal.
Willy manyun setelah aku melakukan hal itu padanya, "Lo sebenarnya benci sama gue ya Sal? Kenapa setiap kali gue pegang elo atau bahkan cuman sentuh kulit lo aja! Lo kayak langsung menghindar! Apa gue ini adalah orang yang menjijikkan ya buat lo!" protes Willy menatapku dengan wajah memelas.
"Ohh persahabatan ya Sal...." lirihnya terdengar kecewa.
Tringk....
Sebuah pesan baru saja masuk dari Via E-mail dan itu ditujukan untuk Willy, tanpa basa-basi lagi ia segera membukanya.
Kulihat ia memejamkan matanya, mungkin karena takut hasilnya akan berbeda dengan harapan.
Jadi aku yang mengambil alih komputer yang ada di hadapannya, menggantikan dia membuka isi dari E-mail tersebut.
"Will... Lo... lulus Will... Lihat deh!" kataku memberitahukannya inti dari isi E-mail itu.
Dengan cepat Willy membuka matanya, melototi layar laptop, yang bertuliskan 5 huruf yang sangat ia tunggu-tunggu.
"Gue... Beneran lulus Sal...?" Tanyanya padaku masih tak menyangka.
"Iya Will... lo kan lihat sendiri hasilnya!" ketusku kesal.
__ADS_1
"Ahhah gue senang banget Sal... Akhirnya gue lulus di kampus terkenal lagi,"
"Oke sekarang kita tinggal nungguin hasil ujian lo!" lanjutnya berkata tak sabaran.
"Sabar aja! Nanti hasilnya bakal muncul juga kok!"
Tringk....
Pesan kedua masuk setelah aku baru saja mengatakannya, dengan perasaan takut bercampur gugup sampai-sampai kakiku ikut gemetaran, memberanikan diri membuka isi E-mail tersebut.
Rasanya aku menahan nafas ketika hendak membuka, tapi kemudian Willy mengambil laptop itu dari hadapanku memindahkannya tepat di depannya.
"Biar gue yang buka Sal... Kan tadi elo udah bukain pengumuman hasil ujian gue... Nah sekarang giliran gue yang bukain punya lo!" imbuhnya.
Aku menarik nafas lalu menghembuskannya, "Oke... terserah lo!" pasrahku.
"Ternyata elo juga lulus Sal...." ungkap Willy setelah membuka isi dari E-mail tersebut.
Aku kaget bukan kepayang, pernyataan Willy itu membuatku merasa melayang-layang penuh kebahagiaan.
"Beneran Will?" tanyaku memastikan.
"Iya... nih lihat aja!" lanjutnya memperlihatkan layar laptop itu tepat di depan wajahku.
"Wah... gue... juga lulus? ya ampun gue bahagia...." raungku menjerit gembira.
"Selamat ya Sal... kita akhirnya bisa lulus bersama dan kuliah di kampus terkenal yang sama juga! semoga kedepannya kita selalu seperti ini, sama-sama terus hingga kesuksesan agar di depan kita!" ucapnya.
Tiba-tiba ketika Willy selesai dengan ucapannya, ia menarik tubuhku memelukku erat tanpa meminta izin dariku terlebi dahulu bahkan hal itu tidak pernah ku duga sebelumnya.
"Will... kenapa elo meluk gue...." risihku sambil merontah.
"Sebentar aja Sal... anggap aja ini karena kita lulus, dan bahagia bersama hari ini!"
"Gue nggak mau di peluk Will... please lepasin gue sekarang!" pintaku semakin kesal ketika ia tak melepaskan malah mempererat.
"Will lepasin gue!!!" raungku.
"Ini cuman sebentar Sal... gue cuman mau meluk elo!"
"Will... lo mau lihat gue marah lagi sama elo ya? Kalau lo nggak mau lepasin gue sekarang! gue bakal benci banget sama lo!" ancamku.
__ADS_1
"Ja-jangan Sal... elo gue lepas sekarang!" imbuhnya melepaskanku.
"Will... gue harap elo jangan ulangin lagi hal yang kayak gini! tolong banget, jujur gue nggak suka! di peluk tanpa Izin." tegasku.