
.
.
.
Mama tampaknya tak perduli dia hanya memalingkan wajah menghindari tatapan Ayah.
"Kevin kan Dokter ayah.., dia bisa merawat Salsa dengan baik! "
"Ohh jadi maksud mama kita tidak bisa merawat Salsa? Mama salah..., kita masih orang tuanya sekarang! Dan dia putri kita satu-satunya!"
"Ayahh... " keluh mama tak ingin memperpanjang masalah lagi.
"Sudahlah ma, Ayah kecewa sama sikap mama! "
Tok tok tok
Suara ketukan pintu seakan membuat keheningan diantara mereka.
"Tante.. Om kalian masih disini? "
"Kevin!!! " Ujar mama yang langsung berlari kesamping Kevin
Kevin menatap heran kepada kedua orangtuaku, dia bingung setelah kehadirannya suasana serasa canggung.
"Nak Kevin mau mendonorkan darah ya? " ujar mama yang langsung tersenyum.
Kevin mengangguk pelan, sambil menatap kedua orangtuaku.
__ADS_1
Ayah melangkah mendekati Kevin dan kemudian menepuk pundaknya.
"Makasih ya kevin! "
"Semua ini kan akan menjadi tanggung jawab saya" ucapnya dengan tersenyum.
Sesaat kemudian mama dan ayah keluar dari ruangan, hanya ada kevin yang berdiri tegak sembari menatap tajam kearahku yang masih tak sadarkan diri.
"Sangat disayangkan kau kembali lagi kesini, dan kita akhirnya bertemu, kupikir kau sengaja tak ingin bertemu lagi denganku, lantas kenapa kau kembali lagi?" batinnya.
"Salsa..., apa yang terjadi denganmu! Tidak ada seorangpun yang bisa baik kepadamu selain aku, tidak ada yang boleh menyakitimu selain aku, jadi kau tidak diperbolehkan menderita terlebih dahulu sebelum aku yang membuatmu merasakan penderitaan!"
Seketika dia duduk diatas ranjang membelai lembut rambutku, menyelipkannya dibelakang telinga yang tak sengaja menutupi mataku.
"Kau begitu pucat Sayang!" ucap Kevin dengan nada yang agak aneh.
Clekkk
"Ngapain masih disitu! Kamu mau lihat pasien sekarat, baru bertindak?" tegur Kevin berekspresi menakutkan.
"Ma-maaf dok!"
Perawat tersebut bergegas, dia sangat gugup bagaimana tidak Kevin menatap tajam terus-menerus kepadanya.
Beberapa saat kemudian akhirnya pendonoran darah selesai.
Dia kembali memandangi wajahku, sesekali melirik cairan aliran darahnya yang perlahan masuk kedalam tubuhku.
"Darahku sangat berharga Sayang!, dan kau harus membayarnya dengan hidupmu, aku tidak sudi menyelamatkan orang sebelumnya tapi kau mampu mengubah fikiranku sekarang" gumamnya.
__ADS_1
Kevin mengambil ponsel dari dalam sakunya, dia menekan sebuah nama.
"Kamu cari tau apa yang terjadi sama Salsa Olivia disekolahnya hari ini! "
Ucap Kevin dengan orang yang ditelfonnya.
***
Sementara itu Dita, Lena dan David kini berada di depan rumahku, mereka datang karena insiden video yang kini beredar di forum sekolah, video itu adalah ketika aku di tindas oleh Nayla. Vidio yang berdurasi sekitar 15 menit itu viral disosial media dan menjadi tranding topic.
Mereka sangat panik ketika menonton Vidionya.
Ting tong... ting tong... ting tong...
Dita menekan bel berkali-kali sambil celingak-celinguk dia mencari orang dalam rumah.
"Dita, kayaknya nggak ada orang dehh dirumah ini! " ujar Lena sambil melirik kearah jendela rumahku yang sangat sepi.
"Lena lo tau nggak, gue khawatir banget sama Salsa..., lo liat aja videonya, dia tuhh udah hampir mati, emangnya lo nggak khawatir? " Dita melototi Lena sambil menunjuk-nunjuk kearahnya.
"Ya iyalah gue juga khawatir, emang lo doang!" ketus Lena.
"Udahlahh kalian diam aja deh, lebih baik kita telfon Salsa lagi siapa tau nomornya udah aktif!" ujar David.
.
.
.
__ADS_1
Next???...