Suamiku Dokter Dingin

Suamiku Dokter Dingin
Pengeroyokan


__ADS_3

😇


Nayla mendekat, dia meraih daguku dan mencengkramnya dengan sangat keras.


"Ternyata lo sombong banget ya! Punya muka cantik doang lo bangga-banggain" katanya mencibir


Plak plak plak


Dia menampar wajahku kiri dan kanan


Terus Nay... terus....


Seruan temannya seakan menjadi penyemangat bagi dia sehingga lebih bersemangat melayangkan tangannya tepat di wajahku.


Meski ingin sekali rasanya berteriak sakit, namun aku tak boleh terlihat lemah dihadapan mereka


"Kenapa? Sakit ya, uwuu kasian anak mamiii! " ketusnya tetapi aku tetap memilih untuk diam.


"Kenapa lo diam? Bisu ya, dimana cewek sombong yang tadi ngehina gue? " lanjutnya.


Kini tanganku dilepas namun dia mendorongku hingga terjatuh kelantai, dia berjongkok begitupula dengan teman-temannya.


Mereka mulai menarik-narik rambutku seakan helainya satu-persatu mulai tercabut, menampar kiri kanan, menginjak, menendangku tanpa rasa ampun, Hingga aku babak belur.


Aku hanya pasrah dikeroyok oleh mereka, walau ingin melawan, rasanya tidak mungkin karena mereka berlima sedangkan aku hanya seorang diri.


Aku tidak habis fikir ini pertama kalinya aku mengalami penindasan yang sangat keras, dan ini semua disebabkan karena satu alasan CEMBURU!, alasan konyol yang mampu membuat manusia lupa akan segalanya.


Terkadang aku merasa


Apa aku tak boleh mencintai?


Apa aku tak boleh di cintai?


Penindasan ini menjadi pelajaran bagiku.


Mencintai seseorang tak semulus yang ku fikirkan, akan ada masa sulit yang tak dapat dibayangkan, cinta akan menseleksi itu semua, siapa yang mampu bertahan maka hidupnya akan bahagia dan sebaliknya, yang goyah maka dia akan merasakan pahitnya cinta

__ADS_1


Plakk bugg plakk


"Nay Udahan Yuk, Kayaknya dia udah hampir mati deh! " seru temannya yang memegang ponsel tatkala merasa gelisah melihatku tak bergerak lagi.


"Cewek sombong kayak dia nggak pantas langsung mati gitu aja, pantesnya tuhh disiksa dulu sama gue sampai mati hehe" ucap Nayla terkekeh jahat.


"Nay... lo udah gila ya.. lo mau jadi Napi? " lanjut temannya.


Nayla terdiam sejenak " Ya udahh kita pergi!!!"


Setelah memastikan aku tak berdaya lagi mereka semua berdiri.


"Rasain lo, nah sekarang lo bangga-banggain tuhh muka busuk lo! " ketus Nayla yang kemudian pergi.


Aku merasa tak bisa bangkit lagi, rasanya semua tulangku seakan remuk.


Tolong... Tolong.. Tolong...


Aku berusaha berteriak namun tak ada seorangpun yang mendengarnya, mungkin mereka semua sudah pulang.


Perlahan kupaksakan untuk berdiri, meskipun sesekali terkulai namun aku tetap berusaha , aku tak mau mati ditempat kotor seperti ini.


Aku terus berjalan keluar hingga gerbang, menatap kosong kearah jalan, ahh sepertinya Willy juga sudah pulang dan tidak mencariku, fikirku.


***


Langit berubah menjadi mendung, awan sedang menghalangi matahari memancarkan sinar terangnya, setetes demi setetes airnya membasahi wajahku.


Seakan mereka mengetahui isi hati dan perasaanku saat ini. Menyembunyikan air mata yang pelahan keluar dari pelupuk mataku.


Aku tak yakin sekarang Willy mencariku atau bahkan sudah meninggalkanku.


Air hujan membuat luka lebamku kini putih memucat, sangat perih dan sakit, ketika aku membelai wajahku, seakan tamparan Nayla sangat berbekas sangat dalam.


Hujan tak kunjung redah, tetapi meskipun begitu aku tetap berjalan selangkah-demi selangkah kulalui, jarak yang harusnya kuanggap dekat kini terasa jauh tanpa candaan Willy, bercanda dengannya membuatku seakan melupakan semua masalah, Namun hari ini hampa.


***

__ADS_1


Clekkk


"Salsa pulang..... "


"Salsa... Apa yang terjadi sama kamu nak? Teriak mama yang langsung berlari kearahku, lalu mengoyang-goyangkan tubuhku.


"Salsaaa... Jawab mama!!! "


"Ma.. Salsa capek, mau langsung mandi! " jawabku lemah dan melangkah mengabaikan pertanyaan mama.


"Salsaa... " teriak mama terdengar khawatir.


Lagi-lagi aku berjalan dengan lesu, tiba didalam kamar aku mengobati diri sendiri, sesekali termenung sambil menatap keluar jendela, memandang hujan yang sedang membahasi bumi.


Kapan semua ini berakhir?


Kapan aku bahagia?


Kapan?


Awalnya aku berharap dari berbagai masalah yang menimpaku itu hanyalah sebuah mimpi buruk dalam tidurku dan ketika mata ini terbuka maka mimpi itu hilang namun lagi-lagi kenyataan pahit ini harus ku tanggung seorang diri.


Rasa putus asa kini mulai kurasakan, Ingin sekali rasanya pergi dari hidupku yang penuh dengan siksaan batin ini, rasanya aku tak sanggup lagi untuk bangkit! Dan untuk kesekian kalinya lagi-lagi aku menangis.


Aku beranjak dari lamunanku hingga tak sengaja menyenggol bingkai foto yang terletak di meja belajarku, belingnya bertebaran dan hampir saja melukai kakiku.


Tatapanku menjadi kosong tatkala memandangi sebuah beling yang mempunyai sudut lancip yang tampak berkilau, fikiranku kini melayang entah apa yang harus kulakukan.


Apa aku bisa bahagia jika aku pergi dari dunia ini? Fikirku dalam lamunan.


.


.


.


.

__ADS_1


Next..????


__ADS_2