Suamiku Dokter Dingin

Suamiku Dokter Dingin
Tinggal bersama Willy


__ADS_3

Beberapa jam berlalu, aku sudah berada di dalam pesawat, Ketika pesawat mulai lepas landas, dengan malas aku menyadarkan kepalaku didekat kaca jendela pesawat tersebut.


Sementara Willy yang kini duduk disampingku, seringkali melirik tak lupa memberi senyuman, "Elo marah ya Sal?" tanyanya tapi tak ku gubris.


"Oke... Gue ngerti kok! Tapi gue bakal buat lo nggak marah lagi sama gue kalau kita udah sampai di tempat tujuan!" lanjutnya berkata tetap tak ku balas.


Pada akhirnya ia terdiam, dan barulah aku sedikit melirik dari ekor mataku, kulihat matanya tertutup mungkin ia sangat lelah dan mulai mengantuk.


Tiba-tiba ketika aku hendak memalingkan wajah seperti semula, kepalanya dengan cepat bersadar di pundakku.


Aku sontak kaget, bahkan mulutku yang awalnya berkatub kini dengan sendirinya menganga.


"Will...." panggilku seraya menekan kepalanya lalu mengeser agar ia tak bersandar di pundakku, jujur! Aku merasa tak nyaman jika seperti itu.


"Hm...." sahutnya dengan mata yang masih tertutup.


"Gue minjem bahu lo sebentar aja ya Sal...." pintanya dengan suara parau.


"So-sorry Will... Gue nggak bisa!" tolakku pelan terbata merasa tak enak hati menolaknya.


"Ohh Ya udah nggakpapa! Gue tidur dulu ya!" jawabnya terlihat lebih tenang tanpa membuka mata.


***


Sekitar 20 jam perjalanan kami tempuh menggunakan pesawat, dalam kurung waktu tersebut aku lebih dominan ke tidur agar bisa menenangkan fikiran, Ponselku juga belum pernah ku aktifkan, ini ku lakukan semata-mata karena ingin menghindar dari timbulnya masalah baru.


Jika tentang masalah orangtua! Mungkin jika difikir aku memang seringkali menyakiti mereka namun jikalau aku tidak menghindar, bisa-bisa aku semakin tertekan dan tercekik dengan semua masalah yang berpacu untukku.


Meskipun terkadang aku mengingat mama yang seringkali penyakitnya kambuh tapi untuk sekarang aku merasa butuh waktu untuk sendiri walaupun kali ini aku sama sekali tak memberitahu mereka tentang kepergianku.


"Maafkan Salsa mah! Ayah! Salsa adalah anak durhaka karena sering membuat mama dan ayah khawatir tapi Salsa janji akan pulang dengan membawa sejuta prestasi membanggakan untuk mama! Dan ayah! Aku janji itu!" batinku lirih mengingat betapa kerasnya pengorbanan orangtuaku bahkan ketika aku menyusahkannya.


"Salsa.... Elo nggak tidur?" kata Willy terbangun.


"Ngapain tidur lagi kalau pesawatnya udah mau mendarat!" ketusku memutar bola mata.


"Ahh masa sih?" ucapnya tak percaya.


"Terserah lo! Kalau nggak mau percaya ya sudah!"


"Heheh!" Willy cengingisan sebagai respon dari sikapku yang ketus padanya.


***


Pesawat mendarat, para penumpang turun dengan sangat teratur, kami mulai mengambil koper, kemudian berjalan keluar dari bandara.

__ADS_1


Aku menatap langit yang berawan, hembusan angin dingin mulai kurasakan, aku menghela nafas panjang, orang-orang sekitar yang berlalu lalang membuatku meras lebih aneh lagi.


Rasanya sedikit aneh pertama kali menginjakkan kaki di negeri orang, bahkan melihat orang-orang yang berlalu lalang semakin membuatku merasa tak yakin bisa berbaur dengan cepat menyesuaikan diri.


Apalagi perbedaan bahasa yang biasanya ku gunakan sangat berbeda jauh, dan lebih sialnya bahasa inggrisku sampai sekarang belum lancar sama sekali.


Aku mendesah, menghentakkan kaki dengan pelan tanpa suara, " Sal... lo kenapa?" Willy bertanya yang sedari tadi berdiri menyadari tingkahku, ia juga membawa koper milikku.


"Will sebenarnya gue nggak yakin bisa hidup di tempat ini! apalagi mau kuliah, soalnya gue masih belum fasih berbahasa inggris!!!" keluhku berkata jujur.


"Jangan bilang elo cuman tau kata I love you, l and You? " selidiknya curiga.


"Ya nggak juga sih!" serkahku.


"Lo tenang aja! kan ada gue! kalau masalah bahasa asing mah gue pasti bisa! gini-gini nilai rapor bahasa inggris gue tinggi loh!" ucapnya membanggakan diri.


"Iya-iya terus kita sekarang mau kemana?" tanyaku melirik kanan kiri.


"Ke pelaminan!" gombalnya.


"Jangan bercanda Will... gue nih lagi serius!" tegasku mulai kesal lagi.


"Lagian elo sih nanya lagi, yah kita mau cari tempat tinggal dulu lah Sal...." ujarnya.


Aku menatapnya malas, tak bisa berkutik lagi bahkan sekarang kakiku rasanya sudah lemas mungkin efek terlalu lama duduk.


"Nggak usah! gue masih bisa jalan kok!" ucapku menolak tawarannya.


Kulirik sekilas wajahnya tak tampak murung,


"Will ehh anu... itu...mobil lo gimana?" tanyaku tiba-tiba teringat mobil yang kami kendarai ketika menuju bandara.


"Ohh mobil gue udah di beli sama si Rendi yang teman gue itu, yang staf bandara!" jawabnya cepat membuatku terkejut.


"Apa! kenapa lo jual!"


"Yah mau gimana lagi Sal... kan sekarang kita udah mau tinggal disini lebih lama, masa gue cuman nyimpan tuh mobil di bagasi sih, kan nanti karatan ya kan!" imbuhnya.


"Ohh iya gue juga udah nyewa rumah buat kita tinggal!" sambungnya malah membuatku tercengang.


"Hah! Will sebenarnya elo punya uang dari mana sih? apa jangan-jangan hasil dari jual mobil lo ya?"


"Eng-enggak kok! Ehh lebih baik kita pergi melihat rumah baru kita aja dulu nggak usah bahas-bahas yang lain!" ujarnya mengalihkan pembicaraan.


Sebelum aku mengeluarkan mengeluarkan kata-kata, Willy lebih dulu menarik lenganku bersamaan dengan tangan satunya yang juga menyeret koperku.

__ADS_1


Tiba di pinggir jalan raya, Willy memberhentikan sebuah taksi dan kita akhirnya mengendari taksi tersebut dengan alamat yang Willy berikan.


Aku hanya pasrah tak tau mau berkata apa! bahkan ketika sang supir bertanya tentang alamat dalam bahasa inggris aku memilih diam seribu bahasa tak mengerti maksud dari ucapan keduanya.


***


Tiba di depan sebuah rumah yang tampak asing bagiku, membuat mataku seketika melirik dari semua arah di sekitar rumah tersebut.


"Ayo masuk!" ajak Willy mengangguk memberi isyarat padaku.


Aku membalasnya dengan sebuah anggukan juga, mataku tak hentinya memandangi setiap sudut rumah ketika pintu mulai terbuka lebar dan aku melangkah masuk.


Rumah yang terlihat kecil dari luar ternyata berkesan luas ketika kita sudah berada di dalam, memiliki 2 kamar, 2 kamar mandi dan 1 dapur.


"Sal... elo tidur di kamar yang di sana, didalam ada kamar mandinya, biar gue yang tidur di kamar lain!" katanya menunjuk ke arah kamar secara bergantian.


Aku kembali mengangguk, " Oke... gue masuk kamar dulu! mau ganti baju!" ucapku tanpa menunggu responnya dan langsung menyeret masuk koperku.


Didalam kamar aku merebahkan diri di atas kasur yang empuknya sama halnya kasurku yang ada di rumah mama.


"Ahhh nyaman!" lenguhku mencoba memejamkan mata.


"Sal... elo cepetan ganti baju ya biar kita bisa keluar belanja kebutuhan!" teriak Willy dari luar.


Awalnya aku berniat mengabaikan tapi seketika perutku berbunyi hingga kemudian aku bergegas berganti pakaian.


Ceklek...


"Will gue udah ganti baju! ayo kita pergi sekarang!" ajakku tersenyum didepannya menyembuyikan rasa lapar yang sudah mengeruguti tubuhku.



"Wow! Sal... mundur dikit!" suruhnya yang baru saja keluar dari kamar yang berada tepat di depan kamarku.


"Emangnya kenapa gue harus mundur?" tanyaku heran.


"Cantik lo kelewatan heheh!" godanya cengingisan.


"Gombal lagi!!!".


Tiba-tiba ia membuka switer yang di pakainya kemudian memasangkan switer tersebut kepadaku.


"Kenapa...."


"Kenapa elo pake baju tipis, kan di luar dingin Sal... walaupun siang hari tapi cuaca di sini berbeda di negara asal kita!" terangnya memotong ucapanku, dengan tangan sibuk memasang switer tersebut

__ADS_1


"Tapi... elo gimana?"


"Gue masih punya yang lain! tapi intinya gue nggak mau elo sampai sakit Sal..." ucapnya lirih.


__ADS_2