
"Gue emosi banget lihat dia Vid! " bisik Dita
David hanya bisa mengelengkan kepalanya dengan pelan mendengar ucapan yang dilontarkan oleh Dita.
"Disini tuh... Rumah Sakit! Lo tau nggak, ada banyak orang sekarang melihat kita." tukas David.
"Yah... Mereka punya mata lahh vid! Jadi wajar kalau mereka liat kita." ketus Dita dengan memalingkan muka.
"Udahlah terserah...!" David menyerah membalas perkataannya lagi, yang hanya akan membuat dada tambah panas jika terus melanjutkannya.
Di sela perdebatan mereka Kevin masih belum berhenti melepaskan tatapan dinginnya namun kemudian ia sadar, ketika melihat tatapan heran dari semua orang yang memperhatikannya.
Kevin memilih untuk segera pergi dan melanjutkan langkahnya menuju kekamar inapku.
"Kenapa hari ini aku sial sekali, harus berpapasan dengan manusia sampah seperti mereka, yang mulutnya tak bisa dijaga dengan baik, sama busuknya dengan sampah tak terurai." gumam kevin mencela disela langkahnya.
Ketika mendekati pintu, mata Dita terbelalak melihat Kevin yang mulai melangkah masuk.
"David! Liat dehh, dokter yang barusan dorong lo masuk kekamarnya Salsa!" ujar Dita dengan mencolek keras lengan David.
"Mungkin dokter yang merawat Salsa kali!"
"Ya ampun kalau itu dokternya berarti Salsa dalam bahaya dong! " Raung Dita dengan mata masih melotot
__ADS_1
"Apasih, lo ada-ada aja, dia itu dokter bukan pembunuh! " tutur David.
"Gue tau dia dokter! Masalahnya lo kan tau dia tadi lakuin apa ke elo, jangan-jangan Salsa bakal dikasi racun lagi! "
Dita perlahan melangkahkan kaki menyusul Kevin namun seketika Tangannya ditarik oleh David.
"Dita... Lo mau kemana? Kita udah pamit sama mamanya Salsa tadi kan? Kalau lo masuk nanti bakal dapat pidato panjang kali lebar lagi mau? " Ujar David.
"Tapi Vid! Dokter tadi itu monster gue takut Salsa diapa-apain! "
David kembali menggelengkan kepalanya, ia dengan terpaksa menarik lalu menutup mulut Dita agar berhenti untuk bicara lagi.
"Itu nggak mungkin Dita... Didalam kan ada orangtuanya Salsa, lebih baik kita pulang sekarang! "
Sementara itu Lena berhasil menyusul langkah Willy, ia masih berusaha menghibur dan membujuknya.
"Will, lo berhenti dong! Gue udah capek banget sumpah! Kaki lo itu panjang Langkah lo dua kali langkah gue, you no! " pinta Lena dengan nafas yang terengah-engah karena berlari.
"Ngapain lo ikutin gue! " seketika Willy menoleh kearah Lena, dia menatapnya dengan tajam membuat Lena merasa heran.
"Ngapain lo melotot? Terserah gue dong mau ikutin siapa? Gue jalan pake kaki sendiri kok, ngapain lo ngelarang gue ikutin orang! " ucap Lena sembari memalingkan wajah menghindari tatapan Willy.
"Lena... Berhenti ngikutin gue! Gue mau sendiri sekarang please gue butuh waktu buat sendiri! " pinta Willy dengan mata sayunya.
__ADS_1
"Tapi Will... Lo mau kemana? Mobilnya David masih ada didalam parkiran lohh! , ayo kita kesana aja" ajak Lena dengan Menarik paksa lengan Willy.
"Gue bilang gue nggak mau, lepasin gue."
Seketika Willy kembali emosi lalu dia menepis tangan Lena.
"Willy.. Lo kasar banget sih jadi orang! Gue kan cuman mau ngajak lo ke mobilnya David!"
"Gue mau pulang sendiri! " ucap Willy yang kemudian berbalik badan, melangkah meninggalkan Lena.
"Willy... " teriaknya dengan lantang disela langkah Willy namun ia tampaknya tak ada sedikitpun niat untuk menoleh lagi.
"Salsa... Maafin gue, ini semua karena gue, lo sekarang terbaring dirumah sakit dan gue nggak ada disamping lo disaat seperti ini! Gue emang pengecut Sal! Ucapan mama lo mungkin benar , gue emang nggak pantas buat lo yang hanya bisa membuat lo menderita karena ulah gue sendiri" gumamnya dengan mengepal kedua tangannya.
Willy berjalan dengan lesu layaknya orang gila yang kelaparan, menelusuri pinggir jalan dengan terik matahari yang kian menyengat tak ia pedulikan lagi.
.
.
.
Next..???
__ADS_1