
Kevin POV.
Kali ini aku sangat-sangat merasa bahagia, kebahagiaan itu justru muncul karena kehadiran Salsa yang selalu berada di sampingku, bahkan dia berubah menjadi lebih sopan padaku.
Aku sangat terkejut akan hal itu, apalagi ketika dia mengirimiku pesan yang awalnya aku tidak menyadari ada yang aneh dengan pesannya namun pada saat aku menatap dan membaca terus-menerus pesannya itu baru lah aku tersadar.
Oleh karenanya aku merasa lebih yakin sekarang bahwa aku bisa mengubahnya menjadi pribadi yang lebih baik, Bahkan kata-kata kasar yang sering ia ucapkan padaku, akan hilang ditelan oleh waktu,
aku yakin itu, bahkan sangat-sangat yakin.
Dan tadi, tubuhku terlonjak ketika aku mendapatinya terduduk didepan restoran layaknya seorang pengemis jalanan.
Dia menatapku dengan wajah penuh air mata, pada saat aku memanggilnya, lalu ia bangkit memelukku secara tiba-tiba, dan ternyata ia menangis karena dia fikir aku meninggalkannya.
Padahal aku hanya pergi ke suatu tempat, aku menduga dia akan marah-marah lagi padaku tapi ternyata tidak, melainkan dia mengusulkuan sebuah ide untuk menyewa kamar hotel.
Pastinya aku bahagia kegiragan mendengarnya, Aku beranggapan bahwa ini adalah kesempatanku agar lebih dekat lagi dengannya, apalagi dia sendiri yang terkadang agresif didepanku.
Ketika kartu pintu kamar telah di berikan oleh resepsionis tadi, dengan gembira Salsa terlihat bernafas lega sambil merenggangkan tubuhnya.
"Ayo Vin!" ajaknya seolah dia yang mentraktirku.
Walau sebenarnya aku kesal dengan sikap Salsa! Tapi untuk kali ini aku mengabaikannya saja.
Pada saat pintu kamar terbuka, Salsa berlari menuju ranjang, merebahkan diri tepat ditengah ranjang sambil melenguh keras.
"Ahk... Nyamannya... Vin... Kasurnya sangat empuk loh.... " lirihnya.
Tiba-tiba aku berfikir ingin menjahilinya, apa lagi melihat dia yang kali ini tidak waspada terhadapku.
Aku menghampirinya, sambil tersenyum dengan tatapan tajam layaknya elang yang siap memangsa.
Salsa tak menyadarinya, dia hanya terkekeh diatas kasur dengan bahagia, mungkin karena aku mengendap-endap mendekatinya sehingga suara langkah kakiku sendiri tak mengeluarkan suara.
Perlahan tapi pasti aku berjalan terus menghampirinya, kemudian merangkak naik ke atas kasur tepat diatas tubuhnya, Salsa terlihat sangat kaget, namun sebelum dia melawan, dengan cepat aku memegang kedua tangannya.
Membuat kesepuluh jari kami saling bertautan serta memberikan dia senyum yang menggoda.
"Ke-kevin kamu mau apa?" tanyanya terbata-bata karena gugup.
"Aku ingin melakukannya sekarang!" jawabku cepat.
"Melakukan apa?" tanyanya lagi terdengar polos.
"Sesuatu yang intim! mungkin!!"
"Hah! Vin... Kevin jangan sekarang!" tolaknya berusaha tetap tenang.
"Kenapa? Apa kamu mau bilang belum siap lagi? Tapi aku sudah tidak tahan Sal... Kita tidak pernah melakukan hubungan layaknya suami istri!" tegasku kembali mengintimidasinya.
"Ya iya aku tau itu! Tapi Vin...."
"Tidak apa-apa Sal... Aku akan melakukannya dengan pelan-pelan!" ucapku membujuk.
Aku mendekatkan wajahku ke wajahnya, sedangkan Salsa sendiri memejamkan mata, hingga aku yakin dia sudah siap sepenuhnya menerimaku.
Tapi tubuhnya gemetar, mungkin masih gugup! Namun sejauh ini dia tidak merontah seperti biasanya.
Niat awal menjahilinya agaknya akan berujung dengan kesenangan bersama, dan aku akan memiliki Salsa seutuhnya.
Kali ini aku tidak akan membiarkan dia menolak lagi, bahkan jika dia meminta untuk berhenti, aku akan terus melakukannya hingga aku mencapai puncak kepuasan.
Biarlah untuk sekarang aku egois, daripada nantinya aku sendiri yang menyesal karena menyia-nyiakan kesempatan emas ini.
Aku mendekatkan bibirku ke dahinya, memberikan ciuman lembut lalu turun ke bibirnya, memberikan kecupan singkat namun berkali-kali.
Perlahan aku ikut memejamkan mata, mencoba untuk menikmati setiap pertemuan bibir kami.
Tapi tiba-tiba Salsa membuka matanya, lalu hendak terduduk.
Duakk....
Seketika kepalaku terasa pecah, telingaku berdengung akibat Salsa yang menyundulku dengan sangat keras.
"Ahk Sal... Apa yang kamu lakukan? Kamu ingin membunuhku?" lenguhku kesakitan.
"Shh... Maaf Vin... Aku tidak bisa melakukannya sekarang!" Dia menolakku lagi sambil mengelus dahinya yang juga sakit.
Aku menjatuhkan tubuhku tepat disampingnya seraya meringis menahan sakit yang berdenyut di kepalaku.
"Aku kira kamu sudah bersedia menyerahkan semuanya kepadaku Sal... Tapi ternyata kamu masih saja menolakku, kenapa kamu terus melakukan ini padaku? Apa aku masih kurang memberimu ketulusan? Apa aku tidak pantas bersamamu? Atau kamu mempunyai laki-laki lain selain aku?" keluhku menyelidik mengajukan pertanyaan sekaligus padanya.
Salsa menghela nafas panjang lalu memalingkan wajahnya.
__ADS_1
"Jangan beranggapan seperti itu Vin... Aku memang sepenuhnya belum siap! Dan juga aku tidak punya laki-laki lain, tidak perlu berfikiran hal-hal aneh!" tegasnya meyakinku.
"Lalu kenapa kamu menolakku lagi? Tolong beri aku penjelasan agar aku bisa mengerti alasan kamu!" pintaku.
"Aku... Datang bulan!"
Seketika aku membeku mendengar jawabannya, seakan semua yang baru saja ku katakan menjadi penyesalan.
"Ahh sial... Kenapa harus di saat seperti ini Salsa malah datang bulan! Padahal kami sudah hampir melakukannya, kenapa! Kenapa tuhan!" gerutuku dalam hati.
"Da-datang bulan? Sejak kapan? Kamu jangan bohong dong Sal...." tanyaku belum bisa menerima kenyataan.
"Astaga Vin! Kenapa aku harus bohong cuman karena masalah ini doang! Ya enggaklah... Kalau kamu tidak percaya, terserah tapi yang penting aku sudah berkata jujur sama kamu!" ketusnya.
"Tapi kenapa kamu tidak memberitahukanku dari tadi?"
"Kan kamu sendiri yang tidak membiarkanku mengatakannya! Kamu nih gimana sih!"
Kini giliranku yang menghela nafas panjang sambil mengertakkan gigi karena kesal menghadapi kenyataan pahit ini.
"Oke-oke... Kamu Mens sudah berapa hari?" tanyaku tidak sabaran.
"Hn... Kalau tidak salah kayaknya baru dua hari, emangnya kenapa?"
"Hufh sabar Vin... Sabar.... Salsa haid baru dua hari berarti lima hari lagi baru selesai dan kamu bisa melakukan aksimu! Semangat!" batinku lirih menyemangati diri sendiri.
"Sal... Kalau begitu beritahu aku siklus haidmu?"
"Hah! Kamu mau ngapain minta siklus haid?" kagetnya.
"Kasi tau aja! Tidak perlu bertanya lagi!"
"Enggak! Sebelum kamu kasi tau aku alasannya! Lagian ini privasi aku loh...." elaknya.
"Ayolah Sal... Kan aku mintanya cuman siklus haid!" bujukku.
"Untuk? Untuk apa Vin...."
"Aku hanya ingin menghitungnya.... " cerotosku dengan tak tau malu mengurusi urusan wanita.
Dahi Salsa berkerut memandangiku, mungkin ini memang agak gila seorang pria menghitung siklus haid wanita, apa masih bisa di anggap tidak keterlaluan?.
"Kevin! Kamu punya riwayat penyakit tertentu ya? Kok masalah haidku aja mau kamu urusin?"
"Sel apaan lagi?" dia tampak heran dengan omonganku.
"Sel jantan!" jawabku cepat.
"What!!!" pekiknya terkejut
"Kenapa harus kaget! Pembicaraan ini sudah bukan hal aneh lagi untuk di ungkit karena kita sekarang bukan lagi pasangan yang ilegal!" tuturku percaya diri.
"Heh! Terserah, itu aja terus alasan kamu!"
"Bukankah ucapanku memang benar adanya! kalau begitu beri tahu aku sekarang siklus haid kamu! agar aku bisa mengitungnya...." pintaku membujuknya lagi dan lagi.
"Kalau kamu mau menghitungnya ya hitung aja! bukannya kamu dokter? pastinya kamu tau kalau perempuan itu akan datang bulan setiap bulannya!"
"Oke karena kamu tidak mau memberitahuku secara langsung aku akan cari tau sendiri! hari ini tanggal berapa? dua hari yang lalu tanggal... nah aku sudah tau sekarang!" ucapku sambil melihat kalender yang ada di ponselku.
Aku menandai tanggal yang sama ketika Salsa haid di setiap bulannya agar aku tau! sehingga aku mendapat notif perbulannya.
"Dasar aneh!" Gumam Salsa menyindirku.
"Tidak apa-apa aku aneh, asal kamu tau aku begini hanya di depan kamu! kalau di depan orang lain mestinya kamu sudah tau pasti" ujarku meliriknya kesamping sambil mengangkat sebelah alisku.
"Ishh... " desisnya.
"Hahah... jadi kedepannya kamu akan selalu terkejut dengan sikapku yang sebenarnya."
"Ohh... kalau begitu aku akan menantikan Bagaimana sikap yang kamu maksud itu!" ucapnya menanti.
"Asiap!!! kalau begitu ayo tidur! aku sudah sangat mengantuk! lagian seharusnya malam ini akan menjadi malam yang panjang dan melelahkan bagi kita tapi terhalang sama tamu yang tak di undang itu!" cibirku malas.
"Apaan sih malam panjang apaan coba! udah ahh malas banget aku merespon kata-kata mesum mu itu!" ujar Salsa membalasku.
"Hahah iya Sal... tapi tidak tau kenapa fikiran mesum itu selalu muncul setiap melihat kamu! apa jangan-jangan fikiran kotormu itu menular ke otakku yang super cerdas ini?" candaku dengan sedikit terkejut.
"Heh! jangan ungkit-ungkit itu lagi Vin... aku ngantuk mau tidur! kalau kamu bicara terus kita kapan tidurnya!" keluh Salsa sesekali menguap.
"Ahk iya... kalau begitu ayo sini! "ajakku menunjuk ke arah lenganku agar dia tau maksudku adalah menjadikan lenganku sebagai bantalnya.
"Tidak perlu! hotel ini sudah menyediakan dua bantal, beserta pasangannya masing-masing jadi kamu tidak usah memberikan lenganmu padaku".
__ADS_1
"Tidak apa-apa Sal... aku rela..." lirihku menawarkan diri lagi.
"Nggak usah Vin... nggak usah!!!" tegasnya menjerit.
Aku mengabaikan penolakannya kemudian menarik tubuhnya lalu merapatkan kepalanya di lenganku, Salsa terdiam sejenak, mungkin tak habis fikir aku akan melakukan itu.
Seketika aku menyadari Wajah Salsa memerah, apa dia merona karena perlakuanku? sepertinya iya!
Mata Salsa berkedip berkali-kali, membuatku ingin tertawa, sungguh! dia sangat menggemaskan.
Sepertinya malam ini kebahagiaanku berkali-kali lipat, bahkan sekarang Salsa tak menghidar melainkan hanya Diam tak bergerak.
"Tidur aja Sal.... " ucapku.
"Kevin! kenapa kamu melakukan ini! nanti tangan kamu keram gara-gara aku!"
"Jadi kamu tidak mau tidur karena mengkhawatirkanku? tenang saja aku sering berolahraga jadi lenganku tidak gampang untuk sakit!"
"Hm... Vin... aku mau tanya apa kamu pernah melakukan ini sama Clara?" tanyanya menyebut nama yang sangat aku benci.
"Tidak! aku tidak pernah melakukannya! bahkan nanti juga tidak akan pernah, sekalipun Clara yang tersisa di dunia ini aku tidak akan pernah memilihnya untuk tidur di sampingku!" tegasku.
"Kalau begitu! apa yang sering kalian lakukan selama pacaran?"
Salsa tampaknya sangat penasaran dengan masa laluku, tapi aku tidak nyaman memberitahukannya, apa lagi soal Clara! dia seolah seperti Virus yang membuatku sakit ketika mengingatnya.
Lagipula aku takut Salsa akan marah atau bahkan berfikiran yang tidak-tidak tentangku.
jadi aku harus bagaimana? apa tidak sebaiknya aku merahasiakannya saja?.
"Aku tidak akan memberitahukanmu!"
"Loh... kenapa? apa kalian pernah melakukan hal aneh jadi tidak mau memberitahuku?" curiganya.
"Tidak Sal... kami tidak pernah melakukan sesuatu seperti yang ada di fikiranmu!"
"Kalau begitu kamu santai saja dan beritahu aku sekarang juga!."
"Tapi Sal... aku takut kamu marah, lagian dulu kayaknya aku sudah pernah memberitahumu!" ungkapku
"Lalu kenapa harus takut aku marah kalau sudah memberitahuku semuanya! kecuali ada yang kamu rahasiakan barulah kamu akan takut!" balasnya.
"Sebenarnya aku pacaran dengan Clara sangat lama, tapi kemudian putus dan tiba-tiba dia menikah sama kak Syam! apalagi aku mendengar desas-desus bahwa dia hamil di luar nikah, awalnya aku tidak paham kenapa dia langsung hamil disaat aku dan dia masih bersama, tapi semenjak kamu meninggalkan rumah kita, aku jadi paham tentang sikap Clara yang sebenarnya!" paparku.
"Ohh.... " sahutnya singkat.
"Itu doang balasan kamu?"
"Ho'oh emangnya kenapa! apa maksud kamu aku harus marah karena suamiku dulunya di hianati pacar sendiri? apalagi yang menghianatimu adalah perempuan murahan seperti Clara hahah" sindirnya sambil terkekeh.
"Sepertinya kamu bahagia aku seperti ini?" selidikku.
"Hn... iya iyalah aku bahagia banget lihat kamu! karena kamu yang terlihat sangat tampan juga cerdas, kaya, ternyata bisa di hianati juga! hahah kan lucu!" cibirnya lagi.
"Sudahlah... sepertinya penderitaanku di masa lalu menjadi bahan tertawaanmu ya! ohh iya kalau begitu bagaimana denganmu? apa kamu tidak pernah merasakan yang namanya jatuh cinta?" kataku penasaran dengan kisah asmaranya di masa lalu.
Salsa kembali terdiam, membuatku bertambah penasaran, "Kenapa Sal... apa ada sesuatu yang belum ku ketahui? tapi sepertinya ada banyak ya! seharusnya kamu memberitahuku tentang masa lalumu juga kan aku sudah menceritakan semuanya jadi semestinya ini giliranmu!"
Salsa masih membisu, matanya berkeliling entah memikirkan apa! aku heran ada apa sebenarnya dengan masa lalunya hingga dia terlihat ragu untuk mengatakannya padaku.
"Tidak apa-apa Sal... kalau kamu belum siap memberitahuku, lagian aku juga tidak penasaran! jadi lebih baik kita tidur aja sekarang!" lirihku berbohong.
"Maaf Vin...." jawabnya ketika aku mulai berbalik badan membelakanginya.
"Jangan meminta maaf! aku bisa mengerti kenapa kamu tidak mau memberitahuku!"
"Makasih sudah mau mengerti Vin... "
"Iya.... kalau begitu kamu tidur! aku juga mau tidur sekarang! good night Sal.... " ucapku.
Seketika suasana hening, Salsa sepertinya mulai tidur, namun tiba-tiba ranjang bergerak, agaknya Salsa mengubah posisi tidurnya, aku merasa dia tidur miring menghadapku, apalagi ketika kurasakan hemburan hangat nafasnya sangat dekat dengan punggungku.
Aku semakin terkejut lagi ketika Salsa memelukku dari belakang, "Sal... kamu.... "
sumpah! aku tidak tau lagi harus mengatakan apa lagi.
"Aku ingin memelukmu Vin... tidak apa-apa kan?" pintanya.
"Tentu saja aku tidak keberatan! bahkan jika kamu ingin memelukku sampai pagi aku masih bersedia melakukannya!"
"Baiklah.... "
Akhirnya ucapan singkat itu mengakhiri obrolan yang awalnya panas berangkhir dengan kehangatan.
__ADS_1
Terkadang pada saat aku terbangun, aku mengelus tangan Salsa yang melekat di area perutku, lalu menggenggamnya sambil tersenyum kemudian tertidur kembali.