
Mereka semua kompak menatapku, "Ehhem cie pak dokternya udah bangun tuh Sal... Pagi-pagi udah panggil sayang lagi! Uhg gue iri!" ejek Lena senyam-senyum sambil mencolek lenganku.
"Pagi pak dokter tampan!" Sapa Lena langsung berdiri dan melambaikan tangan ke arah Kevin.
Aku mulai gugup, sebab takut jika Kevin bersikap datar kepada sahabatku, dia perlahan melangkah mendekati kami, aku hanya tertunduk tak ingin menatapnya.
"Ohh ternyata kalian ya? Halo... Selamat pagi juga! " Kevin bersikap ramah dan malah membuatku tercengang.
"Sayang! Kamu sudah buat sarapan belum? Aku sudah lapar!" lanjut Kevin seketika membuatku tersadar.
"Ahh maaf Aku lupa!" jawabku bangkit hendak untuk pergi menuju dapur.
"Tidak usah! Kamu disini saja! Biar aku yang masak, kalian bisa lanjut mengobrol!" seka Kevin.
Aku melongo menatapnya dengan tatapan tak percaya, "Dia... Dia mau menggantikanku memasak karena tau sahabatku masih ada disini? Ahh tuhan... Kenapa aku bisa seberuntung ini punya suami seperti dia!" batinku.
"Ta-tapi.... "
"Tidak apa, sayang! Kalian mengobrollah aku masak dulu!" balas Kevin tersenyum cerah lalu berjalan ke arah dapur.
Para sahabatku kini menatapku, "Ugh... Sal... Sumpah! Lo beruntung baget, nggak cuman tampan, seorang dokter, perhatian dan pintar masak, Oh My God dia bener-bener suami idaman loh" puji Lena dengan girang.
"Ahahah Iya... Makasih!" Aku tertawa kikuk bak tak tau harus merespon apalagi.
***
Sekitar hampir 2 jam berlalu, Kevin datang dan memanggil kami, dia benar-benar memasak seorang diri tanpa meminta bantuanku, aku merasa bahagia sekali seperti ini.
Kini meja makan penuh dengan lauk pauk yang telah dimasak oleh Kevin semua tampak sedap dipandang.
"Wah... Ternyata pak dokter ini jago masak yah!" Salut Dita.
"Aku memang sudah jago memasak dari dulu! Jadi tidak usah terlalu memujiku, lebih baik kita makan sekarang!" Kevin dengan sombongnya membalas.
Dita berdecih, sementara David, Willy, dan Reno seperti sedang menahan tawa saat Mendengar ucapan Kevin.
__ADS_1
"Ehh Kalian makanlah tidak perlu sungkan!" kataku membuat Mereka akhirnya memulai sarapannya.
Tak lama setelah itu, Sarapan selesai, mereka berlima pamit untuk segera pulang, aku merasa sedikit kecewa sebab kedatangan mereka yang terlalu singkat dan belum membuat rasa rinduku mereda.
Kini rumah kembali sepi tak ada lagi suara mereka yang sangat berisik tapi membuat rasa kesepianku berkurang.
"Sayang! Kamu kenapa?" tanya Kevin menghampiriku diambang pintu yang sejak memandangi kepergian mereka.
"Ahh tidak, aku hanya merasa lebih baik sekarang! Karena para sahabatku sudah tidak lagi membenciku! Dan makasih juga soal tadi! "ucapku.
Kevin mengerutkan dahi berpura-pura tidak tau, "Makasih soal tadi, Yang mana?"
Aku menghela nafas, lalu mengalungkan kedua tanganku di lehernya, kutatap dalam-dalam kedua manik matanya, "Makasih sudah menjadi suami terbaik untukku sayang! Aku... Aku merasa sangat beruntung menjadi istrimu!" ungkapku mengecup pelan bibirnya.
"Pagi-pagi kamu sudah mulai nakal yah! Baiklah kalau begitu ayo mandi dulu!" katanya.
"Apa! Tidak-tidak, aku tidak mau mandi bersamamu lagi seperti kemarin! " tolakku dengan tegas
"Hahah kali ini aku tidak akan seperti kemarin! Kita mandi seperti biasa oke... Aku janji!" bujuknya.
***
Beberapa bulan berlalu.
Hari ini aku mendapat telefon dari Lena, dia mengatakan bahwa Dita berada di rumah sakit karena sebentar lagi adalah waktu lahirannya.
Aku sempat panik, tidak tau harus bagaimana apalagi dirumah hanya ada aku seorang diri, karena Kevin sudah pergi ke rumah sakit sejak tadi.
Aku hanya bisa mondar-mandir sambil memikirkan sebuah cara, tapi tetap saja, di tengah kepanikanku, otakku tak bisa mencari solusi.
Bip... Bip... Bip...
Suara Klakson motor terdengar nyaring tepat didepan rumah, aku mulai penasaran sembari berlari kearah jendela dekat pintu untuk mengintip orang didepan rumah.
"Ehh Willy? Kenapa dia bisa datang kesini?" gumamku.
__ADS_1
"Ahh jangan-jangan.... "
Aku membuka pintu, dan berjalan cepat mendekati Willy, "Will... Kamu...."
"Ayo cepat, naiklah... gue tau elo mau pergi kerumah sakit kan?" Serkahnya memotong ucapanku.
"Kamu tau dari mana?" penasaranku.
"Nggak usah banyak tanya dulu, lebih baik kita kerumah sakit sekarang!" elak Willy membuyarkan rasa penasaranku, dan hanya mengangguk menuruti ucapannya yang ku anggap benar.
Aku mulai duduk di jok motornya, sembari berpegangan di hoody yang ia kenakan, ia mulai menyetir secara perlahan, hingga di tengah perjalanan, Willy belum pernah mengajakku untuk memulai obrolan.
Saat-saat yang membosankan ketika mengendarai sepeda motor, apalagi tidak ada yang mau buka suara, "Ehh Will... Bukannya dulu, kamu bilangnya mau kembali ke NewYork? Tapi kenapa kamu disini?" tanyaku.
"Dulu gue emang sempat kefikiran buat kembali, tapi makin hari gue disini, gue malah merasa nyaman aja tinggal ditempat kelahiran! Jadi gue putusin buat pending dulu ke NewYorknya." Jawab Willy terdengar santai.
"Hm... Itu lebih bagus!" ujarku.
Percakapan itu berakhir singkat, Willy tak mau bertanya lebih atau sekedar bercanda denganku, "Ehh Sal... Kayaknya rumah tangga lo harmonis banget yah..." katanya tiba-tiba
"Yah... Sebenarnya rumah tanggaku alhamdulillah sudah merasa lebih baik sekarang! Sebelumnya itu hanya kesalahanku sehingga keharmonisan itu hancur, tapi Kevin senantiasa selalu menutupi celahku! Dan itulah kuncinya keharmonisan rumah tanggaku " terangku.
Willy sekejap terdiam, tapi kemudian ia mengangguk pelan, "Gue salut sama lo Sal... Selamat ya! Lo emang perempuan yang kuat kok!" puji Willy.
"Ahk... Jangan memujiku seperti itu Will, ohh iya terus kamu gimana? Udah punya calon belum? " godaku padanya.
"Gue... Sih sebenarnya setiap saat selalu mencari tapi belum ketemu aja! Mungkin jodoh gue masih jagain jodoh orang! Jadi yah... Gue juga gitu! Masih menaruh hati sama orang yang salah!" tutur Willy.
"Hmph... Penyakit playboymu kumat lagi... Saran aku ya Will... Kamu harus bisa fokua ke satu orang!"
Willy lagi-lagi menggeleng pelan, "Gue nggak bisa kayak gitu Sal... Takutnya disaat gue udah kefokus ke satu titik, tapi kalau itu bukan jodoh gue! Lah... Kan gue lagi yang tersakiti, dan sebenarnya nih yah... Jatuh cinta itu mudah! Tapi melupakan itu yang susah!"imbuh Willy membuatku terdiam sejenak.
"Ahk terserah kamu saja lah Will... Aku menyerah memberimu saran! Intinya semoga kamu mendapat perempuan yang terbaik menurutmu!" kataku.
Perbincangan itu terus berlanjut hangat hingga tanpa sadar kami akhirnya sampai didepan rumah sakit.
__ADS_1