
Saat pembicaraan itu berakhir, Kevin mengantarku pulang kerumah, namun bukannya menemaniku, Kevin malah kembali lagi kerumah sakit.
Aku benar-benar kesepian tinggal seorang diri, "Ahh... Aku harus melakukan apa?" gumamku menatap datar kesegala arah.
"Masak? Nyapu atau apa? Ohh Lebih baik masak!" racauku bicara sendiri.
Aku berjalan lesu menuju dapur, hingga ketika melihat bahan, aku merasa lelah dan mulai pusing.
Bau bawang saja membuatku mual, "Hoek.. Tunggu! Ada apa denganku? Aku... Mual? Jangan-jangan aku... Ahh tidak... Itu tidak mungkin, tapi.... "
Untuk memastikan hal itu, aku kembali lagi kerumah sakit tanpa memberitahu Kevin, Dan sepulangnya dari rumah sakit, Ternyata Kevin sudah ada didalam rumah.
Ia menatapku dengan dahi berkerut, "Kamu dari mana?" tanyanya yang duduk tenang disofa ruang tamu.
"Aku... Dari rumah sakit!" jawabku dengan suara berbisik.
"Untuk apa kamu kembali lagi kerumah sakit?" Nada Kesal itu Kevin lontarkan, sebab aku sudah tau kalau kali Ini Dia mungkin akan marah apalagi tadinya dia menyuruhku istirahat.
"Tadi itu aku merasa sedikit pusing, terus mual! Aku kira aku hamil tapi ternyata hamilnya... Huhuh!" Lagi-lagi aku menangis.
Kevin yang sedari tadi menatapku kesal, seketika bangkit dan menghampiriku, ia memelukku erat sambil berkata, "Kamu pasti kecewa lagi! Yah... Aku kan sudah bilang tidak usah kerumah sakit, mungkin saja kamu tadi pusing karena kelelahan saja! Nah... Sekarang kamu malah nangis lagi!" imbuh Kevin.
"Hasilnya aku positif Sayang!" potongku cepat.
"Iya, aku tau kamu pasti akan ham.... Tunggu, apa! Kamu bilang apa tadi?" Kevin linglung dengan omonganku tadi.
Aku menyeka air mataku, lalu menatapnya dengan serius, "Aku positif Hamil!" ungkapku memberikan testpack bergaris dua padanya
Kevin menganga, matanya berbinar, ia mungkin kaget melihatnya, "Ini... Serius kan? Ini bukan mimpi kan sayang! Kamu beneran Hamil?" tanya Kevin tak percaya.
Aku mengangguk kuat menyakinkannya, "Iya Vin! Aku beneran hamil! "
Sungguh tak menyangka setelah penantian beberapa bulan lamanya akhirnya aku hamil juga! Tadinya Aku sengaja memasang mimik kecewa pada Kevin hanya untuk memberikan kejutan ini.
Dan alhasil, Kevin seperti ingin menangis mengetahui fakta kehamilanku, dia kembali memelukku, beberapa kali berterimakasih padaku.
Hari ini tangis iri dirumah sakit akhirnya terbayarkan dan untuk kesempatan kedua ini, aku bertekad untuk lebih berhati-hati agar tidak terjadi hal-hal yang akan membuatku kehilangan lagi.
__ADS_1
"Oke... Kamu tidak boleh melakukan sesuatu yang terlalu berat, kamu juga... Ah... Intinya harus extra hati-hati!" Tutur Kevin.
Hahah...
Aku menertawakannya, ia sangat cerewet seperti ibu-ibu, namun aku menyukainya yang seperti itu.
"Iya Sayang! Aku bakalan hati-hati kok!" tukasku
Kevin tersenyum menengadah seperti meragukan kata-kataku, namun aku berlagak kesal dengan ekspresinya.
"Jangan menatapku seperti itu!" Tegurku.
Tak lupa kabar bahagia ini, juga kusampaikan ke mama dan mertuaku, mereka semua turut bahagia mendengarnya, dan lebih kagetnya adalah saran mereka semua sama, yaitu 'jangan sampai ceroboh lagi!'.
Aku hanya bisa terus tertawa sebab semuanya terasa seperti mimpi, rasa bahagia ini tak bisa kugambarkan dengan kata-kata.
3 bulan kemudian.
Kevin mengajakku pergi menuju rumah sakit, untuk melakukan pemeriksaan, dan kali ini aku ingin melakukan USG untuk mengetahui jenis kelaminnya.
Perasaan gugup kian kurasakan, akan tetapi dengan adanya Kevin yang senantiasa berada disampingku, rasa gugup itu sekaan berkurang, bahkan dia selalu menggenggam tanganku.
Begitu pula dia yang ikut senyam-senyum, semakin mempererat genggamannya, "Hm.. Sepertinya aku sudah akan mempunyai teman bermain dirumah! " kata Kevin menggodaku.
"Ih.. .apasih kamu!" sekaku tak terima.
"Hahah aku hanya bercanda!" lirih Kevin padahal dokter kandungannya masih ada di disampingku.
"Bayinya sehat kok!" kata dokternya.
"Makasih dok!" balasku
***
Sepulangnya dari rumah sakit, aku terus saja menatap foto scan hasil USG tadi
__ADS_1
Rasanya benar-benar membuatku ingin menangis, apalagi usia kandunganku yang sekarang menginjak 3 bulan.
"Sayang! Lihat deh, nanti pas dedenya udah lahir, kira-kira mirip siapa ya?" Panggilku lalu bertanya ke Kevin.
"Ya, pasti mirip kitalah sayang! Masa mau mirip tetangga kita sih! Kamu nih ada-ada aja!" ucap Kevin serius.
"Hahah iya juga sih! Ohh iya kayaknya aku mulai gendutan deh iya kan?"
Sekilas Kevin menoleh kearahku sembari menyetir, "Tidak masalah jika kamu gendut atau kurus, karena apa! Karena kamu sudah berjuang mengandung anak kita, aku mencintaimu Sal!" ungkap Kevin dengan romantisnya.
"Humph... Aku sudah tau itu Vin! Aku sudah sering mendengarnya darimu! Dan aku oaham betul bagaimana keseriusanmu makasih! I love you so much!" jawabku
Saat sampai dirumah, aku melangkah terus kedalam kamar, mengambil meteran dan mengukur lingkaran perutku didepan cermin.
Mengusap-usap perutku dengan lembut seperti yang kulakukan dulu, hal ini pun menjadi kebiasaanku setiap hari.
"Kamu sedang melakukan apa?" Kevin datang dan melihatku mengukur lingkaran perutku.
"Itu akan terus bertambah sayang! Kenapa kamu harus seperti itu setiap hari!" tegurnya.
Aku yang masih fokus dengan perutku, tak sempat menoleh kepadanya, "Aku hanya ingun mengetahui perkembangan bayi kita Vin!" ujarku.
"Hmm... Baiklah lakukan sesukamu!" pungkas Kevin berjalan menuju kamar mandi.
Setelah merasa lelah, aku berbaring diatas tempat tidur, Lalu Kevin juga keluar dari kamar mandi, dan ikut berbaring disampingku.
Ia meraba perutku yang sudah mulai membesar, "Kalau dedenya sudah lahir, nanti nama yang bagus kira-kira siapa Ya?" ucap Kevin.
"Itu masih lama Sayang! Masih ada beberapa bulan lagi, tapi kalau kamu sudah mau menyiapkan namanya, ya aku sih terserah kamu saja!"
"Sebenarnya aku masih mencari-cari nama yang cocok tapi sampai sekarang, aku masih belum dapat!"
"Hm... aku juga akan mencari-cari nama yang cocok untuk bayi laki-laki!" timpalku.
Cup....
Kevin mencium perutku, "Sehat selalu ya nak! jangan menyakiti ibumu didalam sana, Dan semoga kita bisa dipertemukan dalam keadaan sehat juga! ayah menunggu kelahiranmu!" ucap Kevin.
__ADS_1
Kini kecupannya beralih ke dahiku, "Cup... sehat terus ya sayang! jika kamu lelah istirahatlah!" katanya lagi.