
"Hah? Apaan sih! Lo jangan sembarangan ngomong ya, gue nggak mungkin jatuh cinta sama lo!" serkahku dengan lantang.
"Terus kenapa kamu harus menangis?" tanyanya menyeringai
"Po-pokoknya gue nggak cemburu titik!" elakku lagi.
"Emangnya siapa yang bilang kamu lagi cemburu?" lirih Kevin.
"Ehh kok gue bilang cemburu sih?" ucapku dalam hati.
Aku menunduk malu setelah mengatakan itu, rasa gugup menguasai tubuhku, tak ada lagi kata-kata yang mampu keluar dari mulutku ini.
"Udah deh gue malas berdebat terus sama lo!"
Aku berbalik badan dan hendak melangkah namun dia tiba-tiba menarik lenganku hingga tubuhku berbalik dan bertubrukan dengannya.
dadaku kini sangat rapat dengan dadanya seakan tak ada celah diantara kami.
Cup
Kevin seketika mendaratkan bibirnya di bibirku, aku terkejut mataku bukannya terpejam tapi melotot menatapnya.
Dengan keras aku mendorongnya tapi percuma tenaganya lebih kuat dariku, malahan dia memegang kepala bagian belakangku agar ciuman kami tidak kulepaskan.
Perlahan dia menjulurkan lidah mencoba menerobos masuk kedalam mulutku, akan tetapi aku tidak membuka celah sedikitpun karena sebelumnya belum pernah dan tau tentang cara berciuman bibir.
Kevin masih tak kehilangan ide, dia melepaskan tangannya dari tanganku, dia menaruh tangan itu tepat dipunggungku, mengelusnya lembut hingga aku kegelian.
Pada akhirnya aku melenguh dan membuka sedikit mulut, dengan cepat dia memasukkan lidahnya, menggelirya disetiap rongga mulutku.
Astagaa....aku malah memejamkan mata membuat kesannya menikmati, Kevin juga seperti itu sejak tadi dia memejamkan matanya, namun dia seperti seorang ahli, sangat menuntun hingga aku berfikir seperti itu.
Kami saling menyalurkan Saliva, memangut, membuatku perlahan menikmatinya, dan anehnya lagi aku malah merasa menginginkan lebih dari ini semua.
Grap... Aku mengernyit kesakitan ketika dia dengan segaja menggigit bibir bawahku, sangat sakit sampai ada darah yang keluar.
Setelah mendapatkan kembali kewarasanku, dengan cepat aku juga membalas gigitannya, tapi tak ada respon darinya, dia malah terus menggulung bibirku.
Aku merontah lagi, mendorongnya sangat kuat, kuusap bibirku bekas ciuman kami dengan kasar.
"Lo! Lo kenapa ngambil first kiss gue?" gertakku pura-pura panik.
"Haha Salsa! Salsa! Kamu jangan sok munafik! Bukannya tadi kamu juga menikmatinya?" selidik Kevin.
__ADS_1
"Gu-gue benci sama lo!" aku berlari meninggalkannya yang sedang berdiri mematung.
***
Setelah insiden ciuman itu, aku terus menghindarinya, tak merespon ketika dia memanggil, memasak pun di lakukan sendiri-sendiri, meskipun pernah sekali dia mencoba mengobrol denganku, akan tetapi aku mengabaikan seolah hanya angin berlalu.
Rasa kesal bercampur malu ketika mengingat ciuman itu, sebab itu ciuman pertamaku, dan dia dengan mudahnya mengambil tanpa seizinku.
Hari terus berlalu kejadian itu sudah 1 bulan yang lalu, dan aku masih malas untuk berpapasan dengannya, meski hanya untuk sekedar berada didekatnya saja aku masih tidak mau.
Malam itu, tiba-tiba ada pesan yang masuk dari e-mailku yang ternyata dari Dita, sebuah file tentang info-info universitas ternama beserta jurusan dan tanggal pendaftarannya.
"Wow sebentar lagi gue udah bisa jadi mahasiswa!" ucapku kegirangan bahagia.
Aku melompat-lompat diatas ranjang seperti anak kecil yang baru saja di berikan sebuah mainan.
"Ehk tapi tunggu! Dulu mama bilang kalau gue mau kuliah harus minta persetujuan Kevin dulu! Oh my god apa ini karma karena gue bersikap munafik sama dia? Harus ketemu dia lagi! Heh malas banget!" lenguhku malas.
Aku mendesah keras dan turun dari ranjang.
"Udahlah gue nggak mau nemuin dia! Tapi gue mau kuliah~" gumamku merengek.
"Nanti dia mikirnya macem-macem lagi! Dikirain datang pas butuh lah, apalah, ehk tapi kayaknya emang bener sih gue nyari dia kan emang butuh banget hehe!"
Aku keluar dari kamar melihat sudut ruangan yang menjadi favoritnya, ketika sosoknya tak kutemukan dilantai 1, aku naik ke lantai dua mencoba untuk masuk kekamarnya.
30 detik kemudian
"Kevin lo ada didalam nggak sih?" tanyaku lagi.
3 menit kemudian
"Kevin! Ban*sat buka pintunya!!!" aku berteriak ketika batas kesabaran dalam menunggu sudah mencapai batas maksimum.
"Kenapa kamu ada didepan kamarku! Sambil teriak-teriak!" ucap Kevin yang baru saja datang dan berdiri disampingku.
"Ahk... Lo kok langsung muncul disini sih! Bukannya lo ada dikamar ya?" tanyaku linglung.
"Kalau muncul disini berarti memang bukan dari dalam kamar! Bodoh!!" ejeknya bergumam ketika mengucapkan kata terakhir.
"Kevin!!!"
"Ehh tahan dulu Sal... Lo kesini bukan ngajak dia berantem tapi ngebahas soal kuliah! Jadi sabar aja ya!" naluri fikiran baikku.
__ADS_1
"Jangan nyerah Sal... Hujat aja terus... Masa sih lo mau ngalah sama pria yang udah ngambil ciuman pertama lo!" umpat naluri fikiran jahat.
"Tapi Sal... Kalau lo berantem sama dia lagi! Terus nasib lo kedepannya masa cuman tinggal dirumah, beres-beres kayak pembantu sambil pakai daster!" lirih naluri baikku lagi.
Naluriku semakin membuatku gila dengan semua fikiran itu, dilain sisi semuanya memang benar tapi apa yang harus aku lakukan?
Sumpah! Emosiku sudah berada diubun-ubun kepala dan harus segera ditumpahkan.
Uhhh hohh! aku menarik dan menghembuskan nafas, menggeleng kuat kepala membuat semua fikiranku bercampur aduk.
"Kevin~" panggilku tersenyum Lebay dan manja mengedipkan mata berkali-kali.
Kevin bergidik ngeri, "Jangan seperti itu, aku jijik melihatmu seperti itu!" ucapnya memalingakan wajah.
"Gue juga ogah Mau kayak gini kalau bukan karena harus minta persetujuan kuliah sama lo!" gerutuku dalam hati.
"Oke... Gue to the point sekarang! Gue mau kuliah!"
"Hn... Terus!"
Aku melongo mendengar balasan singkatnya itu, "Lohh kok cumam terus? Ya gue mau kuliah dan lo harus biayain kuliah gue!" pintaku.
"Ohh... Jadi kamu datang hanya ingin bilang ini! Kalau aku tidak mau!" tolaknya.
"Kevin! Jangan buat gue emosi lagi! Sudah cukup ya lo udah ngerampas ciuman pertama gue!"
Kevin mengangkat sebelah alisnya menengadah, "Tapi kamu juga menikmatinya!" jawabnya singkat.
Kalimat itu lagi! Kalimat yang mampu membuatku malu dan membuat wajahku merona, namun aku mencoba bersikap biasa dan menahannya
"Kevin! Please lo biarin gue kuliah ya! Please!"
Aku terus memohon didepannya, meskipun aku tau tak mudah untuk mengajaknya berkompromi.
"Tapi ada syaratnya!"
"Syarat apa? Gue bakalan lakuin apapun itu asalkan lo setuju!"
"Aku mau kau menciumku lagi dengan suka rela!" pintanya dengan cepat.
Aku tercengang dengan permintaanya, dia bahkan tak merasa bersalah sedikitpun sudah merengut kesucian bibirku, bahkan permohonan maaf pun darinya tidak ada sama sekali dan sekarang mau memintanya lagi?
Apa yang harus aku lakukan? Apa aku harus membuang harga diriku demi untuk kuliah atau menolaknya, tapi apa yang akan terjadi dengan masa depanku jika menolaknya.
__ADS_1
Aku bahkan belum terlalu terbiasa dengan kehidupan berumah tangga, bahkan mengurus suamipun aku belum siap.
Perjalanan hidupku masihlah panjang namun akankah berakhir ditangannya begitu saja?