Suamiku Dokter Dingin

Suamiku Dokter Dingin
Nasehat Ayah


__ADS_3

Aku terduduk di pinggir ranjang, begitu pula dengan Willy yang kini duduk disampingku, ia terus menatapku kasihan, "Sal... Gue ngerti perasaan lo!" ucapnya hendak merangkulku.


Dengan cepat aku menghindar lagi, "Gu-gue mau elo keluar Will... Gue pengen tenangin fikiran dulu!"


Willy mengangguk, "Hm... Kalau gitu gue masak dulu! Elo fikirin aja bagaimana bagusnya tapi saran gue apa yang tadi gue ucapin adalah solusi terbaik Sal....!" lirihnya.


Aku menatapnya sinis, sungguh kesal ketika menyuruhnya segera keluar tapi dia malah masih bicara seakan membuat kepalaku serasa ingin pecah memikirkan semua ini.


"Ahk gue keluar kok! Kalau makanannya udah siap gue bakal panggil elo!" lanjutnya menyadari rasa kesalku.


Ketika Willy keluar aku mengubah posisi merebahkan diri ditengah ranjang, meringkuk dalam kepedihan dengan fikiran berkecamuk memenuhi otakku.


Semua masalah ini membuatku benar-benar merasa gila, aku bingung harus bagaimana.


Bahkan pelipisku rasanya sangat sakit, hanya bisa menangis dalam ringkukan tubuhku.


Menahan suara isak tangis agar Willy tak menyadarinya membuatku seolah sesak nafas.


1 jam kemudian, Willy datang ia memanggilku untuk makan namun aku tak merespon malah posisiku sekarang tak berubah, masih memejamkan mata dalam ringkukan.


"Sal... Bangun makanannya udah siap!" ajaknya menepuk lenganku pelan.


Ia terus memanggilku beberapa kali ketika dia tak mendapat respon sekalipun, pada akhirnya Willy keluar, terdengar dari suara langkah kakinya yang semakin menjauh.


Kufikir tadinya ia menganggapku sudah tidur jadi akhirnya memilih keluar, tapi ternyata dugaanku salah ia malah membawakanku makanan diatas nampan lengkap dengan lauk-pauknya.


"Sal... Bangun dulu! Nanti elo sakit, kalau nggak makan malam! Ini gue udah bawain makanannya buat elo" lirihnya membujuk.


"Gue nggak ada nafsu makan Will... Maaf lo bawa aja lagi makanannya keluar!" tolakku dengan tubuh tak bergerak sedikitpun yang ada hanya bibirku saja yang membalas.


"Elo kan belum makan malam Sal... Atau gue simpan aja makanannya diatas meja ya! Biar elo kalau pas lapar langsung makan aja, lagian kalau lo nggak makan nanti tubuh lo lemas nggak ada tenaga Sal!" bujuknya lagi dan lagi.


"Terserah lo, please keluar sekarang!!!" pintaku menjerit.

__ADS_1


"O-oke gue keluar sekarang!" jawabnya setuju dan langsung berjalan keluar kamar.


Kini aku merasa hampa, otakku rasanya di kelilingi kabut tebal hingga aku tak tau harus memikirkan solusi terbaik.


Aku hanya bisa menangis, terus menangis hingga akhirnya ada sebuah ide terlintas dalam fikiranku.


"Ahk Ayah! gue harus nelfon ayah!" gumamku setelah mendapat ide.


Aku terduduk, meraih ponsel yang ada diatas meja disamping nampan makanan yang Willy bawa.


Aku hanya menatap sekilas makanan itu, meski begitu menggiurkan di mata, tapi aku sama sekali tak ada nafsu makan.


Yang ku lakukan hanya mengambil ponselku kemudian mencari kontak ayah di daftar kontakku.


Ketika aku menemukan kontak ayah, dengan penuh rasa gugup aku mulai menghubunginya, meski awalnya kufikir ayah tak mau mengangkatnya tapi justru tidak.


📞"Salsa? Ini kamu nak?" sahut seseorang yang tak lain adalah ayah melalui oanggilan telfonku.


Aku mulai menangis ketika mendengar suara ayah yang begitu ku rindukan, kututup mulutku agar suara isak tangis ini tak terdengarkan, berusaha untuk mengontrol diriku sendiri, 📞"A-ayah! Ini Salsa, maaf...Salsa pergi dari rumah tanpa izin ayah sama mama!" lirihku menangis terisak-isak.


📞"Aku baik-baik aja ayah! Apa ayah tidak marah sama Salsa?" jawabku lalu bertanya balik.


📞"Kenapa ayah harus marah! Memangnya kamu dimana sekarang?"


📞"A-aku berada di tempat yang jauh ayah! Maaf, aku kesini bukan karena ingin liburan tapi Salsa ingin sukses ayah! Apa ayah bisa mengerti? Ohh iya bagaimana dengan kesehatan mama, apa mama baik-baik aja? Tadi aku menelfon mama, tapi telfonnya tiba-tiba putus dan Salsa dengar mama kayak kesakitan, mama baik-baik aja kan yah?" timbalku bertanya sekaligus khawatir.


📞"Ma-mamu baik Sal... Kamu tidak perlu khawatir kan ayah ada disini!" balas ayah seperti menyembunyikan sesuatu.


📞"Ayah nggak lagi bohong sama Salsa kan?" curigaku.


📞"I-iya ayah tidak berbohong! Tapi nak kenapa kamu harus pergi ketempat yang jauh, bukannya kami orangtuamu masih ada? sal... Kamu kan tau ayah sama mama selalu sayang sama kamu tapi kenapa kamu harus kabur membuat kami khawatir mencarimu! Kalau kamu hanya ingin meraih kesuksesan di tempat yang jauh setidaknya kamu harus izin sama kami orangtuamu, lagian kamu ini statusnya bukan lagi belum kawin Sal... Jadi seharusnya kamu memikirkan itu semua sebelum pergi! Jujur ayah sangat kecewa dengan sikapmu yang masih


kekanak-kanakan itu padahal umurmu bukan lagi bocah yang harus selalu di ajari mana yang baik dan mana yang buruk!" tutur ayah menasehatiku hampir sama seperti yang mama ucapkan namun tidak dengan nada yang emosi.

__ADS_1


Tangisanku sudah tak bisa ku tahan lagi, biarlah ayah mendengarku menangis penuh penyesalan, 📞"Maafkan Salsa ayah! Hikshiks Salsa memang egois! Salsa egois.... Kalau begitu aku akan pulang sekarang , Salsa menyesal pergi tanpa Izin ayah dan mama!" lirihku berucap.


📞"Tidak perlu Sal... Meskipun ayah sangat kecewa, tapi ayah tau kamu sudah banyak menderita, jadi untuk sekarang lakukan apa yang membuatmu bahagia, raih cita-citamu nak! Tidak usah mengkhawatirkan ayah dan mama disini, kami sebagai orang tua pastinya akan melakukan yang terbaik demi kebahagian anaknya, jadi ayah akan mendukungmu, soal Kevin ayah akan bicara sama dia! Ayah harap setelah kamu sukses ayah mau kamu pulang kerumah karena pintu terbuka lebar untukmu nak!" papar ayah membuatku merasa sangat-sangat terharu.


Yah dia adalah ayahku, ayah yang selalu membuatmu merasa kagum, dia tak pernah membentakku sekalipun.


📞"Makasih ayah! Salsa sangat menyayangi ayah dan mama, makasih tidak memarahiku, maaf Salsa selalu menyusahkan ayah, maaf juga karena membuat ayah khawatir maaf ayah... Maaf!" sesalku dalam tangisan.


📞"Berhentilah menangis nak! Ayah tau bagaimana perasaanmu sekarang! Mungkin ini sangat berat kan? Satu pesan ayah, lakukan yang terbaik yang membuatmu merasa bahagia tanpa ada tekanan, dan juga jangan melupakan orang-orang yang tulus mencintaimu, yang pernah memberi kamu kebahagiaan dan kamu juga mencintainya!" terang ayah.


📞"Iya ayah! Aku akan selalu mengingat pesan ayah!" pungkasku mulai menyeka air mata.


📞"Ohh iya Sal...sepertinya Kevin sudah tau kebenarannya! Jadi sekarang hubungan kalian kedepannya akan bagaimana?" Ayah menyebut nama Kevin membuatku seketika melamun.


📞"A-aku tidak tau harus bagaimana ayah! Aku juga bingung!" ujarku.


📞"Tidak apa-apa nak! Kevin mungkin akan mengerti, semua keputusan akhir ada sama kamu sayang! jadi lebih baik kamu memikirkan apa yang terbaik buat kamu kedepannya, jika kamu memang mencintai Kevin maka tidak usah membuatnya lebih ribet, biarlah dia merasakan penyesalannya dulu dengan kepergianmu Tapi jika kamu ingin melakukan itu maka kamu harus jaga hati Sal... jangan membuat rumah tangga kalian benar-benar berakhir sampai di sini saja! ayah yakin kamu sudah akan berfikir matang untuk soal ini kan? ayah tunggu keputusan kamu kalau sudah pulang!" ucap ayah masih memberiku nasehat.


📞"Baik ayah! aku akan memikirkannya!" jawabku tegas.


📞"Oke... kalau begitu ayah ada urusan, sebaiknya kita akhiri panggilan ini!"


📞"Tu-tunggu dulu ayah! aku ingin mendengar suara mama! apa bisa ayah memberikan ponsel itu ke mama! sebentar saja!" pintaku.


📞"Ma-mamamu tidur nak! ayah takut membangunkannya, kamu tau kan bagaimana mama kalau diganggu pas tidur!" ucap ayah terdengar sedang menyembunyikan sesuatu di balik ucapannya.


📞"Tapi ayah! sebentar aja!"


📞"Ahkk bagaimana kalau mamamu sudah bangun ayah akan segera menelfonmu!" tukas ayah memberi usulan.


📞"Baiklah ayah, Salsa juga tidak mau membangunkan mama! ngeri sih kalau soal mama hahah!" untuk pertama kalinya aku tertawa setelah perjalanan yang melelahkan batin ini.


📞"Ahh oke kalau begitu ayah pergi dulu ya Sal.. kamu jaga kesehatan disana!"

__ADS_1


📞"Iya ayah!" Pada akhirnya ayah mengakhiri panggilan kami.


Ah... aku menghela nafas panjang, betapa leganya berbicara dengan ayah, membuat semua masalah yang seakan bertumpuk didalam otakku seketika berkurang apalagi nasehat ayah yang beliau sampaikan dengan begitu lembut membuatku merasa sedikit kedamaian.


__ADS_2