
Setelah penampilan Willy para mahasiswa baru yang berada di sekitarku ada yang berbisik, "Wow tuh cowok keren banget, berarti kita beruntung dong kuliah disini, ada banyak cogannya uwwuu!" begitulah bisik yang terlintas sekilas ditelingaku.
Namun aku tak perduli, Willy kini hanya seorang teman bagiku, dia berubah sekarang, ia menjadi seperti orang yang bahkan aku sendiri merasa asing dengan sikapnya.
"Sal... Itu suara Willy kok bagus banget... Gu... Gue rasa jantung gue berdebar deh denger suaranya...." lirih Lena
"Coba lo pergi kerumah sakit siapa tau ada masalah sama jantung lo, denger orang nyanyi kok jantung yang berdebar kan aneh!" ketus Dita.
"Apasih lo, gue ngomong sama Salsa... Kenapa elo yang selalu nyahut hah!" protes Lena kesal.
"Sal...." panggilnya sekali lagi sambil mengoyang-goyangkan tubuhku, padahal saat ini aku sedang melamun dan karena goncangan itulah seketika aku tersadar kembali.
"Iya ada apasih kalau mau nanya ya nanya aja Len..., nggak usah goyang-goyangin badan gue!" ucapku risih.
"Ihh Salsa....elo kok nyolot sih! Tadi kan gue udah nanya baik-baik tapi elo lagi melamun! Elo lamunin siapa? " tanya Lena menyeringai.
Aku gugup tak tau harus mengatakan apa sebagai alasan, "Ehh itu gue nggakpapa, lagian elo nanya sama gue nggak minta izin dulu!" kataku semakin tidak nyambung.
Mereka berdua kompak tercengang, "Salsa... Elo sakit! Pertanyaan Lena ke kiri jawaban lo kekanan sih!" Dita menanyaiku dengan perumpamaan.
"Gue sehat kok! Gue... Cuman haus yah... Haus doang heheh!" akhirnya aku mendapatkan ide cemerlang yang sudah agak nyambung dan membuat mereka berdua hanya mengangguk percaya.
"Ohh... Lo haus? Bilang kek dari tadi, nih gue punya air minum!" Lena memberikan sebuah botol berisi air minum padaku.
"Lena... Elo dapat air dari mana? Bukannya elo kesini nggak bawa apa-apa?" seka Dita heran.
"Iya gue emang nggak bawa apa-apa tapi itu air gue dapat di bawah kursi gue ini jadi pastinya aman kok, lo minum aja Sal...." Jawab Lena seraya tersenyum.
"What!!! Lo serius Len... Astaga gue kira ini beneran punya lo untung gue belum minum, lo tau nggak ini punya siapa? Nggak tau kan! Kalau kita ngambil punya orang tanpa izin berarti kita mencuri Lena... Lagian lo nggak takut apa kalau sampai botol air minum ini udah di beri sesuatu semacam obat mungkin!" pekikku menghayalkan hal-hal tak terduga.
"Ya sorry tapi gue lakuin ini demi elo kok Sal...." seru Lena memelas.
"Gue salut sama perhatian lo kok Lena... Tapi bukan gini caranya!" jelasku
Lena kembali tertunduk, aku tau dia pasti merasa tidak enak karena melakukan ini padaku tapi seorang Lena ini sangat mudah di bujuk jadi marahnya tidak akan bisa bertahan lama apalagi jika aku yang menghiburnya.
"Lena... Nggak usah kayak gitu! " hiburku.
"Gue nggakpapa kok gaes, ohh iya gue mau tampil nyanyi juga deh... Siapa tau ada cowok yang langsung terpukau sama suara gue!" ucap Lena hendak berdiri.
"Lena duduk sekarang! Lo nggak boleh tampil diatas panggung! Lagian suara lo tuh cemprengnya minta ampun, dan juga lo nyanyi apapun pasti fals jadi lebih baik nggak usah!" hina Dita memutar bola matanya setelah memandangi Lena.
"Heh! Dita... Lo nih ngajak ribut terus ya! Lo tau nggak lo tuh kayak orang sirik sama gue! Gue mau nyanyi ya terserah gue." balas Lena.
Mereka terus beradu mulut tanpa mau mengalah sedikitpun, aku hanya bisa mendegus penuh kesal.
"Diamlah... Gue muak sama kelakuan kalian gaes!" tegurku berkata seraya menggertakkan gigi kemudian mencolek pinggul kedua sahabatku itu.
***
Ketika acaranya selesai, aku Dita dan Lena keluar dari aula, hingga di depan pintu kami berpapasan dengan Willy dan juga David.
"Ehh... Kalian mau langsung pulang atau kita ngumpul di kantin dulu?" Tanya David.
"Kita ke kantin aja dulu, lagian gue bosan dirumah cuman jadi kaum rebahan!" terang Dita.
Aku langsung menyetujuinya, pada saat di kantin kampus, aku duduk berhadapan dengan Willy, aku terus menunduk sambil berpura-pura memandangi layar ponselku itu, ini kulakukan karena tidak mau menatap Willy.
Bukan karena tanpa alasan hanya saja, rasa yang sulit diungkapkan jika berhadapan dengannya malah membuatku frustasi.
"Ehhem gaes gue punya info hits.... " ucap Dita
__ADS_1
"Apaan? Jangan bilang elo mau ngejelek-jelekin gue!" selidik Lena.
"Lo diam aja deh Bucin!, informasi gue pastinya bakal buat kalian kaget!" jawab Dita masih membuat kami penasaran.
"Elo mau nikah?" imbuh Lena mencoba menjawabnya sendiri.
"Hah! Nikah? Ya enggak mungkin lah... Gue nggak mau nikah muda keles, nanti masa remaja gue nggak bahagia karena ngurusin suami dan yang lebih parahnya kalau punya baby! Oh no... bisa repot ngurus sana-sini" jelas Dita lagi.
"Terus apa Dita! Elo kalau masih mau lama-lama mending nggak usah ngasih tau kita !" ketus Lena tak sabaran
Dita terdiam sejenak memandangi kami satu persatu, "infonya adalah di antara kita berlima ada yang jadian loh...." jawabnya.
Aku terkejut dengan pernyataannya itu seketika aku merasa dia sedang membicarakan hubungan kesalah pahamanku dengan David.
"Siapa Dit? Kalau bicara tuh nggak usah sepotong-sepotong!" seka Willy untuk pertama kalinya menyahut.
"Ehh Will lo nggak usah ngegas dong! Tapi gue maklumin karena elo pasti udah penasaran banget ya kan!" kata Lena kesal dengan sikap Willy.
"Sal... Lo nggak mau ngomong langsung? Atau gue aja yang ngomong ke mereka?" bisik Dita membuatku terkinjat.
Aku sekarang paham, ternyata Dita memang benar ingin mengatakan hubunganku dengan David, Tapi itu hanyalah salah paham, dan yang lebih parahnya lagi apa yang akan difikirkan Willy setelah Dita mengatakan itu.
Tidak! Ini tidak boleh terjadi, jangan sampai ini terjadi, aku tidak mau kesalahpahaman ini nantinya akan menimbulkan masalah baru.
Tapi bagaimana dengan perasaan David? Jika aku mengatakan yang sebenarnya dan dia langsung ditolak oleh Dita maka akan bertambah banyak masalahku.
"Sal... Lo denger nggak sih! Kalau gitu gue anggap lo setuju aja, biar gue yang nyampein ke mereka ya! " pintanya Lirih bertanya sekali lagi padaku.
"Ehh tunggu Dit... "
"Sebenarnya Salsa sama David udah jadian kemarin gaes gue denger sendiri David nembak Salsa, pas David ngajak gue jalan, gue ngajak Salsa juga! Ehh karena gue kebelet pipis gue ke toilet bentar, waktu gue balik dari toilet gue langsung nyaksiin secara live keromantisan mereka berdua!" tutur Dita memotong ucapanku.
Semua kata yang tadinya ingin ku ucapkan seketika sirna, tadinya aku ingin melarang Dita mengatakannya tapi sepertinya sudah tidak bisa lagi.
Aku berdiri, begitu pula David yang langsung memukul keras meja didepan kami, sedangkan aku memberanikan diri menoleh untuk melirik Willy, aku penasaran bagaimana reaksinya.
Ternyata, dia tampak marah, matanya memerah menahan emosinya yang membara, aku tau dia pasti percaya dengan ucapan Dita.
Apalagi selama persahabatan kami berlima Ditalah yang biasanya bersikap paling jujur walau terkadang menyakitkan.
Willy mendonggakkan wajahnya, dia menatapku sinis penuh keseriusan.
"Sal... Apa bener yang Dita katakan?" tanya Willy.
"Will... Gue nggak mungkin pacaran sama David, lo tau sendiri kan kalau gue ud...." untuk kali ini, lagi-lagi aku hampir kebablasan mengucapkan kata menikah pada mereka.
"Ya ampun Will... lo pasti nggak terima kan kalau David sama Salsa jadian? Hahah lo jangan gitu dong! Gue tau Salsa itu sudah jadi koleksi mantan lo tapi seharusnya sekarang elo bahagia karena Salsa udah sama David sahabat kita sendiri! Lagian elo juga Vid, seharusnya elo yang ngasih tau masalah jadian lo sama Salsa bukan gue, lo kan laki-laki gimana sih nggak gantle banget!" cerocos Dita menyinggung David.
Sepertinya David juga sangat emosi sekarang terlihat dari kepalan kedua tangannya yang gemetar.
"Dita! Elo salah paham, gue nggak jadian sama Salsa! Berapa kali gue harus bilang sama lo," serkah David
"Ehh tunggu deh... Gue nggak paham sama masalah kalian berempat, Dita bilang David sama Salsa jadian tapi yang bersangkutan bilang enggak, terus hubungan kalian tuh kayak gimana? Nggak ada kepastian kayak hubungan gue?" Ucap Lena menengahi obrolan panas kami berempat.
"Diam!!!" tegurku, Dita, David dan Willy secara bersamaan.
Seketika Lena panik mendengar teguran kami, tubuhnya seakan bergetar ketakutan, "Ga-gaes kalian kok kasar banget sama gue! Gue tau gue bodoh, nggak jelas, tapi gue tetep sahabat kalian, kenapa kalian nggak pernah sedikitpun nganggap gue bagian diantara kalian! Kalau kalian nggak suka gue ada disini! Ya udah gue bisa pergi sekarang juga!" lirih Lena dengan mata berkaca-kaca kemudian langsung berlari pergi meninggalkan kami.
"Lena... " teriakku memanggilnya namun dia tidak berhenti malahan karena teriakanku itu banyak pasang mata mengarah ke arah kami.
Setelah kepergian Lena, suasana semakin terasa canggung, Dita dengan angkuhnya masih terus mempercayai apa yang kemarin disaksikannya.
__ADS_1
Sedangkan Willy tertunduk menahan marah, aku tau dia bingung tidak tau mana yang sebenarnya terjadi.
"Vid... Sal....Sampai kapan kalian bakal rahasian hubungan kalian? " sahut Dita lagi masih terus mengintrogasi kami.
"Dita... Sumpah! Gue nggak pacaran sama David! Kenapa elo nggak bisa percaya sih!" elakku.
"Udah ahh... Gue kecewa sama lo Sal... Gue kira elo nganggap gue sahabat lo tapi ternyata masalah ini doang elo nggak mau ngasih tau gue! Sekarang gue ragu apa persahabatan kita bakal terus awet kalau sikap lo yang masih ke kanak-kanakan itu." imbuh Dita kemudian mengejekku.
Seketika aku merasa terluka, apalagi dengan kalimat terakhirnya itu, kekanak-kanakan? Apa aku bersikap kenak-kanakan jika hanya ingin mengungkapkan kebenaran?
Arghhh... Aku merasa gila, ingin sekali menjerit ditempat ini mencoba menjelaskan yang sebenarnya kepada Dita.
"Hah! Dita elo sadar nggak sih, elo juga ke kanak-kanakan, gue udah bicara jujur tapi elo kayak bocah yang nggak paham soal bahasa manusia! Elo cuman percaya sama yang lo lihat tapi kenyatannya berbeda, gue udah sumpah dan lo masih nggak mau juga percaya sama gue? jadi terserah elo... Mau percaya apa enggak! terserah...." ungkapku tak perduli lagi.
"Ohh... Jadi begini sifat asli lo? Salsa yang gue kenal kalem selama hampir 4 tahun ternyata sifatnya kayak gini? Hahah sepertinya gue udah salah milih teman! " ucap Dita tersenyum meremehkan.
Sungguh! Aku tak menyangka Dita yang ku anggap seperti saudara bisa mengatakan itu kepadaku, apa benar dia menyesal berteman denganku? Kenapa? Kenapa dia harus menyesal padahal kami selalu bersama-sama layaknya saudara kandung, saling curhat, bahkan tercanda ria! Apa dia tidak pernah menganggapku sebagai sahabat?
"Dita... Jadi maksud lo! Elo nyesel berteman sama gue?" tanyaku lirih tanpa sadar pipiku sudah dialiri air mata.
"Lo kok tega sih Dit... Apa persahabatan kita nggak pernah berarti bagi lo! Asal lo tau gue nggak pernah sekalipun merasa menyesal mengenal kalian tapi sepertinya cuman gue yang berfikiran seperti itu!, " lanjutku terisak.
"Udahlah Sal... Gue nggak mau lagi berurusan sama lo! Cukup sampai disini persahabatan kita! Percuma punya sahabat kalau hubungan doang di rahasiain cuih!" sindir Dita.
Tanpa pamit, Dita melangkah pergi begitu saja, dan kini tubuhku seketika terasa lemas, terduduk kembali.
Aku tertunduk sambil menangis, Willy dan David juga terduduk di depanku, mereka berdua hanya menjadi penonton pertengkaranku dengan Dita tadi.
"Gue pamit!" kata Willy yang juga pergi membawa emosinya yang sejak tadi ia tahan.
Saat ini hanya aku dan David yang sama-sama merasa frustasi, sumber masalahnya hanyalah kesalahanpahaman kemarin, tapi apa boleh buat nasi sudah menjadi bubur.
Tak ada yang bisa kami lakukan, aku hanya terus menangis hingga David berpindah duduk di sampingku, mengelus punggungku mencoba untuk menenangkan.
Tapi sepertinya percuma, aku malah tambah tercekam, Willy yang langsung pergi ketika melihatku menangis tadi entah kenapa mengabaikanku, Dita dan Lena sudah tidak mau lagi berteman denganku, lalu apa aku akan merasa kesepian lagi?
Apa aku benar-benar tak bisa berteman dengan mereka lagi?
Ahh.. Aku melenguh tak tau apa yang akan ku perbuat kedepannya, jika hanya berdiam diri, di temani dengan rasa kesepian bisa-bisa aku akan berakhir di rumah sakit lagi.
Tidak! Aku tidak mau itu terjadi, untuk sekarang aku memang sendiri, tapi Para sahabatku butuh sebuah penjelasan, jadi aku harus kuat meski menyakitkan.
"Sal... Gue minta maaf! Gara-gara gue persahabatan kita berlima hancur" ucap David masih mengelus punggungku.
"Vid... Gue pulang duluan yah...." balasku seraya berdiri kemudian berjalan lesu meninggalkannya.
Namun langkahku terhenti lalu menoleh kearah David yang tinggal seorang diri duduk di kursi itu, "David... Gue bakal tetap bantuin elo! Jadi elo nggak boleh cuman duduk, diam, dan tungguin Dita luluh sama lo! Karena jodoh nggak akan datang kalau bukan elo sendiri yang berusaha mencari, jadi semangat yah... " aku hanya bisa memberi semangat kepada David, meski ku tau aku tak bisa menyemangati diriku sendiri.
Perjalanan keluar dari kantin aku tak sengaja menabrak salah satu mahasiswa, namun aku tidak menyadarinya, lenganku seakan mati rasa tak merasakan sedikitpun tersenggol.
"Woiii jalan tuh pake mata!" cibir mahasiswa tersebut. Tapi Aku mengabaikannya dengan terus berjalan lurus kedepan.
Bib...
Suara klakson mobil itu lagi, suara yang membuatku terkejut tadi pagi, aku mulai jengkel dengan semua ini.
"Kevin! Ngapain lo masih di sini?" ucapku.
Kevin menurunkan kaca mobilnya, "Naiklah..." ajaknya.
Tanpa basa-basi lagi aku langsung naik dan duduk dikursi yang tadi kutempati, kali ini dia juga tidak marah, dan aku tidak mau bertanya apa-apa lagi padanya.
__ADS_1
Fikiranku sekarang sudah full tidak bisa menambah masalah jika harus melawan Kevin, jadi untuk saat ini aku memilih untuk diam saja.