
Sesampainya di rumah, Willy dengan kesal membuka switernya lalu melempar kesembarang tempat.
Ia melangkah membelakangiku namun kemudian ia berhenti, berbalik arag dan kini menatapku serius.
"Oke sekarang elo telfon mama lo!" ujarnya.
Aku menatapnya datar memutar bola mata, melangkah ke kamar untuk mengambil ponselku yang masih dalam mode off.
Willy ternyata mengikutiku masuk kedalam kamar, "Cepetan Sal... Elo telfon mama lo!" pintanya tak sabar.
Tanpa ragu aku mulai mengaktifkan kembali ponselku.
Tring...tring...tring....
Bunyi pesan masuk terdengar berturut-turut, namun aku mengabaikannya dan langsung mencari kontak mama di barisan kontak di layar ponselku.
"Maah... Ayo angkat!" ucapku mulai menelfon dan akhirnya terhubung walaupun belum tersambung oleh mama
"Salsa!!!" jerit seseorang yang akhirnya mengangkat panggilanku, yang tak lain adalah mama yang suaranya terdengar melemah seakan dipaksakan untuk berteriak.
"Iya mah! Ini Salsa anak mama! Mama apa kabar! Maaf Salsa pergi tanpa Izin, apa mama baik'baik aja?" tanyaku dengan mata mulai berkaca-kaca dengan sangat rindu ingin segera memeluk mama.
"Kamu dimana?" tanya mama terdengar membentak.
"A-aku... Mama tidak perlu tau... Tapi yang pasti Salsa bakal pulang kalau udah sukses mah!" ujarku lirih.
"Jawab mama, kamu sebenarnya di mana?" raungnya.
__ADS_1
"Maaf mah! Salsa nggak bisa kasih tau mama!" tolakku pelan.
"Kenapa tidak bisa?" seka mama.
"Karena.... Ahk mah! Mama baik-baik aja kan? Salsa rindu mah! Maafkan Salsa pergi tanpa Izin, maaf juga karena nggak kasih tau mama lokasi keberadaan Salsa tapi yang jelas Salsa berada ditempat yang jauh mah! Jadi Salsa harap mama maafin aku! Ini demi kesuksesan! Maaf Salsa sedikit egois, mama bisa mengerti kan?".
"Jangan panggil aku mamamu! Aku tidak pernah melahirkan anak durhaka sepertimu, apa kamu tau Sal, yang kamu lakukan itu Salah besar! Pergi tanpa Izin dari orangtua,dan juga tanpa Suami kamu! Apa begini cara kamu menghormati mama sama ayah kamu? Mulai sekarang kamu tidak usah kembali ke sini lagi! Mama tidak mau melihatmu!" imbuh mama.
Seketika hatiku terasa kosong mendengar mama mengatakan itu, air mata yang sejak tadi hanya berlinang di pelupuk mataku tanpa sadar mengalir deras di kedua pipiku.
"Mama jangan bilang seperti itu! Salsa adalah anak mama satu-satunya dan bagi Salsa mama juga adalah satu-satunya! Huhuh mah maafin Salsa huhu!" tangisku berucap.
"Biar gue yang cerita Sal....!" Seka Willy mengambil ponsel yang ditanganku, lalu ia menekan speakernya.
"Tante, ini Willy! Salsa ada sama saya tante! Jadi tante tidak perlu khawatir! Saya akan menjaga Salsa dengan baik!" ucap Willy.
"Seperti yang Salsa katakan tante! Saya tidak akan memberi tahu lokasi keberadaan kami! Karena saya fikir, Salsa bakal bahagia disini bersama saya dibanding suaminya yang selalu menyakitinya! Saya juga heran sama tante kenapa tante tidak pernah suka jika saya mendekati Salsa! Padahal saya juga dari keluarga berada, dan malah menyerahkan Salsa dengan pria yang selalu menyakiti hati anak tante! Jadi apa tante ini memang ibu kandungnya apa bukan? Kenapa bisa tante tetap tenang melihat putri semata wayang tante tidak pernah merasakan kebahagiaan?" tutur Willy sontak membuatku tercengang.
"Diam kamu!!! Saya ini ibu kandung Salsa dan saya tau apa yang terbaik buat dia! Jadi sekarang beritahu saya dimana kalian berada!!!" kata mama.
"Willy!! Kenapa lo bilang kayak gitu sama mama gue?" aku berbisik ke Willy tidak terima dengan pernyataan yang ia lontarkan tepat di hadapanku dan juga di dengar jelas oleh mama.
Dan yang paling kutakutkan adalah mama salah paham, serta penyakit jantung yang ia derita bisa kambuh kapan saja karena masalahku ini.
Tiba-tiba Willy mendaratkan jari telunjukkan didepan mulutku,"Diamlah Sal... Biar gue yang bicara sama mama lo!"
Aku sebenarnya tak mau dia yang mewakiliku bicara dengan mama. Tapi sekarang semuanya sudah terlanjur, ponselku kini berada di dalam kendalinya, meskipun ingin mengambilnya kembali tetapi mama sudah mengetahui aku kini bersama Willy, ingin mengelak juga pastinya akan percuma.
__ADS_1
"Yang saya katakan adalah faktanya tante! Tante sendiri yang menjerumuskan Salsa ke dalam penderitaan!"
"Diam!!! Ahk.... Akhhh...." jerit mama terdengar nyaring disertai suara orang yang meringis kesakitan.
Aku syok! Dengan secepat kilat aku mengambil kembali ponselku ditangan Willy, "Mah! Ini Salsa! Mama kenapa?" tanyaku panik namun tak ada balasan.
"Mah! Jawab Salsa mah! mama!!!" jeritku memanggil mama tapi tetap saja tidak ada jawaban.
Tutt..Tutt... tutt
"Lohh kok mati? Mah mama... Jawab Salsa! Mama kenapa?" teriakku didepan layar ponsel meskipun kutau langgilan kami sudah tak terhubung lagi.
Rasa khawatirku semakin bertambah sekarang, aku sangat takut ada sesuatu yang terjadi dengan mama.
"Mama gue kenapa Will?" tanyaku yang kini menatap Willy penuh khawatir.
"Mama lo nggakpapa Sal... lo kan dengar sendiri dia tadi marah-marah nggak seperti orang yang lagi sakit, malahan dia nggak mau lagi ngakuin elo anaknya!" jawab Willy menenangkanku.
"Nggak Will... nggak mungkin elo kan dengar sendiri sebelum mama mematikan panggilannya, mama gue tuh kayak kesakitan! gue khawatir penyakit jantung mama gue kambuh! apa seharusnya gue balik aja yah? gu-gue takut ada sesuatu yang nggak beres sama mama gue!" lirihku lagi.
"Sal... dengerin gue! mama lo nggakpapa, jadi lo nggak usah balik lagi, kita kan baru nyampe ditempat ini, lagian apa lo lupa tujuan kita datang kesini? udahlah... pasti orangtua lo juga bakal bahagia kalau lihat anaknya pulang dengan membawa gelar kesuksesan" terang Willy mencegahku.
"Gelar bukan segalanya Will... gue lebih takut kehilangan salah satu dari orangtua gue daripada meraih gelar doang! jadi gue mau balik aja sekarang!" aku hendak melangkah ke arah lemari, namun Willy tetap saja mencegahku dengan memegang kedua lenganku.
"Salsa!!! lo udah gila ya? lo fikir jarak dari sini ke rumah elo itu cuman 1 kilometer hah! kita jauh banget Sal... lagian kalau lo pulang kerumah mama lo pastinya elo bakal ketemu sama suami lo Sal... elo nggak mau itu terjadi kan? atau jangan-jangan mama lo sengaja meringis kayak orang kesakitan tadi agar lo dengar biar bisa pulang? kayaknya emang kayak gitu Sal... lo kan tau sendiri gimana sikap nyokap lo!" katanya.
Aku menggeleng kuat beberapa kali menyangkal ucapan Willy, "Nggak mama gue nggak mungkin bohong!" tegasku.
__ADS_1
"Sal... ayolah percaya sama gue! mungkin aja mama lo lakuin itu biar lo bisa berdamai sama suami lo itu!" ucapanya lagi.