
Aku sangat kesal dengan sikap Willy yang seolah-olah tidak menghargaiku sebagai seorang wanita, bahkan ia memelukku tanpa Izin sungguh sangat menjengkelkan.
Tapi kemudian ia berjanji tak akan mengulanginya lagi, meskipun rasanya tak percaya dengan janjinya itu, akan tetapi ia telah banyak membantuku ditempat ini juga.
Setelah kejadian itu, Willy seakan tak mau berbuat masalah lagi denganku, malah ia sangat rajin, pekerjaan rumah dia sendiri yang mengerjakannya tanpa campur tanganku, dan kini ia bekerja di Cafe tersebut sebagai penyanyi sedangkan aku sebagai pramusaji ditempat itu juga.
Pekerjaan itu adalah pekerjaan sampingan, disela kesibukan kami sebagai mahasiswa, namun pemilik Cafe tersebut juga mengerti, beliau sangat baik pada kami.
Terkadang sang pemilik memberi kami bonus ketika banyak pelanggan datang di Cafe, aku sangat senang melakukan pekerjaan itu karena di kelilingi orang-orang yang sangat ramah.
4 tahun kemudian.
Hari ini tepat setelah perjuangan selama 8 semester menghadapi segala sesuatu yang cukup membuat kepalaku serasa ingin meledak, tugas menumpuk sudah biasa namun jika membuat skripsi dan ujian meja justru itulah saat-saat paling sibuk di masa kuliahku.
Yah... Tepat di hari ini, adalah ulangtahunku sekaligus menjadi momen wisuda di angkatanku.
Kebahagiaanku rasanya berkali-kali lipat, bagaimana tidak, semua terjadi begitu saja wisuda kali ini kuanggap sebagai kado terindah dari tuhan yang maha Esa.
Meskipun rasanya masih kurang dari kata lengkap karena tak di dampingi oleh keluarga, setiap kali aku selalu ingin menangis ketika mengingat ayah dan mama, pada hari itu saat pertama kalinya aku menelfon ayah dan menjanjikan padaku kalau akan menelfonku kembali ketika mama sudah bangun ternyata tidak, ayah mengingkari janjinya, berhari-hari aku menunggu tapi tak ada panggilan masuk dari ayah ataupun mama.
Walaupun sedikit kecewa tapi aku merasa mungkin mereka yang lebih kecewa karena sikapku dulu yang belum dewasa dalam mengambil keputusan.
Setelah momen wisuda selesai, aku berjalan lesu memakai jubah toga wisuda keluar dari gedung kampus, "Salsa... Tungguin gue...." teriak seseorang dari arah belakang membuatku terkejut dan langsung berbalik badan.
"Willy! Elo juga udah selesai?" tanyaku heran.
"Ya iyalah... Ciee udah dapat gelar nih!" pujinya.
"Iyaiya... Elo juga kan! Selamat ya!" ucapku.
"Sebelum pulang kita jalan-jalan yuk!" ajaknya.
"Ke mana?"
"Ya jalan-jalan aja! gue sih nggak tau juga mau kemana!" jelasnya bertele-tele.
__ADS_1
"Oke... kalau gitu gue mau! lagian gue bosan langsung kerumah!" jawabku.
Terlebih dahulu aku ke kamar mandi yang ada di kampus, untuk mengganti baju sekaligus mempersihkan make up ku.
Aku memasukkan jubah dan toga ke dalam tas serta semua perlengkapan wisuda lainnya.
Setelah mengganti baju, aku keluar dari kamar mandi menuju ke gerbang kampus tempat Willy untuk menungguku.
Usiaku sekarang sudah menginjak 22 tahun, berada di umur yang bukan lagi anak kecil melewati berbagai hal-hal yang menyedihkan, tekanan batin serta emosi dan sebagainya.
Tentunya hal itu cukup mendewasakanku, seringkali aku berfikir semua tindakan yang ku lakukan di masa lalu mungkin karena faktor fikiranku yang belum dewasa.
Tapi kali ini aku berkomitmen tak ingin memutuskan sesuatu tanpa berfikir yang matang, dan biarlah masalah di masa lalu menjadi membelajaran bagiku.
Meskipun bayangan masa lalu terus mengusik ketenanganku, tapi aku tidak terlalu memikirkannya karena kali ini semua sudah ku putuskan aku sudah mendapatkan gelar dan aku ingin kembali ke negara asalku.
Aku sangat merindukan ayah dan mama, dan jujur selama 4 tahun terakhir aku juga terkadang memikirkan Kevin.
"Salsa... ayo buruan!" panggil Willy yang terlihat melambaikan tangan memanggilku.
Aku berlari kecil kearahnya sambil membawa tas punggung yang berisi pakaianku, " Sorry... gue lama ya?"
"Nggak kok! nggakpapa!" serkahnya.
"Emangnya kita mau kemana sih will!"
"Kita mau makan-makan, buat resmiin pencapaian kita!" ungkapnya.
"Cuman makan doang? kalau gitu dirumah kan juga bisa dirayain! ngapain hambur-hamburin uang sih!" tolakku halus.
"Yah... terus gimana?" rengeknya dengan nada manja.
"Kita pulang aja kerumah, gue kirain elo bakal ngajak gue ke pantai atau apa kek!" harapku ketus.
__ADS_1
"Kalau soal itu, nanti aja ya Sal... karena gue emang udah laper banget berarti jalan-jalannnya kita ubah dan rayain dirumah sesuai usulan nyonya Salsa!" godanya.
Aku mengiyakannya, lalu bersama sama pulang kerumah, Willy yang tak tega melihatku membawa tas punggung besar dengan cepat mengambil alih membawakanku.
***
Sesampainya di rumah, aku langsung masuk kamar, melenguh panjang di atas ranjang, lelah yang bersarang ditubuhku seharian ini seakan membuatku merasa ingin segera terlelap dalam ridur.
Tok tok tok
"Sal... bukain pintunya!" Willy mengetuk pintu lalu memanggil-manggil namaku membuatku yang hampir tertidur kini tersadar.
"Ada apa Will?" tanyaku bangkit dan berjalan malas untuk membukakan pintunya.
Ceklek....
"Happy birthday to you... Happy birthday... Happy birthday... Happy birthday to you.... yeyy...." nyanyian lagi ulangtahun dari Willy setelah aku membuka pintunya.
Jujur! aku sangat-sangat terkejut, tak menyangka bahwa ia mengingat tanggal lahirku padahal kami sudah 4 tahun berada di bawa atap yang sama tapi baru kali ini ia memberiku sebuah kue ulangtahun.
"Will... elo...."
"Ehh tiup dulu lilinnya!" ucapnya memotong omonganku.
Aku meniupnya sesuai arahan yang ia berikan lalu menaruh kue tersebut di atas meja, "Makasih surprisenya Will..." ucapku terharu.
"Hm... sama-sama, ohh iya gue masih punya hadiah lain!"
"Apaan tuh?"
Willy tersenyum,dan tiba-tiba ia menekuk lututnya seolah ingin melamar seperti yang ada di dalam Film-film yang sebelumnya pernah ku tonton.
seperti yang ku duga, ia ternyata memang mau melakukannya terlihat ketika ia mengambil sebuah kotak cincin di dalam saku celananya.
Ia kemudian membuka kotak kecil tersebut dan benar saja, sebuah cincin emas putih dengan permata sebagai hiasan elegannya terpampang nyata di depan mataku yang ia julurkan di hadapanku.
__ADS_1
"Sal... tolong terima gue lagi?" pintanya Lirih.