Suamiku Dokter Dingin

Suamiku Dokter Dingin
Kita Mau Kemana?


__ADS_3

Aku mengedipkan mata berkali-kali demi memastikan lagi orang yang berdiri didepanku adalah benar Kevin.


"Ini aku Sal... Kevin! Suamimu!" imbuhnya melambaikan tangan tepat di hadapanku.


"A-aku tidak sedang bermimpi kan? Kamu beneran Kevin? Tapi kenapa kamu bisa ada di sini!" balasku masih bingung.


"Karena aku selalu mencarimu! Aku sungguh merindukanmu Sal.... Aku ingin mengajakmu untuk pulang kerumah kita!" pintanya dengan suara parau.


"Dia datang untuk mencariku?" batinku bertanya-tanya.5


"Kenapa kamu harus mencariku, bukankah kamu lebih percaya mantan kamu itu dari pada mendengarkan penjelasanku? Jadi lebih baik kamu pulang Vin...!" suruhku menyindir, lalu kemudian melepaskan tanganku dari tangannya.


Aku hendak pergi meninggalkannya, tapi ternyata langsung di cegah oleh Kevin dengan memelukku dari belakang.


Ia kemudian berbisik ditelingaku, "Maafkan aku Sal... Please maafkan kesalahanku di masa lalu, Aku menyesal sekarang... Jangan pergi lagi, ku mohon!" lirihnya.


Tanpa ia sadari aku sudah dalam keadaan menangis, ku coba menahan suara tangisanku dengan tegar, agar ia tak mengetahuinya.


"Lepaskan tangan kamu Vin...!"


"Tidak! Aku tidak akan melepaskanmu lagi, kita sudah lama berpisah Sal dan aku akhirnya menemukanmu, jadi sekarang aku tidak akan melepaskan mu lagi!" serkahnya menggeleng dibelakang yang masih mendekapku.


"Vin... Aku bilang lepaskan!" bentakku.


"Tapi kalau aku tidak mau kau mau apa?"


"Jangan membuatku marah Vin... Lepaskan tangan kamu!"


"Tidak mau!" tolaknya terdengar manja.


"Lepaskan...." jeritku merontah.


"Tidak!!!"


Tiba-tiba, Kevin menggendongku sebelum aku berhasil kabur, dia menghentikan sebuah Taksi, lalu menuntunku untuk masuk kedalam kursi penumpang di taksi tersebut.


Jujur! Aku kesal tapi entah kenapa bibirku malah ingin tersenyum, jantungku juga ikut andil dengan berdetak sangat cepat, kufikir aku sudah gila seharusnya aku marah tapi kali ini berbeda.


Entahlah mungkin hatiku memang menginginkannya agar mulai detik ini untuk menghabiskan waktu dengan Kevin yang baru saja ku temui.


"Apa yang kau lakukan! Kamu mau membawaku ke mana?" raungku menyembunyikan perasaan.


"Tidak usah bertanya lagi, kamu akan segera tau kalau kita sudah sampai." balasnya memberiku senyuman yang begitu ku rindukan selama ini.


Kevin menatapku sekejap kemudian masuk dan duduk di kursi dekatku, Ketika pak supir taksi bertanya soal tujuan kami, Kevin malah berbisik sesuatu kepada pak supir.

__ADS_1


Dan karena hal itu aku semakin penasaran,


"Apa yang kamu bisikkan sama supirnya?"


"Kamu mau tau banget yah?"


"Hm... Emangnya apaan?"


"Aku menyuruhnya untuk menjaga mata, tidak boleh memandangimu lewat dari 3 detik! karena hanya aku yang boleh melakukannya!" Kevin berasalan dengan memberiku gombalan sebagai balasan.


"Apaansih! aku tidak percaya!"


"Ya udah terserah! Ohh iya Sal.. kamu tambah cantik, terlihat lebih dewasa sekarang!" pujinya menatapku.


Seketika aku merasa grogi! hanya bisa memalingkan wajah menghindari tatapannya, tersenyum diam-diam tanpa dia sadari.


Rasanya jantungku semakin tak bersahabat, serasa ingin melompat keluar mendengar pujiannya itu yang seakan memabukkan.


Dengan menahan semua perasaan yang kini kurasakan, aku mencoba menatapnya juga, kamu juga banyak berubah Vin! kamu sangat kurus!" kataku memperhatikan pipinya yang sedikit tirus.


"Yah... sepertinya aku memang seperti itu! tapi asal kamu tau aku seperti ini karena terus memikirkanmu,mengkhawatirkan bagaimana kehidupanmu! bahkan aku berfikir apa aku tidak pernah berada dalam lamunanmu?" ungkapnya.


Mendengar pernyataannya, hatiku seolah mengalami keretakan, "Aku memang selalu salah Vin... kamu kurus karena aku! kamu kesini juga karena aku!"


Kevin menggenggam tanganku yang tadinya kuletakkan di paha, ia membuat kesepuluh jari kali bertaut.


Aku memalingkan wajahku lagi, menatap keluar di balik jendela mobil, rasanya aku masih tak sanggup membalas perkataannya itu.


"Jika kamu tidak menjawabnya, tidak apa! aku bisa mengerti, lagian aku juga tak mau memaksamu!"


Pada akhirnya kami sama-sama terdiam, Kevin juga melepaskan tangannya lalu menatap ke arah jendela mobil.


Pandangan kami bertolak belakang, tapi hati sepenuhnya tak bisa berbohong, aku juga sebenarnya ingin memaafkan secara langsung, tapi aku ingin melihat terlebih dahulu bagaimana ia membujukku dengan meminta maaf.


Sesaat kemudian, taksinya berhenti, "Ayo turun Sal...." ajak Kevin yang sudah keluar dari mobil dan menekuk punggungnya sedikit masuk ke dalam mobil untuk memanggilku.


Aku mengangguk satu kali seraya mulai keluar dari mobil, Awalnya aku tidak menatap tempat pemberhentian kami.


Sampai setelah taksi itu pergi dan aku berbalik badan mataku langsung menatap gedung yang sangat besar dan terlihat megah di hadapanku.


"Tunggu dulu Vin! bukankah ini hotel? kenapa kamu harus membawaku ketempat seperti ini?" Aku mulai kesal ketika mataku tak sengaja menatap nama gedung tersebut .


"Hmm... ini memang hotel, aku sengaja membawamu kesini!"


"Tapi kenapa harus hotel sih Vin!"

__ADS_1


"Kamu tenang saja, aku hanya ada sesuatu yang harus ku ambil!" jawab Kevin.


"Ooh oke... kita masuk sekarang setelah barangnya sudah kamu ambil kita bisa secepatnya pulang.


"Kalau begitu, kamu cepetan ambil barangmu didalam, biar kita bisa pulang lebih cepat dari sebelumnya Aku akan menunggumu disini!"


"Tidak! kamu harus menemaniku masuk kedalam!" sekanya.


"Aku? kenapa harus aku?"


"Sudahlah tidak usah bertanya hal-hal yang tidak penting, yang jelas kamu harus menemaniku terus" ucapnya lembut.


Kevin menatapku, menggangguk satu kali lalu menarikku masuk ke dalam, ia mengabaikan semua orang yang di lewatinya dengan memasang muka datar.


Bahkan tak jarang ada orang yang menatap kami heran karena tingkah Kevin yang mirip seperti ingin menyiksaku.


***


Sesampainya didepan Kamar, Kevin menekan password yang terpasang di pintu tersebut, sekilas tampak biasa tapi setelah aku mengamati jemarinya yang menekan tombol angka.


Aku terkejut password yang baru saja ia masukkan sama persisi dengan tanggal ulangtahunku.


Ceklek....


"Masuk Sal..." Kevin membuka pintu lalu mempersilahkanku untuk masuk.


Sesuai arahannya, perlahan tapi ragu aku melangkah masuk, memandangi suasana kamar yang begitu mewah dan luas.


Klik...


Seketika aku memutar tubuhku, pada saat mendengar sesuatu yang tidak asing lagi, dan ternyata itu Kevin yang mengunci pintu kamarnya.


"Kenapa kamu menguncinya?" tanya dengan wajah polos.


"Aku takut ada yang akan mengganggu malam pertemuan kita Sal...!" ujarnya cepat.


"Ada banyak hal yang harus kukatakan sama kamu malam ini, dan kamu tidak bisa kabur lagi karena aku sudah mengunci pintunya, kunci ini akan ku pegang terus! jadi jangan coba-coba untuk mengambilnya!" tantang Kevin memperlihatkan kunci itu lalu memasukkannya kedalam saku celana.


"Apa!!!" pekikku.


"Ahh sial... kenapa harus ada kunci lagi dari dalam? kenapa! tapi tak apa, aku ingin lihat dan dengar apa yang akan ia katakan." batinku.


"Kamu mau mengatakan apa? langsung aja ke intinya!"


"Tidak perlu terburu-buru Sal... malam ini kita akan melewati malam yang panjang bersama-sama!" balasnya terdengar menggoda.

__ADS_1


Kevin berjalan mendekat, dengan senyum menawan yang menggoyahkan hatiku, yang sudah rapuh ini.


Langkah kakinya, justru membuatku gugup diiringi detak jantung yang detaknya bahkan lebih cepat dari langkah kakinya yang terus mendekatiku.


__ADS_2