
Willy tercengang, ia menatap kami dengan ekspresi yang tak percaya, "Sal... Dia bohong kan? Bukannya lo sendiri yang bilang kalau yang bernama Kevin itu, sepupu lo?"
Aku menggeleng pelan, "Maaf Will... Sebenarnya dia emang suami gue!" jawabku.
"Dia orang yang membawamu kesini? Dan kalian hanya tinggal berdua di tempat ini?" ujar Kevin.
"Emangnya kenapa kalau gue yang bawa Salsa ke sini? Lagian elo juga nggak pernah bahagiain dia, elo nggak pernah perhatian sama dia, bahkan gue ragu kalau elo tuh nggk pernah tulus menyayangi dia!" cibir Willy menunjuk-nujuk kearah Kevin.
"Siapa bilang aku tidak pernah menyayanginya?" serkah Kevin terdengar mencekam.
"Stop! Will... Hentikan!" potongku.
"Sal... Jadi elo belain dia? Heh... Lo lupa? Siapa yang biayain kuliah lo? Menuhin segala kebutuhan lo? Seharusnya elo sama gue Sal... Lo lihat sendiri dia baru nyari elo padahal ini udah 4 tahun berlalu, siapa tau dia udah nikah siri sama mantannya itu! Apa lo langsung maafin dia gitu aja?" Willy kembali mencibir Kevin membuatku merasa takut dengan apa yang akan Kevin perbuat sekarang.
"Sudah hentikan, gue kesini cuman mau ngambil barang-barang gue! Karena apa? Karena gue nyesal kesini Will... Asal lo tau mama gue sakit sekarang!" ucapku tanpa menunggu Willy merespon, aku dengan cepat menarik Kevin masuk kedalam kamarku, lalu menguncinya.
Pank pank pank
"Sal buka pintunya? Kenapa lo biarin laki-laki breng*sek itu masuk ke kamar lo?" teriak Willy dari luar sambil memukul keras pintu.
Kupandangi Kevin yang wajahnya mulai kesal dengan mengepal tangannya, "Vin tenanglah nggak usah dengarin dia!" aku memegang kepalan tangannya itu agar tak lepas kendali.
"Sebenarnya dia siapa Sal? Ku fikir orang yang mengajakmu adalah seorang wanita? Tapi ini! Kenapa kamu malah kabur dengan seorang laki-laki? Apa kamu tidak sadar kalau kamu itu sudah menikah?" kesal Kevin.
"Maaf Vin... Aku tau aku salah besar! Tapi aku dan dia tidak pernah melewati batas, bahkan jika dia menggodaku, aku tidak pernah menanggapinya!" jawabku tegas.
"Hn.. Baiklah aku puas dengan jawabanmu! Kalau begitu cepat bereskan semua barang-barangmu!" suruh Kevin malah membuatku termangu.
"Ke-kevin! Kamu sudah memaafkanku begitu aja?"
"Mmk... Terus maunya kamu apa? Aku harus marah? Tidak sayang, kenapa aku harus marah bukankah pada akhirnya kamu akan kembali padaku?" jelas Kevin.
"Makasih sudah mempercayaiku Vin! Makasih!"
Kemudian aku melepaskan tanganku dari kepalan tangannya, lalu bergerak cepat membereskan semua barang-barangku yang tidak terlalu banyak.
"Sal... Buka... Lo nggak bisa pergi gitu aja ninggalin gue sendirian disini?" Jerit Willy masih berada didepan kamarku.
Tanpa sadar Kevin berdiri dibelakangku padahal aku tengah membongkar isi lemari, tiba-tiba ia mencubit pinggulku, sontak suara lenguh manja terlontar keluar dari mulutku begitu saja.
"Ahh Kevin apa yang kamu lakukan?" ujarku.
Tok tok tok...
"Salsa... Apa yang terjadi? Apa yang kalian lakuin didalam sana hah!" ternyata Willy mendengar lenguhanku di balik pintu, mungkin ia salah paham dengan suaraku.
Seketika Kevin kembali menggelitik pinggulku membuatku menggelinjang kegelian, "Ahh... ahhh.. Kevin hentikan!"
"Buka pintunya Sal... please jangan buat gue jadi gila kayak gini!" pinta Willy terdengar memelan.
__ADS_1
"Teruskan Sal... terus seperti itu, aku mau membiarkan dia mendengar suara indahmu ini!" balas Kevin tersenyum miring.
"Apa! tunggu, apa jangan-jangan Kevin bermaksud ingin agar Willy salah paham dengan apa yang aku dan Kevin lakukan di kamar ini? ahh ya ampun, kalau begini ceritanya, masalah malah tambah panjang!" keluhku dalam hati.
"Vin... jangan menggangguku! aku mau membereskan pakaianku!" protesku.
Pada akhirnya Kevin berhenti, lalu melangkah mundur dan hanya memandangiku memindahkan pakaian kedalam koper.
"Apa kamu mau aku membantumu?" Kevin menawarkan diri.
"Tidak usah! ini sudah hampir selesai, lagian aku tidak terlalu banyak barang disini!" tolakku.
***
Setelah selesai, Kevin mengambil alih membawakan koperku, sementara aku yang membuka pintunya, ku lihat Willy terduduk didepan pintu seraya memeluk kakinya sendiri.
"Sal...." Lirih Willy bangkit memanggilku ketika menyadari aku sudah keluar dari kamar bersamaan dengan Kevin yang membawa koperku.
"Elo mau Kemana Sal... please jangan pergi! gue nggak sanggup tinggal sendirian lagi! gue udah nggak mau kesepian kayak dulu..." tutur Willy meraih dan memegang tanganku.
Plak...
"Lepaskan! siapa yang mengizinkanmu memegang Salsa?" Kevin dengan keras menepis tangan Willy.
"Diam lo! gue bicara sama Salsa... lagian Salsa sendiri nggak marah kalau megang tangan dia!" marah Willy.
"Kevin benar Will... gue nggak suka elo megang tangan gue! karena dia suami gue sekarang, dan dia berhak marah sama orang yang mau nyakitin gue!" sekaku.
"Maaf Will... gue nggak bisa, ada banyak perempuan yang lebih baik dari gue di dunia ini Will... gue yakin suatu saat nanti pasti elo bakal dapet cewek terbaik di hati lo! jadi berhenti berharap sama gue! karena gue udah nggak mungkin balikan sama lo!" jelasku.
"Lo kok tega sama gue sih Sal... gue kan cinta pertama lo! kata orang cinta pertama itu susah di lupain, apa lo semudah itu udah lupain gue!"
"Tapi kalimat itu, nggak berlaku sama gue! maaf!" balasku.
"Sudah cukup! ayo kita pergi sekarang!" ajak Kevin menengahi pedebatanku dengan Willy.
Tangan kananku sudah ditarik oleh Kevin namun tiba-tiba Willy menarik tangan kiriku mencoba menahan.
"Tunggu dulu! gue ada pertanyaan yang harus lo jawab, gue janji kalau lo udah jawab gue bakal biarin lo pergi!" Seka Willy membuat Kevin menatapku.
"Lo mau nanya apa?" kataku mengalihkan pandangan ke Willy setelah Kevin menyutujui dengan menganggukkan kepalanya memberi isyarat agar aku mau mendengar pertanyaan Willy.
"Gue mau tanya sama lo! apa selama ini elo pernah cinta sama gue?"
Aku terdiam sejenak, "Yah pernah!" ucapku tanpa ragu.
"Ma-maksud lo?" Willy heran.
kulirik kedua laki-laki yang berdiri di kedua sisi sampingku yang terlihat kaget mendengarku.
__ADS_1
"Jujur gue pernah cinta sama lo! tapi itu dulu Will... hati gue udah milik Kevin, jantung gue berdegup kencang hanya karena berada di samping Kevin! jadi sekarang hentikan semuanya, dan carilah orang yang benar-benar membuat jantung lo berdebar Will, cari wanita yang benar-benar buat lo bahagia! anggap aja gue orang jahat yang selalu nyakitin perasaan lo! tapi gue mohon maaf karena memang nggak bisa balas cinta lo!" jawabku memberi motivasi.
"Gue ngerti sekarang Sal... makasih karena udah pernah cinta sama gue! elo bisa pergi sekarang, semoga elo bahagia yah!" Willy berbalik badan ia tampaknya mengusap air matanya sebab tadinya ku lihat ia sudah hampir meneteskan air mata ketika merespon ucapanku.
Mestinya ia sangat amat kecewa, tapi apa daya ia harus menerima kenyataan, karena aku memang tak bisa bersamanya.
"Ayo pergi Vin!" Kini giliranku yang mengajak Kevin tapi dia tak bergerak sedikitpun.
"Tunggu dulu Sa... Will... aku tau bagaimana perasaanmu! tapi aku punya saran sebagai sesama laki-laki, jika kamu benar-benar tulus mencintai seseorang, kenal dia lebih dalam, lalu buat dia bahagia, namun jangan lakukan seperti apa yang kamu lakukan selaa ini, dengan memisahkan Salsa dengan keluarganya itu bukan contoh mencintai dia tapi justru kamu malah menyakiti banyak orang! jadi aku fikir renungkan dulu kesalahanmu, lagian ada banyak perempuan di luaran sana!" tutur Kevin.
"Ahh satu lagi, kirimkan aku nomor rekeningmu biar aku mengganti uang yang kamu keluarkan untuk membiayai kuliah serta kebutuhan Salsa! dan mulai sekarang berhenti mendekatinya karena aku tidak akan pernah membiarkan kamu dekat dengan Salsa lagi!" sambungnya.
Willy tetap saja membelakangi kami, meskipun begitu ia sepertinya mendengar seksama apa yang baru saja Kevi ucapkan.
Kemudian Kevin menarikku keluar dari rumah tersebut, ia memesan taksi.
***
Didalam taksi suasana terasa tegang, Kevin sejak tadi hanya diam seribu bahasa sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
Ia juga tak pernah melirikku, padahal kami duduk berdekatan, "Kevin! kamu marah ya?" tanyaku mencoba mencairkan suasana.
Ia tak menjawab melainkan sangat cuek sembari memalingkan wajah menatap kaca jendela mobil.
"Kevin~ kamu marah? ya... jangan marah dong! apa karena dia tadi bilang soal cinta pertama terus kamu kayak gini? ya ampun Vin? kamu ternyata cemburu ya?" Aku menggodanya sembari merengek manja disampingnya
"Siapa yang cemburu?"
"Kamu!!!" jawabku cepat penuh percaya diri.
"Yah... aku memang sedikit cemburu! lagian bagaimana bisa aku tidak cemburu kamu pergi dengan cinta pertamamu! bahkan kalian tinggal bersama selama 4 tahun!" gerutunya.
"Hahah... cie ada yang baru aja ngaku cemburu hahaha...." aku tertawa keras.
"Salsa... diamlah aku lagi badmood!"
"Oke aku bakal diam! tapi kamu jangan marah lagi..." imbuhku dengan nada masih manja.
"Oke...." jawabnya datar, singkat dan padat.
"Sal..." panggilnya tiba-tiba yang membuatku kaget apalagi dia yang tadi bilang sediri sedang badmood.
"Hm...." aku menoleh dan mengangkat kedua alisku menatapnya.
"Aku salut dengan ucapanmu tadi, makasih karena tetap menjaga perasaanmu padaku meskipun sudah lama berpisah!"
"Aku juga salut padamu Vin... kamu memberi Willy motivasi, padahal awalnya aku fikir kalian akan berkelahi atau apa! tapi sepertinya dugaanku salah heheh" ucapku terkekeh.
"Aku sangat paham dengan perasaannya, dia pasti Kecewa dan jika aku malah menghajarnya itu malah akan memperpanjang masalah, jadi lebih baik aku menahan diri saja, lagian kamu juga sudah kembali kepadaku." ungkap Kevin meraih tanganku, menggenggamnya erat dengan jari yang bertaut di belakang supir taksi yang pura-pura tuli apalagi mungkin dia tak mengerti bahasa kami.
__ADS_1
Aku tersentuh dengan ucapan Kevin, hanya saling terus melempar senyum satu sama lain, sambil menggenggam erat jemarinya.
Lalu aku menyandarkan kepalaku di bahunya, "Aku ingin seperti ini seterusnya Vin..." ujarku.