
Salsa pov
Tiga puluh menit kemudian akhirnya masakanku jadi lagi, seharian ini aku sangat capek sampai-sampai lupa mandi.
Bau keringat kini mulai tercium dihidungku, namun bagaimana lagi demi membuat si muka datar itu puas aku harus menuruti permintaannya agar dia juga harus memenuhi 3 syarat dariku.
Aku menyodorkan nasinya, akan tetapi seketika mataku melotot menyadari nasi goreng tadi sudah habis tanpa sebutir nasi pun.
"Lah... Nasinya kemana?" tanyaku heran.
"Ehk... Tadi ada kucing kelaparan jadi aku kasi!"
Aku bingung sejak kapan kucing sangat suka nasi goreng sampai habis?
"Lo yang serius dong bukannya kucing itu suka makan tulang ikan ya? Sejak kapan dia suka makan nasi?"
Kevin terdiam dia mengernyitkan dahi, lalu mengendus kearahku.
"Lo mau ngapain sih? Aneh banget!"
"Kamu belum mandi ya? Pantesan ada bau-bau yang merusak indra penciuman!" ejeknya.
Tubuhku terkinjat ketika mendengarnya, dia sangat tak mengerti kenapa aku bisa lupa mandi dan bau begini.
"Sialan lo ya, ini semua karena lo!" ucapku dengan lantang.
"Gara-gara aku? Sejak kapan aku menyuruhmu untuk tidak mandi?" serkahnya.
"Kevin!!! Jangan buat gue ngeluarin kata-kata kasar lagi sama lo!"
Dengan kesal aku berlari kearah kamar dan melangkah masuk kekamar mandi, aku terduduk lama dibawah percikan air shower.
"Iya juga ya! Kok tadi gue nggak mandi dulu sebelum nunggu dia?" gumamku.
Tiba-tiba aku merasakan sakit diarea pinggul, sangat sakit bahkan ketika aku mulai berdiri.
"Aww Kok perut gue sakit banget sih? Gue nggak lagi PMS kan?" tanyaku pada diri sendiri.
Seketika aku merasa ada cairan hangat baru saja keluar di **** * ku, aku syok dan langsung berlari keluar dengan keadaan basah mencari pembalut.
Aku menggeledah semua koperku namun tak satupun yang kudapatkan, aku frustasi sekarang, tidak ada pembalut lalu siapa yang harus keluar membelikanku?
Akan tetapi seketika aku teringat perjanjianku dengan Kevin, lalu dengan cepat aku berlari keluar untuk menemuinya.
__ADS_1
"Kevin!!!"
Aku melotot sambil menganga tatkala melihat pemandangan yang bisa saja dianggap munafik, ini kukatakan karena melihat Kevin dengan lahapnya memakan nasi goreng itu sampai-sampai piringnya ikut berbunyi karena terus bergesekan dengan sendok.
"Ohh... Ternyata Kucing yang tadi lo maksud makan nasi goreng ternyata lo sendiri?" cibirku.
"Kenapa kamu kesini lagi?"
"Tadi bilangnya nasi goreng tadi asin lah apalah, cihh ternyata kucing garong pelakunya" lanjutku mencibir.
"Terserah! Kamu kenapa lagi teriak-teriak?" jawabnya datar
"Nasinya udah habis kan, jadi lo harus tepatin janji lo buat lakuin tiga permintaan gue!" pintaku.
"Hm... Terus apa?"
Aku menunduk malu seraya berkata, " Lo-lo harus beliin gue pembalut!" ucapku to the point.
"Apa!!!" pekiknya
"Pokoknya lo harus mau! Lagian lo udah habisin masakan nasi goreng gue!" perintahku lagi.
"Tidak, aku tidak mungkin membeli sesuatu yang menjijikkan seperti itu!"
"Oh... Berarti kamu sudah merasakan kena cakaran harimau?" tanyanya dengan tatapan serius.
"Kevin!!! Kali ini gue nggak main-main yah! Ini beneran sakit, kalau gue mati disini gue bakalan jadi hantu buat teror lo terus!" ancamku.
Kevin tak sedikitpun bergidik atau mengubah ekspresinya, ia hanya menatapku datar tanpa berkedip sekalipun.
"Uang kamu mana?" ucapnya seraya menyodorkan tangan kanannya padaku.
"Pake uang lo lah... Lo kan suami gue, tugas seorang suami apa? Menafkahi kan?" tanyaku balik.
"Tidak mau! Tidak ada yang gratis didunia ini, aku tidak mau mengeluarkan uang sepeserpun untuk membeli barang yang bukan kebutuhanku" tolaknya.
Mataku menjegil, tanganku ingin sekali melayang menampar mulut berbisanya itu, akan tetapi aku harus menahannya.
"Sabar Sal... Sabar...." gumamku sambil merapatkan gigi.
"Kevin! Please lo...Ah...Sa-ki-ttt!!" lenguhku kesakitan meremas perut.
"Oke... Oke... Aku sekarang pergi!" ujarnya tampak panik lalu kemudian pergi keluar sampai suara mobilnya kembali terdengar menjauh.
__ADS_1
Ahahaha
Aku berdiri dengan tertawa puas karena sudah mengerjainya, sebab aku merasa bangga pada diriku sendiri yang mampu membuat si gunung es mematuhi perintahku.
Aku berjalan menuju dapur, seketika mataku melebar tatkala melihat tumpukan cucian piring di wastafel.
"Ya ampun ini kok cucian piring bisa segunung gini sih?" gumamku.
"Kalau gue yang nyuci nanti tangan gue yang cantik ini bisa lecet! Ihh nggak lah yaa"
Bibirku terus berdecak seperti alunan lagu, mataku masih berkeliling memandangi setiap kerak hitam pada wajan karena ulahku.
Selang beberapa jam kemudian Kevin akhirnya datang dengan membawa sebungkus pembalut, dia menyerahkannya padaku dengan muka cuek, lalu melangkah naik kelantai dua tanpa mengucapkan sepatah katapun padaku.
Aku mengangkat bahu kiri sambil manyun karena tak mau berbasa-basi lagi dengannya, akan tetapi mengingat ada setumpuk cucian piring aku kembali mendapatkan ide.
"Eitss Kevin! Berhenti dulu!"
Kevin langsung berhenti ditengah anak tangga lantai dua, dan dengan sigap menatapku sinis.
"Apa lagi!!!" geramnya.
"Noh... Ada cucian piring! Cuci dulu dong perut gue masih sakit nih!"
Kevin mengerutkan dahi, ia mungkin sangat emosi sekarang terlihat dari kepalan tangannya yang tampak sangat erat.
"Salsa... Jangan menguji batas kesabaranku!" ucapnya kesal.
"Siapa yang menguji? Lo kira gue dosen menguji-menguji? Gue kan bilang sakit perut jadi nggak bisa cuci piring! Dan anggap aja ini permintaan kedua gue hehe!"
Kevin agaknya menarik nafas panjang dari hidung dan menghembuskannya dari hidung pula, seperti baru saja mengeluarkan beban berat yang baru saja didapatkannya.
"Napa? Kagak mau? Berarti lo itu namanya laki-laki pe-cun-dang yang nggak bisa nepatin janji!" cibirku lagi.
"Baik, aku akan melakukannya terus apa permintaan kamu yang ketiga, kamu bisa katakan langsung agar aku tidak buang-buang waktu denganmu."
"Hmk...kalau yang ketiga sih, belum kefikiran yah, jadi nanti biar gue beritahu lo...."
Aku melangkah pergi setelah mengatakan hal itu padanya, sedangkan dia melanjutkan langkahnya naik kelantai dua, seketika dia membanting keras pintu kamarnya membuatku terkekeh karena bahagia memerintahnya.
"Ehehe kok gue senang banget ya lihat dia emosi banget kayak tadi, pengennya tuhh tiap hari lihat dia kayak gitu terus wahhah, kesannya tuhh udah beda kayak dulu, mungkin yang lalu masih belum terlalu tau sifatnya kali ya, tapi sekarang tinggal satu atap lihat dia marah-marah gue jadi gemmezzz! " lirihku dalam hati.
"Kevin! Kevin! Gue bakalan bikin lo jatuh cinta duluan sama gue, biar nanti lo jadi bucin terus turutin semua dehh kemauan gue hahah!"
__ADS_1
Aku terus bergumam karena memikirkannya, seolah ini menjadi hiburan tersendiri bagiku, tak ada lagi rasa lelah seperti tadi ketika bercengkrama dengan Kevin, melihatnya emosi malah membuatku tersenyum, dan merasa ada sedikit rasa nyaman.