
Willy tak hentinya menatapku dengan mata berbinar, dia seakan ingin mengungkapkan kesedihannya.
"Sayang... Kamu sudah bangun?" ucap Kevin yang tiba-tiba saja datang membuat Willy yang kutatap sekejap memalingkan wajah seperti sedang menyeka air mata.
"Ehh iya, kamu dari mana?" kataku bersikap tenang.
"Maaf aku tidak ada disaat kamu terbangun! Ohh iya bagaimana, apa masih sakit?" tanyanya yang kini terduduk dikursi samping ranjang sementara Willy berdiri disamping Kevin.
Aku menggeleng pelan, "Sudah tidak terlalu sakit! Tapi aku masih tidak bisa terlalu banyak bergerak!" keluhku.
"Sal... Gue pamit dulu yah! Kan Suami lo udah datang! Lekas sembuh oke... Gue yakin elo bakal baik-baik aja, jaga kesehatan!" Seka Willy kembali memberiku semangat.
Pandanganku kini beralih ke arah Willy, membuat Kevin malah mengerutkan dahi, "Makasih ya Will...." ujarku lalu mencolek lengan Kevin memberi isyarat, "Shutt...!" bisikku.
"Apa!" ketus Kevin yang berpura-pura tak mengerti, "Ayo....!" lagi-lagi aku memberi kode dengan mengedipkan kedua mataku. "Ooh makasih!" cetusnya berucap kepada Willy tanpa menatapnya.
"Hm... Iya gue pulang yah!" pamit Willy berbalik badan dan melangkah keluar menuju pintu.
Pada saat Willy benar-benar tak ada diantara aku dan Kevin, pandangan mataku malah kembali fokus Kearah Wajah Kevin yang terlihat kesal, "Hm.. Kenapa kamu seperti itu?" selidikku melihatnya memonyongkan sedikit bibirnya.
"Aku iri!" jawabnya, " Lah... Kenapa?" aku bertanya sebab jawabannya malah membuatku linglung.
__ADS_1
"Aku iri sama laki-laki tadi, dia beruntung karena dia adalah orang pertama yang kamu lihat setelah sadar bukannya aku!" cerocosnya dengan nada manja.
Aku memukul pelan tangannya sambil berdecih, " Ya ampun aku kira kenapa! Kamu nih ada-ada aja deh, Lagian saat aku sadar itu diruangan ini tidak ada orang sama sekali dan Willy masuk membawakan tasku! Jadi yah gitu deh dia melihatku sadar itu aja!" tuturku menjelaskan.
"Ohh... " balasnya singkat dan sangat ketus.
Tiba-tiba, ketika melihatnya memalingkan wajah perasaan sakit bagai teriria pisau kembali kurasakan, "Vin... Apa kau benar-benar tidak marah sama sekali denganku? Tapi kenapa? Aku merasa aneh saja! Kamu tidak memarahiku yang telah membuat calon bayi kita meninggal!" lirihku kembali mengajukan pernyataan yang sama seperti sebelum operasi.
Kevin memandangiku dengan penuh kehangatan, sembari mengusap air mata yang tanpa sadar mengalir lagi di wajahku, "Sudah! Sudah... Jangan menangis!" bujuknya seraya menyelihap rambutku kebelakang telinga, "Aku tidak akan marah sama kamu! Karena aku percaya kamu sudah melakukan yang terbaik untuk menjaga kandunganmu, tapi takdir sudah berkata lain, meskipun kita sangat mengharapkan seorang anak sekarang, tapi bagaimana lagi mungkin janinmu lebih disayang sama yang kuasa sehingga dia di ambil lebih cepat saja! Jadi tak apa!" papar Kevin dengan suara nan lembutnya meluluhkan perasaan takut membuatnya kecewa, malah sekarang aku yang merasakan kedamaian berkatnya.
"Tapi tetap saja, aku merasa sangat mengecewakan, semestinya aku mendengarkanmu jika saja seperti itu mungkin aku tidak keguguran! Huhuh!" rasa sakit itu ternyata tak bisa terbayarkan oleh hanya dengan tetesan air mata.
"Jangan cengeng seperti anak kecil! Aku kan sudah bilang tidak marah, tapi jika kamu seperti ini terus aku malah ingin sekali marah, jadi hentikan saja! Soal anak, nanti kita bisa membuatnya lagi yang penting kesehatanmu harus di jaga karena benihku selalu siap untuk di tanam!" rayunya berharap senyumku kembali.
Huhuh.... Aku tak membalas dengan kata-kata melainkan hanya suara isak tangisku yang mewakili, "Ohh iya Sal... Soal Clara yang menabrakmu, aku sudah melaporkannya kepolisi, jujur aku benar-benar sudah tidak tahan lagi dengan kelakuannya!" Kevin yang tadinya bernada merayu tiba-tiba mengubah ekspresi wajahnya menjadi begitu serius ketika membahas soal Clara.
"Po-polisi? Jadi kamu hanya langsung melaporkannya? Tidak! Aku harus bertemu lebih dulu dengan wanita gila itu Vin... Biar aku yang memberinya pelajaran! Dia telah membuatku keguguran! Aku bersumpah tidak akan pernah memaafkannya!" Aku geram mendengar pengakuan Kevin.
"Tenang dulu sayang! Kalau kamu bertemu Clara, aku malah mengkhawatirkan kondisimu! Jadi lebih baik kamu istirahat dulu nanti kita pergi menemui Clara di penjara!" ungkapNya.
Aku risih seakan amarah ingin menguasai tubuhku, "Tidak! Aku harus bertemu Clara dan memberi dia pelajaran atas apa yang dia lakukan padaku!" tegasku lantang mencoba untuk terduduk diatas ranjang.
__ADS_1
"Sal... Dengarkan aku! Berhentilah keras kepala, kamu harus istirahat, kalau kamu ingin menemui Clara untuk membalaskan dendam dengan seperti itu, itu malah akan membuatku marah!" tegur Kevin.
"Sebenarnya kamu berada di pihak mana Vin! padahal aku bersikap seperti ini demi mendapat keadilan atas anak kita yang telah di bunuh sama Clara hah!" kesalku.
"Sal... jangan membuatku benar-benar marah sekarang! aku mengerti amarahmu tapi kamu harus menyesuaikan dengan kondisimu juga! apa kau fikir dengan masuknya Clara di penjara mulutnya juga sudah di borgol? tidak, dia tetaplah seperti siluman ular yang sama seperti dulu ketika kamu bertengkar dengannya, jadi aku mohon jangan keras kepala dan dengarkan aku untuk sekarang!" bentak Kevin menegaskan membuatku terdiam menunduk.
Aku benar-benar tak bisa berfikir jernih, emosi sudah sepenuhnya menjalar di tubuhku, mungkin ketika Kevin tak ada disini pastinya aku sudah kehilangan kendali, tapi untunglah berkat sikapnya aku tidak melakukan hal gegabah lagi.
"Huhuh... yah... kau benar! huhuh...." Aku menangis sekeras-kerasnya, sedangkan Kevin yang melihatku langsung memelukku yang masih terbaring diatas ranjang, dengan tangan menelusup masuk di bawah leherku dan menempelkan kepalaku di dadanya.
"Begitu sakit, sangat-sangat sakit ketika sesuatu yang telah lama di harapkan namun seketika menghilang di tengah jalan, bahkan aku susah bernafas ketika tau sudah tak ada lagi nyawa kecil didalam rahimku, padahal aku sangat menantikan kedatangannya, memanggilku, mama! tapi kenapa aku tak diberi kesempatan? huhuh apa begini perasaan mama saat tau aku kabur keluar negeri? uhh Dadaku... sa-kit, aku benar-benar tidak tau harus bagaimana lagi, kebahagiaan yang baru beberapa minggu kurasakan dengan kabar kehamilanku ternyata hari ini benar-benar berakhir! huhuh!" batinku.
*
*
Info... jangan di Skip๐๐
Maaf ya untuk para kakak readers semuanya karena UPnya cerita ini seringkali telat atau bahkan tidak Up dalam 1 Hari๐, itu karena tugas yang numpuk banget pake BeGeTe terus keseringan down juga heheh๐คญ๐ช
Tapi ohh tapi.... hari-hari kedepannya insyaallah bakal rajin lagi kok, insyaallah ya ๐
__ADS_1