
Kevin berdiri lalu mendekatiku, perlahan dia mau meraih tanganku, namun langsung ku tepis.
"Sal... Jangan marah dong! Aku tidak bermaksud mengejekmu! Tapi bukannya itu memang sebuah fakta?" ucapnya dengan wajah memelas.
"Cukup!!! Lebih baik kamu diam saja!" bentakku.
"Ahk... Kalau saja saat ini aku tidak lapar! Mungkin aku memilih untuk pulang kerumah sekarang dari pada harus makan malam bersama Kevin yang menyebalkan, tadinya aku berfikir dia akan melakukan hal romantis padaku tapi hayalanku sepertinya berlebihan!" keluhku dalam hati.
Aku baru ingat bahwa dia bukanlah laki-laki romantis seperti di film-film, bahkan dia sampai membeli buku agar tau cara meluluhkan sikapku, dasar payah! Fikirku.
"Baik! Mulai sekarang aku tidak akan mengucapkan kata 'datar' lagi padamu!" tegasnya namun tetap saja kata itu tetap muncul.
Semua yang dia katakan membuatku sangat malu, hanya bisa mengepal kedua tangan dengan bibir bergetar menahan emosi.
"Vin! Sebaiknya kamu kembali ketempat dudukmu saja!" geramku
Kevin langsung menuruti perintahku, dia kembali memberiku senyuman lebar, tetapi senyum itu hilang tergantikan wajah serius tampak menakutkan saat dia menatap pelayan yang dari tadi menjadi penonton kami.
"Sini kamu!" panggil Kevin mengangkat jari telunjuknya mengisyaratkan pelayan itu agar mendekat.
"I-iya tuan! Ada apa?" tanya pelayan gugup, sedikit membungkukkan punggungnya agar bisa sejajar dengan Kevin.
"Panggil manajer kamu!" ujar Kevin terdengar dingin.
Seketika tubuh pelayan itu bergetar hebat, mungkin dia sangat takut, "Tu-tuan! Maafkan saya! Saya bukanlah orang yang bermulut ember, jadi apa yang saya lihat dan dengar tadi tidak akan diketahui oleh orang luar! Tuan dan nyonya tenang saja! Jadi saya mohon jangan panggil manajer saya! Kalau saya di pecat adik saya mau makan apa?" papar Pelayan tersebut.
"Ohh memangnya orang tua kamu kemana?" tanya Kevin menaruh perhatian.
"Orangtua saya sudah lama meninggal dan sekarang saya hanya tinggal bersama dengan adik saya!" lirihnya.
Kevin mengeluarkan dompetnya, mengorek isi didalamnya kemudian memberikan beberapa lembar uang pecahan Rp. 100.000 pada pelayan tersebut.
"Terimakasih banyak tuan! Terimakasih!"
pelayan tersebut, hendak bersujud di hadapan Kevin namun tiba-tiba Kevin berdiri dan mencegah pelayan itu sebelum dia benar-benar bersujud.
"Jangan bersujud! Aku bukan tuhanmu! Kita sama-sama manusia, bukankah harus selalu berbagi agar bisa membantu orang lain! Nah... Ini uang biar kamu bisa membiayai keperluan adikmu!" tutur Kevin seraya menyerahkan uang tersebut.
Pelayan itu perlahan pengambil uangnya, lalu menatap kami berdua secara bergantian, "Sekali lagi terimakasih tuan! Ohh iya istri tuan sangat cantik dan terlihat sangat muda sekali! Semoga hubungan kalian bisa bertahan sampai ajal menjemput!" puji Pelayan itu tanpa lupa memberi doa untuk kami.
"Hahah ternyata mata pelayan ini bagus juga! Dia bukan hanya memujiku tapi bisa menebak usiaku yang masih muda! Aku salut padanya!" batinku juga memujinya.
"Jangan terus memandanginya, kalau tidak aku benar-benar akan bertemu dengan manajermu!" ancam Kevin membuat Pelayan itu dengan cepat memalingkan wajah.
"Ngapain dia marah kalau pelayan itu memujiku? Apa Jangan-jangan dia iri karena tidak di puji?" gerutuku menatapnya malas lalu memalingkan wajah.
"Ma-maaf tuan! Ohh iya kalau begitu saya akan segera mengambilkan pesanan anda!" ujar pelayan itu kemudian melangkah keluar meninggalkan kami berdua.
Kini di dalam ruangan ini, hanya ada aku dan Kevin, tatapanku tetap saja sangat tajam ke arahnya, emosi yang dari tadi bermunculan masih tidak mau menghilang.
"Berhentilah marah Sal... Apa kamu tidak capek memasang raut wajah seperti itu? Nanti wajah kamu di penuhi kerutan, emangnya kamu mau,"
"Bodo Amat!!!
Kevin menggaruk kepalanya yang tidak gatal, mungkin dia sedang mencari cara agar aku tidak marah lagi, atau dia mulai muak dengan sikapku ini?
Ahh tidak! Aku tidak boleh membuatnya kesal lagi, sebab jika itu terjadi masalahnya akan tambah panjang.
Dengan cepat aku mengubah ekspresi wajahku, bahkan lebih cepat dari pada membalikkan lembaran buku.
Senyum terpaksa, dengan sesekali menampakkan gigiku hingga gusi depan terlihat, semua itu kulakukan namun dia hanya bergidik ngeri.
"Sal... Kamu kesurupan?"
Aku melebarkan mata, "Hem... Nggak! Aku baik-baik aja!"
"Lebih baik kamu tidak usah tersenyum seperti itu! Karena itu bukannya terlihat cantik, tapi malah kesannya sedikit menyeramkan" sekanya masih bergidik.
__ADS_1
Sepertinya apa yang dia katakan benar! Karena aku sendiri juga merasa sedikit aneh melakukannya.
Seketika aku berwajah datar, menghela nafas berkali-kali sambil terus menatapnya, "Jangan terus menatapku Sal... Aku jadi merasa salah tingkah setiap kamu menatapku dengan mata indahmu itu!" Ucapnya menggombal.
"Jangan kebanyakan halu, aku seperti ini bukan karena terpikat sama ketampanan kamu, hanya saja aku kesal melihatmu berada depanku!" ucapku berbohong.
Sebenarnya aku seperti ini, karena sudah sangat lapar, perutku yang seharusnya berbunyi terus kutekan sedalam-dalamnya agar tak mengeluarkan suara, dan trik ini berhasil.
Namun ketika makanan sudah datang dan di susun rapi sedemikian rupa tepat di hadapanku , tanpa sadar aku memindahkan tanganku dari area perut.
Kruuyuukk... Kyuurkk
Sepertinya kali ini aku benar-benar mempermalukan diri sendiri lagi, bahkan bukan hanya Kevin yang mendengarnya melainkan tiga pramusaji sekaligus yang datang membawa makanan yang ada di depanku.
"Heheh!" aku tertawa kikuk guna mencairkan suasana yang sangat memalukan ini, apalagi pandangan mereka semua tertuju padaku.
"Ohw ya ampun sepertinya perutku sudah sangat lapar sampai-sampai berbunyi! Jadi kalian bertiga dalam hitungan 3 detik saya tidak mau melihat kalian berada di ruangan ini lagi, 1...2...3...." tutur Kevin mengusir hingga membuat pramusaji tersebut, berlari tergopoh-gopoh keluar dari ruangan ini.
Sedangkan aku masih melongo mendengar ucapan Kevin, yang seolah menganggap perut dia yang berbunyi.
Apakah dia mau menutupi rasa malu ku? Dia melakukan itu agar aku tidak merasa malu? Agaknya aku terharu lagi dengan perlakuannya itu, ini kedua kalinya Kevin melakukan sesuatu yang mampu membuatku merasa sangat terharu, bahkan aku hampir saja meneteskan air mata.
"Selamat makan Sal... Tidak perlu sungkan didepanku!" katanya mempersilahkanku.
"Kevin! Makasih ya"
"Makasih? Untuk apa?"
"Ya makasih aja! Aku tidak mau memberimu alasan karena pasti nanti kamu berfikiran aneh-aneh lagi!"
"Hah! Kamu nih ngomong apa! Udah... Kalau begitu kamu makan saja! Nanti makanannya jadi dingin!"
Aku mengangguk, kemudian mengambil sendok di samping piring, makanan di depanku ku santap dengan lahap sambil sesekali tersenyum.
Bahkan imej yang biasanya ku jaga, kembali ku abaikan apalagi di depanku hanyalah Kevin dan dia sendiri yang membiarkanku makan banyak sampai benar-benar kenyang.
"Sal...." panggil Kevin.
Tiba-tiba Kevin mengelap pinggir mulutku dengan tissue yang dipegangnya, mungkin dia risih karena wajahku sudah belepotan dengan makanan.
"Pelan-pelan saja makannya, tidak perlu terburu-buru nanti kamu tersedak sendiri! Makanan itu semua untukmu karena aku sudah kenyang sekarang! Kalau mau nambah kamu bilang saja! Biar aku memesannya lagi untukmu." pintanya.
Aku mengangkat tangan, mengarahkan telapak tanganku ke arahnya mengisyaratkan bahwa ini sudah cukup, sebab mulut tersumbat oleh makanan jadi aku hanya bisa memakai tangan agar dia mengerti.
"Baiklah kalau begitu santai saja makannya, lagian tidak ada yang akan merebutnya darimu!" kali ini aku mengangguk merespon nasehatnya.
Beberapa menit kemudian, makanan yang ada di hadapanku kini yang tersisa tinggallah sebuah piring kosong serta sendok.
Aku mengelus perutku yang terasa sangat penuh, seketika aku tersendawa membuat Kevin tertawa tapi dia menutup mulutnya pada saat melakukan itu.
"Ketawa aja Vin! Aku tidak marah kok!" kataku.
"Ehh kenapa kali ini kamu tidak melarangku?" tanyanya heran.
"Tidak apa-apa aku baru sadar aja! Sepertinya aku memang sering kali marah!" jelasku jujur.
"Hahah sepertinya makanan ini membuat mu sadar ya?" guraunya.
"Kalau begitu kamu mau kemana lagi?" lanjutnya masih bertanya.
Aku menyipitkan mata kiriku memandangnya, "Bukannya ini sudah sangat malam? Apa tidak sebaiknya kita pulang kerumah saja!" usulku
"Baiklah kalau begitu kita pulang sekarang! Lagian aku memang sudah sangat capek juga!" balasnya berdiri lalu merenggangkan tangannya.
Akhirnya kami sepakat untuk pulang, tapi Kevin harus pergi ke kasir terlebih dahulu untuk membayar, dan aku hanya mengekor di belakangnya.
Karena terlalu sangat kenyang, langkahku terasa sangat berat seakan berat badanku bertambah beberapa kilo dalam sekejap.
__ADS_1
Aku memandangi Kevin mengeluarkan dompetnya, mengeluarkan kartu kredit berwarna hitam.
"Itu bukannya black card? Kevin juga punya? Bukankah kartu itu hanya di miliki beberapa orang di dunia ini, bahkan kartu itu adalah kartu para anak orang kaya melintir layaknya seorang sultan?" batinku tak menyangka.
"Sal... Ayo...." ajaknya memanggilku.
Aku menurut saja, lagian aku tidak tau arah pulang kalau tidak mengikutinya, bahkan ini pertama kalinya aku menginjakkan kaki di tempat seperti ini.
Pada saat berada di dalam mobil, aku tetap saja tak bisa bergerak leluasa, seakan perutku ingin segera meledak.
"Vin... tunggu! sepertinya aku buang air Kecil dulu biar perutku tidak terlalu penuh!" ujarku.
"Kalau begitu, kamu masuk lagi kedalam disana ada ada toiletnya, kamu tinggal masuk aja terus belok kiri atau kamu bisa bertanya sama orang di didalam!" jelas Kevin memberi petunjuk sambil menunjuk kedalam restoran.
"Apa!!! jangan bilang, maksud kamu aku masuk sendiri ke dalam sana?" pekikku.
"Ya iya... kamu sekarang kan bukan lagi anak kecil yang harus di antar pergi ke toilet!" serkahnya.
"Tidak ada alasan! kamu harus menemaniku masuk kedalam, kalau tidak aku akan buang air kecil disini! " ancamku.
"Hah! baiklah-baiklah jangan pipis disini! nanti jadi bau! aku akan menemanimu masuk kedalam, tapi ingat aku hanya akan berjaga didepan pintu! "
"Emangnya siapa yang minta kamu menemaniku sampai masuk kedalam toilet? enggak ada kan! hadeh... udah deh... lebih baik kita pergi sekarang!" protesku.
ketika kami bedua masuk lagi kedalam, ternyata para penghuni restoran menatap kami, aku tau mungkin mereka heran kenapa kami kembali kesini.
***
Setelah semua beres, aku keluar dari kamar mandi, mencari-cari sosok Kevin yang katanya menungguku di depan pintu.
Aku mulai panik, apa jangan-jangan dia meninggalkanku karena terlalu lama di dalam toilet? kemudian aku bertanya ke beberapa orang yang ku temui namun mereka tidak mengetahui ciri-ciri yang ku berikan.
30 menit kemudian aku merasa putus asa, tubuhku mulai sangat lelah, tak mampu untuk berjalan lagi, mau pulang naik taksi tapi aku tidak punya uang sepeserpun.
Memandangi daerah sekitar, aku merasa benar-benar ditinggalkan, mataku berkaca-kaca memikirkannya, aku terduduk di depan pintu restoran. Sambil tertunduk pasrah, " Kenapa kamu duduk di situ seperti seorang pengemis!" seketika aku mengangkat wajah memandangi sumber suara itu
"Ahk Kevin... kamu dari mana aja? aku kira kamu pulang kerumah meninggalkanku sendirian di tempat ini!" kataku langsung bangkit dan memeluknya.
"Maaf! tadi aku pergi membeli air... tapi aku perginya hanya sebentar kok! kenapa kamu beranggapan kalau aku akan pulang kerumah meninggalkanmu disini?"
Aku melepaskan pelukan kami, "Kamu bilang cepat? Kevin... kamu pergi itu hampir sejam loh... dan kamu hanya pergi membeli air, sepertinya alasan kamu tidak masuk akal!" ungkapku tak bisa mempercayai omongannya.
"Sebenarnya aku pergi ke sebuah tempat! jadi aku agak lama tadi!"
"Oh... kalau begitu ayo kita pulang sekarang!" ketusku malas berdebat.
Kevin dan aku masuk ke dalam mobil, dia menyalakan mesin lalu melaju dengan pelan, "Vin sepertinya aku mengantuk, jadi aku mau tidur dulu, kamu bangunin aku kalau kita sudah sampai dirumah ya!" pintaku.
"Sal... aku juga kayaknya ngantuk hoah!!!" jawab Kevin menguap sambil menyetir.
"Apa!!! kamu juga mengantuk? tidak-tidak kamu tidak boleh berkendara di saat seperti ini! ahh kalau begitu kita bisa menginap di hotel saja!" ucapku setelah mendapat sebuah ide meskipun terdengar memiliki maksud tertentu.
Kevin menganggukan ucapanku, "Hn... kamu benar juga, kalau begitu ayo kita Chek-in hotel!" balasnya setuju.
Selang beberapa menit berlalu, Kevin menghentikan mobilnya di depan sebuah hotel, kami berdua masuk bersama-sama, namun bukan seperti pasangan pada umumnya, tapi aku sengaja menjaga jarak beberapa meter darinya.
"Selamat datang! mau pesan berapa kamar pak!" sambut resepsionisnya.
"Du... "
"Satu kamar!" Seketika Kevin memotong ucapanku.
"Maaf, kami pesan dua kamar!" serkahku cepat.
"Shutt Emangnya kamu punya uang berapa berani pesan kamar sendiri?" bisik Kevin memanfaatkan situasi.
"Ahk... Kevin!!!" lenguhku kesal tak bisa berkutik lagi
__ADS_1
"Kami pesan satu kamar!" Seka Kevin
Aku menghentakkan kaki, pasrah dengan keputusannya itu