Suamiku Dokter Dingin

Suamiku Dokter Dingin
Tidur Seranjang


__ADS_3

Jantungku berdetak dengan sangat cepat, bahkan nafasku menjadi tersenggal karena hal itu.


"Jadi apaan? Lo jangan nggak jelas gitu deh!" potongku penasaran tetap membelakanginya.


"Salsa... Kamu ini sudah dewasa bukan? Mestinya kamu juga tau soal ini! Mana mungkin seorang remaja lulusan SMA tidak tau! Atau.... Kau hanya pura-pura tidak tau?" ucapnya dengan nada menggoda.


"Ya-ya gue emang lulusan SMA! Tapi gue nggak paham sama soal gituan jadi gue nggak tau lah... " balasku gugup di iringi detak jantung yang tidak bersahabat.


Setelah aku mengatakan itu, ternyata tak ada lagi balasannya, hingga aku menyadari ada pergerakan di atas ranjang ini, tentunya aku sejak tadi diam membeku di pinggir ranjang, dan pastilah aku yakin bahwa itu Kevin.


Mataku berulang kali berkedip sambil melihat dari berbagai arah, sumpah saat ini aku sangat gugup pertama kalinya tidur seranjang dengan seorang laki-laki yang merupakan suamiku sendiri membuat jantungku seakan melompat keluar dari tempatnya.


Apakah ini yang di rasakan seorang wanita yang sudah menikah ketika pertama kali tidur seranjang dengan suaminya sendiri? Tapi ini seakan mau membunuhku, rasanya nafasku sesak karena detak jantungku ini yang tak karuan.


Tiba-tiba Kevin semakin mendekat, dia menarik rambutku yang terurai ke depan dan menyelipkannya di balik telinga, lalu menempelkan wajahnya ke wajahku.


Deru nafasnya sampai bisa ku rasakan, membuat tubuhku ini sontak menggelinjang, kemudian aku merasakan ada sesuatu yang menyentuh perutku.


"Sal... " panggilnya sekali lagi, namun berbeda dengan yang tadi, kali ini suaranya di sertai dengan nafas memburu, dan sangat menggoda.


Jiwaku seakan melayang-layang sekarang, pasalnya kini wajahnya menyatuh dengan wajahku, tangannya juga kini melingkar di perutku 180 derajat.


"Ke-kevin! Lo-lo mau ngapain?" tanyaku terbata tak bisa lagi bergerak, seolah terkunci dengan tubuhnya.


"Sal... Biarkan aku seperti ini, sebentar saja!" pintanya lirih.


"Ta-tapi Vin! Gue nggak nyaman sama posisi ini!"


"Please.... Kali ini aja!"


"Oke... Tapi cuman sebentar yah...."


Suasana kamar sangat hening dalam kegelapan, sesekali aku menutup mata mencoba untuk tertidur, namun berapa kalipun aku berusaha tapi tetap saja masih melek.


Mata ini seakan masih segar tanpa rasa ngantuk sama sekali, jantungku juga sejak tadi tak bisa berdetak normal, mungkin dia menyadari betapa gugupnya diriku saat ini.


Pada saat aku memejamkan mata sedikit lebih lama, Wajah Kevin berpindah ke belakang telingaku, di ciuminya leher jenjang serta menggigit ujung daun telingaku.


Sumpah aku kegelian, aku berusaha terduduk di atas ranjang, namun tangan Kekarnya tiba-tiba menghalagiku.


"Tidurlah Sal..." Ucapnya.


Aku menarik nafas panjang, ini tak bisa di biarkan aku sedang sakit dan seharusnya orang sakit butuh istirahat tapi dia mengganggu istirahatku.


Aku bahkan tak bisa tertidur karena dia ada di sampingku, akh sial...


"Kevin!!! Hidupin lampunya!" jeritku memerintah.


"Apasih Sal... Ini tuh tengah malam! Kamu tidak mau tidur! Ayolah aku sudah sangat mengantuk hoahhh!" lirihnya menguap.


"Pokoknya hidupin lampunya! Gu-gue nggak bisa tidur kalau gelap kayak gini!"


"Oke-oke aku akan hidupkan lampunya!"


Ketika dia sudah menghidupkan lampunya, penglihatanku juga ikut menyesuaikan dengan cahaya ruangan.


"Nah... Sekarang sudah menyala kan? Kalau begitu ayo kita tidur!"


Kevin kembali memelukku, tubuhnya sangat dekat denganku hingga bau tubuhnya bisa tercium oleh hidungku ini.


"Kevin!" panggilku lirih.


"Apa lagi Sal... " sahutnya dengan mata yang tertutup.


"Ngapain lo peluk gue?"


"Karena aku mau memelukmu! Mungkin ini sudah menjadi kebiasaanku, sejak kecil aku tidak bisa tidur tanpa memeluk sesuatu!" jelasnya setelah membuka mata.


"Ohh berarti elo juga pernah dong meluk Clara seperti ini! Kalian kan pernah pacaran sebelumnya "selidikku.


Tiba-tiba, dia melepaskan tangannya dari perutku, entah kenapa aku merasa kehilangan kehangatan yang baru saja melingkupiku.


Aku sebenarnya menginginkan kehangatan itu kembali ke posisi semula tapi aku malu memintanya langsung.


"Kamu cemburu?"


"Hah! cemburu? semacam apa itu? gue nggak mungkin lah cemburu sama siluman ular itu!" serkahku


"Ohh oke... Sal... Aku tidak pernah tidur seranjang dengan Clara, mungkin dia biasa memintaku melakukannya tapi aku selalu menolaknya dan beralasan sibuk atau harus pergi ke rumah sakit, bahkan ketika dia ada dirumahku dulu, aku memilih untuk pergi kerumah sakit dan disanalah aku menginap! Jadi orang pertama yang ku peluk itu kamu!" paparnya.


"Oh... Terus kenapa lo milih meluk gue? Kan ada tuh bantal guling di samping lo!" kataku masih tak menyangka.


"Karena guling itu tidak bernyawa Sal... Kalau kamu ya pastinya ada nyawa bukan? Jadi aku milih kamu!"


"Tapi... Guenya yang tersiksa Vin! Gue nggak nyaman di peluk sama lo!" tegasku jujur.


"Tenang saja, nanti juga akan terbiasa ya kan! Jadi kamu harus bisa menerimanya, ohh iya... kata orang tidak boleh menolak ajakan suami loh!" ucapnya melirik lalu mencolek hidungku.


"Apa sih Vin! Tangan lo nakal ihh... " lenguhku.


"Hahah colek hidung kok udah di bilang nakal sih! Sal... Tangan nakal itu bukan colek di situ loh... Tapi coleknya di.... "

__ADS_1


"Stop.... " potongku cepat dan langsung membekap mulutnya dengan tanganku.


"Mmk mmkk.... "gumamnya di balik tanganku.


"Diam deh Vin! Lo nyuruh gue begadang yah? Gue nih sakit tau!" keluhku kesal setelah melepaskan tanganku dari mulutnya.


"Hn... Ya udah Ayo kita tidur!" ajaknya seraya mulai menutup mata.


"Tapi gue nggak bisa tidur Vin! Gue nggak bisa tidur, haah!" regekku menendang selimut.


"Kenapa lagi hah?" kesal Kevin bangkit dan terduduk kembali di atas kasur.


Dia menatapku, sambil menggaruk wajahnya yang tampak kesal, terkadang menggaruk dan mengacak rambutnya.


"Gue nggak bisa tidur~"


"Aku punya ide! Apa kamu mau aku bernyanyi nina bobo agar kamu tidur? Aku paling jago nyanyi loh... Kamu mau?" katanya menawarkan diri.


"Nggak! Gue nggak mau sampai kapan pun gue nggak mau denger lo nyanyi, titik!" jawabku cepat menolaknya.


"Sebenarnya sih gue kepo juga ya sama suaranya! Tapi kalau misal dia nyanyinya jelek banget nanti gue bukannya tidur nyenyak tapi bakal mimpi buruk! Ohh jangan sampai itu terjadi!" batinku mengumpat.


"Kenapa?"


"Ya gue nggak mau aja! Lagian umur gue udah 18 tahun kok masih di nyanyiin lagu nina bobo sih... Kan malu-maluin, tapi gue udah tau caranya gimana biar gue bisa tidur!"


"Apa tuh!" tanya Kevin penasaran.


"Elo tidur di bawah! Gue di atas kasur hahah!" ucapku mengeluarkan pendapat


"Hah! Sal... Ini kamar aku loh... Jadi siapa yang berhak tidur di atas kasur?"


"Kevin! Lo tau nggak tamu itu raja, jadi elo harus nurutin permintaan gue! Lagian gue yang tamunya kan! Elo yang tuan rumahnya!" paparku berucap percaya diri.


"Tidak! Aku tidak setuju! Kalau kamu suruh aku pindah, lebih baik kamu pindah ke kamar kamu sendiri!" tolaknya lantang tak mau mengalah.


"Ahh Kevin! Lo kan tau badan gue sakit semua... Mana bisa gue kekamar sekarang...." geramku meraung kesal.


"Nah... Justru itu kamu harusnya malu karena berada di kamar orang!"


"Oke-oke elo menang! Kalau begitu elo tidur disini tapi jangan meluk gue! Dan siniin tuh guling yang ada di samping loh!" pintaku menunjuk ke arah guling.


"Kamu mau apa?" tanyanya heran tapi tetap saja guling tersebut di ambilnya.


Aku menaruh guling tadi tepat di pertengahan ranjang, sebagai pembatas antara kami.


"Ini batasnya, jadi elo nggak boleh lewatin nih batas kalau lo lewat gue bakal cincang-cincang daging elo! " ujarku menantang.


"Tapi Sal...." keluhnya memanggil.


"Oke siapa takut!" balas Kevin merasa tertantang


Kemudian aku memutar posisi membelakanginya, sambil tersenyum memikirkan sesuatu.


"Ehheh dasar bodoh! Pastinya gue yang menang dong! Badan gue kan sakit semua nggak bisa di gerakin jadi nggak mungkin dong bisa lewatin tuh batas wkwkw" batinku.


***


Keesokan harinya, udara dingin seakan menusuk masuk ke pori-pori kulitku, perlahan mata yang yang terasa berat ini ku paksakan untuk terbuka.


Dan seketika mataku terbuka lebar menyadari ada sesosok wajah nan rupawan yang sangat dekat dengan wajahku.


Dia Kevin, matanya masih tertutup dengan hembusan nafas teratur mematul di wajahku, "Selamat pagi...." sambutnya hangat setelah membuka mata dan menyadari aku yang menatapnya.


Sambutan itu, seakan membuatku merasakan hal aneh seperti ada bunga yang baru saja bermekaran dan serbuk wanginya terbang mengitariku.


Aku ingin tersenyum akan tetapi perasaan malu ku lebih tinggi untuk saat ini, hingga aku terduduk menyembunyikan wajahku yang mulai terasa panas dengan rambut.


"Kamu malu Sal?"


"Si-siapa yang malu, gu-gue nggak malu tuh... Lo nya aja yang geer!" serkahku gagap.


"Ohh.... " balasnya singkat, dan padat.


Aku menarik nafas dalam-dalam berusaha menahan malu kemudian berbalik badan dengan berani menatapnya.


Ternyata dia juga menatapku, alisnya terangkat sebelah kiri, "Ada apa?" tanyanya menyeringai.


"Heheh Kevin! Kenapa elo lewatin batasnya? Lo tau kan maksud gue semalam apa!, siapa yang lewatin berarti dia harus nurutin kemauan si pemenang, nah... Karena gue yang menang berarti elo harus siap turutin semua mau gue, jadi pembantu gue sehari full... elo mijitin gue, masakin gue, cuciin baju kotor terus setrika dan masih banyak lag.... "


"Tunggu dulu... Kayaknya kamu belum bangun dari mimpi indah mu itu deh... Seharusnya sebelum kamu bangun kamu lihat dulu siapa yang lewatin batasnya!" ucapnya memotong omonganku


Dengan secepat kilat aku menoleh mencari-cari bantal guling yang semalam ku jadikan sebagai pembatas.


Namun ternyata guling tersebut entah mengapa kini tergeletak di bawah samping ranjang.


"Oh... My God, jadi semalam gue yang tidurnya kelewat batas? Nggak mungkin! Badan gue kan sakit mana bisa gerak leluasa? Wahh kayaknya ada yang curang ini!" batinku curiga.


Kembali ku tatap Kevin yang tengah berbaring dengan kedua telapak tangan berada di belakang kepalanya menggantikan bantal.


"Hahah elo curang ya? Masa gue yang lewat sih! Gu-gue mana mungkin bisa gerak kesini kecuali elo yang narik gue kesini ya kan?"

__ADS_1


selidikku dengan terus menatapnya serius.


"Kamu mengaku kalah saja, tidak usah beranggapan seperti itu, jadi berarti aku yang menang dong! Nah... Sekarang kamu harus turutin kemauan aku, tapi tenang saja, mau aku cuman minta satu hal tidak lebih yaitu kamu harus menciumku sebagai ucapan selamat pagi!" pintanya tersenyum menggoda.


"Apa!! Cium? Nihh orang hobinya mungkin minta cium kali ya, dia dokter tapi fikirannya selalu mesum nggak mikir dulu apa!" pekikku dalam hati menggerutu.


"Kevin kenapa harus cium? Kan masih banyak yang lain?" lirihku menolak.


"Itu kan mau aku! Dan yang kalah harus mau, tadi malam kamu sendiri yang bikin tantangan ini!" jelasnya


Aku menunduk, kata-katanya memang benar, tapi kenapa harus minta cium? Jelas ini masih pagi baru saja bangun belum cuci muka bahkan berkumur belum, apa menurutnya ini tidak terlalu menjijikkan?fikirku.


"Kevin! Gue bukannya mau ngelanggar ya! Tapi itu loh ini kan masih pagi kita belum sikat gigi atau apa! Lo nggak jijik soal bau mulut?" ucapku bergidik


Kevin mengangkat sebelah bahunya sambil berkata, "Aku tidak masalah selagi itu kamu kenapa aku harus merasa jijik."


"What! Dia sama sekali nggak bisa di tolak deh kayaknya, tapi gue yang nggak mau nyium dia sumpah!" lenguhku dalam hati.


"Kevin... " panggilku dengan nada manja.


"Karena takutnya kamu tidak mau memberikannya, jadi aku ambil sendiri!"


Cup....


Seketika Kevin meraih daguku, dan mendaratkan bibirnya tepat di bibirku, Ucapan yang tadinya ingin ku sampaikan sekarang tak jadi dan langsung menghilang dari fikiranku.


Aku kaget bukan kepayang, ciuman itu hanya sekilas tapi mampu membuat jantungku seakan berhenti berdetak beberapa saat.


Aku memegang bibirku bekas ciumannya, sedangkan dia berdiri dan melangkah ke kamar mandi tanpa mengucapkan sepatah katapun padaku.


Sesaat kemudian aku mendengar suara percikan air dari balik pintu kamar mandi, kini aku kembali merebahkan tubuhku dengan tangan yang masih memegang bibir.


"Apa itu tadi? Apa gue cuman berhalusinasi lagi? Kevin nyium gue, dan gue kenapa nggak nolak atau marah sama dia? Kenapa! Kenapa! Kenapa!!!" tanyaku risih dengan diriku sendiri.


Aku gugup! Hanya bisa memukul-mukul kasur sambil menutup mata menggeleng-geleng kepala dengan semua adegan yang sangat tiba-tiba ini.


Hingga suara percikan air berakhir aku kembali gelisah, berfikir bagaimana aku harus bersikap di depan Kevin setelah dia keluar apa aku harus marah karena dia menciumku? Atau apa?


Otakku seakan tak bisa untuk mendapatkan ide, jadi aku memilih menarik selimut dan bersembunyi di balik selimut itu.


Ceklek...


Pintu kamar mandi terbuka, terdengarlah suara langkah kaki yang menggema mengisi kamar ini, langkah kaki itu kini seirama dengan detak jantungku semakin dia mendekat detak jantungku bertambah cepat.


Tak ada yang bisa ku lakukan, berada di balik selimut membuat tubuhku seakan terbakar dengan kegugupan, layaknya orang yang berolahraga di pagi hari, keringat bercucuran membanjiri wajah serta punggungku.


"Sal... Kamu kenapa?" tanya Kevin mencoba menarik selimut yang menutupi seluruh tubuhku.


"Ng-nggak gue cuman mau tidur lagi! Gue masih ngantuk gara-gara elo banyak bac*d tadi malam!" cibirku di balik selimut.


"Ohh aku kira kamu hanya malu dan tidak mau melihat tubuhku yang sexy ini"


"Hah! Sexy? Cuihh... Se sexy apaan? perutnya buncit tapi ngakunya sexy... ehh tapi kayaknya nggak deh... bukannya dulu gue pernah lihat tubuh dia ya? terus tubuhnya sekarang udah kayak gimana?" batinku


Ahh sial gue kepo banget sekarang mau lihat dia! Tapi.... Gue masih malu.... " gumamku melenguh.


"Udah sana... Gue nggak minat lihat tubuh lo yang kayak banci itu...." ejekku sok tau.


"Apa! Kamu bilang apa tadi, Banci? Sal... Lebih baik kamu lihat sendiri apa aku terlihat seperti banci hah! " serkah Kevin terdengar kesal.


"Nggak! gue nggak mau Vin, lo jangan maksa gue dong kan gue sebelumnya udah lihat tubuh lo, jadi sekarang gue nggak mau lagi!"


"Tapi itu dulu Sal...sekarang sudah lebih menggairahkan loh... " katanya menggoda.


"Nggak! Nggak! Nggak dan enggak! " jawabku cepat.


"Ayolah Sal...." ajaknya lagi berusaha menarik selimutku.


Hingga kami saling menarik selimut beberapa kali, namun kemudian dia berhenti kufikir dia hanya kelelahan dan sudah menyerah.


"Sal... Ada kecoa di selimut kamu!!! " Teriak Kevin membuatku langsung panik.


"Ahh mana? Mana kecoanya....gu-gue takut


Sama kecoa Vin!" ujarku berteriak histeris ketakutan membuka selimut dan melompat turun dari ranjang.


Hahah


Kevin tertawa lepas sedangkan aku masih celingak-celiguk mencari keberadaan kecoa tersebut tanpa tau apa maksud dari tertawanya


"Tunggu! Vin... Lo nggak lagi ngerjain gue lagi kan?"


"Hahah Lagian kamunya tidak mau bangun! Jadi sekali-kali bolehlah prank kamu! " candanya.


"Nggak! Ini nggak lucu, lo tau nggak sih gue nggak suka sama kecoa!!!"


"Oke-oke maaf! Ohh iya karena kamu sudah berdiri! Sekarang kamu lihat aku!" pintanya


Bukannya menurut, aku hanya memalingkan wajah, "Apaan! Gue nggak mau! " ketusku.


Tiba-tiba dia menaruh kedua tangannya di pundakku memutar tubuhku hingga sepenuhnya menghadap ke tubuhnya yang masih sedikit basah.

__ADS_1


Aku kembali tertegun untuk kedua kalinya ketika melihat tubuh yang sangat menggiurkan itu, bahkan di tubuhnya seakan memancarkan cahaya-cahaya yang mampu membuat mataku terpukau.


Wow... Hasratku kini berkata lain, hanya terus menelan ludah sendiri menikmati pemandangan yang terlihat jelas didepanku.


__ADS_2