
.
.
.
Tok tok tok
Mama mulai mengetuk pintu ruangan Kevin, matanya berbinar bahagia ketika tau Kevin adalah kunci terakhir untuk menyelamatkanku.
"Masuk!!! " jawabnya dari dalam
"Kevin!!!" panggil mama kepada Kevin yang sedang sibuk mencatat sesuatu.
"Akh tante, ada apa tante kesini? " ujar Kevin dengan mengangkat sebelah alisnya.
"Begini nak Kevin!, Salsa masuk lagi dirumah sakit ini dan dia membutuhkan banyak darah, kata dokternya darah nak Kevin cocok dengan Salsa" mama menunduk dengan meremas-remas jemarinya sendiri.
"Kenapa saya harus memberikan dia darah saya!" ucap Kevin terdengar dingin!
Mama mengangkat kepalanya, dia terlihat heran dengan Sikap Kevin.
"Apa maksud kamu Kevin?"
"Akhh tidak apa-apa tante, Kevin cuman bercanda!" Lagi-lagi muka datar itu ia pasang selagi berbicara dengan mama.
__ADS_1
Mama masih heran, pasalnya ucapan kevin yang tadi terdengar bukan seperti orang bercanda.
"Ohh iya tante, bagaimana kalau aku sudah mendonorkan darah, dan Salsa sudah sadar, aku mau langsung melakukan resepsi pernikahan"
Ucapan Kevin sontak membuat mama tercengang, ia tak habis fikir bagaimana bisa orang yang baru saja keluar dari rumah sakit dan langsung melakukan resepsi pernikahan.
"Tapi Vin...! Salsa kan belum sepenuhnya sehat kalau baru keluar dari rumah sakit!"
"Kalau tante tidak mau melakukannya!, berarti aku juga tidak mau mendonorkan darah untuk Salsa! " ucap Kevin dengan berdiri lalu melangkah mendekati mama.
"Hah, Baik tante akan bicarakan hal ini sama Ayahnya Salsa dulu! "
Mama kemudian pergi meninggalkan tempat Kevin dengan terburu-buru, Kevin yang masih berada diruangan itu menyunggingkan bibirnya.
***
Clekk
Seketika ayah yang berada didalam kamar berlari kearah Mama, menantikan kabar yang ia tunggu sedari tadi.
"Gimana Ma.., Kevin setuju? " Tanya Ayah namun Mama terdiam, sesekali memandang kearah lain, beliau sangat gelisah, takut akan bagaimana menceritakan semuanya kepada Ayah.
"Mama, ada apa? Kevin mau? "
Ayah mengerutkan dahi. "Ada yang perlu mama omongin sama Ayah! "
__ADS_1
Mama mengajak ayah untuk keluar dari kamar, mereka duduk, sesekali mama menunduk dengan kembali meremas-remas jemarinya.
"Ayah, kalau Salsa sudah bangun kita langsung melakukan resepsi pernikahannya ya , tidak usah melakukan acara pertunangan" ujar mama sontak membuat ayah menatap heran.
"Kenapa mama bisa berfikiran seperti itu? " jawab ayah dengan dahi berkerut menatap mama.
"Mama cuman mau lihat Salsa bahagia kok!"
"Tidak.. ayah tidak mau, kita harus menggelar acara pertunangan terlebih dahulu! " ucap ayah yang langsung berdiri dan melangkah meninggalkan mama
"Meskipun ayah tidak mau, mama tetap akan melakukannya" teriak mama dengan lantang yang bahkan membuat banyak orang dirumah sakit itu memandangi mereka.
Ayah berhenti, lalu berbalik kearah mama.
"Sini kamu.... " ayah menyeret mama masuk kedalam kamar ruang inapku.
"Lepas... Ayah, tangan mama sakit! " mama menghempaskan tangannya hingga cekalan ayah terlepas.
"Lihat.... Lihat anak kamu sekarang..., apa dia terlihat baik-baik saja? Tidak kan? Kamu itu seorang ibu dan dia adalah anakmu, apa kamu tak bisa memikirkan bagaimana perasaannya jika tau dia langsung bersuami setelah baru sadar?" ayah menunjukku sembari melotot kearah mama.
.
.
.
__ADS_1
.
NEXT..???