
Aku menggertakkan gigi penuh emosi, lalu melepaskan tangannya dari perutku, tapi tangannya kini ku pegang erat sangat erat hingga aku merasa langsung menyentuh tulangnya kemudian berbalik badan.
"Cukup Clara! Cukup! Batas kesabaranku sudah habis sekarang! Aku tidak mau bermain-main denganmu, aku sudah tidak punya perasaan lagi sama kamu!" tegasku.
Dia meringis kesakitan karena cekalan tanganku memanglah sangat kencang sampai pinggir cekalanku memutih dikulitnya.
Tapi aku sama sekali tak perduli malah mempereratnya lagi dengan sangat keras, "Ahkk... Vin! Tangan aku sakit! Lepasin.... " lenguhnya.
"Ohh... Kamu baru merasakan sakit? Ini belum seberapa di banding penghianatan kamu Clara!!!"
"Kamu juga tidak pernah tau bagaimana perasaan aku karena tidak bisa lagi bersamamu Vin!" jelasnya dengan linangan air mata.
"Ohh... Jadi kamu menyalahkan aku Karena tidak tau perasaanmu? Kamu seharusnya sadar diri Clara! Dalam posisi apapun kamu seharusnya menjaga kehormatan kamu sebagai seorang wanita, tapi apa kamu tega selingkuh dan menghianati aku!"
"Kevin!" Clara mencoba meraih tanganku namun aku dengan secepat kilat menepisnya.
"Sekarang kamu keluar!" perintahku.
"Vin! Dengarin alasan aku dulu kenapa aku sampai menikah sama kakak sepupu kamu!" pintanya.
"Tidak perlu, aku sudah tau alasannya!" elakku.
"Tidak! Kamu belum tau semua yang terjadi Vin!" serkahnya menggeleng kuat.
"Walaupun kamu berbicara panjang lebar, aku tidak akan percaya kecuali aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, Lebih baik sekarang kamu keluar!!!"
Dia hanya tertunduk diam, dalam kondisi masih terisak-isak sesegukan, "Aku bilang keluar!" teriakku
Aku semakin kesal dengannya apalagi ketika ku usir dia tak mau bergerak hingga aku sendiri yang menyeret dan mendorongnya keluar hingga depan pintu kamarku.
Aku kembali masuk, mondar-mandir di samping ranjang, tiba-tiba aku mengendus dan mencium wangi parfum Clara melekat pada pakaianku.
Aku merasa jijik, lalu melangkah masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan diri, pakaian yang tadi ku pakai dan disentuh oleh Clara ku buang ke tempat sampah.
Setelah mandi, aku kembali berpakaian dan mengambil kunci mobil, aku pergi mengendarai mobil menuju ke sebuah hotel.
Ini karena aku tak mau seatap dengan Clara, takutnya dia melakukan hal yang tak terduga seperti seorang ular yang senantiasa ingin mengigitku.
Meskipun matahari sudah hampir terbit aku sama sekali tak perduli, malah ini lebih baik dan seterusnya akan ku lakukan sampai Salsa mau pulang bersamaku.
Ketika sampai di sebuah hotel mewah berbintang yang berada sangat dekat dengan rumah sakitku, aku langsung di sambut hangat, mungkin karena aku adalah orang terkenal dan juga pemilik hotel ini sebenarnya adalah rekan mama jadi fasilitas yang mereka berikan tentunya yanh terbaik.
***
Tiga hari tiga malam aku berada di hotel ini tanpa pernah pulang kerumah dan karena kesibukan yang menumpuk di rumah sakit hingga pergi kerumah Salsa juga tidak bisa.
Tapi untunglah hari ini semua urusan di rumah sakit sudah selesai, jadi untuk sekarang mungkin lebih baik aku kerumahnya lagi untuk membujuk agar dia mau pulang.
Apalagi tadi malam Mamanya Salsa menelfonku dia bilang, Salsa sudah berkata "iya!" dan akhirnya aku merasa sangat bahagia.
Tiba di rumah Salsa, ternyata kopernya sudah berada di depan kamarnya, "Mah, Mama bilang apa sama Salsa sampai di mau?" tanyaku kepada mama yang berdiri tepat di sampingku.
"Hn... Nggak banyak sih... Cuman mama ancam dia, mama bilang kalau dia masih nggak mau, mama akan hapus namanya di kartu keluarga kami! Heheh akhirnya dia tidak bisa lagi apa-apa, gimana? Mama pintar kan!" jawab mama membuatku tercengang dengan pernyataannya.
"Wow... itu namanya keterlaluan!!!, tapi ya sudahlah dia melakukannya juga karena aku!" ucapku dalam hati.
Aku tertawa kikuk, "Hahah iya mah... Tapi Salsanya kemana?" aku bertanya lagi karena sejak tadi aku tidak melihat Salsa dan yang ada hanya kopernya saja.
"Ohh Salsa kayaknya baru siap-siap! Bentar lagi pasti dia keluar! "
Selang beberapa menit, pintunya terbuka, Salsa keluar dengan penampilan yang sangat cantik, rambutnya dibiarkan terurai bergelombang menampakkan sosoknya yang feminim, tapi ekspresinya masih terlihat marah, namun dia masih cantik tanpa tersenyum bahkan dia terlihat lebih imut membuatku gemas.
"Salsa! Makasih karena kamu sudah mau bersedia pulang bersamaku!" imbuhku bersikap lembut sembari memberikan senyum termanis yang ku bisa.
Dia memalingkan wajah, "Lo jangan Geer deh, gue cuman di paksa sama mama, kalau elo sih berapa kalipun elo maksa gue ogah tuh pulang bareng lo! " ketusnya.
"Iya, aku bisa mengerti itu!, ya udah ayo kita pulang sekarang!"
"Bawain koper gue!!!" suruhnya
Salsa sangat cuek padaku, bahkan ketika ia menyuruhku membawa kopernya dia bahkan tak menoleh sedikitpun padaku.
Meski mamanya menegur, dia malah tak perduli, yah... Mungkin beginilah jadinya jika menikahi seorang wanita yang keras kepala bagaikan batu.
Dengan pasrah aku membawakan kopernya, setelah berpamitan dengan mama, dia langsung berjalan ke arah mobilku.
__ADS_1
"Salsa... Jangan selalu memasang rauk muka seperti itu! Nanti cepat kerutan loh... Nanti kalau misalnya kita jalan bareng takutnya kamu yang kelihatan tua dari pada mama hahah! " cibir mamanya di sela langkah kami.
Salsa langsung berhenti dan menoleh, "Mama!!! Kalau sampai itu terjadi, Salsa bakal salahin Kevin karena dia yang bikin Salsa kayak gini mah!" Keluhnya menyebut namaku.
"Hahah sudah Sal... Mama hanya bercanda! Jangan begitu terus ihh... Kamu masih muda loh... Jangan sampai punya penyakit darah tinggi!" canda mamanya lagi, sedangkan aku hanya tersenyum tipis melihat pertengkaran mereka.
"Ngapain lo senyum-senyum!" bentak Salsa yang ternyata menyadari tingkahku.
"Hushh... Salsa! Kamu nih seenaknya bentak-bentak suami sendiri! Seharusnya tuh kalian saling menyayangi biar mama bisa secepatnya gendong cucu umm...." Lirihnya membuat aku serta Salsa terkejut.
"Tapi sorry ya mah! Kayaknya harapan mama nggak bakalan terjadi deh! " nyinyir Salsa.
"Kami janji akan berusaha secepatnya mah!" serkahku dengan cepat.
Salsa tampak kaget, matanya melotot memandangiku, tapi aku membalasnya dengan senyuman.
"Kevin! Lo jangan asal bicara yah!" ucapnya kesal sambil menghentakkan kaki
"Siapa yang asal bicara? Aku serius!"
"Uwwuu cie... Kalian yang saling menggoda kok mama kayak ngiri ya? Auah mama nggak denger! haha!" seka mama ditengah pembicaraan kami.
"Siapa yang saling menggoda sih mah! Udah ahh Salsa mau pergi sekarang!"
Setelah itu akhirnya kami bisa pergi, aku yang membawa kopernya masuk ke bagasi mobil sedangkan dia langsung masuk duduk di kursi tengah.
"Berapa kali aku harus menegurmu! Jangan duduk dibelakang, tapi di depan!" ujarku kesal.
"Udah deh vin! Lo nggak usah banyak bac*d lagi! Udah bagus gue berubah fikiran mau pulang bareng lo kan?"
"Tapi tetap saja aku tidak suka, jadi sekarang kamu pindah kedepan!" suruhku.
"Lo kok ngotot sih! Kalau lo tetap maksa! Mending gue nggak pulang aja sekalian!!!" balasnya ketus.
Aku semakin geram, namun kali ini aku berusaha menahannya demi dia, "Oke-oke aku mengalah!"
Beberapa menit berlalu, mobil dalam suasana hening, terkadang aku pura-pura menoleh kesamping, tapi sebenarnya ekor mataku meliriknya di belakang.
Aku melihatnya seperti orang yang sangat mengantuk, sesekali dia menutup mata hingga rambutnya mengibas kedepan menutupi wajahnya.
Dia sangat lucu membuatku ingin tertawa, dan ketika aku menyadari dia sudah terlelap, aku merasa tenang, tapi dia masih sering bergerak seperti merasa tidak nyaman.
Setelah itu aku menyandarkan tubuhnya di kursi, lalu memasangkan sabuk pengaman karena ku lihat dia dengan cerobohnya tidak memasangnya mungkin lupa atau memang sengaja aku juga tidak tau!
Kini posisinya sudah lebih baik tapi aku masih merasa risih dengan pakaiannya sekarang, yang panjangnya sampai lutut saja, dan sekarang ketika ia terduduk pakaian itu terangkat hingga ke pangkal pahanya.
Aku tak punya pilihan selain menutupinya, jadi aku membuka Jas yang ku pake lalu menutupnya.
Ternyata di melenguh, membuatku mendengus sambil tersenyum tipis.
"Dasar! Perempuan merepotkan!" gumamku mencibir.
Sesaat kemudian aku kembali menyetir dengan tenang, terkadang aku cengar-cengir tanpa tau alasannya.
***
Ketika sampai di rumah, aku dengan sangat pelan-pelan membuka bagasi, mengeluarkan kopernya dan menutupnya kembali, semua itu kulakukan agar dia tidak terbangun.
Sampai-sampai, aku mengangkat kopernya hingga ke teras rumah hanya karena takut suara dari roda koper membangunkannya.
Saat aku hendak memegang gagang pintu, tiba-tiba pintunya terbuka lebar dan ternyata itu adalah Clara yang memakai baju tidur yang sedikit kebesaran hingga hampir menampakkan belahan dadanya.
Aku hampir lupa dengan Clara yang selama ini menginap dirumahku, dan lebih gawatnya lagi aku tidak pernah memberitahukan pada Salsa sebelumnya, apalagi saat ini dia sedang tidur di dalam mobil.
Bagaimana ini?
Bagaimana jika dia salah paham? Apa yang akan dia fikirkan jika tau Clara menginap di tempat kami?.
Pertanyaan itu seketika muncul semua dalam otakku.
"Kevin! Akhirnya kamu pulang! Aku sudah menuggumu! Kamu dari mana saja?" tanyanya dan langsung memelukku.
"Kenapa kamu pergi Vin! Apa kamu menghindariku karena malam itu? Maafkan aku yah!" lanjutnya lirih.
"Clara lepaskan tangan kamu! Menjauh dariku sekarang juga!" perintahku.
__ADS_1
"Tunggu dulu Vin! Biarkan aku memelukmu sejenak agar rinduku selama ini berkurang!" balasnya.
Tanpa belas kasih lagi, aku mendorongnya hingga terhempas ke dinding pintu, "Ahh... Vin! Kenapa kamu mendorongku, kepalaku sakit! Ahh sepertinya berdarah Vin!"
"Tidak usah pura-pura, aku tau kamu tidak terluka, Ohh iya aku mau kamu segera tinggalkan rumah ini." ujarku dingin.
"Lohh... Kenapa Vin! Aku sudah sangat nyaman tinggal dirumah ini! Please beri aku waktu lagi untuk menginap yah!"
"Sudah cukup Clara, cukup!!! sekarang masuk bereskan barang-barangmu lalu pergi!"
Clara menatapku dengan mata sayu, dia seolah ingin merayuku lagi, tapi sayang sekali karena saat ini amarahku kembali muncul.
Dan benar saja Clara kembali memelukku dengan sangat erat berbeda dengan yang tadi, kali ini dia mengoyang-goyangkan tubuhnya sambil memelukku seperti anak kecil yang merengek ingin di belikan permen.
"Ka-kalian ngapain?"
Suara itu sontak membuat tubuhku terlonjak dan memisahkan diri dari pelukan Clara, ternyata itu Salsa yang berdiri di samping mobil memegang jasku, di iringi air mata di pipinya yang terus mengalir.
"Sa-salsa? Ini tidak seperti yang kamu fikirkan!" kataku mencoba menjelaskan.
"Salsa, akhirnya kamu pulang juga! Kakak rindu banget sama kamu loh, ohh iya kamu dari mana sih?" ucap Clara tanpa merasa bersalah sedikitpun lalu menghampiri Salsa.
Tadinya Clara ingin memeluk Salsa tapi dengan cepat Salsa mengindar.
"Gue tanya! Kalian tadi ngapain hah?" teriaknya lantang.
"Aduh Salsa! Bukannya tadi kamu lihat sendiri kami lagi apa? Terus kenapa bertanya lagi? Ohh iya kakak sudah masak di dalam, yuk kita masuk! Sebenarnya itu makanan aku masak untuk Kevin tapi untungnya aku masak banyak jadi kita bertiga pasti masih bisa kenyang!" tutur Clara layaknya seorang nyonya besar di rumah ini.
"Clara Diam!!! Siapa yang menyuruhmu bicara seperti itu hah!" gertakku.
"Loh...kok kamu bentak aku sih Vin! Aku kan cuma menyambut kedatangan Salsa doang!" jelas Clara lagi.
Aku muak! Dengan semua perkataan Clara, dan sepertinya Salsa juga merasakan hal yang sama.
Terlihat dari kepalan tangannya yang sangat erat, "Kak Clara, sejak kapan kakak nginap di sini?" Tanya Salsa menahan emosi.
"Mm... Belum lama sih Sal... Sekitar 3 atau 4 hari lah... Terus waktu malam Setelah kejadian itu di kamar Kevin, Kevinnya langsung pergi nggak tau kenapa, emangnya kenapa kamu bertanya soal itu Sal?" jawab Clara seperti orang yang memprovokasi.
"Kejadian malam itu? Maksudnya apa kak?" tanya Salsa heran
"Aduh! Salsa... Maaf yah ini urusan orang dewasa jadi jangan salahin Kakak kalau tidak memberitahumu sekarang yah!" balas Clara dengan sangat santai.
Aku menggertakkan gigi, tidak bisa lagi menahan emosiku, hingga aku menghampiri mereka berdua.
"Clara, apa kamu tidak bisa mengerti bahasa manusia? Aku bilang diam!!!" bentakku lagi.
"Ohh... Jadi kak Clara menganggapku masih seperti bocah ya? Tapi sorry ya kak sepertinya kakak yang bocah deh, belum tau yang namanya tidak tahu malu!" Sindir Salsa.
Aku tercengang dengan ucapan Salsa, kufikir dia akan murka dan menghajar Clara tapi ternyata tidak dia sangat tenang menghadapi Clara.
Prok prok prok
Clara bertepuk tangan sambil tertawa, "Hahah Vin! Ternyata istri kamu yang masih di bawah umur ini sangat berani melawanku yah... Wowow aku salut loh!"
Salsa membalasnya dengan tertawa juga, "Hahah Wkwk, Kevin! Apa mantan kekasihmu ini sudah rabun ya? Atau bodohnya sudah tidak bisa tertolong lagi, sampai-sampai dia tidak tau kalau istrimu ini sudah memiliki KTP?" cibir Salsa.
Aku yang berdiri di antara mereka hanya bisa melihat dan menyaksikan bagaimana reaksi dan keberanian Salsa dalam menghadapi mulut super berbisanya Clara.
"Salsa!!! Beraninya kamu!!!" kesal Clara mengepalkan tangannya.
"Kak Clara kenapa? Sudah tidak bisa berkata-kata lagi? Atau... Sudah tidak punya nyali lagi melawanku?"
"Cih! Kamu jangan sok tau! Aku hanya tidak mau melukai kamu yang masih bocah dan bau kencur ini!"
Plak
Seketika Salsa mendaratkan tamparannya tepat di wajah Clara hingga meninggalkan bekas memerah.
"Tapi aku yang masih bau kencur ini berani loh melukai siluman ular yang berani melawan aku!" kata Salsa masih sangat tenang.
"Salsa! Berani-beraninya kamu menamparku!" geram Clara.
"Haha kan tadi aku sudah mengatakannya dengan sangat jelas, tapi kenapa kakak malah memintaku mencobanya?"
"Salsa!!!" kesalnya lagi.
__ADS_1
"Kenapa lagi kak? Masih mau merasakannya? Salsa siap banget loh... Nih tangan aku udah gatal banget dari tadi kirain mau dapat duit ehh ternyata dapatnya yang lebih berharga yaitu seekor siluman u-lar!!!" ejek Salsa.
Tiba-tiba Clara hendak melayangkan tangannya ingin menampar Salsa, dengan secepat Kilat aku menahan tangannya sebelum menyentuh wajah Salsa.