Suamiku Dokter Dingin

Suamiku Dokter Dingin
Menyebut Namanya


__ADS_3

SALSA POV.


Dirumah Kediaman Willy.


Selama seminggu terakhir, aku sama sekali tak pernah keluar rumah, bahkan menginjak teras rumah milik Willy saja tak pernah.


Hal yang kulakukan hanyalah membersihkan bagian dalam rumah, makan dan tidur hanya itu saja.


Kebutuhan sehari-hari di tanggung oleh Willy termasuk berbelanja, meskipun terkadang ada rasa segan, namun Willy selalu membuatku merasa nyaman hingga rumah miliknya ini serasa milikku juga.


Walau seperti itu, ada rasa tak nyaman meninggalkan orangtua, aku merasa sangat jauh dari mama padahal jarak kami tak kurang dari 1 kilometer.


Akan tetapi rasa takut masih mengeruguti tubuhku, takut di marahi oleh mama dan ayah serta tak ingin lagi rasanya melihat tampang bodohnya Kevin


"Sal...." panggil seseorang membuka pintu, yang tak lain adalah pemilik rumah membawa beberapa kantong plastik berwarna hitam berisi sayuran dan lain-lain.


"Elo dari pasar Vin?" tanyaku tercengang menatap belanjaannya yang di jinjing.


"Hmm... Gue cuman beli sayur sama kebutuhan lain Sal..." ujarnya mengangguk.


"Kok banyak banget? Kayak orang mau pesta aja!"


"Ya nggakpapa mumpung lagi ada uang kan! Lumayan bisa buat stok seminggu kedepan tuh!" serkahnya.


"Cie jadi sekarang ceritanya elo udah sombong nih!" ejekku padanya.


"Gue nggak masalah! Kan cuman elo disini, lagian gue lakuin ini biar elo nggak kurus terus Sal...." katanya membalas ejekkanku.


"Nggak usah bahas soal kurus! Gue sadar diri oke...." balasku ketus.


"Hahah iya-iya nyonya... Elo duduk aja biar gue yang masak!" imbuhnya menawarkan diri.


"Ehh gue aja! Kan gue tamu disini! Masa elo sendirian yang masak, kan gue nggak enak sama lo!" lirihku.


"Sal... Berapa kali gue harus bilang, anggap aja rumah ini rumah lo juga, gue sama sekali nggak nganggap lo tamu kok!" serkah Willy memandangiku serius.


"Kalau gitu gue harus ngapain?"


"Duduk aja!" ucap singkat Willy tersenyum lebar.


"Terus?".


"Lihatin gue masak!" balasnya lagi.


"Terus!" ujarku lagi.

__ADS_1


"Jangan terus-terus doang! Nanti kejedot tembok!" candanya.


"Apaan sih... Nggak nyambung banget!" ketusku dengan ucapannya.


"Hahah udah...elo duduk aja! Biar gue yang masak!"


***


Pada akhirnya aku hanya duduk di kursi meja makan menyaksikan Willy mulai sibuk dengan bahan sayuran, memotong-motong layaknya Chef.


Namun kemudian aku teringat sesuatu, "Will kenapa lo nggak kekampus? Bukannya hari ini kita udah kuliah umum ya?" ujarku bertanya


"Gue sengaja nggak pergi!" jawabnya cepat disela kesibukannya.


"What! Kenapa?" pekikku.


"Karena elo juga pastinya nggak mau pergi kan? Yah... Jadi gitu deh...."


"Kan ini masalah gue Will, bukan masalah lo!" protesku.


Seketika dia menghentikan aktivitasnya lalu berbalik ke arahku, "Masalah lo masalah gue juga, lo nggak pergi gue juga nggak bakal pergi, lo sukses gue usahain sukses juga biar kita sama-sama berada di puncak!" prinsip Willy membuatku tercengang.


"Lo gila ya Will... Nanti orangtua lo marah gara-gara gue! Masa depan lo juga nggak pasti kalau kayak gini! Jadi lebih baik besok elo ke kampus sebelum semuanya terlambat!" tegasku menyuruhnya.


"Nggak gue tetap nggak mau pergi!" tolaknya lagi.


"Please lah.... Will gue nggak mau elo berkorban kayak gini demi gue... Biar gue sendiri yang tanggung masalah gie ini!" bujukku lagi dan lagi.


"Gue nggak mau sal... Gue mau nemenin elo di saat seperti ini saat-saat elo butuh seseorang, jadi gue nggak mau kekampus, dan ninggalin elo seharian dirumah ini sendirian." alasannya.


"Gue bukan lagi bocah Will... Gue nggak butuh ditemenin,"


Willy melangkah mendekat, lalu memegangi kepalaku, mengelus lembut rambutku, "Iya-iya Sal...gue salah... Gue minta maaf!" ujarnya.


"Kalau gitu besok elo ke kampus!"


"Gue fikir-fikir dulu!" balasnya cengingisan.


"Arghh terserah lo! Yang penting gue udah nyuruh loh!" timbalku kesal.


Aku meraih tangannya yang tadi mengelus rambutku, menjauh tangannya itu dariku, dan seketika ada aroma yang sangat menyengat indra penciumanku.


Aku merasa aroma itu begitu dengan hingga aku mengendus terus mengendus dan akhirnya mendapati sumber aroma tersebut tepat ditelapak tangannya.


"Willy!!! tangan lo bau bawang!!! ihhh" jeritku lantang, bergidik kesal.

__ADS_1


"Ahhah sorry gue belum cuci tangan!" balasnya tertawa puas.


"Arghh lo udah megang rambut gue Will dasar ya loh..." raungku lagi.


"Hahah kan gue nggak sengaja Sal..." ucapnya mendekatkan lagi kedua tangannya tepat dirambutku, mengacak-acak dengan membabi buta, membuat rambutku berantakan seperti mak lampir di sertai bau bawang yang sangat menyengat.


"Kevin!!! Hentikan!!!" raungku menjerit.


Seketika Willy menarik kedua tangannya, sontak aku menatapnya kesal tanpa sadar apa yang baru saja ku ucapkan.


Ku lihat dia terlihat bingung, mengerutkan kedua matanya menatapku, "Ke-kevin? siapa itu Kevin?" tanyanya.


"Kevin? emangnya gue tadi bilang apaan?" tanyaku balik.


"Sal... lo tadi nyebut nama Kevin loh! Emangnya Kevin itu siapa?"


"Ahhah Masa sih! perasaan gue nggak nyebut namanya ahk!" aku tertawa kikuk merespon pertanyaan yang ia ajukan.


"Gue nggak salah dengar lo Sal... barusan elo nyebut namanya!" tegas Willy yakin.


"Tapi kok kayaknya gue pernah dengar namanya ya! tapi di mana?" gumamnya berfikir keras.


"Ahh udah lah Will lebih baik elo lanjut masak gih gue udah lapar!" sekaku disela ia berusaha mengingat.


"Ahk iya astaga gue lupa! kalau gitu gue masak dulu!" ucapnya bangkit lalu kembali sibuk bergulat dengan bahan masakan.


"Hufh akhirnya.... lebih baik Willy nggak usah tau sekarang!" batinku lega.


Sesaat kemudian, masakan Willy sudah siap di hidangkan, hanya menunggunya menata makanan tersebut di atas meja.


"Nahh... Sal... kira makan sekarang!" ajaknya mengangkat sendok, serta garpu bak anak kecil yang sangat senang dengan makanan yang siap disantap di depan mata.


"Will... nggak usah kayak bocah...." keluhku.


"Heheh gue kayak gini karena senang aja Sal... kita udah tinggal seatap beberapa hari, yahh... rasanya beda aja! gue yang biasanya kesepian tinggal dirumah ini sendirian sekarang kayak udah rame karena ada elo!" tuturnya memelas.


"Ohh iya... Sal... gue ada saran!" lanjutnya.


"Hn... saran apaan? jangan aneh-aneh lagi yah!"


"Gimana kalau kita kuliah di luar negeri, kita pergi ditempat yang tak seorangpun mengenal kita! gimana?" usulnya.


"Tuh kan saran lo makin aneh aja! lo nggak mikir apa! kalau kita kuliah di luar negeri biayanya tuh mahal Will... kita mau bayar pake apa, pake daun? ya kali kampus bakal nerima mahasiswa bayar pake daun lagian biaya kebutuhan pokok juga mahal-mahal lohh! lo mau mati kena busung lapar disana?" jelasku menolak.


"Sal... gue tau kehidupan disana tuh keras banget! tapi gue nggak bakal punya fikiran kayak gini kalau gue nggak mikirin semuanya termasuk biaya kuliah serta kebutuhan kita!" pungkasnya juga.

__ADS_1


"Terus lo maksud lo apa?"


"Gue bisa kerja Sal! gue bakal biayain kuliah kita berdua! terus gue juga yang akan menuhin kebutuhan makan kita! gue rela kayak gini yang penting elo selalu ada disamping gue Sal... gue nggak mau elo terus menderita kayak gini!" ujarnya


__ADS_2