
Hari-hari berlalu begitu cepat, tanpa sadar usia kandunganku sudah hampir 9 bulan, dimana proses melahirkan sudah hampir tiba, jika dilihat dari tanggal yang ditaksirkan oleh dokter itu adalah 1 minggu lagi.
Sungguh, aku tak sabar menantikannya, persiapan seperti perlengkapan bayi sudah tersedia, dan semua itu adalah ulah Kevin.
Selama masa kehamilanku, dia banyak membantuku bahkan memasak dan lain-lain apalagi ketika hari libur, waktunya hanya untukku.
Semua itu, menjadi hal yang sangat membuatku bahagia.
Dert... Dert... Dert...
Ponsel Kevin bergetar menandakan panggilan masuk, aku yang hanya bersantai didepan televisi, memanggilnya yang tengah sibuk mencuci piring.
"Sayang! Ponselmu berdering!" teriakku memanggil.
"Angkat saja, sayang!" sahutnya.
Sesuai ucapannya, aku melihat layar ponsel Kevin yang ternyata panggilan itu dari kak Syam, dengan cepat aku menerima panggilan tersebut, "Halo kak Syam!"
"Ohh ini Salsa ya? Kamu apa kabar?"
"Aku baik kak! Ada apa kakak menelfon!" timpalku merasa aneh.
Seketika aku tak mendapat respon, ku tatap layar ponselnya namun panggilan belum berakhir, "Halo... Kak Syam ada apa?" tanyaku lagi mengira jaringan bermasalah.
"Sal... Sebenarnya aku berada di penjara, karena Clara di temukan meninggal dalam sel tahanan!" jawab kak Syam sontak membuatku syok
"Clara me-meninggal? Kakak serius?" pekikku.
"Siapa yang meninggal?" Kevin datang dan menghampiriku, "Vin! Clara... Dia... Meninggal!" jawabku terbata.
"Apa!!!" kagetnya.
"Ehh Sal... Kalau begitu, sudah dulu ya! Ada sesuatu yang harus kuurus dulu! " seka kak Syam yang kuiyakan dan akhirnya memutuskan panggilan kami.
__ADS_1
Kabar duka itu seperti petir disiang bolong yang menyambarku dengan Kevin, semuanya terasa datang dengan tiba-tiba, bahkan aku merasa ini bukan nyata, apalagi jika mengingat ucapan Clara yang bertekad bertahan hingga waktu hukumannya berakhir.
"Vin! Bagaimana ini, apa sebaiknya kita kepenajara juga?" kutatap Kevin yang sedang melamun.
"Tidak usah! Untuk apa kita kesana, bukankah orang seperti dia memang tidak usah di lihat! Apa kamu sudah melupakan perbuatan jahatnya sama kamu! Jadi kita tidak usah kesana!" tukas Kevin menolak.
Aku berdecak memandangnya, "Jangan seperti itu sayang! Yah... Aku ingat betul perbuatannya, tapi ini lain cerita... Clara menghembuskan nafas terakhirnya dan dia juga pernah menjadi bagian dari keluarga kita! Apa kamu tidak kasihan dengan kak Syam dan Juna?" tuturku.
"Baiklah kalau begitu biar aku saja yang pergi, kamu tetap dirumah saja!"
Ku kerutkan dahiku merasa heran dengan larangan Kevin, "Lohh... Kok begitu! Kan aku juga mau ikut Vin! Aku mau melihat sosok Clara sebelum di kebumikan! " protesku.
Kevin melotot, aku sangat paham jika ia sedang marah, namun aku memang ingin melihat rupa Clara.
"Aku bilang tidak boleh! Kamu kan hamil besar, aku takut terjadi apa-apa denganmu lagi dan anak kita!" jelasnya tegas.
"Aku tau kamu khawatir Sayang! Tapi kali ini saja, aku janji akan jaga diri!" balasku membujuk.
"Aku bilang tidak boleh, ya tidak boleh! Kenapa kamu tidak mau mendengarku!" gertak Kevin bernada tinggi.
"Aku merasa tertekan Vin! Aku seperti di penjara dirumah ini, nyaliku menciut setiap kali melangkah beberapa meter dari rumah, apalagi karena kamu tidak ada disampingku, rasa trauma itu masih ada Vin! Dan untuk kali ini saja aku ingin melihat Clara untuk terakhir kalinya, aku yakin bisa jaga diri karena kamu ada disampingku!" ungkapku.
Seketika Kevin memelukku, belaian lembut itu kini kurasakan dari tangan kekarnya di kepalaku.
"Jangan menangis Sal...maaf aku membuatmu menangis lagi, maaf jika aku membuatmu tertekan, Aku tidak tau kalau kamu masih takut keluar rumah selama hamil! Aku tidak bermaksud mengurungmu dirumah, hanya saja aku juga takut jika masalalu terulang lagi!" imbuhnya lirih.
"Kalau kamu ingin sekali pergi! Baiklah ayo kita pergi bersama, tapi ingat jangan pernah jauh dariku!" tegasnya kuanggukkan.
***
Setibanya dipenjara, Aku dan Kevin bertemu dengan kak Syam dan juna, mata bengkak dengan rauk wajah yang terlihat sangat sedih terpancar jelas di muka kak Syam.
"Kami turut berduka cita ya Kak!" ucapku sedangkan Kevin acuh tak acuh memandang kakak sepupunya itu.
__ADS_1
"Makasih kalian sudah datang!" balas kak Syam.
Juna yang sejak tadi terduduk disamping ayahnya, kini beringsut menghampiri Kevin, juna terus-terusan menangis, tubuh kecilnya itu memeluk kaki jenjang Kevin yang berdiri tegak, tadinya Kevin mengabaikan namun pada akhirnya Kevin berjongkok dan kembali memeluk Juna.
"Sebagai seorang laki-laki itu tidak boleh cengeng!" kata Kevin mencoba menenangkan Juna.
"Huhuh tapi Om! Katanya juna tidak bisa lagi bertemu mama, apa itu betul?" lirih Juna sesegukan.
"Ya! Kamu memang tidak bisa lagi bertemu ibumu!" balas cepat Kevin malah membuat Juna memperkeras tangisnya.
Plak....
Aku memukul lengan Kevin, "Kenapa kamu berkata seperti itu ke juna, itu namanya kamu malah membuatnya semakin menangis!" tegurku.
"Lalu aku harus berkata seperti apa! Bukankah ini memang kenyataannya!" ketus Kevin mengerutkan dahi.
"Juna sayang, Jangan menangis! suatu hari nanti kamu pasti akan bertemu mamamu! Jadi tidak usah menangis oke... Kalau mamamu tau kamu menangis, pasti dia akan marah kan?" bujukku.
"Tidak, tante bohong! Juna tau tante itu jahat, tante yang membuat mama sering menangis, tante yang buat mama sampai bunuh diri! Aku membenci tante, tante membunuh mamaku!" jerit Juna.
Aku sangat-sangat terkejut, dengan pengakuan Juna, apalagi ketika ia menuduhku sebagai pembunuh, sama seperti ibunya dulu.
"Juna! Jangan bicara seperti itu!" Kak Syam menarik juna dalam pangkuannya, ia memukul bokong juna beberapa kali atas ucapannya tadi.
"Siapa yang mengajarimu berkata seperti itu!" Seka Kevin terdengar dingin.
Juna terdiam, sembari menyembunyikan wajahnya dari Kevin, "Aku tanya sekali lagi, siapa yang mengajarimu mengatakan seperti itu!" tekan Kevin.
Dengan mata penuh linangan air bening, Juna menatap Kevin, "Mama yang mengatakannya sendiri padaku, Katanya tante Salsa itu jahat! Bahkan mama sendiri sering menangis karena tante!" ungkap Juna.
"Kapan kamu bertemu dengan mamamu!" kataku berusaha menahan diri dan tetap bersikap tenang.
"Aku tidak mau menjawab pertanyaan tante! Aku membencimu!" cetus juna lagi.
__ADS_1
"Jawab!!!" tegur Kevin menjerit dengan mata melotot membuat juna kaget dan ketakutan.
"Ahh Vin! Biar aku yang menjawabnya, jangan seperti itu sama juna ,dia masih kecil! Sebenarnya kami datang kesini menemui Clara 3 hari yang lalu, saat itu dia menyuruhku pergi dan ingin berbicara dengan Juna 4 mata saja! Tapi aku tidak tau kalau ternyata Clara menggunakan kesempatan itu untuk mencuci otak juna!" jelas kak Syam