
HAPPY READING
JANGAN LUPA TINGGALIN JEJAK BUAT PART INI YA 😘
Aku terus meronta-ronta hingga membuat selang infusnya memerah, mungkin itu adalah darahku karena terlalu banyak bergerak.
Setelah pintunya tertutup, aku semakin marah saja. Dia tak mengerti perasaanku sedikitpun, bahkan menyita ponselku yang juga sudah menjadi teman setiap saatku.
Kini semua kembali sunyi, hanya suara percikan air hujan yang memecah keheningan malam.
Aku kembali menggulung diri didalam selimut, menutup rapat-rapat hingga nafas pun menjadi tersenggal.
"Akh gimana dong! Gue takut sekarang, biasanya kalau lagi sendiri gue nonton Tik tok, You tube, Instagram tapi sekarang si gunung es ngambil hape gue, Sial.... " gumamku dari balik selimut.
Sepanjang malam aku hanya terus bergumam memikirkan Kevin dan juga Willy, mereka berdua seakan memenuhi sel otakku.
Aku kini berfikir apa yang dilakukan oleh Willy sekarang, mungkin aku memang sudah gila, sebentar lagi mau menikah dengan Kevin tetapi fikiranku sepenuhnya tentang Willy.
***
Pada saat yang sama, Di rumah kediaman Willy yang dihuni olehnya seorang diri, kini berada didalam kamar mandi.
Willy berdiri dibawah percikan air, sembari membersihkan diri, akan tetapi rasa bersalah seketika muncul kembali seakan terus menghantuinya.
__ADS_1
Kesunyiaan juga menghampirinya, hanya ada tetesan air dari shower yang baru saja ia nyalakan.
Willy memukur dinding kamar mandi dengan sangat keras untuk meluapkan semua kekesalannya yang sejak tadi sudah merambat pada dirinya.
"Akh Sial..., ini semua karena Cewek pel*cur itu, andai saja dia tidak membuat Salsa seperti sekarang, mungkin Salsa saat ini masih bisa tersenyum." Gumam Willy menatap dinding itu dengan datar.
"Lo tenang aja Sal..., gue akan balaskan rasa sakit lo sama orang yang udah buat lo kayak gini! Sial..., sial...." kesalnya seraya terus memukuli tembok kamar mandi tersebut.
Tangannya penuh darah karena hal itu, namun sepertinya, ia tak perduli, melihat bagaimana rasa kesalnya dengan Nayla mantan pacarnya sendiri.
Willy sangat emosi sekarang, hingga dirinya saja tidak bisa mengontrol amarahnya sendiri. Ia hanya bisa menangis dari bawah percikan air shower itu.
Willy seketika mempercepat mandinya, ada terbersit fikiran tentang ia ingin menelfonku, mempertanyakan diriku yang tidak berdaya ketika ia melihatku tadi.
Willy keluar dari kamar mandi dengan hanya berbalut handuk selutut, ia dengan cepat melangkah kearah ponselnya yang barusan dia ambil dari tukang servis ponsel.
Ia dengan penuh semangat menekan nomor ponselku, seraya menggigit jari menantikan aku segera mengangkatnya.
📞"Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada diluar jangkauan, mohon periksa kembali nomor tujuan anda" bunyi dari ponselnya tersebut.
Willy semakin kesal karena nomorku sekarang tidak aktif, dia dengan geram kembali menekan tombol ponselnya dengan kasar untuk mencoba menelfonku lagi, namun nihil semua panggilannya hanya direspon tidak aktif.
"Salsa..., sampai kapan nomor hape lo nggak aktif terus sih?, gue khawatir banget sama lo Sal.... " lirihnya lagi.
__ADS_1
Willy seakan frustasi sekarang, dia berfikir percuma mengambil ponselnya yang masih belum seutuhnya bagus, namun dia tetap mengambilnya karena hanya ingin mendapat kabar dariku.
Akhhh
Teriaknya kesal seraya membanting ponsel itu hingga terpental beberapa kali, yang kemudian terus menjambak rambutnya sendiri.
"Sal... Lo jangan buat gue jadi gila sekarang, gue udah menderita Sal!, gue mohon kabarin gue, gue udah nggak tau lagi apa makna hidup gue tanpa melihat senyum lo lagi! " pintanya lagi.
"Nayla..., ini semua gara-gara lo! " teriaknya dengan lantang memenuhi isi kamarnya sendiri, sembari melempar semua isi barang yang terletak dikamarnya itu.
Sesaat kemudian Willy duduk dan terdiam dipinggir ranjang, tatapannya kosong dengan kamar yang agak berantakan, mata sayunya seakan menyuruhnya untuk segera tidur.
Namun ternyata tidak, matanya masih melek hingga jam menunjukkan pukul 05 : 34 WIB, Ia terjaga semalaman dengan masih berbalutkan handuk.
Badannya terasa sangat kaku, walau hanya untuk berdiri saja, perlahan kemudian dia mencoba bangkit dan segera merebahkan diri di atas kasur.
Akhirnya Dia menutup mata, hingga tertidur melepaskan semua keluhannya kepada sang mimpi.
.
.
.
__ADS_1
.
Next??