Suamiku Dokter Dingin

Suamiku Dokter Dingin
Ketemu Dita Part ll


__ADS_3

Kevin tak henti-hentinya tersenyum, ia bahkan seringkali bertingkah lucu disela aku menciumnya.


Namun Seketika Kevin berdiri, "Sal... Aku harus melakukan operasi hari ini, dan itu mungkin sangat lama!" ungkapnya.


"Ohh kalau begitu aku pulang saja sekarang!"


"Kamu tidak mau menungguku?"


"Bukannya begitu, hanya saja aku juga sudah lelah dan ingin istirahat, jadi aku pulang sekarang yah!" kataku sembari berdiri.


"Aku akan mengantarmu!" sekanya


"Tidak usah! Bukannya tadi kamu bilang ada jadwal operasi? Ya udah lebih baik kamu pergi sekarang! Aku tidak apa-apa kok! Lagian aku ini bukan lagi anak kecil yang harus di antar kesana-kemari" tolakku dengan halus.


Bukannya langsung mengiyakan, ia malah menggeleng pelan, "Tidak! Pokoknya aku harus mengantarmu pulang, aku harus memastikan kamu selamat sampai rumah dengan calon bayi kita!" tukasnya lagi.


Aku melongos pasrah tak tau lagi untuk menolak ajakannya, hanya mengiyakan ucapannya lalu kami keluar dari ruangan berjalan bersama menelusuri lorong rumah sakit.


Namun seketika langkahku terhenti pada saat ada sesosok wanita yang baru saja keluar dari ruangan yang tadi ku masuki yaitu ruang periksa kandungan.


Wanita itu tak lain adalah Lena, ia keluar dengan mengelus perutnya, entahlah apa yang ia lakukan didalam ruangan itu.aku juga tidak tau, walau ingin menduga, tapi rasanya aku tak ingin berprasangka buruk terhadapnya.


Aku mempercepat langkahku mendekatinya, "Dita! Apa yang kamu lakukan di dalam ruang periksa kandungan?" cegatku memegang lengannya menatapnya serius untuk mencari jawaban dari pertanyaan yang kian berkecamuk dalam otakku.


Dahi Dita berkerut menepis keras tanganku, "Apasih! Lepasin tangan lo!" raungnya membuatku mundur 2 langkah darinya.


"Heii apa yang kamu lakukan sama Salsa! Kenapa kamu kasar padanya!" Seka Kevin yang baru saja datang dan memegang kedua lenganku mencoba menahan.


"Elo siapa hah! Apa urusannya kalau gue nepis tangan cewek gatal ini! Lagian dia sendiri yang duluan megang gue!" sindir Dita memutar bola mata, seraya menyilangkan kedua tangan didepan dadanya.


"Aku adalah suaminya dan aku tidak suka kalau kamu berbuat seperti itu padanya, ohh dan siapa yang kamu sebut dengan cewek gatal hah! Apa kau fikir aku akan tinggal diam kalau istriku kau sebut seperti itu?" protes Kevin.

__ADS_1


"Vin! Sudahlah, tidak usah menghirauk..."


"Kamu mundur Sal... Aku benar-benar benci orang seperti dia, dan juga dia adalah orang yang kamu bicarakan tadi kan?" Kevin memotong ucapanku beralih menatapku dengan bertanya.


Aku tertunduk diam, sementara Dita malah tersenyum meremehkan, "Heh! Jadi elo suaminya, ohh ternyata dia abis ngadu to! Dasar, Tapi gue salut sih sama elo bisa-bisanya ya lo pertahanin cewek gatal kayak dia yang udah kabur sama mantan pacarnya dan elo masih mau sama dia! Wah kayaknya lo emang patut diacungi jempol ka-ki!" hinanya membuatku mendonggakan wajah menatapnya penuh emosi.


"Dita! Jaga mulut kamu! Jangan membuatku benar-benar tak bisa memaafkanmu lagi di kemudian hari!" jeritku.


Tiba-tiba Kevin mendekati Dita, ia memegang lengannya mencengkram dengan kuat membuat Dita berdesis, "Shhh aww Sakit! Lepasin tangan lo!" pintanya.


"Berani-beraninya kamu menghinaku! Apa kamu sudah bosan hidup hingga mencampuri urusan rumah tanggaku? Aku lebih tau faktanya daripada kamu yang penghianat! Aku juga tau dia kabur dengan mantannya laku kenapa? aku lebih baik dari pada kamu yang tak punya otak, jelas-jelas sudah di beri penjelasan tapi tidak mau mendengarkan! " sindir Kevin menambah cekalan tangannya di lengan Dita.


"Ahh Sakit!!! lepasin tangan gue! kalau lo nggak lepasin gue bakal teriak karena elo udah kasar sama gue! to-tolong tolong saya...." teriaknya menggema mengisi koridor rumah sakit.


Sesaat kemudian 2 security datang, "Ada apa mbak!" tanya salah satu security diantara keduanya.


"Tolong! tolong saya, dokter ini berbuat kasar sama saya! tolong!" lirihnya meminta bantuan.


"Bawa keluar wanita ini! aku tidak mau melihatnya menginjakkan kaki di rumah sakit ini, kalau sampai aku masih melihatnya kalian berdua silahkan ambil gaji terakhir!" perintah Kevin terdengar mencekam.


Namun bukannya melepaskan tangan Dita dengan pelan ,kevin malah mendorongnya hingga membuat Dita terlempar ke lantai


Ahh... lenguh Dita terdengar memelas.


"Kevin apa yang kamu lakukan? kenapa kamu mendorongnya!" raungku tak terima dengan perlakuannya yang kasar.


"Hah! kok ada dokter yang kasar banget yah!" ucap salah satu orang yang berdiri menonton perdebatan Kevin dengan Dita.


"Tenang saja sayang! aku tidak mendorongnya dengan keras kok! mungkin dia sedang melakukan akting saja biar tak malu di lihat orang!" bisiknya padaku.


Seperti yang Kevin katakan tadi, memang ada beberapa orang yang sedang menyaksikan kita, tapi aku tak menyangka bahwa Dita melakukan itu agar mendapat rasa kasihan dari orang-orang.

__ADS_1


"Ibu-ibu sekalian lihatlah dokter di rumah sakit ini, dia begitu kasar pada saya pasien yang udah hampir sekarat ini!" imbuh Dita diiringin suara isak bak menangis tersedu-sedu.


"Sudah cukup! Dita apa kamu tidak puas dengan memfitnahku jadi sekarang kamu malah menebar kebencian untuk Kevin? Kamu ini sebenarnya kenapa sangat membenciku hah!" jeritku.


"Cepat seret dia keluar dari rumah sakit ini!" titah Kevin terdengar menakutkan.


Security itu mengangguk dan membantu Dita untuk berdiri, namun ketika ia sudah berdiri tegak dengan kedua tangan di pegang masing-masing elo pak security, ada sesuatu yang jatuh dari dalam isi tasnya.


Sebuah buku tepatnya, mataku melebar memandangi buku tersebut, pasalnya buku yang kulihat adalah buku ibu hamil dan nama ibu di buku tersebut tak lain dan tak bukan adalah Dita.


"Di-dita kamu hamil? tapi bukannya kamu belum menikah ya? atau aku memang tidak tau soal pernikahanmu?" tanyaku menatapnya menantikan sepatah dua kata jawaban keluar dari mulutnya.


Akan tetapi mulutnya bungkam, dia hanya melepaskan diri dari security yang memegang tangannya lalu memungut buku tersebut.


"Elo nggak usah urusin urusan gue!" ketusnya memasukkan kembali buku tersebut.


Ia berbalik badan dan melangkah pergi di kawal oleh 2 security meninggalkanku dengan Kevin yang masih penuh tanda tanya.


Akan tetapi ketika langkahnya belum terlalu jauh dariku, ia berhenti kemudian membalikkan tubuhnya menatapku sini, "Yah... gue emang benci banget sama lo, karena apa elo punya segalanya, elo disukai banyak cowok sedangkan gue apa? bisnis orangtua gue bangkrut, dan gue nggak bisa lanjutin kuliah, elo enak walaupun elo kabur sama Willy disana elo masih bisa kuliah dan suami lo nggak berpaling dari lo! gue benci! gue benci lo Sal... " katanya menjerit sambil bercucuran air mata.


Aku tercengang tak percaya, pantas saja sikapnya tiba-tiba berubah hanya karena iri? tapi kenapa dia harus iri padaku, padahal hidupku juga jauh lebih sulit dari yang dia duga.


"Dita..." panggilku lirih ingin mendekatinya akan tetapi Kevin mencegahku.


Dita juga kini kembali di pegang oleh pak security untuk keluar menuju pintu. sementara aku masih syok dengan pengakuannya.


Aku sampai merasa lemas dan untung saja Kevin menyadari kondisiku, "Sal... kamu kenapa? tanyanya khawatir.


"Vin! aku... aku tidak tau harus bagaimana lagi!" imbuhku.


"Lebih baik aku harus mengantarmu pulang secepatnya, biar kamu bisa istirahat" ucap Kevin menggendongku menuju mobil di parkiran rumah sakit.

__ADS_1


__ADS_2