Suamiku Dokter Dingin

Suamiku Dokter Dingin
Menuju Butik


__ADS_3

Akhhhk


Aku berteriak dengan keras membuatku seketika membuka mata, tante Mira yang mendengarnya langsung menginjak rem secara tiba-tiba, lalu sorot mata mereka kini tertuju padaku.


Nafasku masih memburu, dengan air mata yang tak berhenti mengalir deras, dan keringat yang seakan membasahi tubuhku.


"Salsa... Kamu mau membunuh kita? " gertak mama namun aku tak meresponnya, aku hanya memilih untuk diam seraya mengatur nafas.


"Air, Salsa butuh air sekarang mah!" lirihku dengan nafas masih tersenggal.


Akhirnya mama memberikan sebotol air minum padaku dan aku meneguknya tanpa jeda yang hampir saja membuatku tersendak.


"Kamu kenapa Sal... Bukannya tadi kamu tidur? Kamu mimpi buruk ya?" tanya tante Mira dengan lembut.


Aku menganggukkan ucapannya, akan tetapi sepertinya raut muka mama tampak kesal, mungkin karena teriakanku tadi yang hampir membunuh kami.


"Kamu mimpi apa Sal?" tanya mama dengan muka yang cemberut.


"Mama nggak perlu tau! " balasku dengan memalingkan wajah.


Aku sangat malas memberitahu mama tentang mimpiku itu apalagi kalau sampai mama tau ini tentang Willy, mungkin aku akan mendapat pidato panjang kali lebar darinya lagi.


"Kamu nih, ditanya malah jawabnya begitu!" cetus mama.


"Udahlah jengk, mungkin Salsa lagi kecapean sampai mimpi buruk, ya udah kita lanjutin perjalanan kita." sambung tante Mira.


Sesaat kemudian tante Mira kembali bercanda gurau dengan mama sambil menyetir, mereka tertawa lepas seakan tak memikirkan diriku yang ada dibelakangnya.


Aku membuang muka, menatap pepohonan yang rindang dari balik kaca mobil, Memandangnya hingga aku terhanyut dalam lamunan, aku merasa sangat lega karena mengetahui ini hanya sebuah mimpi.

__ADS_1


Aku tidak tau apa yang akan terjadi jika ini adalah nyata, namun yang pasti mungkin aku akan gila karena dihantui rasa bersalah.


Perlahan aku membuka kaca mobil sedikit menurun, kubiarkan angin segar dari pepohonan mendamaikan hatiku.


Di perjalanan ini memang sangat menyejukkan yang meskipun jaraknya sangat jauh namun aku menikmatinya, keadaan yang sangat jauh dari kata macet dan kebisingan kendaraan ibu kota, hanya ada beberapa mobil yang lewat, aku sempat berfikir untuk pergi berlibur ditempat seperti ini.


Aku mencoba mengeluarkan kepalaku sedikit tatkala melihat pemandangan sawah yang luas terbentang, padi yang sudah pada menunduk seakan menyuruhku untuk mengatakan "Wow sungguh indah."


"Ya ampun Salsa kamu ini... Apa yang kamu lakukan? Masukin kepalamu, nanti kalau ada mobil yang menyerempet, kamu mau tidak berkepala lagi? Nggak kan, Jangan seperti anak kecil yang selalu ditegur Sal...." tegur mama yang menyadari kenakalanku.


Aku menurut saja lagian aku sangat malas berbicara panjang lebar, kini kaca jendela mobil kembali kunaikkan, hanya hawa dingin AC mobil yang terasa mengelilingiku.


Aku kembali melamun, dan dalam lamunanku sosok Willy yang tertabrak truk kini melayang-layang didalam otakku.


Kepalaku seakan berdenyut karena hal itu, aku awalnya ingin menelfon Willy namun ponselku masih ditangan Kevin, Akh sial...


Pandanganku tak sengaja mengarah ke tas ransel mama, ingin sekali rasanya mengambil tas itu yang didalamnya ada ponsel mama untuk sekedar menelfon Willy.


"Mau ngapain minta hape mama? "


"Anu...itu mah.. Ehh Salsa mau lihat info-info tentang perkuliahan." ucapku berbohong kepada mama setelah mendapatkan ide.


"Ohh, soal kuliah untuk saat ini kamu tidak perlu fikirkan dulu, nanti biar Kevin yang memutuskan semuanya!" jawab mama membuatku melongo.


"Lohh kok jadi Kevin sih mah? Salsa kan masih muda kalau misal Salsa nggak dibiarin kuliah sama dia terus Salsa cuman jadi ibu-ibu dasteran rumah tangga gitu? " gerutuku kesal.


"Ahk sudah Sal... Kamu tidak perlu khawatir kalau sampai Kevin tidak mau melanjutkan pendidikan kamu kejenjang kuliah, tante akan marahi dia, jadi kamu tenang aja ya! " ungkap tante Mira membuatku tersenyum seraya berkata "Yes!" dalam hati.


"Nahh kita sudah Sampai! " lanjut tante mira yang kemudian memberhentikan mobilnya tepat di depan salah satu butik mewah tersebut.

__ADS_1


"Ayo turun" ajak mama dengan mengambil tas ranselnya lalu kemudian memeluk ransel tersebut dengan erat.


"Ya ampun mama, segitunya yah, nggak biarin anakmu ini megang ponsel mama!" celotehku dalam hati.


Perlahan aku turun, pertama kali menginjakkan kaki disebuah toko butik mewah nan megah.



"Mama udah datang! Kok lama sih? " ucap seseorang dengan nada dingin yang perlahan mendekati kami.


Aku yang masih memandangi butik itu, belum bisa memalingkan wajah hingga mama membentakku.


"Salsa.. Kenapa kamu melongo? Jangan malu-maluin mama dong!"


Aku cengingisan membalas ucapan mama, hingga aku berbalik badan dan melirik sumber suara tadi yang ternyata adalah Kevin dengan sangat rapi menunggu kehadiran kami.


Aku kembali tertegun, melihat penampilannya, menatapnya tanpa berkedip Sedikit pun.


"Ngapain lo disini? " ketusku berusaha bersikap biasa padanya.


Ternyata Kevin tidak meresponku, dia malah melirik lalu membuang muka membuatku geram.


"Salsa... Kan seharusnya Kevin memang harus datang buat coba setelan jasnya juga kan? Kalau misalnya di nggak ada masa tante yang harus coba, kan nggak mungkin hahah" jawab tante Mira yang hanya ku balas dengan senyum malas.


Aku pasrah sekarang setelah mendengar ucapan tante Mira yang nyatanya memang benar.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2