Suamiku Dokter Dingin

Suamiku Dokter Dingin
Tanda Terimakasih


__ADS_3

"I-ini beneran formulir pendaftaran buat masuk kampus?" tanyaku pada diri sendiri seraya membuka selembar demi selembar kertas yang ada ditanganku.


"Eh... Tapi ini dari siapa? Masa dari Kevin sih, nggak mungkin benget lah yahh apalagi kata-katanya semalam pastinya bukan dia!" gumamku lagi.


Aku menggigit-gigit ujung kukuku, mencoba berfikir tentang siapa yang melakukan ini, namun semakin aku berusaha mencari tau hanya ada Kevin yang selalu muncul sebagai jawaban.


Ahh~ aku mendengus malas bersandar dikursi meja makan, rasa laparku juga seolah hilang ketika memikirkannya.


"Kayaknya emang Kevin deh! Jangan-jangan dia udah berubah fikiran gitu ya kan! Pokoknya pasti dia! Ahkk seneng banget akhirnya sebentar lagi gue udah jadi mahasiswa!" ucapku kegirangan bahagia.


"Tapi tunggu dulu! Kenapa dia ngambil formulir dari kampus UNX UNIVERSITAS? Bukannya itu kampus ternama dan sppnya mahal banget!, dan juga kenapa dia ngambil formulir jurusan kedokteran?"


Aku terkejut mataku tak hentinya melotot melihat semua yang tertera di atas kertas tersebut, membaca kata 'Kedokteran' seketika membuat bertambah bahagia karena sebenarnya cita-citaku sejak kecil memanglah menjadi seorang dokter.


Apa mungkin dia tau tentang cita-citaku?


Pertanyaan itu kini mencuak difikiranku akan tetapi aku terus saja menyangkalnya berfikir ini hanya sebuah kebetulan.


"Karena dia udah berbaik hati sama gue! Jadi gue mau masakin nasi goreng kesukaan dia sebagai tanda terimakasih gue!"


Aku beranjak dari meja makan menuju dapur dalam keadaan kaki masih sedikit sakit, namun mengingat tak ada bahan makanan sedikitpun aku mengurungkan niat untuk membuatnya dan memutuskan menunggunya datang saja agar aku bisa langsung mengucapkan terimakasih.


Aku kembali terduduk dikursi yang tadi dengan sesekali mengetuk-ngetuk meja makan agar sedikit menghilangkan rasa bosan.


"Ahk... Kenapa dia datangnya lama banget! Sumpah gue udah bosan banget" keluhku.


Rasa ngantuk juga perlahan kurasakan hingga terkadang aku menguap tanpa menutup mulut.


Brum brum


Suara mobil baru saja memasuki bagasi rumah dengan cepat aku berlari kearah pintu tanpa memperdulikan rasa sakit yang ada di kakiku.


"Kevin!" Panggilku setelah dia membuka pintunya.


Kevin kaget lalu mengerutkan dahi, "Ada apa?"


Aku menyambutnya dengan senyum lebar menampakkan semua gigiku, berusaha bersikap imut didepannya, Kevin hanya menatapku heran dengan melihat sikapku.


"Kamu kenapa? Kesurupan apa gimana?" tanyanya.


"Khem khem gue sehat kok, gue cuman mau bilang makasih!"


"Makasih Soal apa?"


"Ya iya makasih karena lo udah ngambilin gue formulir buat masuk kampus!" jelasku.


"Ohh... Itu anggap aja aku lagi berbaik hati sama kamu, lagian ini pertama kalinya kamu berterimakasih sama aku, dan aku mau minta hadiah sekarang karena sudah membantu kamu mengambil formulir"


"Hadiah? Tapi gue nggak tau mau ngasih apaan! " kataku dalam hati.


"Hadiah ya! Oke gue ada kok! Nah... Sekarang kamu jongkok dikit dehh biar kita sejajar gitu!" pintaku


Awalnya Kevin tampaknya masih bingung namun aku langsung menekan kepalanya dengan tanganku hingga tinggi kamu kini sejajar.


Cup


Aku mendaratkan ciuman dipipi kanannya, sontak Kevin terkejut matanya melebar dan mulutnya sedikit menganga.


"I-ini hadiah dari gue! " ucapku terbata bercampur malu


Kevin masih terkejut sembari memegang wajah bekas ciumanku tadi, wajahnya juga sedikit merona.


Namun sebelum dia mengeluarkan kata-kata aku langsung berlari dengan kaki sedikit pincang meninggalkan dia yang masih tersipu malu.


"Salsa... Kok cuman pipi kanan? Kata pipi kiri aku dia iri! Dia mau juga dicium sama kamu!" teriak Kevin disela langkahku.


Aku mengabaikannya karena terlalu malu untuk menoleh kebelakang, wajah dan telingaku seakan terus memanas.


"Akh... Kevin sialan!" balasku berbisik memegang kedua pipiku yang merah padam.


Didalam kamar aku langsung menjatuhkan diri diatas kasur, berguling-guling, meringkuk, terlentang diatas ranjang hingga kasur tersebut sangat berantakan.


Aku menatap langit-langit kamar, mengingat kembali bagaimana aku tadi langsung menciumnya membuatku kembali merona.


Ahh... Aku berguling lagi hingga tanpa kusadari aku sudah melewati pinggir kasur dan pada akhirnya aku terjatuh dan mencium lantai.


Aku menjerit ketika kurasakan gigi depanku sakit mungkin karena mengenai lantai, sungguh sangat sakit seakan ingin tercabut dari akarnya.


Tiba-tiba Kevin datang tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, melihat kondisi ranjang yang sangat berantakan seperti bekas pertempuran malam pertama, namun dia mengabaikannya lalu mencari sosokku.

__ADS_1


"Salsa... Kamu dimana?" tanyanya terdengar panik.


"Gue disini!" jawabku membuat melangkah dengan cepat menuju kesisi samping ranjang.


"Haha Kamu ngapain disitu!" tanyanya lagi ketika mendapati diriku yang terbaring menghadap lantai.


"Nggak usah banyak nanya! Lo bantuin gue aja" pintaku kesal.


Setelah aku berdiri dengan bantuannya, aku menutup mulut karena gigiku masih terasa ngilu.


Kevin menengadah masih bingung dengan apa yang baru saja terjadi padaku.


"Kenapa kamu menutup mulut?"


"Gue habis nyium lantai, terus gigi gue duluan yang mendarat nj*r!" jawabku.


Kevin tertawa lepas, "Ahhaha Lohh kok bisa!"


Aku tercengang ini pertama kalinya Kevin tertawa didepanku, menampakkan wajah berserinya ketika tertawa sungguh sangatlah tampan, fikirku dalam lamunan.


Kevin berhenti tertawa dan kini memasang wajah serius sambil mengibas-ngibaskan tangannya tepat didepan wajahku.


"Sal... Salsa... Kamu kenapa bengong lagi?"


Akhirnya aku tersadar, "Kevin lo kok malah ketawa sih? Gigi gue sakit banget, tapi lo malah ketawa! Aneh, lo fikir gue lagi ngelawak!!!" kesalku.


"Bukan itu maksud aku! Tadi itu kamu lucu aja, nyium lantai segala! Mendingan nyium aku! " godanya.


"Kevin! Lo sehat? Hari ini lo banyak bac*odnya lohh, otak lo kagak kebentur sesuatu sebelum kesini kan?" tanyaku heran melihat tingkahnya yang terkadang menggodaku.


"Ehhem lebih baik aku pergi sekarang!" lirih Kevin berdehem dan langsung pergi.


"Dasar aneh! Tadi malam marah-marah terus mesum ehh sekarang dia ngegodain gue! Jangan-Jangan ada sarafnya yang putus lagi! Wah... Nggak boleh didiemin nih!"


KEVIN POV


Hari ini aku memang sedikit merasa aneh, entah mengapa ketika Salsa tiba-tiba menciumku, darahku terasa berdesir, jantungku juga seakan berdetak sangat cepat.


Dan ini kali pertamanya aku menggoda seorang cewek, jika kembali kemasa ketika aku berpacaran dengan Clara aku sama sekali tidak pernah mengeluarkan kata-kata yang menggoda, melainkan hanya makan, dan berlibur bersama, tapi kenapa kali ini berbeda ketika ada Salsa?.


Perasaan ingin membuatnya kesal, melihatnya merona dan menggodanya Ini semua diluar ekspektasiku.


Aku tak merespon ucapan perawat itu, malah menatapnya sinis dan akhirnya pergi tanpa pamit.


Setiap mengingat tingkah Salsa ketika kesal seolah menjadi obat hingga aku merasa tidak terlalu capek dalam melakukan pekerjaanku ini.


Aku terkadang juga senyum-senyum sendiri tanpa diketahui orang karena tertutupi masker, didepan Salsa juga seperti itu, terkadang aku diam-diam tersenyum dibelakangnya.


Aku terduduk dipinggir ranjang, melamun terus yang tanpa ku sadari ternyata ponselku sejak tadi terus berbunyi.


Setelah tersadar aku baru mengangkatnya, ternyata pasien sebelumnya yang ku operasi sudah sadar namun harus diperiksa lagi.


Karena pekerjaan sudah menjadi prioritasku jadi aku bergegas menuju rumah sakit, awalnya aku berniat pamit kepada Salsa namun tak kulakukan karena takutnya terlambat mengecek kondisi pasien tersebut.


***


Pagi harinya aku baru saja pulang, bermalam dirumah sakit sudah ku anggap biasa, namun aku tak menyangka ketika sampai dirumah aku menatap datar kearah meja makan yang kosong melompong.


Tak ada sama sekali makanan yang tersedia, aku marah dan kesal kepada Salsa, hingga kemudian aku mengetuk pintu kamarnya dengan keras, dan ternyata dia baru saja bangun padahal ini sudah hampir siang.


"Kenapa hari ini kamu masih tidak memasak!" gertakku.


Dia hanya menguap dengan sesekali mengucek matanya, aku semakin geram saja melihat tingkahnya itu.


"Kamu tau, aku sangat lapar sekarang! Dan kamu juga baru bangun, apa ini memang kebiasaanmu?" selidikku lagi.


"Apasih lo Vin! Dateng-dateng udah kayak kerbau lagi ngamuk! Ini masih pagi lo howwaah!" jawab Salsa kembali menguap.


"Salsa! Aku serius, ini sudah bukan pagi! Apa kau buta?"


Salsa membuka sebelah matanya menoleh kearah jam yang terletak di atas meja dekat ranjang, matanya langsung melotot tatkala memandang jarum jam yang menunjukkan pukul 10:27 WIB.


"Ohh ya ampun gue kesiangan! Tapi kenapa lo harus datang marah-marah segala sih! Kan gu juga bukan pertama kalinya nggak masak sarapan keles!" balas Salsa malas.


"Ohh... Jadi kamu sadar diri juga! Berarti mulai sekarang kamu harus masak sarapan pagi, kalau tidak aku bisa saja menarik kembali ucapanku untuk membuatmu melanjutkan pendidikan" ancamku.


"Oke oke lo menang! Gue masak sekarang! Ehh... Tapi Kayaknya stok bahan makanan udah habis deh!" kata Salsa ketika teringat keadaan dapur.


"Kalau begitu pergilah membeli semua kebutuhan dapur!" suruhku mengeluarkan

__ADS_1


dompet dan memberinya sebuah kartu ATM.


"Apa!!! Gue nggak salah dengar kan? Lo nyuruh gue padahal gue belum tau area sekitar tempat ini! Yah gue nggak mau lah... Gue takutnya nggak tau jalan pulang!" tolak Salsa


"Terus kamu mau apa?"


"Gue mau lo nganterin gue dong!" pintanya


Aku mendesah lesu, namun tak bisa menolak lagi karena semua ucapannya memanglah benar.


"Hn... Ya udah sekarang kita pergi!"


Akhirnya kami berangkat, dia kusuruh duduk di depan tepat disampingku, tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut kami berdua Diperjalanan ini.


Aku memarkirkan mobil ku di depan toko Giant yang menjadi tempat penjualan sayur mayur dan lainnya yang menurutku mempunyai kualitas terbaik.


"Kita mau beli sayur disini?" tanya Salsa menoleh masuk kearah tokonya.


"Hmm... Sekarang kamu masuk sana! Aku tunggu disini! Ingat kamu harus membeli semua yang kita butuhkan! Jangan asal-asalan membeli yang tidak perlu" jelasku.


Dia memutar kepalanya menatapku dengan tiba-tiba, "Apa! Jadi maksud lo gue masuk sendiri kedalam sana?"


Aku menganggukkan ucapannya, "Iya! Jadi turun sekarang! Aku akan menunggu disini!"


"Enggak! Gue nggak mau masuk sendiri, kecuali lo ikut juga masuk kedalam!"


"Salsa... Aku sudah sangat lapar kenapa kamu tidak mengerti sama sekali! Pokoknya kamu masak sekarang!!!"


"Gue nggak bakalan turun dari mobil ini, kalau lo nggak ikut masuk sama gue!"


Dia terus bertekad melakukan itu hingga aku kembali mengalah dan akhirnya ikut masuk kedalam dengannya.


Dia mengambil keranjang dorong namun menyerahkannya padaku membuatku mulai jengkel.


Apalagi ketika dia mengambil tomat dan tiba-tiba melempar kebelakang membuatku kaget karena hampir mengenai kepalaku.


Namun untunglah aku sedikit gesit menangkap buah tomat tadi, dia terus melakukannya berulang kali hingga aku memilih berjalan didepannya.


"Kevin! Lo harus dibelakang biar gue yang milih semua bahannya! Lo kan laki-laki masa belanja keperluan dapur sih hihih nanti dilihatin sama orang lohh, nggak malu apa!" tegur Salsa terkekeh mengejekku.


"Salsa! Kau tau aku sudah tidak tahan sama tingkah gilamu itu! Jadi aku harap kamu menjaga sikap ditempat ini!" bisikku kepadanya akan tetapi dia hanya


mangabaikannya dan kini berjalan dengan percaya diri di depanku.


"Kevin! kayaknya bahan yang diperluin udah ada semua, terus gue masih mau beli parfum, handbody lotion, deterjen, sikat gigi, dan pelembab wajah!" tuturnya.


"Itu bukan stok makanan jadi tidak perlu membelinya! Lagian kamu punya uang berapa mau beli semua keperluan pribadi kamu!"


Salsa menghentakkan kaki dengan kesal,


"Kevin! Lo jangan keterlaluan dong! Gue udah lama nggak perawatan gara-gara elo tau! Jadi please hari ini aja lo kabulin permintaan gue, uang lo juga nggak bakalan habis kok!"


Dengan pasrah lagi-lagi aku harus mengalah, dari pada terus mendengar semua celoteh nyaring panjang lebarnya yang mampu membuat kepala cenat-cenut.


Dia mengambil semua kebutuhannya dengan penuh semangat, saking bersemangatnya dia tak sengaja menyenggol salah satu rak hingga sebuah benda yang berada diatas rak bergoyang-goyang dan pada akhirnya terjatuh, dengan cepat aku mendekap kearahnya, menutup kepalanya dengan kedua tanganku, dan akhirnya benda tersebut tidak mengenainya melainkan mengenai kepalaku.


Akh... Dia berteriak dan ketika dia merasa tidak merasakan sakit, dia menoleh kebelakang, menatapku yang sedang menutup mata, dengan posisi tangan masih berada diatas kepalanya.


Perlahan aku membuka mata, mendapati dia yang juga menatapku, bola mata kami saling bertemu selama beberapa detik, hingga seseorang lewat dan berdehem membuat kami sadar.


Seketika suasana canggung menghampiri kami, aku menjadi salah tingkah begitu pula dia yang langsung berbalik badan.


"Ma-makasih!" ucapnya terbata didepanku.


"Apa ini caranya orang berterima kasih?"


Tiba-tiba dia memutar badannya menghadapku, "Makasih karena lo udah nolongin gue! Udah kan, puas! Tapi lo nggak luka kan?" tanyanya


Sebelum aku menjawabnya dia langsung berbalik lagi, dan mulai berjalan kedepan mencari-cari keperluannya.


Aku tersenyum melihat tingkahnya itu, dia sangat lucu seperti anak kecil yang menggemaskan, kadang membuatku panik, jengkel dan sangat marah secara berasamaan.


Akhirnya kami selesai, dan berjalan menuju kekasir, setelah membayarnya salah satu pegawainya membantu kami membawakan barang yang sangat banyak ini, Dan salsa hanya terus memegang struk pembayarannya.


Bibirnya terus berdecak mengamati setiap tulisan yang ada di atas kertas struk pembayaran itu.


Aku fikir dia mungkin tak menyangka dengan total pembelian barang kami yang berkisaran lebih 1 juta rupiah dan itupun hanya bahan makanan dan keperluan perawatannya.


Tadi sebelum kami membayar pun dia masih mengambil banyak sekali cemilan, aku hanya terus menggeleng kepala melihat tingkahnya berlari-lari mencari cemilan kesukaannya disetiap rak.

__ADS_1


Terkadang aku tersenyum, namun ketika dia menoleh aku langsung memasang muka datar agar dia tidak menyadari tingkahku


__ADS_2