Suamiku Dokter Dingin

Suamiku Dokter Dingin
Menuju bandara


__ADS_3

Willy terus menatapku, sedangkan aku yang kini mengerutkan dahi malah tak percaya dengan apa yang baru saja ia katakan.


"Will... Gue kayaknya nggak bisa pergi! Maaf!" tolakku pelan.


"Kenapa Sal... Lo masih mau tinggal di sini? Bukannya elo nggak mau lagi lihat suami lo yang bren*sek itu?" ujarnya menyindir Kevin.


Aku melongos, "Ya iya... Tapi nyokap sama bokap gue gimana? Gue nggak mau buat mereka berdua khawatir Will..." imbuhku resah.


"Ohh kalau masalah itu gampang! Kita bisa hubungi orangtua lo pas kita udah sampai disana!" ucap Willy.


"Emangnya tujuan kita di negara mana?"


"New York!" balasnya cepat.


"Hah! Gue nggak salah dengar?" aku bertanya memastikan omongannya.


"Nggak! Kuping lo masih sehat, jadi elo nggak salah dengar!"


"Tapi Will tetap aja gue takut!" aku masih khawatir.


"Takut apa lagi Sal... Lo takut kelaparan di sana atau apa?" ujarnya masih bertanya.


"Bukan itu... Gue takut aja Kayak gini, kan gue masih berstatus istri, jadi nggak mungkin dong gue kabur ke tempat yang jauh!" sekaku.


"Oke... Gue paham itu, tapi nih ya... Kan sekarang dia udah nggak percaya sama lo! Otomatis dia nyakitin elo kan! Masa elo nggak mau buat dia nyesal sih Sal... Kalau misal elo menjauh dulu pas dia udah tau kebenarannya pasti dia bakal ngerasain apa yang lo rasain saat ini! Jangan mudah di tindas Sal... Buat dia nyesel dulu! Buktiin kalau elo tuh orangnya tegar" terangnya.


"Tapi Will...." lenguhku.


"Udah... lo tenang aja! selama gue ada di samping lo! gue bakal jagain lo terus, gue juga nggak bakal nyakitin elo Sal... gue janji itu!" tegasnya berkata.


"Udah lo makan aja! nanti makanannya keburu dingin, biar gue yang urus tiketnya." sambungnya lagi membuatku terkejut.


"Hah! tiket? berarti kita udah hampir kesana dong!"


"Iyalah... lo mau nunggu apa lagi, nunggu sampai pendaftaran kuliahnya berakhir? enggak kan?"


"Ya juga sih! Oke deh... terserah lo aja!" ucapku pasrah.


Kupandangi Willy dia hanya tersenyum tanpa mengucapkan sepatah kata lagi, bahkan dia masih sempat cengingisan di sela ia menguyah makanannya.


Aku menatapnya malas dengan tingkah kekanak-kanakannya itu, aku sadar sejak tinggal bersama Willy aku merasa hatiku berangsur-angsur membaik apalagi ketika ia mengajakku bercanda.


Meskipun terkadang candaan tak masuk akal, tapi ia tetap saja melakukan itu terus sampai ia lelah sendiri dan akhirnya tertidur.


***


Malam harinya, ia mengetuk pintu kamar tempatku beristirahat, "Sal... gue punya info penting bukain pintunya sekarang!" ujarnya terus mengetuk.


"Iya-iya tunggu!" sahutku dari dalam.


Cklekk


"Apaan sih!" kataku setelah membuka pintunya.

__ADS_1


"Kita berangkat besok!!!" jawabnya bahagia.


"Apa!!!" pekikku.


"Hm... tiketnya udah ada besok sore, karena gue nyuruh teman gue yang profesinya staff penerbangan gitu, buat urus semuanya dan kita bisa ambil besok juga terus langsung cus ke New york!" tuturnya tersenyum lebar.


"Lo punya uang dari mana?"


"Dari tabungan gue lah...!"


"Ohh! kirain elo habis jual ginjal lo!" ketusku malas membalas ucapannya.


"Hahah ya nggak mungkin lah... ya udah elo tidur gih... biar besok pagi packing terus kita berangkat." imbuhnya.


Aku hanya mengangguk tak menggubris perkataannya, bahkan seringkali aku memutar bola mata dengan malas memandanginya.


***


Malam berakhir, pagi menyambut dengan cahaya berwarna jingga masuk dari celah jendela memantul ke tembok kamar.


Tok tok tok...


Aku yang masih tergulung di dalam selimut seketika tersadar mendengar suara ketukan pintu beberapa kali.


"Sal... bangun! ini udah pagi!" teriak Willy di depan pintu.


"Iya gue udah bagun!" kataku dengan suara parau padahal masih tak lepas dari selimut.


"Ishh iya-iya Will gue beneran udah bangun kok ngeselin banget lo, sumpah!" ketusku membalas dengan kesal.


"Nah... gitu dong! elo cepatan beresin barang lo! kalau udah elo panggil gue aja biar gue bawa ke garasi mobil." teriaknya lagi


"Iya-iya..." jawabku singkat dengan lesu berjalan masuk kedalam kamar mandi.


***


Beberapa jam berlalu, akhirnya aku selesai membereskan barangku yang tak seberapa karena hanya beberapa lembar pakaian yang di belikan Willy ketika pertama kali datang kesini.


Setelah itu aku keluar dan ternyata Willy sudah berdiri tegak didepan pintu, mengangetkan hingga membuat jantungku seakan langsung copot dari tempatnya.


"Ahk Willy... ngapain lo berdiri depan pintu hah!" jeritku marah.


"Nungguin elo lah... gue udah berjam-jam berdiri disini tapi elo nggak keluar-keluar!"


"Gue kan nggak nyuruh elo berdiri diSini!"


"Iyaiya... nggak usah berdebat! kita kan mau pergi, nah barang lo mana biar gue yang bawa elo bisa langsung pergi ke mobil."


"Andai aja Kevin dulu seperti ini! pasti hari ini tidak akan hal yang kayak gini! tapi akh lenapa gue mikirin dia lagi?" batinku seraya melamun.


"Sal... elo kenapa?" tanya Willy menyadari tingkahku serta membuyarkan lamunanku.


"Ehh gue nggakpapa ayo kita jalan sekarang!" ajakku berjalan mendahuluinya menuju mobil.

__ADS_1


Setibanya di dalam mobil, Willy menarik nafas dalam-dalam sebelum mulai menyalakan mesin mobilnya.


"Sal... lo udah siap kan!"


"Udah jalan aja! teman lo yang di bandara nanti nungguinnya kelamaan!" tegurku seketika ia anggukan dengan senyum tipis yang ia pancarkan di hadapanku.


"Siap nyonya! heheh"


Brum....


Willy mulai melajukan mobilnya dengan sangat santai hingga kemudian kami lewat di depan rumah mamaku, seperti biasa agar tak ketahuan aku sengaja menyembuntikan wajahku memakai kacamata serta masker.


Akan tetapi ketika jarak sudah mulai agak jauh, dengan cepat aku kembali duduk namun bukannya duduk tegap melainkan leherku ku putar kebelakang menatap pagar rumahku yang semakin jauh hingga sepenuhnya menghilang.


"Salsa rindu mah! apa mama baik-baik aja sekarang!" lirihku dalam hati mengkhawatirkan mama.


***


Pada saat sampai di bandara, Willy mengeluarkan ponselnya, sedangkan ponselku sudah tak pernah ku aktifkan lagi selama sepekan terakhir ini.


Ia Sibuk dengan keyboard di layar ponselnya, hingga kemudian seorang pria berbadan sedikit kekal, tinggi dan terlihat keren memakai baju staf penerbangan menghampiri kami.


"Woy bro... udah lama ya kita nggak ketemu! giliran pas lo butuh aja, lo baru ngechat gua! gimana sih!" sambut pria tersebut langsung merangkul Willy.


"Sorry! soalnya gie sibuk banget man!" balas Willy hangat.


"Ohh iya ini tiket lo! ngomong-ngomong nih ngapain elo jauh-jauh ke New York cuman buat kuliah? kan di negara sendiri banyak kampus ternama Will...." pungkas temannya.


"Cari pengalaman aja!" jawab Willy singkat dan jelas.


"Ahk alasan lo udah basi! gue tau elo pasti mau cari cewek bule kan? ngaku lo!," selidik temannya tersebut membuat Willy melirikku dari ekor matanya.


Dan ternyata temannya tersebut barulah menatapku juga, " Ehh ternyata elo sama cewek cantik Will... Hy gue temannya Willy nama gue Rendi!" ujarnya melirik Willy sekilas kemudian menjulurkan tangannya hendak berjabat tangan denganku.


Plak...


"Nggak usah pake jabat tangan segala!" serkah Willy menepis keras tangan Rendi.


"Ahk Gue Salsa temannya Willy juga!" ucapku berkenalan


"Ohh Salsa ya? jadi kalian mau pergi bersama? cuman berdua? Wah... bahaya lo Will... lo mau bawa anak orang ke New York wahwah salut banget gue!" kata Rendi teman Willy.


"Kenapa gue harus takut! kan, dia calon masa depan gue!" Willy mengatakannya seolah-olah sangat santai, membuatku mengerutkan dahi menatapnya mulai kesal.


"Will lo apa-apaan sih! gue nggak suka ya elo bilang kayak gitu!"


"Ahk gue cuman bercanda doang kok Sal..." elak Willy hendak merangkulku namun dengan cepat aku menghindar.


"Ehh kok jadi marahan sih! ya udah semoga berhasil di negeri orang ya! jangan lupa bawa oleh-oleh buat gue ya!" ucap Rendi lagi.


"Shut Will goodjob buat keberanian lo! jangan sia-siain bro! kalau kalian menuju ke pelaminan jangan lupa undangan khusus buat gue! heheh" lanjutnya berbisik di kuping Willy kemudian memepuk pundak lalu pergi.


Willy tersenyum lagi, lalu menatapku, sembari memegang tiketnya dia mencoba meraih tanganku yang menganggur, tapi ketika aku menyadarinya aku berpura-pura memasukkan tanganku ke dalam saku celana jeans yang ku pakai.

__ADS_1


__ADS_2