Suamiku Dokter Dingin

Suamiku Dokter Dingin
Alfamaret


__ADS_3

HAPPY READING GAES


jangan lupa tinggalkan jejak buat part ini yah, kalau kalian berkenan berikanlah vote kepada novel ini walaupun hanya sedikit (seikhlasnya saja), karena hal itu bisa menjadi sebuah penyemangat tersendiri buat author 😉


.


.


***


Pada akhirnya kami pulang, dengan diantar oleh tante Mira, Diperjalanan mama dan tante Mira terus saja mengobrol dan tertawa membuatku sangat jengkel, karena hal itu aku memilih untuk tidur kembali, percuma saja bangun kalau aku hanya di abaikan, ya kan?.


Tiba-tiba disela tidur nyenyakku, tante Mira menghentikan laju mobilnya yang sontak membuatku terbangun.


Aku menguap, seraya melirik kearah kiri dan kanan, kufikir kami sudah sampai, namun ternyata tidak.


"Mah, kenapa berhenti, rumah kita udah dekat kok berhenti disini sih?, terus tante Mira mana?" tanyaku kepada mama yang menyadari tante Mira tidak ada.


"Noh, liat dia masuk di Alfamaret katanya mau beli sesuatu!" jawab mama dengan menunjuk kearah tante Mira yang sedang berjalan masuk ke Alfamaret.


"Ehh Salsa beli sesuatu juga mah, minta uang dong!" aku menjulurkan tangan berharap mama segera mengeluarkan uang merahnya beberapa lembar untukku.


"Kamu mau beli apa? Kamu ini yah, kita udah hampir sampai dirumah, jadi nggak usah beli apapun!".


"Anu itu mah, stock pembalut dikamar Salsa udah habis!"


Mama tampaknya sedang berfikir setelah mendengar ucapanku, akhirnya dia membuka tas lalu mengorek isi didalamnya, mataku berbinar menantikan lembaran kertas merah segera mendarat mulus ditelapak tanganku.


"Yes, akhirnya hari ini gue bisa beli cemilan banyak, hahah i'm sorry mama, maafkan anakmu ini yang tidak sering kau bagi uang jajan banyak-banyak heheh!" batinku


"Nih... "


Mataku melotot melihat lembar uang yang baru saja diberikan oleh mama, yang ternyata adalah uang selembar senilai Rp. 20.000.


"Lah, kok dikit amat sihh, ini mah nggak cukup mama...." rengekku kesal.


Aku berfikir mama masih mau menambah lembarannya, namun seketika di menutup tasnya lalu kembali memeluk tas itu dalam dekapannya dengan sangat erat.


"Siapa bilang nggak cukup?, kamu ini mau korupsi ya, mama kemarin dulu beli, kok harganya kurang dari uang itu!"

__ADS_1


"Ya udah, Salsa keluar dulu mau beli! "


Dengan terpaksa aku turun dari mobil seraya berjalan cepat kearah pintu Alfamaretnya.


"Dasar mama, pelit banget sama anak sendiri sih! Kayak uang dibawa mati aja!" gerutuku dalam hati disela langkahku.


Didalam Alfamaret, aku bukannya melihat jenis pembalut, melainkan melihat dan memilah cemilan serta coklat yang tertata dengan rapi itu, tangan nakalku ini seakan ingin mengambil semuanya, akan tetapi mengingat uang yang diberikan oleh mama, keinginanku menjadi tertunda, akh sialnya...


"Kamu cari apa Sal?" tanya tante Mira yang baru saja datang dan melihatku gelisah.


"Ehh... Mau cari cemilan tante.... " jawabku dengan mata yang masih fokus kearah cemilan tersebut.


"Ohh... Ya udah kamu ambil aja yang kamu suka, biar tante yang bayar!"


Ucapan tante Mira sontak membuatku kaget bercampur bahagia, bagaimana tidak dia mengatakan "Ambil semua yang kamu suka", kata-kata yang kuharapkan keluar dari mulut mama ternyata baru saja diucapkan oleh mamanya Kevin.


Aku tersentak! Sambil berkata :"Beneran tante, jadi aku bisa ambil semua dong? "


Tante Mira hanya tersenyum lalu mengangguk membuat tangan nakalku ini segera beraksi.


Akhirnya, dua kantong plastik hitam penuh dengan cemilanku termasuk coklat silverqueen, dan ini semua di bayar oleh tante Mira.


Akh..kebahagiaan yang haqiqi adalah ketika makan makanan gratis, fikirku.


"Nih uang mama, Salsa nggak jadi pake! "


Lirihku dengan menyerahkan uang mama.


"Loh... Terus kamu bayarnya pake apa, dan kamu beli pembalut banyak banget Sal...." jawab mama yang kaget melihat dua kantong besar yang kujinjing.


"Ya ampun mama, ini bukan pembalut! Ini tuh cemilan mah... Ce-mi-lan! Dan semua ini dibayar sama tante~,lagian mama pelitnya minta ampun!" gerutuku.


"Lohhh kok, jadi cemilan? Bukannya tadi kamu bilang sama mama mau beli pembalut?, kamu berani bohong lagi sama mama ya?" ucap mama dengan nada kesal.


"Nggak ada merek pembalut yang biasa Salsa pake mah! " balasku berbohong.


"Sudah jengk, nggakpapa namanya juga anak muda, yah... Biasalah hobinya ngemil terus! " sambung tante Mira memotong pembicaraan kami.


"Nah... Salsa setuju banget tante, heheh"

__ADS_1


"Diam!!!" gertak mama membuatku memanyunkan bibir.


"Ya udah jengk, kita balik dehh kayaknya udah mau hujan!" ujar tante Mira seraya menatap langit yang memang mendung sejak tadi.


Mama mengangguk begitu pula denganku, dan dengan susah payah aku terus menjijing kantong itu masuk kemobil tante Mira.


Setelah menutupnya, kami melanjutkan perjalanan, terkadang mataku sudah siap menyerbu makanan yang ku pegang itu, tapi aku merasa tak enak hati dengan tante Mira dan membuat mama marah lagi.


Aku memutuskan untuk kembali mengikatnya, lalu kemudian memalingkan wajah menatap kaca mobil yang mulai basah karena tetesan air hujan yang mulai berjatuhan.


Orang-orang yang mengendarai roda dua, terus berlari mencari tempat untuk berteduh, tiba-tiba mataku tertuju pada satu sosok diantara mereka, sosok yang telah mengecewakanku ketika aku tak berdaya.


"Willy... " bisikku dengan terus menatapnya yang perlahan menjauh.


"Tante berhenti dulu, itu ada teman Salsa kehujanan, Salsa mau panggil dia kebetulan rumah kami juga dekatan tante, please berhenti dulu! " pintaku kepada tante dengan terus menepuk kursi kemudinya.


"Siapa sih Sal...?" tanya Mama.


"Itu Willy mah, dia kehujanan kasian lohh! "


"Willy? Enggak dia nggak boleh ketemu lagi sama kamu, jangan berhentiin mobilmu jengk!" serkah mama membuatku mengerutkan dahi.


"Lohh... Emangnya kenapa? Bukannya itu teman Salsa ya jengk?" tanya tante Mira yang tampak heran.


"Nanti aku ceritain ya jengk, yang jelas jangan berhentiin mobilmu!"


"Mama, kenapa mama melakukan ini? Kalau mobilnya nggak berhenti Salsa bakal lompat sekarang!"


"Ya udah lompat aja mama udah pasrah kok, lagian mama tau kamu juga tidak mungkin melakukannya! Lompat sana.... " jawab mama.


Mendengar itu, nyaliku seketika menciut, sebab aku memang sudah merasa takut untuk melakukan pencobaan bunuh diri lagi, aku tidak mau berada diarea yang berbau rumah sakit lagi.


Aku terdiam, begitu pula mereka, namun mataku masih menatap Willy di antara orang yang berteduh dibawah sebuah atap toko tersebut.


Aku memandanginya dengan wajah memelas, ingin sekali rasanya berteriak meskipun hujan menghalagi suaraku, aku mau dia menoleh kearahku akan tetapi kaca jendela mobil yang tak tembus pandang ini sekali lagi menjadi penghalang pertemuan kami.


.


.

__ADS_1


.


Next...? jangan lupa berikan komentar kalian yahh dan juga tambahkan ke favorit kalian 🤗........................................❤👇


__ADS_2