
Suasana semakin mencekam, aku tak bisa lagi berkata apa-apa, semua yang ingin ku ucapkan menjadi hal percuma karena Salsa juga tidak mau sama sekali mendengarku.
"Sal... Kamu jangan seenaknya memutuskan sendiri dong! Apa kamu tidak bisa menghargai aku sedikitpun? Kenapa kamu Tidak mau mendengarku dulu?"
"Udah deh Vin! Pokoknya kita cerai aja titik!" tegasnya.
"Oke terserah! Kalau itu mau kamu, aku akan melakukannya!" balasku tak perduli lagi.
Kemudian Salsa keluar begitu saja, suara hentakan kakinya yang keras mengisi perpisahan kami.
SALSA POV
Hatiku rasanya hancur berkeping-keping, tak ada lagi rasa yang bisa ku utarakan saat ini, semua karena dia! Dia sendiri yang mematahkan sedikit rasa kepercayaanku padanya.
Yah... Benar awalnya aku sempat mempercayai dia dengan kata-kata manisnya ketika berkunjung kerumahku setiap hari, mengajakku pulang dengan terus memancarkan senyum menawan serta kata-kata yang mampu meluluhkan sikapku.
Tapi sekarang rasa kecewa itu kembali muncul, ketika tadinya aku terbangun dari mobil, aku mendapati Jas Kevin menutupi tubuhku, aku tersenyum penuh haru dengan perhatian itu, tapi semua sirna saat aku keluar dari mobil, Clara yang keluar dari pintu rumah dan langsung memeluk Kevin sungguh membuatku tercengang.
Pelukannya sangat mesra membuat mataku seakan ternodai, Clara memeluknya dengan sangat intim layaknya seorang wanita yang sangat merindukan kekasihnya yang telah lama tidak pulang kerumah, dia seakan menantikan ke hadiran Kevin.
Pemandangan itu sangat membuatku ingin marah hingga membuat linangan air di pelupuk mataku.
Jika bertanya kenapa aku sangat mudah menangis? Mungkin jawabannya karena terlalu sering di kecewakan, tak di anggap dan tak di hargai, aku sebenarnya bukan wanita cengeng hanya saja ini tak bisa di tahan lagi.
Perempuan mana yang tidak sakit hati melihat suami Sahnya berpelukan dengan wanita lain yang merupakan mantan kekasihnya sendiri?.
Lalu ketika aku meneriakinya, Clara dengan wajah berseri bahagia menghampiriku, tak ada terlukis rasa bersalah sama sekali di wajahnya bahkan dia menyambut kedatanganku seperti orang yang memiliki rumah ini.
Aku sangat terkejut dengan ucapannya yang tidak tau malu itu, tapi ketika dia menyambutku aku malah berusaha mengambil sikap tenang, karena jangan sampai Kevin melihat sisi lemahku lagi.
Jangan sampai dia mengetahui aku tidak berani melawan perempuan yang bisa di anggap pelakor di depanku ini.
Dengan lantang aku membalas setiap ucapannya, hingga dia tak bisa berkutik lagi, namun Kevin yang tadinya hanya menyaksikan kami, kini dengan cepat menarik Clara masuk kedalam rumah.
Aku terheran kenapa dia menarik Clara bukannya aku? Pertanyaan itu seakan terus muncul sembari menunggu Kevin dan Clara keluar dari dalam rumah.
Hingga akhirnya Kevin keluar dengan menarik Clara sambil membawa kopernya, aku tersenyum tipis melihat itu, tapi ketika Kevin mulai menjelaskan semuanya, aku merasa tak ingin mendengarnya sama sekali bahkan tidak mampu lagi mempercayai ucapannya itu, entahlah apa yang sebenarnya terjadi denganku.
Lalu aku mengabaikannya kemudian langsung melangkah masuk hingga aku merasa sedikit penasaran dengan penjelasan Kevin tadi, jadi aku memutuskan ingin melihat kondisi kamarnya.
Aku melakukan itu agar aku bisa langsung percaya dengan kata-kata Kevin karena yang bisa ku percaya sebenarnya adalah yang di lihat sendiri oleh mataku.
Ketika aku mulai membuka pintunya ternyata di kunci jadi aku menyuruhnya membuka pintu itu, saat dia mengeluarkan kata-kata untuk menggodaku, diam-diam aku tersenyum dan ada sedikit perasaan lega karena ku fikir mungkin memang tidak terjadi apa-apa.
Karena di lihat dari sikap Kevin yang sepertinya tidak menyembunyikan sesuatu, tidak seperti pada film-film yang sebelumnya ku tonton pada saat sang istri mendapati suaminya berselingkuh, sang suami akan menunjukkan sikap gugup, tapi lain halnya dengan Kevin yang tetap saja terlihat sangat tenang.
Namun mataku melotot mendapati sebuah pakaian yang ada di dekat kaki ranjang, pakaian itu ternyata adalah pakaian wanita hingga aku sangat yakin bahwa itu adalah pakaian Clara.
Sambil menangis aku menunjukkan pakaian itu kepada Kevin dan ternyata jawabannya memang mengarah kepada Clara.
Dia mencoba menjelaskan tapi penjelasannya terlalu bertele-tele hingga aku merasa tak bisa sama sekali percaya dengan apa yang di ucapkannya.
Keputusan terakhirku mungkin memanglah cerai, tapi sebenarnya hatiku tak menginginkannya, aku sama sekali tak mau melakukan itu, namun apa daya mulut sudah berkata lain.
Hingga Kevin mengatakan 'terserah' hatiku terasa hampa, tubuhku seakan tak punya tenaga sama sekali.
Semudah itu kah dia mengatakan itu? Setidaknya dia masih bisa membujukku! Membujuk dan membujukku terus sampai aku luluh seperti yang dia lakukan sebelumnya.
Tapi ternyata tidak, kali ini mungkin dia memang sudah capek dengan sikapku yang di anggapnya keras kepala, yah... Aku memang keras kepala tapi aku tidak keras hati dengan sebuah keputusan!
Ketika aku keluar dari kamarnya aku berjalan lesu, aku sama sekali tak bisa berlari, terkadang aku menoleh kebelakang, berharap dia menyusul langkahku, namun sayangnya harapanku hanya menjadi hayalan semata.
Kini aku berjalan di tangga dengan air mata yang terus mengalir penuh kekecewaan, hingga penglihatanku menjadi buram, aku berpegangan pada tangga sambil menggelengkan kepala dengan kuat, namun penglihatanku tidak kembali normal.
Meskipun begitu aku kembali mengabaikannya, mungkin hanya karena kelelahan, fikirku. Lalu aku melanjutkan langkahku menuruni tangga, dengan perasaan yang masih hancur.
Tapi kemudian penglihatanku semakin buram, anak tangga saja tak bisa lagi ku lihat dengan jelas.
Hingga aku terpeleset dan terjatuh terguling-guling sampai di ujung anak tangga.
Bug, buk, buk...bug...
Tubuhku terasa remuk, kepalaku terus berdenyut sakit, aku memijit pelipisku walau sakit aku tak ingin berteriak, karena jangan sampai Kevin mendengarnya.
__ADS_1
Aku tak ingin itu terjadi sebab jangan sampai Kevin menganggap aku mencoba bunuh diri hanya karena cemburu dengan Clara, tidak! Itu tidak boleh terjadi.
Hingga aku merasa tak sanggup lagi menahan sakit, penglihatanku sepenuhnya menghitam dan akhirnya tak sadarkan diri.
***
Ketika aku menutup mata, aku bermimpi ada seseorang yang terus memanggil namaku, dia seperti menangis, dan suara itu agaknya sangat ku kenal, dia Kevin atau Willy? Dua nama itu yang sepertinya sangat mirip dengan suara yang memanggilku.
Tapi jika di fikir mustahil bahwa itu Kevin, mana mungkin dia menangis? Namun Jika itu Willy juga pastinya tidak masuk akal karena aku ada di rumah Kevin, lalu suara siapa itu sebenarnya?
Pada saat aku terbangun, perlahan aku membuka mata, namun ragaku sepertinya belum menyatuh dengan tubuhku.
Satu hal yang membuatku terkejut bahwa ini sudah malam, dan aku berada di dalam kamar, siapa yang memindahkanku? Bukankah aku terkapar di lantai?
Semua pertanyaan itu hanya bertumpuk di dalam otakku membuat kepalaku terasa kembali sakit.
Aku mencoba menggerakkan tubuhku, akan tetapi semuanya sangat sakit, bahkan ketika aku mencoba mengangkat lenganku juga sakit.
Ishh... Aku meringis kesakitan di bagian kepalaku, dengan sekuat tenaga aku kembali memijitnya.
"Lohh kok kepala gue di perban sih?" gumamku bertanya pada diri sendiri menyadari ada perban yang melilit kepalaku.
Ketika sumber rasa sakit itu tak sengaja ku tekan, aku berteriak histeris sambil menangis sesegukan.
Tiba-tiba ada yang menekan saklar lampu meja yang ada di samping ranjang, tubuhku terkinjat kaget karena hal itu.
"Ke-kevin lo kok ada di kamar gue?" aku melongo ke samping mendapati Kevin yang tertidur di sampingku sambil mengucek matanya.
"Salsa... Kamu sudah bangun? Gimana? Apa masih ada yang sakit?" tanyanya dengan nada yang terdengar panik.
Bukannya merespon dia, aku malah terhanyut dengan semua yang terpampang nyata di depanku saat ini.
"Gue tanya kenapa lo ada di kamar gue!!! Dan juga kenapa elo tidur disini hah?" raungku menjerit bertanya lagi.
Dia terduduk di atas kasur, begitu pula denganku, kini aku dan dia berada diatas ranjang dengan posisi saling berhadapan.
"Hmm... Kamar kamu? Ya ampun Sal... Kamu lihat baik-baik deh... Ini kamar siapa?" jelasnya membuatku terpaku.
"Apa? Tunggu! Kayaknya ini emang bukan kamar gue deh! Terus kenapa gue bisa di sini? Ya ampun, ya tuhan... Oh my god!!! Apa jangan-jangan gue tidur di ranjang dia? Ohh no!!! " keluhku dalam hati mendapati kenyataan pahit ini.
Dan ini adalah kamar yang telah di tempati oleh Clara dan Kevin berselingkuh di belakang aku.
"Ohh! Jadi ini kamar elo? Kenapa lo bawa gue kesini? Dan kenapa elo tidur di samping gue!!!"
Dia menutup telinganya mungkin karena menghindari suara lengkinganku ini, "Shutt diamlah Sal... Ini tengah malam, apa kamu tidak takut di tegur sama tetangga?"
"Bodo amat! Gue tanya kenapa elo tidur di samping gue hah?"
"Karena ini kamar aku lah... Kalau bukan tidur disini terus aku tidur di mana?" ucapnya tenang.
"Yah... Ini salah elo, kenapa lo harus bawa gue kekamar ini? Gue kan punya kamar sendiri di bawah!" serkahku mengerucutkan bibir.
"Itu... Karena di kamar kamu tidak ada kotak PSK, jadi aku membawamu kesini!"
"Ya ampun! ya ampun...! Tadi itu kenapa gue tanya kayak gitu kayak gue nihh punya fikiran kotor aja! Tapi nggak salah kan, demi keselamatan tubuh gue! Jangan sampai dia ngambil kesempatan dalam kesempitan ya kan?" umpatku dalam hati.
"Ohh!!! " jawabku singkat.
"Ya udah gue mau kembali ke kamar!"
Aku berusaha untuk bangkit, namun sayangnya tubuhku terasa sangat berat dan tak bertenaga seakan lumpuh.
Aku melenguh memejamkan mata, tak bisa berbuat apa-apa, seketika Kevin memegang kedua pundakku, membuatku seketika menegang karena kaget.
Dia membaringkan tubuhku hingga menyatu dengan kasur, "Tidurlah dulu, badanmu memang sangat sakit karena tadi terjatuh ke lantai!" tuturnya dengan nada rendah.
Tiba-tiba Kevin Juga membaringkan tubuhnya, namun wajahnya mengarah ke langit-langit.
"Ke-kenapa lo harus tidur disini juga!!! Pindah sana!" perintahku gugup.
"Tidurlah Sal... Tenang saja aku tidak akan melakukan apa-apa sama kamu, lagian aku bukan laki-laki yang akan mengambil kesempatan dalam kesempitan, aku tau kamu sakit jadi tidak mungkin bisa melakukan itu, dan aku maunya kamu sendiri yang sudah siap, lagi pula jika aku tidur di samping kamu bukannya sah-sah saja karena kita sekarang adalah suami istri? " paparnya membuatku tercengang dengan semua untaian kata-kata bijak yang ia sampaikan di depanku.
Aku tersenyum dalam diam, ternyata dia menghormatiku? Jadi apakah aku yang memang salah menilainya?
__ADS_1
Seketika di mengubah posisi tidurnya menghadap ke arahku, kini kami saling berhadapan lagi, ketika dia menoleh aku belum sempat mengalihkan pandanganku, hingga mata kami saling bertemu beberapa saat.
Dan ternyata dia mampu membaca fikiranku dengan caraku yang menilainya tadi, tanpa sadar aku tertengun.
Hahaha....
Suara tawanya memecah keheningan dan menyadarkanku dari pandangan kami, "Lo ngapain ketawa?" tanyaku heran.
"Aku tertawa melihatmu sal... "
"Hoh! Nggak usah muji gue keles gue emang udah lucu dan imut dari lahir!" balasku memuji diri sendiri sambil bercanda.
"Ehh kayaknya kamu sudah tidak marah lagi ya?"
Aku memalingkah wajah, "Nggak usah sok tau loh... Vin! please pindahin gue kekamar gue dong!" pintaku.
"Loh... Kenapa? Kasur ini tidak nyaman ya? kalau begitu besok aku ganti yang baru"
"Enggak kasurnya yang bagus tapi kainnya yang udah kotor karena ini tempat elo sama Clara tidur bareng kan? Gue nggak mau tidur di bekas dia!" cibirku.
"Salsa.... Kami tidak pernah melakukan itu! Oke aku akan menjelaskan semuanya sama kamu! Clara memang masuk ke kamar aku! Dia menggodaku dengan membuka bajunya tapi aku sama sekali tidak tergoda malah mengusirnya dan dia lupa membawa bajunya itu!" jelasnya penuh keseriusan.
"Bener? "
"Iya Sal... Lagi pula hubungan kami sudah berakhir, mana mungkin aku mengambil barang bekasku sendiri yang sudah di miliki orang lain!"
"Lo nggak bohong kan?"
"Aku berani sumpah! Kalau masalah ciuman memang benar dia adalah ciuman pertama aku, tapi kalau soal keperjakaan aku jamin belum ada yang mengambilnya! " imbuhnya menjawab cepat.
Wajahku serasa sangat panas apalagi ketika mendengar kalimat terakhirnya itu, "L-lo nggak usah terlalu jujur juga kali!" sekaku malu.
"Lah... Kamu nih... Aku sembunyiin sesuatu kamu marah... Aku terlalu jujur kamu masih mara lagi? Waduhh kayaknya laki-laki itu selalu salah ya di mata kaum hawa?" jawabnya sedikit bercanda.
"Ya iyalah... Cewek itu selalu benar!"
Tiba-tiba Kevin mengacak rambutku tanpa sengaja menekan lukaku juga, "Ahkk Kevin... Kepala gue sakit tau... "
"Ohh ternyata Orang yang keras kepala juga bisa kesakitan yah?"
"Lo kira kepala gue batu?" jawabku kesal.
"Hahah bisa jadi! Kamu kan memang kayak batu!" ejeknya.
"Yakk...Kevin! Udah deh... Gue tuh sakit... Lo malah ngajak gue bercanda! Lama-lama gue jahit tuh mulut lo!"
"Hahah! Tapi sebelum itu aku bisa memotong jari-jari kamu supaya tidak bisa menjahit mulutku!" balasnya bercanda.
"Ehh Kevin! Tunggu dehh... Kali ini kok elo sering ketawa sih... Bukannya tadi elo juga marah ya?"
"Sal... Aku tidak marah, hanya saja aku ingin menjelaskan semuanya sama kamu, tapi kamu tidak mau mendengarku, dan itu yang membuatku sangat kesal lagipula kenapa aku banyak tertawa! Itu karena aku bahagia kamu sudah kembali kerumah ini!" jelasnya lagi.
"Ohh masa? Gue kira elo salah makan sesuatu gitu? Atau Karena elo udah di santet cinta sama si Clara? Umm siapa yang tau kan!"
"Hahah tidak mungkin lah Sal... Kamu nih ada-ada aja! "
"Ohh ya udah, gue mau tidur!" potongku dengan cepat.
"Ehh kamu sudah tidak mau bertanya lagi?"
"Enggak! gue capek! Gue mau tidur!".
Perlahan aku membalikkan badan, sakit yang menjalar di tubuhku berusaha untuk ku tahan, ini semua ku lakukan karena tidak nyaman tidur di samping Kevin apalagi dalam posisi yang saling berhadapan.
Meskipun semua fikiran kotor menghinggapi otakku, namun aku mencoba menghilangkannya.
Sebenarnya aku sangat gugup saat ini, rasa ngantuk juga seakan menghilang entah kemana.
"Sal.... " panggilnya dengan berbisik.
"Hmm" balasku singkat.
"Aku masih perjaka! Kalau kamu mau mengambilnya, aku bisa langsung memberikannya padamu! Dan hanya kamu yang bisa mengambilnya tidak boleh yang lain! Jadi...."
__ADS_1
Cklikk
Seketika ruangan menjadi gelap gulita! Kevin mematikan lampu dengan tiba-tiba membuatku merinding apalagi setelah mendengar pernyataan itu.