
Akhirnya aku dan dia merasa lelah, kami berdua sama-sama terbaring diatas ranjang dengan nafas memburu, serta pakaian yang acak-acakan.
"Hufh... Vin kenapa kamu menggelitikku?".
"Hn... Aku tidak mau membuatmu terus marah, karena jangan sampai istriku tampak lebih tua dariku!" sindirnya.
"Yak!!! Kamu kira aku marah gara-gara siapa? Kamu tuh ya bercanda keterlaluan banget pake nyawa segala! " ketusku kesal.
"Hahah... Iya-iya aku yang salah, Sal... Bagaimana kalau hari ini kita keluar jalan-jalan?" ujar Kevin menatapku.
"Kemana? Emangnya kamu tidak takut rugi, siapa tau aku belanja banyak ehh ujung-ujungnya kamu bilang pinjam! Cihh..." balasku menyindir.
"Hahah tenang saja! Masa lalu biarlah berlalu, anggap aja dulu itu kamu salah dengar, pokoknya uang aku! Uang kamu juga, jadi sekarang let's go kita jalan-jalan!" tutur Kevin mengangkat tangannya.
Aku tercengang menatapnya, baru kali ini Kevin menampakkan sisi kekanak-kanakannya, karena biasanya dia terlihat dingin atau bahkan sok galak.
"Kevin otak kamu bermasalah gara-gara sakit perut tadi ya?"
Kevin mengerutkan dahi, "Kenapa kamu bicara seperti itu?" tanyanya heran.
"Ehh gini loh... Sikap kamu kayak bocah gitu yang senang karena mau jalan-jalan, jadi aku heran aja sama kamu yang sekarang. " jawabku.
"Ohh tidak... Perutku sudah lebih baik sekarang, bahkan tidak sakit lagi! Mungkin karena kamu menggelitikku tadi jadi langsung sembuh, jangan-jangan tangan kamu adalah obatnya!" gurau Kevin teersenyum.
"Apaan sih! Mana ada tangan bisa nyembuhin sakit perut!" aku protes sebab ucapannya memang terdengar mengada-ngada.
"Ya ada! Buktinya tuh tangan kamu... " jawabnya menunjuk kearah tanganku.
"Udah ahh terserah... Lama-lama aku bisa gila karena terus menanggapi omonganmu yang tidak masuk akal itu!"
"Hahah Cie... Itu artinya kamu mengalah, Nah begini kan bagus! Saling mengerti, mengalah agar masalah tidak panjang kali lebar...." balasnya bercanda.
Kini giliranku yang menghela nafas seraya memutar bola mata, "Hadeh... Iya pak Kevin Pratama... Saya Salsa Olivia mengalah dalam keadaan terpaksa.... " balasku dengan candaan pula.
"Oke-oke... Kalau begitu apakah nyonya Salsa Olivia bersedia di ajak jalan-jalan oleh suami anda?" Kevin bertanya layaknya melakukan sebuah interview memakai bahasa formal.
Aku tersenyum tipis, walau sebenarnya ingin tertawa terbahak-bahak, "Kevin! Berhentilah bercanda, aku mau kok! Lagian aku juga bosan stay at home terus.... "
"Baiklah kalau begitu aku mau ganti baju lagi, karena sepertinya bajuku sangat kusut karena ulah pertempuran kita berdua!"
Entah kenapa wajahku memanas ketika Kevin membalas ucapanku apalagi pada kata pertempuran, padahal dia sangat tenang pada saat mengucapkan namun terdengar sedikit intim ketika otakku mulai mencernanya.
Ahh sial... Sepertinya fikiranku memang benar-benar kotor, bahkan kalimat yang sangat biasa di lanturkan mampu melemahkan pendirianku.
"O-oke aku juga mau ganti baju dulu"
Dengan cepat aku berlari keluar dari kamarnya, menarik nafas dalam-dalam dan menghembus lewat mulut.
3 jam kemudian.
Kami sudah dalam perjalanan, terkadang aku melirik kearah Kevin, sejak tadi ia terus tersenyum tanpa ku tau apa makna dari senyumannya itu.
"Ngapain kamu senyum-senyum sendiri?" tanyaku heran.
"Aku bahagia Sal... Aku bahagia karena kamu!"
"Kenapa aku?"
__ADS_1
"Ya karena ini pertama kalinya aku mengajakmu keluar bahkan kamu tidak lagi menolakku, dan juga ini kali pertamanya kamu duduk disampingku tanpa aku menyuruhmu terlebih dahulu!" tutur Kevin masih tersenyum semringah.
"Ohh itu karena aku hanya bosan aja dirumah, lagipula aku duduk didepan karena tidak mau ada yang marah beranggapan dirinya supir!" sindirku.
"OH MY GOD... kenapa bisa aku nggak sadar kalau lagi duduk didepan! Pantas aja dari tadi Kevin melirik-lirikku dari tadi. Astaga! astaga...." keluhku dalam hati.
"Mulai sekarang aku tidak akan marah lagi, kamu mau duduk dimana saja terserah, mau di bagasi juga boleh, mau duduk dipangkuanku juga aku bersyukur banget heheh...." rayu Kevin terkekeh.
Aku melongo mendengarnya, sangat tidak menyangka seorang Kevin bisa memberiku rayuan yang sedikit terdengar alay.
Aku baru sadar akhir-akhir ini Kevin banyak berubah, mulai dari perhatian, bercanda, bahkan menggodaku, namun seiring berjalannya waktu aku mulai terbiasa menghadapi sikapnya yang senantiasa berubah.
Mungkin sikapnya yang dulu menjadi pembelajaran tersendiri bagiku, ternyata di balik wajah datar, sikap dinginnya tersimpan sebuah perhatian yang perlahan menghilangkan rasa yang tersirat kepada Willy.
Meskipun demikian, Aku mungkin akan sering bertemu Willy apalagi kami satu kampus, walau saat ini persahabatan di uji oleh sebuah kesalahpahaman.
Tetapi mereka tetaplah sahabatku, aku yakin persahabatan kami tidak akan hancur begitu saja, dan untuk sekarang lebih baik aku merelaksasikan fikiranku dengan jalan-jalan.
Agar nantinya masalah yang muncul kali ini tidak menjadi penghalang untukku fokus dengan urusan kuliah.
"Sal... Kenapa kamu melamun?" tanya Kevin menyadari diriku yang hanya duduk diam.
Seketika aku tersadar, lalu menggeleng kepala sambil menutup mata sekilas, "Ehh aku hanya memikirkan sesuatu!"
"Jangan-jangan kamu memikirkan apa yang akan kita lakukan sebentar malam ya?" selidik Kevin terdengar menggoda.
"Hah! Apaan sih! Kamu kira otak aku isinya mesum semua? Nggak juga kali, yang jelas kali ini positif!" sekaku.
"Ohh... " jawabnya singkat.
"Vin... Emangnya kita mau kemana sih!" tanyaku masih tidak tau tujuan kita yang sebenarnya.
"Istimewah? Hm... Jangan-Jangan pantai? Wah... Kalau begitu aku akan sangat bahagia kalau kamu mengajakku kesana!"
"Maaf sepertinya kamu salah menebak!" Serkahnya.
"Ohh salah ya! Terus dimana?"
"Sebentar lagi kamu akan tau sendiri! Jadi tidak perlu banyak bertanya lagi " jawabnya tambah membuatku penasaran.
Untuk sekarang aku memlih untuk diam daripada dia terus bersikap ambigu lebih baik aku bergumam dalam hati memikirkan tujuan kami.
Beberapa saat kemudian akhirnya kami sampai di depan sebuah restoran mewah dan elit, diapit oleh Sebuah gedung pencakar langit, disamping kirinya adalah hotel mewah.
Aku turun dari mobil, kakiku terasa keram karena terlalu lama duduk didalam mobil, perjalanan kami memakan waktu yang cukup lama bahkan hari sudah menjelang malam padahal kami berangkat sangat cepat.
"Ayo Sal... Kita masuk sekarang! Ajak Kevin menjulurkan tangannya kearahku.
"Tunggu Vin... Kakiku masih Keram!" balasku sambil berjongkok memijit kaki.
Tiba-tiba Kevin mengangkat tubuhku, menggendongku berjalan kearah pintu, aku sangat-sangat terkejut dengan perlakuannya itu.
"Kevin... Apa yang kamu lakukan? Turunkan aku! Ayo cepat turunkan!" pintaku merontah-rontah.
"Tidak apa-apa Sal... Kakimu kan sakit! Jadi lebih baik aku menggendongmu!"
"Tidak! Aku tidak mau! Turunkan aku sekarang!" tegasku.
__ADS_1
"Diamlah Sal... Jangan bergerak terus, kalau kamu bergerak lagi aku akan langsung menjatuhkanmu! Nanti kamu sendiri yang malu! Kamu mau?" ucapnya.
Aku menggeleng kuat, "Nah... Gitu dong! Jadi diam aja oke.... " sambungnya membujukku.
Ketika pintunya terbuka secara otomatis, para pelanggan yang ada didalam seketika melirikku, bahkan yang sedang berbincang, makan, semua menghentikan aktivitasnya sembari memandangiku di gendong oleh Kevin.
"Selamat datang tuan Kevin! Ruangan VIP yang anda pesan ada di lantai 2!" sambut salah satu pegawai restoran tersebut.
"Ruangan? VIP? Apa maksudnya? Bukankah kita hanya makan malam seperti orang biasa pada umumnya?" pertanyaan itu kini mulai bermunculan.
"Kevin... Kenapa kita harus diruangan VIP? bukannya direstoran ini ada banyak meja makan?"
"Kita adalah pasangan! Jadi harus di beri privasi bukankah begitu?"
Seketika aku diam membeku, sepertinya Kevin tak bisa di lawan, apalagi aku tak bisa menolak, sebab aku memang menyukai makanan serba gratis, mumpung Kevin lagi mau mentraktir kenapa aku harus menolak rezeki.
Pada saat pintu ruangan VIPnya terbuka, mataku terbelalak sempurna mendapati interior ruangan yang di penuhi benda-benda yang sangat mewah dan terlihat Glamour.
Perlahan Kevin menurunkanku, lalu dia berjalan ke arah kursi, "Silahkan duduk Sal..." ucapnya tersenyum sembari menarik kursi itu untukku.
Awalnya aku ragu untuk melangkah menuju kursi itu, tapi melihat senyumnya yang tampak menawan dan tulus seakan menarik tubuhku untuk segera mendekatinya.
Pada saat aku mulai duduk, Kevin juga melangkah ke arah kursi yang berada tepat didepanku, "Pesanan anda sebentar lagi akan selesai, jadi mohon bersabar ya tuan! Nyonya!" ujar Pelayan yang sejak tadi mengantar kami menuju keruangan ini.
Kevin hanya mengangguk, sebagai tanda ia mengiyakan pelayan tersebut.
"Shut! Kevin... Kenapa kita harus makan disini? Pasti biayanya mahal loh...." bisikku mencondongkan tubuh sedikit kearahnya agar dia mendengar bisikanku.
"Tidak apa-apa, uangku tidak akan habis kalau hanya untuk membelikanmu makan!" jawabnya percaya diri.
"Kamu yakin? Aku biasanya makan banyak loh...." ucapku menantang.
"Mana ada... Kalau kamu biasanya makan banyak seharusnya kamu tidak sekurus itu!" jawabnya meremehkan dengan mata yang menatap wajah dan turun kedadaku sebatas oleh meja makan.
"Mata kamu mengarah kemana tuh!" Aku menutup tubuh bagian dadaku dengan kedua tangan, ketika bola mata Kevin menatapku dengan tatapan meremehkan.
"Ehhem... Tidak aku tidak menatap apa-apa, hanya saja kamu terlihat datar sekali! Jadi sebaiknya kali ini kamu memang harus makan banyak!" ejeknya menyindirku.
Sindirannya itu seolah-olah menjadi sebuah anak panah menancap berkali-kali kejantungku, apa dia fikir sindiran serta ejekan yang ia sampaikan padaku sejak dirumah sampai sekarang adalah sebuah lolucon?.
"Kevin! Ingat jangan membangunkan singa betina yang sedang tidur Oke... Jangan sampai singa betina itu marah lalu mencakarmu sampai ma*pus!" ucapku mengancam dengan tersenyum sinis menahan gejolak amarah yang mulai bermunculan.
"Jangan-jangan singa betina yang kamu maksud itu... kamu sendiri?" tanyanya gagal paham.
Aku menggertakkan gigi, sungguh sangat kesal Kevin malah terus mengajakku bercanda padahal emosi sudah hampir menguasai diriku.
"Diamlah Vin... jangan membuatku kesal lagi, kalau tidak aku bakal pulang kerumah sekarang!"
"Baiklah aku tidak akan bicara lagi, tapi jujur! kamu memang sangat datar seperti sebuah lidi! jadi sekarang kamu harus makan yang banyak!" ucapnya lagi masih mengejekku.
Brak....
Batas kesabaranku sudah berada pada batas maksimum, membuatku tak bisa menahan diri dan memukul meja dengan kedua tanganku.
"Aku bilang hentikan, ya hentikan... kenapa kamu harus mencelaku disaat seperti ini!, kamu lihat disini kita bukan hanya berdua! apa kamu tidak bisa mengerti aku? aku malu Vin... jadi lebih baik tutup mulut kamu!" kesalku padanya.
Kini aku benar-benar emosi, Apa Kevin tidak menyadari kehadiran pelayan laki-laki yang sejak tadi berdiri di dekat pintu? kenapa dia harus mengatakannya disini! kalau dirumah aku bisa mengerti karena hanya aku dan dia.
__ADS_1
Tapi aku sungguh tidak bisa menerima kalau ada orang lain yang mendengar pada saat seperti ini, apalagi dia mencela tubuhku, ya datar, aku memang datar! lalu kenapa yang datar harus di cela padahal nyawa lebih penting?.
Aku sungguh tidak bisa mengerti pemikirannya.