
HAPPY READING GAES
JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK UNTUK PART INI 😉
Mungkin keputusanku ini akan menjadi sebuah kebahagiaan atau malah menjadi awal baru penderitaanku, tapi aku tidak tau lagi harus Bagaimana, rasa kecewa membuatku malas memikirkan masa depan yang akan kutempuh.
Sesaat kemudian ayah dan mama masuk lalu menghampiriku, ayah merangkul mama yang matanya tampak memerah, aku curiga mungkin mama sudah menangis namun aku tak mau bertanya soal itu.
"Sal... Ada yang mau mama kamu katakan!" ucap ayah sembari melirik mama.
"Ada apa mah?"
Mama menunduk, ia tampak linglung dan sesekali menatap ayah.
"Be-begini sal," mama melepaskan rangkulan ayah dan melangkah kedalam dekapanku sambil menangis.
"Maafkan mama Sal..., maafkan keegoisan mama nak! Mama baru sadar ternyata karena perjodohan ini kamu sangat menderita, maaf Sal, mama tidak pernah mendengarkan keluhanmu, dan sekarang kalau kamu mau mama akan membatalkan perjodohan ini, mama akan melakukan apapun untuk membuatmu bahagia nak! " ungkap mama membuatku tersenyum bahagia.
Akhirnya mama sadar akan keegoisannya, namun percuma juga mama melakukan itu karena aku sudah memutuskan akan menerima Kevin, agar aku bisa melupakan Willy yang sudah mengecewakanku.
"Tidak mah, aku sudah memaafkan mama, tapi aku mau melakukan pernikahan ini, aku sudah siap sekarang mah! " pintaku sontak membuat ayah dan mama termangu, mereka tampak kaget mendengar ucapanku.
"Kamu nggak lagi bercanda kan Sal? Tanya ayah.
"Nggak mah, Salsa serius! " jawabku tegas
Ayah dan mama saling melempar senyum, aku tau mereka bahagia mendengarnya, tapi entahlah aku juga seharusnya ikut bahagia akan tetapi aku justru tidak merasakan hal itu.
__ADS_1
"Makasih ya sayang! "
"Iya mah" jawabku.
***
Hari menjelang malam, matahari sudah tidak lagi menampakkan dirinya, aku sudah sangat bosan berada dirumah sakit ini, kata dokter besok aku sudah bisa pulang tetapi bukannya pulang kerumah dulu melainkan langsung ke butik gaun pernikahan.
Aku termenung Memandangi jendela yang tampak basah dari luar kaca karena terkena hujan gerimis .
Lamunanku semakin panjang tatkala kembali mengingat Willy, dia adalah orang yang selalu mewarnai hari-hariku, tetapi sebentar lagi aku akan menikah, dan mungkin dia adalah kenangan terindah yang tuhan berikan sebelum aku melepaskan masa lajangku.
Ctarrr Ctarrr
Suara petir seakan menghantam keras gedung rumah sakit ini, gemuruh hujan mulai terdengar menambah kesunyian yang perlahan menghampiriku.
Mama dan ayah sudah dari tadi pulang kerumah, karena aku menyuruh mereka untuk istirahat, dan pada akhirnya aku menyesal sekarang, kini aku benar-benar sendiri hanya hamparan angin dingin yang kian menerobos masuk kedalam selimutku.
Saking dinginnya, aku mulai membungkus diriku sendiri didalam selimut hingga tak terlihat dari ujung rambut sampai kaki.
Tap tap tap
Suara langkah kaki terdengar menggema bersamaan dengan gemuruh air hujan. Mataku melotot dibalik selimut, aku mulai takut, berfikir bagaimana bisa hal semacam ini terulang lagi padaku.
Halusinasi ku semakin menjadi-jadi tatkala
Suara langkah kaki itu berhenti tepat disampingku, aku takut membuka selimut, aku takut itu penjahat yang membawa pisau dan mau membunuhku.
__ADS_1
Namun seketika suara itu menghilang, aku sangat penasaran siapa yang datang perlahan sedikit demi sedikit aku membuka selimut tetapi sebelum mataku melihat orang itu, tiba tiba.
Wusss
Orang itu menarik selimut yang menggulung penuh tubuhku, aku kaget hingga ikut tergulung dan akhirnya terjatuh dari ranjang.
Aww.....
Aku merasakan perih dan sakit secara bersamaan dipunggung tanganku, sekilas kulihat ada darah, yang ternyata jarum infusnya terlepas, sumpah sangat sakit hingga aku hanya bisa menutup mata menahan perihnya.
"Bangun! " suara dingin itu membuatku terdiam, aku menyadari suara itu tampak tidak asing lagi ditelingaku.
Aku menoleh menatap kearah sumber suara itu, yang ternyata Kevin dengan wajah datarnya sembari menyilangkan kedua tangannya didepan dada.
"Kevin! Apa maksud lo, lo mau bunuh gue ya?" teriakku dengan lantang.
Mataku tak hentinya menatap tajam kepada dia, tetapi dia malah memasang muka acuhnya yang membuatku tambah geram.
"Lo nggak punya mata ya? Tolongin gue, gue kayak gini karena lo, dan lo cuman lihat-lihat doang, lo itu punya hati nggak sih? " cetusku.
"Bangun sendiri! " jawabnya terdengar dingin, singkat dan padat.
"Oh tuhan apa ini orang yang akan menjadi suamiku? Kenapa dia mempunyai hati sedingin es balok? " batinku.
.
.
__ADS_1
.
NEXT...?