
Dia tak menjawab pertanyaanku, malah melebarkan pintu dan perlahan melangkah kearahku.
Aku sangat takut, mungkin ada sedikit trauma dengan sikap yang ditunjukkan kevin padaku kemarin dulu, sambil melangkah mundur tubuhku gemetar begitu saja.
"Kevin! Gue tanya, elo ngapain datang kesini!"
"Maaf!!! " ucapnya singkat sembari menunduk
"Hah! Tadi gue nggak salah dengar kan? Dia beneran bilang maaf?" batinku.
Aku tercengang, merasa tak menyangka kata itu bisa dia ucapkan seolah sangat lembut dan tulus.
Tanpa sadar kini mataku berkaca-kata, "Lo bilang maaf? Kevin, asal lo tau! Kata maaf aja nggak bisa langsung buat gue nggak ingat lagi tentang kemarin! Sikap lo tuhh udah keterlaluan banget Vin! " tegasku.
Sekatika Kevin mendonggakan wajahnya menatapku dengan tatapan serius, "Sal... Maaf! Aku minta maaf, tolong maafin aku, aku tidak akan melakukannya lagi!" lirihnya.
Air mata untuk ke sekian kalinya kembali menetes, ada secerca perasaan haru yang kurasakan ketika mendengar ia baru saja meminta maaf padaku.
Namun meskipun begitu, aku tidak langsung memafkannya begitu saja, karena aku masih butuh waktu untuk berfikir, apalagi kaum lelaki sudah terkenal dengan alasan mautnya.
"Gue nggak bisa langsung maafin manusia bejat kayak elo! " cibirku.
"Sal... Aku akan lakukan apapun yang kamu mau! Asalkan kamu memaafkanku Kalau kamu minta aku bersujud didepan kamu, aku akan melakukannya" ujarnya penuh keseriusan.
Aku terdiam, mengalihkan pandangan ke kesamping karena tak mau menatapnya.
Tiba-tiba Kevin bertekuk lutut dihadapanku, membuatku terkejut.
"Percuma elo kayak gitu! Gue nggak bakalan maafin elo!" ucapku.
Di raihnya tanganku, dengan cepat ku tepis, "Sal... Please maafin aku!" pintanya.
"Kalau gue bilang enggak ya enggak!" jawabku membuang muka.
Akhirnya Kevin kembali berdiri, namun langsung meraih dan menggenggam tanganku lagi.
"Sal... Maafin aku! Aku menyesal membentakmu waktu itu! Aku mohon ayo kita kembali kerumah!" ajaknya memohon.
Aku kembali menepis tangannya, "Ohh... Lo manggil gue pulang supaya elo bisa bentak-bentak gue lagi! Mainin perasaan gue lagi? Atau lo mau gue kayak orang bodoh lagi di depan lo! Apa itu mau lo ha?" selidikku.
"Aku janji tidak akan melakukannya lagi! Ayolah... Back to home please!"
"Nggak, berapa kalipun elo memohon gue nggak bakal kembali!" tegasku lagi.
"Sal... Aku akan memberimu waktu untuk berfikir, tapi aku mohon jangan mengatakan itu lagi, ada yang namanya kesempatan kedua untuk memperbaiki itu semua Sal... Jadi aku harap kamu memberikan kesempatan itu sama aku!" tutur Kevin dengan wajah memelasnya.
"Terserah! Sekarang, lo keluar dari kamar gue!" usirku sambil menunjuk ke arah pintu.
"Sal.... "
"Keluar sekarang!!!" raungku menjerit.
Dengan langkah lesu Kevin berjalan keluar dari kamarku, kemudian aku kembali membanting pintu dengan kasar, hingga suaranya terdengar sangat keras.
Aku mengunci diri di dalam kamar, kini aku terlentang di atas kasur, menutup mata
Membiarkan air mataku mengalir begitu saja dari ekor mataku.
KEVIN POV
Aku merasa hampa sekarang, rasa penyesalan ini kian membuatku stres, aku kehilangan ide untuk membujuk Salsa aku tau aku salah, tapi kenapa dia tak mau memafkanku, meskipun aku sudah bersujud dan meminta maaf padanya, tapi pendiriannya tetap sama. Wanita yang keras kepala memang susah di ajak kompromi, fikirku.
Aku merasakan tubuhku tak bertenaga, hingga kemudian Mamanya Salsa datang dan menghampiriku.
"Kevin! Bagaimana? Apa Salsa sudah memaafkan kamu?" tanyanya.
Aku menggeleng pelan, "Belum mah, ohh iya aku mau pulang dulu soalnya hari ini aku mau langsung kerumah sakit!" jawabku.
"Ohh..., kalau begitu Hati-hati dijalan ya Vin! Urusan Salsa biar mama ikut membujuknya hehe kamu tenang aja!"
__ADS_1
"Makasih ya mah! "
Kemudian aku keluar dari rumahnya masuk kedalam mobil, melajukan dengan pelan, namun ketika sudah berada di jalan raya, aku melaju dengan kecepatan tinggi, apalagi ketika teringat bagaimana Salsa menolak permintaan maafku, aku kembali kesal.
Sesekali kemarahanku ku lampiaskan dengan memukul keras setir mobil, tapi emosi ku tidaklah berkurang malah tanganku saja yang terasa sakit.
Jujur! Hari ini aku sudah membatalkan semua jadwalku yang dirumah sakit, tadi itu aku memang sengaja berbohong kepada mama, aku melakukannya, karena tadinya aku berharap Salsa akan memaafkannya dan setuju untuk mengajaknya pulang.
Akan tetapi, lagi-lagi kenyataan menolakku, namun tetap saja aku lebih memilih pulang kerumah menenangkan fikiran dari pada kerumah sakit, takutnya ada pasien yang sekarat sedangkan aku tidak bisa fokus.
Ketika didalam rumah, aku berjalan menuju dapur, sesekali aku melirik ke arah kamar Salsa.
Sebenarnya, aku pulang ketika kejadian itu sudah terjadi, memang waktu itu aku sempat pergi tapi di pertengahan jalan menuju rumah sakit, aku terus memikirkan Salsa.
Namun ketika pulang, Mataku melotot mendapati pintu terbuka lebar, ku fikir ada perampok atau apa! Jadi aku berlari masuk memanggil namanya, tapi tak ada respon sama sekali.
Hingga aku mengetuk pintunya namun tak ada jawaban kemudian aku langsung membukanya ternyata kamarnya memang dalam keadaan kosong.
Aku hendak keluar, tetapi langkahku seketika terhenti tatkala menyadari ada sesuatu yang ganjal.
Aku menoleh ke setiap sisi kamarnya, "Tunggu! Kemana semua barang-barangnya?" tanyaku pada diri sendiri melihat tak ada sesuatu di atas meja riasnya, lalu aku membuka lemari, ternyata sudah dalam kondisi kosong juga.
Aku panik! Sangat-sangat panik hanya bisa mengacak rambut tapi kemudian aku kembali teringat bahwa Salsa tak pernah menginap di rumah orang lain hingga aku yakin bahwa sekarang dia ada dirumah mamanya.
Rasa gelisahku bertambah ketika sudah larut malam, tadinya aku kira dia akan kembali tapi ternyata tidak, keadaan rumah sangat sunyi tanpa suara sedikitpun.
Sumpah! Aku merasa frustasi memikirkannya, rasa kesepian menghampiriku, entah kenapa hatiku menginginkan kehadirannya padahal dia adalah orang yang sangat cerewet, kasar, keras kepala, dan selalu membuatku marah!
Tapi kenapa kali ini kesannya aku sedang di landa galau karena merindukannya.
Apa aku memang merindukannya? Tapi mustahil perasaan ini tak pernah ku rasakan sebelumnya bahkan ketika Clara masih menjadi kekasihku.
Dulu Clara yang sering bilang merindukanku, tapi aku tidak merasakan hal yang sama, hingga penghianatan itu terjadi barulah aku merasa sangat marah, aku marah karena merasa di hianati, ini sangatlah wajar bagiku apalagi ia hamil anak kakak sepupuku sendiri.
Mataku celingak-celinguk memandangi seisi rumah dalam keheningan, sebelumnya rumah ini memang sering sunyi tapi semenjak ada Salsa, aku merasa rumah ini tak lagi seperti itu, dia memang hanya seorang diri tapi ketika dia sudah mengeluarkan semua kekesalannya, rumah tak lagi sunyi malahan rumah ini seperti di huni oleh banyak orang.
Aku juga tak bermaksud seperti itu, tapi bagaimana lagi perkataan yang sudah di ucapkan tak bisa di tarik kembali, begitu pula waktu yang berlalu tak bisa di putar kembali.
Dan jika saja itu terjadi aku berharap, Salsa mau memaafkanku, dan aku akan memperbaiki semuanya, mengulang dari awal lagi dengannya.
Esok harinya, Ada beberapa panggilan yang masuk mengatakan jadwalku sudah sangat padat, tapi sekali lagi aku membatalkannya karena masih ingin pergi ke rumah Salsa.
Ketika memasuki kompleknya, aku tak sengaja melihat seorang laki-laki tengah berdiri terus memandangi rumah Salsa.
Aku menginjak rem, lalu memantaunya dari kejauhan, tiba-tiba dia menoleh kearahku mungkin menyadari kehadiranku hingga dia langsung berlari pergi.
Tak cukup waktu lama kemudian aku sampai di rumah Salsa, mengetuk pintu dan yang membukanya adalah mamanya sendiri.
"Mama!" sapaku.
"Ehh menantu mama datang! Ayo masuk sayang!" sahut mama tersenyum lebar menarik lenganku.
"Ohh iya Salsa mana mah!" tanyaku.
"Ada tuh di kamar! Dia lagi ngurung diri kali ya! Semenjak kamu datang dia cuman keluar dua kali loh... Pas makan siang sama makan malam itu pun setelah makan langsung masuk lagi!" tutur mama.
"Vin! Kamu semangat yah! Seorang wanita itu emang susah di bujuk loh, jangan pantang menyerah, nanti dia bakal luluh sendiri!" lanjut mama menyemangatiku.
Aku hanya mengangguk lalu kemudian mama pergi sedangkan aku berjalan menuju kamarnya.
Tapi sebelum aku mengetuk tiba-tiba pintunya terbuka dan dia keluar, dia sangat terkejut dengan ke hadiranku, sampai-sampai dia hampir terjatuh ke lantai.
Namun dengan cepat aku meraih tubuhnya mata kami bertemu dan bertahan beberapa detik.
Plak...
Seketika dia menamparkanku, tapi aku bahkan tidak kaget atau merasa marah melainkan merasa heran saja kenapa dia melakukannya padahal aku hanya menyelamatkannya.
"Kenapa kamu menamparku! " tanyaku.
__ADS_1
"Itu karena elo udah kurang ajar! Kenapa elo datang lagi, kenapa!!!" balasnya Bertanya dengan emosi.
"Kamu masih marah? Oke aku tau aku banyak salah Sal... Tapi aku datang kesini karena ingin menjemputmu pulang kerumah kita!" ucapku lirih.
"Oh... Rumah kita? Jadi sekarang elo udah bisa bilang kita? Dulu lo bilang semuanya milik elo tapi kenapa sekarang udah beda hah! "
"Sal... Justru itu aku minta maaf! Jadi ku mohon ayo kita pulang!"
"Kalau gue nggak mau elo mau apa!" Ketus Salsa tanpa mau menatapku.
"Kalau kamu tidak mau aku akan terus berusaha sampai kamu bilang mau! Aku akan terus datang ke sini setiap hari memohon-mohon sama kamu!" tegasku.
Dia akhirnya menatapku, "Kenapa elo mau melakukan ini Vin!" tanyanya lirih.
"Karena aku merindukanmu!" jawabku cepat.
"Meskipun elo bilang rindu, gue juga nggak bakal... tunggu, apa! Elo bilang apa tadi?" tanyanya lagi seperti orang yang tercengang.
"Salsa... Aku pernah mengatakan tak ingin mengulang kalimat yang sama untuk kedua kalinya, tapi untuk kali ini demi kamu aku akan membuang prinsipku itu, jadi dengarlah baik-baik A-ku merin-dukan-mu!!! " teriakku menggema mengisi rumahnya tapi aku sama sekali tidak perduli.
Sepertinya usahaku kali ini akan membuahkan hasil, terlihat dari dia yang agaknya tersipu, dengan rona merah yang sangat jelas terlihat mulai muncul di wajahnya.
"E-elo pasti bercanda!" serkahnya.
"Salsa... Apa aku pernah bercanda seperti ini sebelumnya sama kamu?" tanyaku menengadah.
Dia menggelengkan kepalanya, agaknya dia mulai luluh, ada senyum yang tergambar di sudut bibirnya dan itu membuatku bahagia dalam hati.
"Pe-percuma lo bilang kayak gitu! gue masih tetap sama pendirian gue! Nggak mau seatap lagi sama lo!"
Aku menjadi sedikit kecewa mendengarnya, ku fikir tadinya sudah berhasil tapi ternyata malah sebaliknya, hati perempuan memang susah untuk di tebak!, fikirku lagi.
"Kamu tenang saja! Aku akan selalu menunggu sampai kamu mau!" ucapku serius.
"Ohh... Kalau begitu buktiin dari sekarang!" tantangnya, Aku menyutujuinya dengan cepat.
***
Waktu terus berlalu, ini sudah lebih dari sepuluh hari Salsa menginap di rumah mamanya, setiap paginya aku pasti kesana untuk mengajaknya pulang tapi dia masih saja menolakku.
Hari ini aku baru pulang dari rumahnya, mengemudi di tengah macetnya ibu kota apalagi di jam kerja membuatku stres, otakku terasa di hinggapi banyak masalah yang bertumpuk.
Beberapa jam berlalu aku sampai di rumah, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu, aku berharapnya itu Salsa yang datang jadi dengan penuh semangat aku berlari untuk membukanya.
"Kevin!" Sapa seorang wanita yang kini berdiri di ambang pintu dalam kondisi menangis membawa 1 buah koper besar.
"Clara?" sahutku kaget.
"kenapa kamu datang kesini? " lanjutku mengerutkan dahi tidak suka.
Seketika Clara terduduk dan langsung memeluk kakiku dengan sangat erat.
"Vin! Aku mohon biarkan aku tinggal disini untuk beberapa hari, aku kabur dari rumah karena bertengkar dengan kakak sepupumu Vin!" jelasnya sambil terisak.
Aku memutar bola mata dengan malas! "Kalau kamu kabur! Kenapa kamu harus kesini?"
"A-aku tidak membawa uang sepeserpun!" ucapnya gugup.
Tanpa merasa kasihan aku mempunyai ide dan langsung melepaskan tangannya dari kakiku.
"Tunggu disini!" jawabku datar lalu melangkah naik kelantai dua.
Setelah itu aku kembali lagi kulihat dia sudah berdiri, memandangku dengan wajah memelas, dengan matanya yang sembab.
Aku meraih tangannya dan meletakkan beberapa juta uang tepat di telapak tangannya.
"Ini! Kamu ambil saja, kamu bisa cari hotel untuk menginap! Maaf aku tidak bisa membiarkanmu menginap disini!"
"Vin! Aku mohon jangan seperti ini!" pintanya
__ADS_1