
Sesampainya di hotel, Kevin membawakan koperku hingga masuk kedalam kamar, sementara aku langsung terduduk di sofa dekat jendela.
"Ada apa Sal?" tanya Kevin melihatku melamun.
"Vin... Aku mau tanya, apa yang sebenarnya terjadi sama mamaku? Apa penyakitnya sering kambuh selama aku pergi?"
Kevin berjalan medekatiku, ia kini duduk di sampingku sambil merangkul tak lupa ia juga mengelus agar aku sedikit tenang.
"Sal... Dengarkan aku! Sebenarnya mama sudah beberapa kali keluar-masuk rumah sakit, karena penyakitnya seringkali kambuh! Mungkin karena mama menghawatirkanmu Sal... Mama menunggumu pulang!" jawab Kevin.
"A-apa benar begitu? Terakhir kali aku bicara dengan mama, mama seperti kesakitan terus panggilannya langsung terputus awalnya aku curiga kalau penyakit mama kambuh tapi setelah aku menelfon ayah, katanya mama baik-baik aja!" imbuhku menjelaskan.
"Sal... Mungkin waktu itu ayahmu berbohong karena dia tak mau kamu merasa bersalah dengan kepergianmu ketempat ini, padahal waktu itu mama sudah ada di ruang ICU!"
ujarnya seketika membuatku ingin menangis.
"Setiap kali aku memeriksa mama, pasti beliau selalu menanyakanmu Sal... Bahkan mama sering mengigau menyebut namamu dalam tidurnya.
"Kalau begitu bisakah kamu menelfon nomor ayahku? Soalnya ayah tidak mau menjawab panggilanku setiap kali aku yang menelfon!"
"Baiklah tunggu sebentar!"
Kevin mulai menekan nomor ayah di layar ponselnya, panggilan itu berdering namun kemudian ketika panggilannya terhubung dengan cepat Kevin memberikan ponselnya itu padaku.
📞"Halo... Ayah! Ini aku Salsa... Bagaimana keadaan mama!" raungku bertanya penuh kekhawatiran.
Tutt... Tutt... Tutt....
Seketika aku tercengang, belum sempat aku mendengar suara ayah, namun tiba-tiba terputus entah itu disengaja atau karena koneksi yang buruk aku sama sekali tak bisa menebaknya.
"Sinyalnya tidak buruk lalu kenapa mati? Apa ayah sengaja mengakhirinya Vin?" gumamku lalu bertanya ke Kevin.
Ia mengangkat kedua bahunya, "Aku juga tidak tau Sal... Atau aku menelfon rekanku saja? Ia juga dokter yang selalu mengecek kondisi mama!" usulnya ku anggukkan kuat dan langsung ku kembalikan ponselnya itu.
📞"Halo... Ini aku, apa kamu yang merawat ibu mertuaku? Bagaimana kondisinya sekarang?" Kevin bertanya kepada salah satu rekannya yang sekaligus orang yang ia beri wewenang merawat mama selama ia bepergian.
📞"Ahh iya dok! Kan saya yang dokter suruh untuk merawat mama mertua anda, ehh kalau soal kondisinya, sepertinya memprihatinkan dok! Apalagi ketika sekarang, saya takutnya dokter tidak bisa lagi bertemu mertua anda sebelum kembali kesini?" jawab rekannya.
__ADS_1
📞"A-apa maksudmu! Kenapa kamu mengatakan hal bodoh seperti itu, kalau sampai ada apa-apa dengan mertuaku, kamu akan ku pecat! jadi sebaiknya lakukan yang terbaik selagi aku belum pulang!" tegas Kevin mengancam.
Kevin mengakhiri panggilannya, kemudian ia menatapku dengan tatapan sayu dengan mata yang berkaca-kaca.
"A-apa yang terjadi Vin... mama kenapa? cepat katakan mama kenapa? hiks..." Aku menjerit mulai terisak takut dengan jawaban yang akan Kevin berikan.
"Maaf Sal... sepertinya kondisi mama semakin memburuk dan mungkin kita tidak bisa bertemu mama sebelum kita pulang secepatnya!"
Aku menggeleng kuat beberala kali, "Tidak! itu tidak mungkin mamaku tidak akan meninggalkanku begitu aja! mama sangat sehat sebelum aku datang ketempat ini! mama tidak mungkin sakit separah itu Vin! aku mohon jangan membuatku takut! aku mohon...." pintaku tak percaya dengan ucapannya.
Kevin memelukku, ia ikut menangis mengelus lembut punggungku, "Yah... semoga saja Sal... semoga kita tidak terlambat!"
"Vin... aku takut! aku sangat-sangat takut mama akan pergi sebelum aku meminta maaf, aku takut mama meninggalkanku sebelum aku membahagiakannya, aku takut Vin... aku tidak akan sanggup hidup lagi kalau sampai itu terjadi, aku tidak kuat...." lirihku sembari menangis kencang.
"Tenanglah Sal... aku percaya mama adalah orang yang sangat kuat, mama pasti akan bisa melawan rasa sakitnya! percaya padaku!" Kevin berusaha menenangkanku.
Tanpa sadar tubuhku bergetar hebat, bahkan kakiku rasanya sangat lemas, "A-aku harus bagiamana Vin... aku tidak tau lagi harus berbuat apa kalau mama sampai meninggalkanku? kenapa nasibku harus seperti ini Vin... kenapa?"
Aku benar-benar merasa terpukul, andai saja aku tidak disini mungkin waktu 4 tahun itu ku gunakan untuk membahagiakan keluargaku, berada di samping mama dan merawatnya, tapi sekarang semua sudah menjadi bubur, aku yang sekarang hanya bisa menyesali perbuatanku di masa lalu.
***
Sedangkan aku, wajahku tak pernah kering oleh linangan air mata, bahkan mataku sudah bengkak sekarang.
"Sal... berhentilah menangis, mama pasti baik-baik saja!" Kevin kembali mencoba menenangkanku.
Aku Tak meresepon, bahkan meliriknya saja tidak pernah, "Vin... lebih baik kita ke bandara saja!" ajakku tiba-tiba bangkit dan menarik lengan Kevin.
"Apa! tapi ini masih ada 3 jam sebelum waktu keberangkatan kita Sal... kalau kita pergi sekarang! kita hanya akan lelah menunggu!" pekik Kevin.
"Tidak Vin... aku lebih rela menunggu di bandara dari pada di sini, kalau aku hanya duduk di kamar ini, itu bahkan lebih membuatku gelisah, jadi ayo pergi sekarang.
Kevin menghela nafas panjang, "Baiklah Sal... ayo...." Pada akhirnya ia setuju.
***
Tiba di bandara, Kevin bermaksud ingin mengajakku makan di sebuah kafe, tapi aku menolak, "Ayolah Sal... kamu belum makan apapun sebelum pergi, sedikit saja yah!" Ujarnya membujukku.
__ADS_1
Aku kembali menangis, "Aku tidak mau Vin! berhentilah memperlakukanku seperti anak kecil, kalau aku bilang tidak ya tidak!" tegasku menjerit sontak membuat orang-orang yang berada di sekitar kami menatapku heran.
"Oke... kalau begitu aku juga tidak akan makan!" katanya.
"Terserah kamu!" ketusku.
Beberapa jam berlalu, aku dan Kevin berada di dalam pesawat, berbeda dengan yang lainnya yang tertidur ketika pesawat sudah lepas landas, mataku malah tak ingin terpejam walau sesaat.
Tiba-tiba Kevin meraih kepalaku dan menyandarkan di pundaknya, "Tidurlah Sal... aku akan membangunkanmu kalau pesawar sudah mendarat!" imbuhnya.
"Tapi aku tidak bisa tidur Vin...."
"Pejamkan saja matamu, kosongkan fikiranmu, tidak usah memikirkan semua masalah yang ada, bayangkan saja, kita baru pulang dari liburan dan akan membawakan kabar bahagi untuk mama yang menunggu kita dengan bahagia di rumah!"
Perlahan aku mengikuti arahan Kevin, aku mulai memejamkan mata dan membayangkan apa yang baru saja ku dengar dari mulutnya.
"Salsa...." Tiba-tiba ketika aku mulai tertidur dan menyatu ke alam Mimpi, ada suara yang memanggilku di balik kabut tebal yang suaranya seperti mama.
Aku mencari-cari asal suara itu, namun kabutnya menghalangi pandanganku, "Mah... apa itu mama? mama di mana? mah... mama...."
"Salsa... ini mama sayang!" sahut mama yang kini tengah berdiri tak jauh di hadapanku.
"Mama! kenapa mama bisa ada disini? bukankah aku bermimpi?" gumamku bertanya pada diri sendiri.
"Sayang! kenapa kamu sangat lama ingin menemui mama! apa kamu tau, mama sangat amat merindukanmu! bahkan mama sudah lelah dengan rasa sakit yang perlahan merambat ditubuh mama!" lirih mama yang kemudian berbalik badan hendak pergi.
"Tunggu! mama mau kemana? jangan pergi mah! jangan! Salsa mohon jangan pergi...." teriakku melihat punggung mama yang perlahan menghilang tertutupi kabut tebal.
"Mama jangan pergi!!!" teriakku lantang di samping Kevin yang tenyata terbangun dari alam bawah sadar.
"Salsa, kamu mimpi buruk? ini minum dulu!" Ucap Kevin menyodorkan sebotol air minum.
Ia juga mengelap keringat yang membanjiri wajahku, "Ada apa Sal? apa yang kamu mimpikan?" tanyanya lagi.
"Vin... aku bermimpi mama pergi meninggalkanku! aku... aku takut mimpiku jadi nyata!" Aku kembali menangis tak ingin membayangkan.
"Tenanglah Sal... itu hanya mimpi, lebih baik kamu minum dulu biar perasaanmu agak baikan!" bujuknya kembali menyodorkan botol air minum yang sejak tadi tak ku ambil dari tangannya.
__ADS_1
"Makasih Vin!" ujarku mengambil lalu membuka tutupnya, meneguk air minum tersebut dengan rakus, seakan tenggorokanku sangat kering.